
Nisa berhasil keluar dari rumah tanpa ketahuan oleh siapa pun. Setelah di luar, baru dia memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Dia memutuskan untuk memakai jasa taksi online untuk menuju ke tempat tujuannya, yaitu bagian barat kota.
Sekitar 1 jam kemudian Nisa telah sampai, dia turun dari taksi dan segera menuju ke terminal bus. Nisa bertanya-tanya kepada pedagang sekitar dengan menunjukkan foto Jenny, tetapi tidak ada yang tahu. Dia juga bertanya kepada calo tiket yang ada, bahkan penjaga toilet juga dia tanyai. Namun hasilnya berbeda dengan harapan Nisa, semuanya mengaku sama sekali tidak pernah melihat Jenny berkeliaran di terminal.
Hari semakin gelap, matahari terbenam dan lampu-lampu jalanan mulai menyala. Nisa yang saat ini merasa sedikit putus harapan lalu pergi ke jembatan yang dimaksud oleh Ivan, jembatan tersebut berjarak sekitar 100 meter dari terminal, suasananya sepi, sama sekali tidak ada orang yang berlalu lalang.
Nisa kemudian menunduk, dia melihat sungai yang punya arus air cukup deras yang berada di bawahnya. "Ukhh ...!" Nisa meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
Sialan, perutku sakit. Mungkin asam lambungku naik gara-gara belum makan, sangat repot punya penyakit mag.
Nisa lalu duduk dan berharap agar rasa sakit di perutnya berkurang. Dan benar saja setelah beberapa saat, rasa sakit di perutnya sudah lebih mendingan. Suasana masih sepi, Nisa yang merasa sedikit aneh lalu mulai melihat ke arah kanan kiri.
"Hah ..." Nisa menghela napas lalu menurunkan maskernya ke dagu. "Belum ada perkembangan, apa mungkin aku harus pulang dengan tangan kosong?"
Lokasi terakhir Jenny yang diketahui adalah di sini. Ivan bilang kalau ini daerahnya Aliansi Barat, sebenarnya apa sih itu? Apa mungkin hilangnya Jenny ada kaitannya dengan mereka?
Kemungkinan itu bisa saja terjadi, alasan Jenny kabur dari rumah adalah karena bertengkar dengan orang tuanya. Jika nanti ada yang mendekatiku, aku pura-pura saja kalau aku juga kabur dari rumah! Siapa tahu aku bisa dapat petunjuk baru.
Nisa memutuskan untuk bersabar dan menunggu. Menit demi menit telah berlalu, Nisa yang semakin bosan menunggu sesuatu yang tidak jelas, sedari tadi dia jongkok sembari menepuki nyamuk yang beterbangan di dekatnya.
TAP TAP TAP ...
Nisa yang saat ini menunduk mendengar jelas suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dia menyeringai, berharap akan mendapatkan sesuatu yang bagus.
Suara langkah kaki tersebut berhenti. "Sendirian aja, Neng?"
"Iya, Bang!" seketika Nisa menoleh. Tetapi setelahnya Nisa ternganga, karena yang dia temui adalah seorang laki-laki muda pedagang asongan.
"Cangcimen mau, Neng? Murah-murah kok!" ucap pedagang itu dengan senyuman, tapi Nisa merespons dengan gelengan kepala. Namun bukannya pergi, pedagang asongan itu justru ikut duduk berjongkok di sebelah Nisa.
"Neng, kabur dari rumah ya?"
"Iya." jawab Nisa yang kemudian tiba-tiba menyodorkannya selembar uang. "Rokok dong!"
"Eh?! Yang apa?" pedagang itu kelabakan dan segera menerima uangnya Nisa.
"Yang menthol, sekalian sama korek nya!" Nisa mendapatkan rokok dan korek api yang dia inginkan. Dia menyalakan ujung rokok itu dan mulai mengisapnya.
Pedagang asongan itu lalu memberikan uang kembalian, tapi Nisa menolaknya. Dia yang melihat Nisa yang seperti sudah terbiasa merokok lalu berkata, "Neng, kabur dari rumah gara-gara apa?"
"Biasa lah, broken home, broken heart juga. Tapi ... kok bisa tahu?"
"Sudah biasa itu. Anak-anak remaja, SMP dan SMA semacam Eneng banyak juga yang kabur sampai daerah sini."
"..."
Sialan, aku ini berumur 20 tahun dan sudah jadi istri orang! Tapi malah dianggap masih bocah SMA.
