
Di sebuah ruangan yang sempit, sunyi penuh ketegangan. Bilik kecil yang merupakan ruang interogasi itu hanya terdapat dua orang di dalamnya. Seorang polisi penyidik yang berperan sebagai interogator menatap seorang wanita yang duduk berhadapan dengannya.
Wanita itu adalah Nisa, dengan tangan yang masih diborgol dirinya memalingkan pandangannya dari polisi itu. Sekilas dia melirik ke arah cermin pada salah satu sisi dinding, dia tahu betul bahwa itu adalah cermin dua arah.
Nisa juga tahu bahwa sebenarnya terdapat beberapa polisi yang sedang mengamatinya dari ruangan lain melalui cermin dua arah tersebut. Nisa tak dapat melihat polisi di ruangan itu, namun para polisi dapat melihat Nisa dengan sangat jelas.
"Nah Nyonya ... seharusnya kau tahu bahwa sekarang kau sedang diinterogasi. Aku hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan untukmu dan kau hanya tinggal menjawabnya dengan jujur. Jadi santai saja, kau boleh meminum kopi yang telah kami sediakan," ucap polisi itu dengan nada ramah.
Nisa termenung, dia melihat secangkir kopi hangat yang telah tersaji di depannya. Namun setelahnya dia malah menyeringai sambil menatap sinis polisi itu.
"Heh, kau tak perlu seniat ini."
"Apa maksud Anda?" tanya polisi itu dengan tatapan sedikit kaget.
"Maksudku adalah kau tak perlu seniat ini menyelidiki aku. Kau pikir aku bodoh? Kau berniat untuk mengambil sampel DNA-ku dengan cara halus. Jika aku meminum kopi ini, nantinya kau pasti akan mengekstraksi DNA dari air liur yang tertinggal di ujung cangkir."
Polisi itu tersentak, lagi-lagi dia terkejut karena Nisa bisa menyadari taktiknya. Sejenak kemudian dia kembali berkata, "Wah-wah ... baru kali ini aku menginterogasi orang yang sepertimu. Kau sepertinya sudah berpengalaman dalam hal ini. Sekarang katakan, sabotase kebakaran kali ini perbuatan kriminalmu yang ke berapa!"
"Cih, itu bukan ulahku," jawab Nisa dengan nada malas.
"Hei, Nyonya! Tolong perhatikan sikap Anda! Jangan Anda kira kami para polisi ini adalah orang bodoh! Berhenti menyangkalnya dan patuhi prosedur dengan baik! Setidaknya hukumanmu nanti akan diberikan keringanan!" teriak polisi itu yang mulai kehabisan kesabaran.
"Heh, masa bodoh dengan hukuman. Aku tidak bersalah, memangnya kau mau menjatuhiku hukuman seperti apa?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.
"Nyonya ... saya minta bekerja samalah dengan baik! Anda jangan coba-coba menguji kesabaran saya!"
"Lantas kenapa kalau kau tidak sabar? Kau mau menggunakan cara kekerasan atau penyiksaan? Kau pikir aku bakal takut? Menurut hukum pidana yang berlaku di negara ini, tindakan pelecehan, penyiksaan dan kekerasan terhadap tahanan itu dilarang. Kau itu seorang polisi, harusnya kau paham hal ini. Yahh ... jika kau tidak paham ... mungkin saja caramu mendapat jabatan sebagai polisi patut dipertanyakan," ucap Nisa sambil memandang dengan tatapan meremehkan.
"K-kau ...!" Polisi itu merasa geram. Dia yang seharusnya menginterogasi kini malah diceramahi oleh seorang tersangka dan bahkan statusnya dipertanyakan.
Sialan, aku tak pernah menyangka akan berurusan dengan wanita selicik ini. Mau menakut-nakuti dengan hukuman yang berat aku rasa akan gagal. Terlebih lagi dia paham tentang hukum, sepertinya menggunakan taktik interogasi lain akan percuma.
"Baiklah, Nyonya! Anda jangan lupa kalau sekarang posisi Anda masih sebagai tersangka utama. Dan sekarang Anda sedang menjalani proses interogasi. Artinya Anda hanya perlu menjawab pertanyaan dari saya! Bisa kita mulai?"
