Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Semua Salahku


__ADS_3

"Pembohong! Kau selalu berkata kalau kau sama sekali nggak tertarik padaku, bahkan caramu mengucapkannya seolah-olah seperti sedang memberi peringatan. Kau seperti memperingatkan kalau aku sama sekali nggak boleh punya rasa sedikit pun untukmu. Tapi, saat ini kau malah berbuat seperti ini padaku..." Nisa menatap Keyran dengan tatapan memelas juga dengan tubuh yang gemetar.


Untuk sejenak Keyran terdiam, namun setelah itu dia malah berjalan mendekat ke arah Nisa lalu memojokkannya ke dinding. Dengan sorot mata yang tajam Keyran mendekatkan wajahnya pada Nisa. Keyran lalu meraih tangan Nisa kemudian mencium serta menjilatnya, Nisa terkejut dan seketika dia langsung menarik tangannya. Tidak cukup sampai disitu, Keyran lalu memegang dagu Nisa dan dia semakin mendekatkan wajahnya.


"Memangnya kenapa? Aku suamimu! Aku sangat berhak melakukan ini padamu. Jadi, turuti keinginanku dan jangan memberontak!" Keyran hendak mencium bibir Nisa, tapi sekali lagi Nisa menghalanginya dengan telapak tangannya. Saat mengetahui hal itu, Keyran semakin geram dan mulai kehilangan kesabarannya.


"Berhenti memberontak! Kau berkali-kali menolakku, apa kau sudah lupa dengan yang baru saja aku katakan!? Aku suamimu!" bentak Keyran.


"Itulah sebabnya aku menolakmu! Karena kau suamiku..." Nisa lalu memalingkan wajahnya.


"A-apa!? Alasan macam apa itu? Kau paham kalau aku suamimu, tapi kau masih menolakku? Apa yang sebenarnya kau pikirkan!? Cepat berikan aku penjelasan!"


"Memangnya penjelasan seperti apa yang kau inginkan?"


"Berhenti bicara omong kosong! Kau itu istriku, kau harus melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri! Jadi, patuhi aku dan layani aku!"


"Aku menolak! Aku menolak untuk melayanimu!"


"Kenapa hah!?" Keyran lalu memalingkan wajah Nisa dengan paksa untuk mengarah kepadanya. "Aku sudah mencoba untuk memperlakukanmu dengan lembut. Tapi, kau malah menguji kesabaranku. Aku beri kesempatan satu kali lagi, cepat jelaskan alasanmu menolakku!"


"Karena kita ini suami istri. Kau memintaku untuk melayanimu, dan aku sebagai istrimu menolaknya. Alasanku sudah aku katakan dari awal, kau sama sekali nggak tertarik padaku. Dan itu artinya kau nggak mungkin mencintaiku. Apa kau sungguh ingin melakukannya denganku?"


"Masa bodoh dengan cinta! Sebagai suami istri, inilah yang harus kita lakukan. Lagipula kedepannya kita pasti juga akan melakukannya, kita bisa mengawalinya hari ini!"


"Keyran... tolong lepaskan aku! Kendalikan dirimu dan cobalah berpikir jernih, apakah menurutmu seperti ini benar? Kau ingin melakukannya denganku hanya karena nafsu, bukan karena cinta. Mungkin memang wajar jika kita melakukannya, tapi tolong hargai aku! Aku sadar akan kewajibanku sebagai istri untuk melayanimu, t-tapi... apa kau pikir kewajibanku cuma itu? Jika nafsu yang menjadi alasanmu maka aku akan terus menolakmu. Aku ini istrimu, aku bukan alat untuk memuaskan nafsumu!" ucap Nisa dengan tubuh yang gemetar.


Setelah mendengar penjelasan dari Nisa, Keyran bukannya menjadi tenang tapi malah semakin bergairah. Keyran membekap mulut Nisa dengan tangannya, dia kemudian mengimpit tubuh Nisa yang gemetar dengan ketat. Nisa terkejut dan seketika melototi Keyran, namun Keyran salah mengerti arti tatapan mata Nisa itu. Dia merasa seolah-olah seperti Nisa sedang menantangnya, karena merasa tertantang dia mulai meraba punggung Nisa. Keyran juga menggigit daun telinga Nisa lalu menyeringai seakan menertawakan sesuatu.