"Oh, banyak ya. Lalu mereka semua di mana? Apa diamankan oleh polisi? Soalnya di sini kelihatannya sepi." tanya Nisa dengan niatan memancing untuk mendapatkan informasi.
"Polisi mana mungkin sampai di daerah terpencil ini. Jalan banyak yang rusak, penerangan kurang bagus, di sini yang ramai cuma terminal. Ngomong-ngomong ... nanti mau tidur di mana?"
"Belum tahu, aku kabur dari rumah cuma bawa badan, sandal dan sedikit uang, bahkan buat sewa kamar hotel semalam saja kurang."
Tentu saja aku tidur di pelukan hangat suamiku!
Pedagang asongan itu mendadak menyeringai. "Neng, mau kukasih tahu kost-kost an murah? Bisa tidur dulu, bayarnya nanti! Dijamin aman kok! Pemilik kost juga ramah, anak-anak yang kabur dari rumah banyak yang memilih untuk ke sana."
"Wahh ... boleh! Di mana?!" tanya Nisa dengan antusias.
Hehehe, kena kau sialan! Akhirnya aku dapat hasil juga.
"Mari aku antar, nanti juga tahu sendiri kok." Pedagang asongan itu tersenyum lalu berdiri.
Nisa mematikan rokoknya lalu ikut berdiri, mendadak dia berkata, "Jauh ya dari sini? Bangunannya cat warna apa?"
"Enggak jauh kok, tinggal lurus ke depan, bangunannya warna hijau. Neng pasti bakal betah karena nanti temannya banyak!"
"Oh ..." Nisa menyeringai, kemudian dia memberi isyarat tangan agar pedagang asongan itu mendekat. "Sini dulu~"
"Kenapa?" tanyanya terheran-heran.
"Bukan apa-apa, cuma mau bilang terima kasih sama beri sesuatu karena sudah menolong. Itu loh maksudnya ..." Nisa lalu mengusap bibirnya sendiri dengan tatapan menggoda.
Dia sejenak terdiam memandangi Nisa dari atas sampai bawah, dia mengerti bahwa Nisa sedang menggodanya. Dia meletakkan dagangannya di tanah lalu mendekat ke arah Nisa sambil bergumam, "Bagus, profesional memang beda, pasang harga mahal pasti cocok."
Setelah mereka berdua sudah cukup dekat, lelaki itu sudah bersiap untuk mencium Nisa dan memejamkan matanya. Di sisi lain Nisa juga memegang pinggang lelaki itu, tapi tangan Nisa yang satunya lagi diam-diam mengeluarkan sebuah benda, yaitu pisau belati yang sebelumnya dia sembunyikan di lengan bajunya.
JLEBB!!
Nisa dengan cepat menusukkan belati itu ke bagian ulu hati. Bahkan setelah tertancap, dia masih menekannya untuk menusuk lebih dalam lagi.
"Ukhh!!?" Lelaki itu terkesiap, matanya membelalak, darah mulai mengalir keluar dari tubuhnya, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa hingga pada akhirnya ketika kegelapan merenggut kesadarannya.
__ADS_1
Nisa mencabut belati itu, lelaki yang telah kehilangan nyawa itu jatuh tersungkur ke tanah. Nisa kemudian berjongkok, mengelap belati miliknya yang bersimbah darah dengan kain baju lelaki itu.
"Ckck, mau membodohiku. Tapi setidaknya kematianmu tidak sia-sia, terima kasih atas informasinya. Dan ... kau sama sepertiku, tukang bohong!" Nisa tiba-tiba mengambil sebuah kain dari saku celana lelaki tersebut.
"Kain ini sudah ada obat bius, meskipun baunya kurang menyengat tapi aku tahu betul! Kau pasti juga komplotan penjahat entah dari mana. Mana ada tukang cangcimen punya banyak tato di tangan."
Nisa kemudian membuang kain itu ke sungai. Dia melihat-lihat sekeliling, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang, yang terdengar hanyalah suara bus dari kejauhan dan suara jangkrik yang bersembunyi di lubang.
Nisa lalu menyeret tubuh lelaki itu dan mendorongnya hingga terjatuh ke sungai yang berarus cukup deras itu. Nisa menyimpan kembali belati miliknya lalu menaikkan masker untuk menutupi hidung dan mulutnya. Sejenak dia masih terdiam, menatap datar tanpa ekspresi ke arah sungai.
"Hari ini yang melihat wajahku akan mati! Tenang saja, teman-temanmu akan segera menyusulmu." Mendadak Nisa kembali berjongkok untuk mengambil dagangan yang masih berada di bawah.