"Terserah," jawab Nisa yang lagi-lagi mencoba membuat polisi itu kesal.
"Oke, kalau begitu katakan di mana Anda berada sebelum kebakaran terjadi?"
"Aku masih berada di area gedung, cari angin segar untuk menenangkan diri," jawab Nisa dengan ekspresi datar.
"Hem ... baiklah," gumam polisi itu.
Ini masuk akal, jika dia berada jauh di area gedung maka mustahil dia yang menyebabkan kebakaran. Jadi memang ada kemungkinan jika dia memang pelakunya.
"Hei, ini sudah jam berapa?!" tanya Nisa.
Polisi itu lalu melihat jam di layar ponselnya. "Jam 11.07," jawabnya.
"Sudah semalam itu ternyata. Kalau begitu jangan buang-buang waktu lagi! Cepat ajukan pertanyaan lain dan akhiri interogasi ini secepatnya!"
"..." Polisi itu lagi-lagi terdiam, dia tidak habis pikir dengan sikap Nisa yang sangat arogan seperti ini.
Haiss ... harusnya kemarin aku ambil cuti saja, jadinya aku tidak perlu berurusan dengan perempuan sinting ini. Jangankan takut, dia bahkan tak menghargai profesi polisi sekali pun. Meskipun dia adalah konglomerat tapi ini juga keterlaluan.
"Ehem, bisa tolong lebih spesifik lagi di mana Nyonya berada? Misalnya di area taman atau area parkir?"
"Belakang gedung," jawab Nisa singkat.
"Untuk apa Nyonya berada di sana? Apakah Nyonya sedang menyiapkan peralatan untuk menciptakan api?"
"..." Sejenak Nisa terdiam, ekspresinya kali ini berubah menjadi ragu.
"Ada apa Nyonya? Apakah Nyonya kesulitan untuk menjawab? Atau apakah mungkin Nyonya takut salah bicara? Perlu menunggu pengacaramu datang?" Polisi itu menatap curiga.
"Bukan! Aku bisa memberitahumu semua yang aku lakukan, hanya saja ... bisakah kau merahasiakannya dari suamiku?"
"Hmmm ... jadi itu alasan mengapa Nyonya menolak memberikan kesaksian di lokasi. Nyonya tidak mau suami Nyonya mengetahui perbuatan yang dilakukan oleh Nyonya."
"Hei, kau tidak perlu membahas topik lain! Kau setuju atau tidak dengan permintaanku?! Jika kau tidak setuju maka akan aku pastikan kalau aku akan terus bungkam! Jangan harap mendapat jawaban dariku!"
Polisi itu menghela napas. "Hahh ... saya mohon jangan menempatkan saya di posisi sulit. Saya ini seorang aparat kepolisian yang biasa saja, saya tak punya pangkat yang tinggi ataupun kekuasaan lebih. Tapi semua orang tahu bahwa suamimu itu orang dengan status yang tinggi, dia pasti mempunyai kenalan lain di kepolisian yang pangkatnya lebih tinggi dari saya. Saya terbuka seperti ini karena sadar bahwa Nyonya orang yang tidak bisa dibodohi. Lantas bagaimana nanti jika suamimu memaksa ingin tahu?"
__ADS_1
"Itu urusanku, kau tak perlu memikirkannya lebih jauh dan lakukan saja apa yang aku minta!"
"Baiklah, akan saja lakukan. Kalau begitu bisakah sekarang Nyonya ceritakan tentang apa yang sebenarnya Nyonya lakukan?"
"Kalau begitu dengarkan baik-baik! Aku tak mau mengulangi bicaraku! Setelah berdebat dengan Natasha, aku pergi ke lantai pesta. Untuk menenangkan pikiranku biasanya aku minum wine, tapi di pesta itu tidak ada wine. Lalu aku pergi ke belakang lewat bagian dapur, yang aku lakukan di belakang gedung hanya menatap kesunyian malam sambil mengisap batang rokok. Apa kau sekarang sudah jelas?"
"R-rokok? Jadi ... Nyonya di belakang gedung merokok?!" tanya polisi itu seakan tidak percaya.
"Iya. Memang ada kasusnya membuang putung rokok sembarangan bisa terjadi kebakaran. Tapi kata orang-orang munculnya asap itu dari dalam gedung, sedangkan aku berada di belakang, jadi tidak mungkin bahwa aku pelakunya!"