"Haha, istriku yang bodoh~ Kenapa kau selalu menyebut tentang cinta? Aku beritahu padamu, inilah cinta! Inilah wujud cinta dari suamimu, kau hanya harus bercinta denganku untuk merasakan cintaku padamu. Jadilah penurut, dan layani aku~" bisik Keyran di telinga Nisa.


"Hmm... Hemmpppp..." Nisa terus meronta dan berusaha sekuat tenaga untuk melepas bekapan tangan Keyran dari mulutnya.


"Oh, masih memberontak ya? Padahal tubuhmu sampai gemetar seperti ini loh~ Oh iya, aku akan memberitahumu tentang hal menarik. Tadi saat kau masih tidur, kau mengigau menyatakan cinta padaku, bahkan sampai memohon untuk jangan meninggalkanmu. Itu artinya kau mencintaiku, jadi berhentilah memberontak dan nikmati saja bersamaku. Aku akan membuatmu merasakan kebahagiaan yang paling nikmat~"


"...." Nisa tersentak dan seketika berhenti meronta.


"Akhirnya tenang juga, seharusnya dari awal seperti ini~"


Setelah melihat Nisa menjadi tenang, Keyran langsung membuka bekapan tangannya dari mulut Nisa lalu menggantinya dengan mulutnya sendiri. Keyran mencium Nisa dengan rakus, dan Nisa juga tidak memberi perlawanan sedikit pun. Karena merasa sudah diterima, Keyran mulai meraba tubuh Nisa lalu dia mencoba untuk melepaskan baju Nisa. Tapi, saat akan melepas baju, Nisa tiba-tiba mendorong Keyran menjauh. Dan anehnya, Nisa tiba-tiba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian dia mulai tertawa cekikikan.


"Ha ha ha ha ha! Astagaaa...."


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau cekikikan seperti itu? Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Keyran dengan wajah bingung.


"Pffttt... Hahaha! Iya, lucu. Kau itu sangat lucu!" Nisa lalu menepuk jidatnya sendiri.


"A-aku...?"


Apa istriku ini benar-benar sudah gila? Kenapa dia bertingkah seperti ini? Padahal tubuhnya saja masih gemetar seperti itu, tapi kenapa dia bisa tertawa?


"Hei brengsek! Salah, maksudku suamiku~ Tunggu sebentar, ini juga salah, yang aku maksud itu... Keyran~ Aku akan bertanya sesuatu padamu, apa kau punya otak?" ucap Nisa dengan tatapan meremehkan.


"Tentu saja punya!" jawab Keyran secara spontan.


Kau yang tidak punya otak! Sepertinya aku harus membawanya ke psikiater!


"Kalau memang punya, gunakan otakmu! Nggak mungkin aku mengigau menyatakan cinta padamu. Kalau pun iya, apa kau pikir pernyataan itu untukmu? Ckck... kau terlalu percaya diri!" ucap Nisa sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Kau!" Keyran lalu mencengkeram pundak Nisa "Jika itu bukan untukku, lalu untuk siapa? Sebelum kau menjawab, ingatlah bahwa kau itu sudah menikah, dan akulah suamimu!"


"Apa kau pura-pura bodoh?" Nisa lalu memalingkan wajahnya, "Padahal saat pernikahan kau sendiri yang sudah mengundangnya. Yang aku cintai itu dia, dia yang pergi dengan kekecewaan, aku yang sudah membuatnya kecewa, dan kau adalah alasan mengapa kami harus berpisah!"


"Kau menyalahkan aku? Aku bahkan tidak mengenalnya, dan bukan aku yang telah mengundangnya!"


"Apa!?" Nisa seketika berpaling dan menatap Keyran.


Jadi dia sama sekali nggak kenal Ricky! Ternyata rubah tua sialan itu yang sudah mengundangnya. Awas saja, dendamku padamu sekarang semakin bertambah!


"Heh! Ternyata kau menolakku karena pria lain. Apa kau sadar kalau yang kau lakukan ini salah? Kau adalah istriku! Jangan pikirkan pria lain selain aku! Lupakan dia, dan jadilah istri yang baik untukku!" bentak Keyran.