"Hehe, saatnya bersenang-senang!"
Nisa lalu melanjutkan pencariannya, dia terus berjalan lurus ke depan. Semakin jauh Nisa melangkah, yang dia jumpai adalah perkampungan yang sunyi. Setelah beberapa saat, akhirnya dia menemukan sebuah bangunan yang cukup luas dan bertingkat bercat hijau.
Nisa kemudian mendekati bangunan itu, ketika dia sampai di gerbang. Ada 2 orang laki-laki berumur 20 an yang menjaga, mereka kemudian curiga dan mendekati Nisa.
"Ada apa?" tanyanya kepada Nisa.
"A-aku cari kost-kost an murah, katanya di sini bisa bayar belakangan." jawab Nisa yang berpura-pura ketakutan.
"Tahu dari siapa?" tanya laki-laki yang satunya lagi.
"Tahu dari tukang cangcimen, dia yang bilang. Ini dagangan nya," ucap Nisa sambil menyodorkan dagangan tadi yang kemudian diterima oleh laki-laki penjaga itu.
"Tadinya aku sama temanku, kami 2 orang yang sama-sama kabur dari rumah. Temanku itu sekarang sedang bersama Mas nya yang jualan tadi. Aku disuruh ke sini sendiri dulu. Benar kan ini tempatnya?"
"Buka maskermu!"
Setelah diminta, Nisa kemudian menurunkan maskernya ke dagu. Kedua laki-laki untuk beberapa saat terpana dengan wajahnya Nisa, kemudian mereka saling menatap satu sama lain dan tersenyum licik.
Salah satu dari mereka tersenyum ramah kepada Nisa lalu berkata, "Manis~ benar kok ini tempatnya! Bukan masalah besar kabur dari rumah, ini rumah barumu! Ayo ikut aku, aku carikan kamar untukmu!"
Nisa mengangguk, batinnya merasa senang karena bisa menyusup ke dalam. Dia berjalan mengikuti lelaki itu pergi mengantarnya, saat di perjalanan lagi-lagi Nisa menutupi wajahnya dengan masker.
"Kenapa dipakai lagi? Wajahmu cantik loh~"
"Aku baru sembuh dari sakit flu, tubuhku belum kuat. Ngomong-ngomong ... apa sungguhan bisa bayar kost belakangan?" tanya Nisa yang sekali lagi ingin memastikan.
"Iya, bukan bayar dengan uang, tapi dengan kerja sambilan di sini!"
"Kerja sambilan?"
"Mereka yang akan menjelaskan!"
BRAKK!!
Pintu dibanting dengan keras, secara spontan Nisa mencoba untuk membuka pintu itu dari dalam, namun sayangnya pintu itu telah dikunci dari luar.
"Hei! Buka sialan! Apa maksudnya ini!?" teriak Nisa sambil menggedor pintu.
"Sudahlah, itu percuma." ucap seorang gadis yang sedang memotong kuku nya di atas ranjang bertingkat.
Seorang gadis lain yang berada di ranjang bawah tengah membaca sebuah buku novel. Dia kemudian menutup bukunya lalu berkata, "Hai~ penuh juga akhirnya kamar ini."
"Penuh! Mana?!" Seorang gadis lain lagi yang berbaring di ranjang bertingkat satunya kemudian terbangun dan turun untuk melihat Nisa.
Nisa berusaha mencerna keadaan, kamar kost berisi 2 ranjang bertingkat dengan kamar mandi di dalam itu terlihat cukup terawat, meskipun tempat sampah di pojok ruangan terlihat penuh.
Nisa kemudian mendekati mereka dan duduk di tepi ranjang. "Tempat macam apa ini?" tanya Nisa tanpa basa-basi.
Gadis yang memotong kuku menjawab, "Ini kamar kost. Jangan banyak protes, mungkin kamarmu di rumah jauh lebih bagus dari ini. Dasar cupu, baru segini sudah kapok kabur!"
"..." Nisa membisu, dia menatap tajam ke arah gadis yang menjawabnya tadi.
Dilihat dari kata-katanya, pasti semua yang di sini juga kabur dari rumah. Tapi mereka terlihat masih belasan tahun semua.
Gadis yang memegang buku novel kemudian berkata, "Jangan diambil hati ya, dia bicaranya memang begitu. Salam kenal, aku Sinta, yang tadi itu Vivi, terus yang duduk di sebelahmu itu Chaca."
"Ihh ... apa sih? Aku mau kenalan sendiri!" ucap Chaca dengan tampang cemberut.