"T-tunggu sebentar Nyonya, alasanmu ini sedikit tidak bisa saya terima. Jika benar bahwa Nyonya sedang merokok, alasan ini termasuk hal remeh, tapi mengapa Nyonya tidak mau mengakui hal seremeh ini di depan suami?" tanya polisi itu dengan ekspresi bingung.
"Kau tahu apa sialan? Ini masalah pribadi dalam rumah tangga! Suamiku berharap agar aku bisa cepat hamil lagi, jadi aku tidak mau dia kecewa dengan mengetahui bahwa aku seorang perokok aktif! Terlebih lagi di sana ada kedua mertuaku, terkadang cara berpikir orang-orang itu kuno. Mungkin saja mereka akan menganggap bahwa perempuan yang merokok itu adalah perempuan nakal, padahal kan itu belum tentu."
Yahh ... meskipun sebenarnya memang benar kalau aku nakal, bahkan termasuk kriminal, aku kan ketua gangster.
"O-ohh begitu, akan aku tulis pernyataanmu ini di laporan. Tapi Nyonya, sekedar kata-kata saja tidak cukup, apakah Nyonya punya bukti atau saksi lain?"
"Bukti dan saksi, keduanya aku punya. Hanya saja aku tak mengenal siapa saksinya, yang jelas dia adalah seseorang karyawan katering, dia juga ikut menemaniku merokok. Ngomong-ngomong apa kau bermaksud meminta kesaksian darinya?"
"Tentu! Informasi sekecil apa pun sangat membantu dalam menangani kasus seperti ini!"
Terlebih lagi sebenarnya aku curiga, dia bisa bicara selancar ini selama interogasi. Aku curiga jika saksi yang dia maksud adalah komplotannya, dan nanti komplotannya itu akan memberikan kesaksian palsu sebagai upaya membebaskannya.
"Karyawan katering itu bagaimana ciri-cirinya?"
"Emm ... dia biasa saja, bahkan menurutku wajahnya di bawah standar, jelek, dekil, penuh jerawat."
"Bisa tidak Anda jangan menghina wajah pemberian Tuhan?"
"Siapa yang menghina? Aku cuma mendeskripsikan apa adanya secara rinci agar tidak menyulitkanmu! Oh, dan satu hal lagi! Dia pakai kacamata berbentuk kotak!"
"Baiklah Nyonya, kami akan segera kembali ke tempat kejadian perkara untuk menjemput pegawai katering yang Anda maksud."
Polisi itu kemudian beranjak dari sana, dia memberitahu kepada rekan polisinya yang lain tentang seorang saksi yang disebutkan oleh Nisa. Akhirnya sejumlah tiga orang polisi ditugaskan untuk menjemput saksi tersebut di tempat kejadian perkara, tepatnya di Galaxy Square Hall yang saat ini telah hangus terbakar.
Ketika mereka berjalan sampai di depan kantor polisi, secara tak sengaja mereka bertemu dengan Keyran. Saat ini Keyran tampak membawa seorang pria bersama, dia tidak lain adalah seorang pengacara.
Keyran lalu mencegat polisi itu. "Tunggu! Aku ingat kalau kau tadi yang menahan istriku! Di mana dia sekarang?!"
"Lantas sekarang kalian mau ke mana?" tanya Keyran penasaran.
"Kami sedang dalam perjalanan untuk menjemput saksi lain."
Sungguh tidak bisa dianggap remeh, belum ada setengah jam setelah penangkapan istrinya. Tapi dia saat ini sudah di kantor polisi bersama dengan seorang pengacara kondang. Kasus yang berhubungan dengan konglomerat memang tak bisa dianggap sebelah mata.
"Bawa aku menemui istriku!" pinta Keyran pada polisi itu.
"Maaf, untuk sekarang masih tidak bisa untuk ditemui karena masih dalam tahap penyelidikan. Tapi jika Tuan ingin melihatnya maka hal itu bisa dilakukan, Tuan bisa melihat dari sisi ruangan lain yang dibatasi oleh cermin dua arah. Di sana sudah ada beberapa polisi lain yang mengawasi istri Anda."
"Baiklah, seperti itu juga tidak apa-apa."