"Keyran... kau tahu apa? Aku sudah berusaha mati-matian untuk melupakannya, tapi tetap saja aku nggak bisa! A-aku juga tahu kalau aku salah, tapi apakah ini cuma kesalahanku? Kau juga sama bersalah sepertiku, andai saja kau melawan ayahmu dan memilih kakakku semua ini nggak akan terjadi. Lalu tolong jangan ungkit ini lagi... Setiap kali mengingatnya hatiku langsung hancur, dan yang tersisa untukmu hanyalah kebencian. Aku masih butuh waktu untuk menerimamu sebagai suamiku, aku mohon mengertilah..."

__ADS_1


"Mengerti? Yang aku mengerti sekarang adalah kau itu istriku, dan aku suamimu. Aku memintamu untuk melayaniku, tapi kau malah merindukan pria lain tepat di hadapanku! Bagaimana bisa aku mengerti itu?"


"Cukup!!" Nisa berteriak lalu menutup kedua telinganya, "Kau berkali-kali mengingatkan aku bahwa aku ini istrimu! Aku tahu... a-aku paham tentang itu. Kau juga telah membuatku sadar akan satu hal. Kalau ini semua salahku, aku nggak bisa melupakannya itu salahku, aku masuk ke kamar mandi itu salahku, menolak melayanimu juga salahku, menjadi istrimu adalah salahku, semuanya kesalahanku!!! Hah.... hah... hah..." teriak Nisa dengan napas yang terengah-engah.


"Nisa..." Keyran lalu berniat untuk meraih tangan Nisa untuk menenangkannya, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya dan menarik tangannya kembali.


Apakah aku terlalu berlebihan? Aku tidak menyangka kalau dia akan menolakku sampai seperti ini.


"Keyran..." ucap Nisa dengan lirih lalu tiba-tiba dia berjalan mendekat ke arah Keyran.


"Ada apa? Kenapa kau mendekat padaku?" tanya Keyran dengan wajah bingung.


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin jujur padamu. Sekarang aku telah menyadari kesalahanku, mungkin sulit bagiku untuk melupakannya, bahkan aku nggak yakin bisa melupakannya atau nggak. Tapi, kalau kau bisa menerima istri seperti ini, istri yang nggak sempurna sepertiku, maka kau sangat murah hati." ucap Nisa dengan senyum pahit.


"Kau memang istriku, aku juga sudah menerimamu. Untuk apa kau mengatakan semua itu padaku?"


"Baiklah, ternyata kau nggak keberatan jika aku masih punya perasaan untuk orang lain. Sekarang kau bisa melakukannya padaku, terserah kau mau perlakukan aku seperti apa." Nisa tiba-tiba merentangkan kedua tangannya, "Sekarang aku bersedia untuk bercinta denganmu, perlakukan aku sesukamu!" Nisa lalu menutup kedua matanya.


Sikap yang ditunjukkan oleh Nisa sangat berlawanan dengan yang dia tunjukkan di awal, Keyran yang melihat hal itu langsung merasa ada yang salah.


"Sudahlah, lupakan saja semua ini. Sekarang aku akan keluar, jadi kau bisa mandi." Keyran lalu berjalan keluar dari kamar mandi.


Klap...  Suara pintu ditutup.


"Kenapa gadis aneh itu tiba-tiba merubah sikapnya?" gumam Keyran.


Jika dipikir-pikir... gadis itu cukup mengerikan. Dia dengan mudahnya mempengaruhi pola pikirku, sebelumnya aku berniat untuk bercinta dengannya. Tapi, pada akhirnya semua pilihan tergantung padaku, bahkan dia membuatnya seolah-olah seperti aku yang jadi penjahatnya. Jadi, mau tidak mau aku hanya bisa mengurungkan niatku.


Sementara itu Nisa yang masih berada di dalam kamar mandi akhirnya memutuskan untuk mandi. Tubuhnya kini masih gemetar, tapi dia masih bisa menunjukkan senyuman di wajahnya.


"Tahan Nisa... kau harus menahannya..." ucapnya dengan lirih.


Hari-hariku selanjutnya akan lebih gila. Mau nggak mau aku harus beradaptasi dengan lingkungan seperti ini, lalu perlahan-lahan aku akan membalas semua dendam yang sudah merebut kebebasanku! Dasar rubah tua bangs*t!


...****************...