"Haha, Chaca yang paling ceria!" ucap Sinta.
"Haii~ Aku Chaca! Kamu siapa?" tanya Chaca dengan ramah namun diabaikan oleh Nisa.
"Kalian sudah berapa lama di sini?" tanya Nisa.
"Aku 2 bulan, lalu Vivi 1 bulan, kalau Chaca baru 2 minggu. Tapi kamu kurang sopan ya, bahkan nggak mau beritahu namamu." ucap Sinta dengan nada menyindir.
"Lupakan nama, namaku itu jelek. Lebih baik kalian tak tahu."
"Ck, nggak seru ahh ... ada kembaran Vivi lagi!" gerutu Chaca.
__ADS_1
"Berisik kalian!" bentak Vivi.
"Haha, tenanglah. Ehmm ... kamu yang baru datang, nggak masalah juga sih kalau kamu nggak mau sebut nama. Mungkin bisa berbagi cerita dulu sama kita. Soalnya kita di sini bakalan lama, nggak ada salahnya kan jadi akrab? Aku mulai duluan ya."
"Yes! Sinta mendongeng!" ucap Chaca.
"Aku Sinta, umur 16 tahun. Aku bisa di sini karena kabur dari rumah. Alasanku sederhana, orang tuaku nggak sayang aku lagi. Saat umurku 10 tahun ayahku meninggal, ibuku menikah lagi. Ibuku bahagia dengan pernikahannya, aku juga bahagia. Tapi saat dia punya anak dari suaminya yang baru, lama-kelamaan aku dianggap seperti orang asing yang cuma menumpang di rumah mereka. Bahkan saat kabur selama ini, mereka nggak ada tuh mencariku, mungkin mereka malah bersyukur karena aku hilang dari kehidupan mereka."
Sinta lalu tersenyum pahit, "Aku sudah cerita! Nah, sekarang ayo giliran Vivi!"
"Aku sibuk! Chaca aja duluan!"
"Ihh ... Vivi, ya sudah deh. Aku cerita! Namaku Chaca, umur 17 tahun. Sejak lahir aku belum pernah melihat seperti apa rupa ibuku, tapi ayahku selalu bilang kalau dia adalah wanita yang baik. Saat aku masuk SMP, aku cuma bertahan 1 semester karena ayah kekurangan biaya. Sejak saat itu aku ambil kerja sambilan, aku punya penghasilan sendiri. Tapi saat ayahku yang kerja jadi kuli bangunan dipecat, semuanya berubah. Ayahku nggak punya pengalaman pendidikan, penampilannya juga biasa saja, melamar kerja di mana-mana ditolak. Ayah mulai stress dan cuma aku yang cari uang. Saat aku pulang dari kerja, ayah mulai melampiaskan emosi yang dia tahan kepadaku. Aku dipukuli dan ditampar jika uang yang aku bawa pulang kurang banyak menurutnya. Hingga tiba saatnya ketika aku menyerah dan nggak kuat lagi dipukuli. Uangku belum cukup buat mengontrak. Jadi aku kabur dan berakhir di tempat ini."
Chaca lalu meringis. "Sekarang giliran Vivi! Ayo Vi, jangan sampai nggak cerita!"
Vivi menghela napas lalu meletakkan gunting kuku nya. Dia lalu turun ke bawah dan duduk di sebelah Sinta. "Namaku Vivi Valencia, aku lahir di hari kasih sayang, tapi tumbuh tanpa merasakan disayangi. Waktu aku umur 5 tahun, ibuku sudah pergi dari rumah. Ayahku selalu menyebutnya wanita jal*ng, katanya dia hidup sebagai mainan pria lain demi uang dan barang mewah. Ketika aku masuk SMA, aku terluka dan butuh donor darah, dari kejadian itu aku dan orang yang selama ini aku anggap sebagai ayah tahu bahwa kami tak ada hubungan darah. Ayah masih mengizinkanku tidur di rumahnya, tapi tiap kali dia kesal, dia selalu melampiaskannya kepadaku, bahkan aku pernah dilecehkan olehnya."
Vivi lalu bersandar pada bahu Sinta. "Sakit, diperlakukan seperti itu oleh orang yang kita anggap keluarga sangat sakit. Lebih baik disakiti orang lain, mungkin tempat ini nggak jauh beda. Tapi di sini kita bisa bertemu dan berteman dengan orang yang bernasib sial seperti kita."
Nisa kemudian mengernyit dan berkata, "Tidak jauh beda bagaimana maksudmu? Apa ini berhubungan dengan kerja sambilan yang dibilang orang tadi?"