Polisi itu meminta salah satu rekannya untuk memandu Keyran beserta pengacara itu ke dalam. Sedangkan dia bersama rekan yang satunya lagi segera melanjutkan perjalanan untuk menjemput saksi lain.
***
Selang beberapa menit kemudian, polisi itu kembali dan membawa sang karyawan katering itu masuk ke ruang interogasi. Dia disuruh untuk duduk tepat di sebelah Nisa, hanya saja yang membuat berbeda tangannya tidak diborgol.
"Mari kita selesaikan ini dengan cepat! Saksi dan sekaligus tersangka baru, atas nama Budi! Apa kau terlibat dalam kebakaran ini?" tanya polisi itu dengan tatapan tajam.
"T-tidak, Pak ... saya cuma pegawai katering biasa. Saya juga tidak ada niatan untuk membuat kebakaran ...." Pria bernama Budi itu gugup, dia juga menatap Nisa dengan tatapan yang aneh.
"Nyonya, apa dia adalah komplotanmu?" tanya polisi itu pada Nisa.
"Tidak, aku sama sekali tak mengenalnya. Dia cuma seseorang yang kebetulan berada di tempat yang sama denganku dan di dalam waktu yang kurang tepat. Kami bahkan baru bertemu sebanyak sua kali, itu pun termasuk sekarang." jawab Nisa dengan ekspresi datar.
Cih, lagi pula aku juga tidak sudi punya komplotan orang dengan tampang alim sepertinya. Komplotanku kan semuanya punya tampang bajing*n.
"Baiklah, menurut pengakuan dari Nyonya Nisa tadi. Dia merokok di belakang gedung saat kejadian kebakaran bermula, dan kau merupakan seseorang yang melihatnya. Apa itu benar, Mas Budi?"
"B-Benar, Pak ... awalnya saya yang terlebih dulu di sana. Saya sedang membuang sampah di bak sampah di dekat sana, karena kelelahan saya beristirahat dan merokok sebentar. Lalu tiba-tiba saja Nyonya Nisa datang dan duduk di sebelah saya, dia juga memalak rokok saya."
__ADS_1
"Hei, mana ada aku memalak?! Aku minta secara sopan dan ramah!" bentak Nisa sambil melotot.
"Nyonya, tolong jangan menyela!" pungkas polisi itu yang kemudian beralih menatap Budi. "Silakan lanjutkan, jangan takut, Anda di bawah perlindungan polisi."
"Ehmm ... setelah itu saya memberikan sebatang rokok kepada Nyonya, tapi baru sekali mengisap rokok itu Nyonya marah. Dia bilang kalau rokok itu tidak sesuai dengan seleranya. Tapi setelahnya saya malah diberi uang dan diminta untuk membeli sebungkus rokok menthol di minimarket terdekat. Saat saya kembali, Nyonya meminta saya untuk menemaninya merokok. Saya sebenarnya masih ada pekerjaan lain, tapi saya juga tidak bisa mengabaikan permintaan Nyonya. Karena itu saya di sana."
"Berapa lama waktu yang kalian habiskan?" tanya polisi itu.
"S-saya kira ... cukup lama, soalnya Nyonya menghabiskan sampai setengah bungkus rokok. Lalu setengahnya lagi diberikan kepada saya. Dan tiba-tiba saja alarm peringatan kebakaran berbunyi. Nyonya langsung melesat berlari, tapi dia memilih jalan memutari gedung."
"Nah, dengar sendiri, kan?! Aku tidak bersalah! Itulah sebabnya aku tiba-tiba muncul dari belakang kerumunan orang-orang!" ucap Nisa dengan nada ketus.
"Hmm ... bisa saja kalian berdua adalah satu komplotan dan kalian sudah merencanakan pengakuan kesaksian ini."
"Astaga, kenapa kau sangat ingin hasilnya terbukti kalau aku adalah pelakunya! Padahal investigasi belum dilakukan! Hasil dari investigasi juga tidak bisa disimpulkan secepat ini! Bisa saja kebakaran itu karena kesalahan teknis!"
"Itulah mengapa kalian masih berstatus tersangka, tidak ada bukti nyata yang membuktikan bahwa kalian benar-benar tidak bersalah!"
"A-aku ada bukti!" sahut Budi.