"Hehe, beberapa hari ini si brengsek selalu berusaha menghindariku setelah kejadian di kamar mandi itu. Bahkan saat malam hari dia selalu masuk kamar setelah memastikan kalau aku sudah tertidur. Ckck... dasar suami payah! Tapi, jika seperti ini terus tentu saja aku sangat bahagia..." ucap Nisa dalam hati sambil terus memperhatikan pelajaran.


"Nisa Sania! Kenapa kau tersenyum seperti itu!? Apa ada yang lucu pada soal yang aku berikan!?" bentak seseorang.


Gawaaat! Pasti headshot nih...


"Oh, ya sudah. Perhatikan pelajaran saya!" teriak pak Erwin.


"B-baik..."


Tumben si dosen killer ini nggak melempar kapur padaku? Biasanya kan langsung melempar kapur, habis itu disuruh keluar. Aneh banget.


"Dasar pengantin baru, pasti kau sedang memikirkan tentang suamimu!" gerutu dosen Erwin dengan suara keras.


"Apa!?" teriak satu kelas.


Seketika kelas menjadi ramai, semua orang langsung heboh saat mereka tahu kalau Nisa telah menikah. Semua orang-orang langsung menyerbu Nisa dengan berbagai macam pertanyaan, mulai dari kapan dia menikah, dengan siapa, seperti apa suaminya, alasan tidak mengundang mereka, bahkan ada juga yang bertanya mengenai bulan madu dan berapa jumlah anak yang Nisa rencanakan. Nisa saat itu hanya bisa diam dan menelan ludah, serta berharap teman-temannya berhenti mengajukan pertanyaan padanya. Melihat hal itu, dosen merasa tidak senang. Akhirnya dia berteriak untuk menenangkan seisi kelas.


"Diam!! Ini masih jam saya! Jika masih ada yang berisik, silakan keluar!" Setelah dosen berteriak seketika semuanya kembali tenang, namun setelah itu dia malah berkata, "Oh iya, selamat ya atas pernikahanmu. Semoga awet dan segera diberi momongan!" ucap dosen pada Nisa.


"Haha iya, terima kasih. Tapi, kenapa bapak bisa tahu kalau saya menikah? Apa pak Erwin datang di acara pernikahan saya?" tanya Nisa dengan senyum terpaksa.


Fu*k! Momongan apaan njiirrr!? Mending aku adopsi 100 kucing ketimbang punya anak sama si brengsek!


"Saya diberitahu oleh seseorang, dan saya tidak datang saat pernikahanmu. Hanya orang-orang tertentu yang diundang." jelas dosen dengan wajah datar.


"I-iya..."


Huh! Pasti ini ulah si rubah tua sialan itu! Nekat banget sih sampai nyebarin berita ini ke kampus. Nanti saat pulang aku harus pakai masker biar nggak dikenali orang, aku nggak mau jawab pertanyaan aneh dari mereka.


Tak lama kemudian datanglah kelas selesai. Dan tiba-tiba ada seseorang yang mencari Nisa, kemudian dia memberitahunya kalau ada seseorang yang sedang menunggunya.


"Sania!" teriak seseorang tak dikenal.


"Ya, siapa?" tanya Nisa.

__ADS_1


"Di luar ada yang sedang menunggumu, namanya Aslan. Dia bilang kamu harus segera menemuinya. Sudah itu saja!" orang itu kemudian pergi.


"What!? Ngapain Aslan nungguin gue? Pasti salah nih, dia kan gebetan elu Jen!" ucap Nisa pada Jenny.


"Iiihhh... apaan sih! Sania kok gitu..." ucap Jenny sambil mencubit pipi Nisa.


"Cieee... malu nih, aku itu mak comblang yang hebat loh~ Nanti kalau jadian jangan lupa jasaku. Sekarang ayo samperin dia, yang dia maksud pasti bukan gue!" Nisa menarik tangan Jenny, lalu mereka berdua bergegas untuk menemui Aslan.


Setelah mereka menemui Aslan, Nisa bermaksud untuk meninggalkan mereka berdua. Tapi, Aslan malah menarik tangan Nisa.


"Mau kemana? Yang gue cari itu elo, bukan temen lo yang satu ini!" ucap Aslan pada Nisa.


"Eh!? Bukannya lo mau ketemu sama Jenny?" tanya Nisa pada Aslan, tapi Aslan tidak menjawab dan hanya melotot ke arah Jenny.