"Iya." jawab Sinta. "Kita semua di sini disuruh untuk melayani nafsu orang-orang mesum."
"...!?" Nisa terkesiap, kemudian dia tertegun untuk beberapa saat. "Apa kalian pernah mencoba kabur dari sini?"
"Memangnya mau kabur ke mana? Kita nggak punya tempat lain yang mau di tuju. Di sini kita dijamin makan dan dapat tempat tinggal. Nggak kepanasan, nggak kehujanan. Toh tempat ini dijaga ketat, ada balasan orang preman yang menjaga tempat ini. Mereka semua nggak segan-segan mencelakai perempuan." jawab Chaca.
"Apa kalian tahu nama kelompok preman yang mengurung kalian?" tanya Nisa.
"Aku yang paling lama di sini. Aku pernah dengar kalau kelompok mereka bernama Aliansi Barat, tiap seminggu sekali ada petinggi yang datang ke sini. Mereka juga minta dilayani, tapi khusus yang masih perawan. Aku tahu karena aku pernah melakukannya." ucap Sinta.
"Apa semua yang dikurung di sini adalah gadis?" tanya Nisa lagi.
"Nggak kok, ada juga yang cowok. Kalau cowok malah disuruh buat mencuri, daerah ini kan dekat dengan terminal, yang mereka curi adalah barang-barang dari mobil tanpa penumpang. Tahu sendiri lah, pecahkan kacanya. Para penjaga juga menyebut kita sebagai Run Away from Family, biasanya disingkat RAFF!" ucap Vivi.
"Lalu, bagaimana cara mereka bertransaksi?"
"Lewat situs online, kami sebelumnya diajak ke ruangan khusus seperti studio foto. Kami disuruh pakai kostum seksi, dan foto-foto kami dibuat sebagai profil yang tarifnya sudah ditentukan. Yang paling cantik di sini Chaca, dia paling mahal. Tapi entahlah dengan kamu, lepas dong maskermu itu~" ucap Sinta.
"Wajahku jelek."
"Ihhh ... nama jelek, wajah juga jelek, pasti bohong ya!" ledek Chaca.
"Diam!" Nisa melotot.
Sialan, kegiatan prostitusi ini terorganisir. Jika tahu akan begini, harusnya aku turun tangan lebih cepat. Terlebih lagi di sini isinya anak di bawah umur korban kekerasan dari lingkungan keluarga.
Mendadak Nisa mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Jenny kepada ketiga gadis itu. "Apa kalian pernah lihat dia?"
Ketiganya menggeleng. Chaca lalu berkata, "Kok bisa bawa hp?"
"Itu rahasia!" bentak Nisa.
Vivi lalu berkata, "Dia terlihat dewasa, harusnya kalau ada di sini pasti di kamar yang di lantai 2!"
"Kamar di sini dikelompokkan dengan umur?!" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Iya, yang umur 20 tahun ke atas lebih banyak peminat, mungkin itu tergantung skill dan postur tubuh." ucap Sinta.
"O-ohh begitu ..."
Sialan! Apa orang itu buta?! Bisa-bisanya tidak sadar dengan dadaku yang berisi! Berani-beraninya menganggapku sebagai bocah yang bertubuh rata!
"Tapi, aku pernah dengar biasanya yang umur 20 tahun ke atas yang masih perawan harganya jauh lebih mahal. Biasanya para pengusaha dan orang kaya yang tertarik. Tempat booking juga khusus, yaitu di hotel." ucap Chaca.
"Hotel mana?!" tanya Nisa bersemangat.
Aku tak terlalu yakin Jenny masih perawan atau tidak, tapi tempat itu boleh di coba.
"Ehmm ... Plaza Lux Hotel. Yang pernah aku dengar itu." ucap Chaca.
Nisa menghela napas lalu berdiri. "Apa kalian mau bebas? Kalian bisa kena penyakit menular loh, apalagi kalian masih di bawah umur."
"Ck, cara bicaramu seperti orang tua saja." ucap Vivi dengan nada meremehkan.
"Umurku 20 tahun tahu! Kalian saja yang bocah." Nisa lalu berjalan ke arah pintu.
"Hei! Kamu mau ke mana!?" teriak Sinta.
"Pergi dari sini."
"Jangan! Mereka akan memukulmu!" teriak Chaca.
__ADS_1
Nisa lalu menyeringai. "Tutup mata kalian ya adik-adik! Soalnya yang akan terjadi selanjutnya adalah adegan dewasa yang sesungguhnya!"