"Benarkah?! Ayo cepat keluarkan, mata empat!" teriak Nisa.
"Nama saya Budi ...."
"Masa bodoh dengan namamu! Cepat tunjukkan buktinya! Itu rokok yang aku berikan padamu, kan?"
"Iya, tapi sama sekali belum saya pakai." Budi lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan meletakkan ke meja. Saat polisi itu mengeceknya, ternyata benar bahwa rokok di dalamnya hanya tinggal tersisa separuh.
"S-saya masih ada bukti lain!" Sekali lagi Budi mengeluarkan sesuatu dari sakunya, kali ini adalah sebuah kertas putih berukuran kecil. "Itu adalah struk pembelian dari minimarket, di situ ada keterangan tentang apa saja yang dibeli dan tanggal beserta jam nya. Itu sudah membuktikan bahwa saya tidak bersalah, kan?"
"Hmm ... masuk akal, di sini jam 20:27:51. Artinya sekitar setengah jam sebelum kebakaran terjadi. Tapi selain pembelian rokok, di sini juga tertulis pembelian 3 kaleng bir. Wah-wah Nyonya ... sepertinya Anda sangat menikmati hidup, ya?"
"Haha ... itu karena aku haus, tidak ada wine jadi aku cari bir." ucap Nisa sambil memalingkan wajahnya dan tersenyum canggung.
Polisi itu menghela napas. "Hahh ... kedua barang ini akan aku amankan sebagai barang bukti. Dan kalian berdua dinyatakan tidak bersalah."
"Huaa ... syukurlah, akhirnya aku bisa pulang ke rumah tepat waktu sebelum kena omel ibu!" ucap Budi sambil bernapas lega.
"Jadi aku sudah bisa meninggalkan ruangan ini?" tanya Nisa.
"Iya, Nyonya. Tapi sebelum itu biarkan saya lepas dulu bor-"
TRAKK!!
Polisi itu mematung saat melihat Nisa meletakkan borgol itu di atas meja. "B-bagaimana bisa lepas? Apa borgolnya rusak?!"
"Haha, tidak kok. Hanya saja aku sudah sering bermain dengan alat-alat seperti ini~" Nisa menyeringai sambil berjalan ke arah pintu keluar.
"BDSM ... upss!? Maaf!" Budi seketika membungkam mulutnya.
"Orang luar seperti kita tak pantas berkomentar," ucap polisi itu.
***
Setelah Nisa keluar dari ruang interogasi itu, dia terkejut karena dia melihat Keyran yang telah menunggunya.
"Kau di sini?! Kau juga membawa pengacara?!" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Aku khawatir padamu!" Keyran lalu mendekat ke arah Nisa dan langsung memeluknya. "Bodoh! Padahal kau bisa saja mengakui semuanya dan tak perlu dibawa ke kantor polisi hanya demi alasan konyol!"
"B-bagaimana kau bisa tahu?!"
"Aku menyaksikan semuanya di balik cermin, aku tahu apa yang kau coba tutupi dariku."
"Uuhh ... padahal aku sudah bilang jika aku akan berusaha untuk segera hamil lagi untukmu, tapi yang aku lakukan justru sebaliknya. Maaf ... tapi aku sama sekali tidak bisa menahannya, aku sangat kacau setelah berdebat dengan Natasha. Aku tak membawa obat antidepresan, jadi aku merokok untuk meredakan stress. Inilah perbuatan buruk yang sebenarnya aku lakukan, tak apa jika kau kecewa padaku ...." ucap Nisa dengan nada bersalah.
"Justru aku akan lebih kecewa jika kau benar-benar terlibat! Tapi syukurlah itu tidak! Kau harus dihukum karena mencoba menyembunyikan sesuatu dariku!"
Mendadak pengacara itu mendekat ke arah Keyran dan berkata, "Maaf Tuan, tapi perlu saya ingatkan jika kita sekarang berada di kantor polisi. Semua tatapan mata tertuju kepada Anda."
"Huh, biarkan saja! Lagi pula aku sedang memeluk istriku sendiri, bukan istri orang lain!"
__ADS_1
"Anu ... Key, aku rasa dia benar. Kita lanjutkan di rumah saja, ya?" Nisa tersenyum canggung.
"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi ..."