"Anu... gue pergi aja!" Jenny lalu bergegas pergi.


"Lo apaan sih? Emangnya ada perlu apa sampai nyuruh Jenny pergi, dia kan gebetan elo?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Ini penting! Nanti gue jelasin di jalan, ayo cepetan!" Aslan menarik tangan Nisa, tapi Nisa langsung menepisnya. "Elo kenapa sih? Ini soal Ricky!" ucap Aslan dengan tidak sabar.


"Ricky?" tanya Nisa dengan ekspresi kaget.


Aslan itu teman dekatnya Ricky, pantas saja dia mencariku. Sepertinya ini memang serius.


"Cepetan!" Aslan menarik tangan Nisa lalu mengajaknya untuk naik ke mobilnya.


Selama di perjalanan Aslan terlihat sangat panik, melihat hal itu Nisa mulai merasa sangat khawatir dengan yang sebenarnya terjadi.


"Ricky dimana?" tanya Aslan.


"Aslan, jangan bercanda! Bukannya elo ngajakin gue buat ketemu sama Ricky, sebenarnya Ricky kenapa?" tanya Nisa sambil menarik-narik tangan Aslan.


"Tenang, jangan berlebihan begini! Ricky... gue nggak tahu dia kenapa, makanya gue nyari elo. Gue paham masalah kalian, sebenarnya elo masih sayang kan sama Ricky?"


"Emangnya kalau gue masih sayang bakalan ada yang berubah? Sekarang semua itu nggak ada artinya lagi. Sebenernya elo ngajakin gue kemana sih?"


"Ke apartemen Ricky. Sebenernya tuh selama 4 hari terakhir ini Ricky nggak ada kabar sama sekali, semua kenalannya bilang kalau mereka nggak tahu Ricky dimana. Dia juga nggak dateng ke rumah sakit, bahkan telepon dari kepala rumah sakit juga nggak diangkat. Ini semua gara-gara elo, seandainya elo jujur dari awal semuanya nggak akan begini." jelas Aslan.


"Elo juga paham, terus kenapa masih nyari gue? Pasti Ricky sekarang benci banget sama gue. Elo salah Aslan, elo nyari gue itu nggak ada gunanya sama sekali." ucap Nisa dengan wajah murung.


"Elo yang salah! Kemungkinan besar Ricky itu mengurung diri di apartemennya. Selain Ricky cuma elo yang tahu password apartemennya, makanya gue butuh bantuan elo."


"O-oke..." jawab Nisa dengan nada pasrah.


Tenanglah Nisa... cuma disuruh buka pintu kok, setelah itu serahkan semuanya pada Aslan.


Tak lama kemudian Nisa dan Aslan sampai di apartemen Ricky. Saat di depan pintu, mereka berdua hanya diam dan saling menatap satu sama lain. Meskipun begitu, ketakutan juga tampak jelas di wajah mereka.


"Aslan, kok gue ragu ya?" Nisa hendak menekan tombol password apartemen, tapi tangannya malah gemetar ketakutan.


"Cepetan woi! Gue juga deg-degan tau!"


"I-iya..." jawab Nisa sambil menganggukkan kepalanya.


Semoga saja sudah diganti, aku masih belum siap jika harus berhadapan dengan Ricky.


"Bye Nisa! Semoga beruntung....!" ucap Aslan sambil berlari pergi secepat mungkin.


"Sial... malah meninggalkan aku!"


B*ngke emang! Dasar Aslan beo! Bisanya cuma omong doang.


"Ya Tuhan... berilah aku kekuatan!"


Ricky bukanlah orang yang berpikir sempit, jadi dia nggak mungkin berbuat hal konyol seperti bunuh diri. Tapi, dia itu kan dokter. Jangan-jangan dia minum obat lalu overdosis la-lalu...


Plaaak....


"Nisa bodoh! Berhenti memikirkan hal negatif!" ucap Nisa sambil menampar wajahnya sendiri.


"A-aku mulai..." Nisa mulai menekan tombol password secara perlahan.

__ADS_1


Pip-Pip-Pip-Pip-Pip-Pip


"B-benar, ternyata belum diganti. Glup..." Nisa kemudian berjalan masuk secara perlahan.


__ADS_2