Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Noda Dalam Hidupmu


__ADS_3

Sial! Aku tak menyangka jika Keyran akan ke sini.


Nisa tak berkata apa pun dan mengepalkan tangannya yang masih gemetar, tampak jelas jika saat ini dia sedang dilema. Jonathan yang menyadari hal itu lalu menepuk pundak Nisa.


"Jangan menemuinya," ucap Jonathan dengan gelengan kepala.


"Kenapa?"


"Dia mencarimu ketika kau sudah terbukti tidak bersalah, lagi pula sudah terlambat jika dia datang sekarang. Kau tak perlu membuang waktumu yang berharga demi pria pengecut sepertinya."


"Pria pengecut itu tetaplah suamiku," ucap Nisa yang sontak saja membuat Jonathan terkejut dan menarik tangannya kembali.


"Kau masih menganggapnya sebagai suami setelah dia membuangmu dan tak memedulikanmu?!" tanya Jonathan seakan tidak percaya.


"Ya," jawab Nisa singkat.


Keyran adalah suamiku, baik itu secara hukum maupun secara agama. Bahkan hatiku masih mengakuinya meskipun rasanya menyakitkan.


"Tunggu Nisa, tolong pikirkanlah sekali lagi. Tidak ada untungnya kau bertemu dengannya!" Jonathan bersikeras meyakinkan.


"Entahlah, tapi setidaknya dengan menemuinya ... aku bisa tahu tujuannya datang kemari." Nisa beranjak dari sana dan berdiri memunggungi Jonathan. "Tolong keluarlah!"


"..." Jonathan membisu, dia masih berdiam diri di tempat.


Nisa yang merasa tersinggung langsung melirik sinis. "Berikan aku ruang untuk berpikir. Suamiku sekarang datang kemari, dan ini di luar perhitunganku. Meskipun sekarang aku belum siap untuk menemuinya, tapi aku harus. Aku ingin keluar dari masalah yang selalu mengusikku seperti ini."


"Aku tegaskan sekali lagi. Jonathan Harrison, perhatikan batasanmu!"


"Baiklah, aku akan keluar. Berpikirlah dan ambil keputusan yang tak akan kau sesali." Dengan berat hati Jonathan akhirnya menuruti permintaan Nisa. Sebelum beranjak dari sana, dia tak lupa membawa pergi obat psikotropika yang terjatuh di lantai agar Nisa tak meminumnya.


Begitu keluar dari kamar itu, dia berpapasan dengan Marcell yang masih berdiri di sana untuk menunggu keputusan Nisa.


"Ternyata kau masih di sini," ucap Jonathan dengan raut wajah masam.


"Apa dia berniat menemui suaminya?" tanya Marcell.


"Ya ..." jawab Jonathan dengan nada malas.


"Ngomong-ngomong apa kau berhasil membujuknya untuk makan?"


"Dia tidak mau."


Marcell termenung untuk sejenak, kemudian dia berkata. "Jangan temui Nisa sampai besok."


"Kenapa?!"


"Aku bilang begini demi kebaikanmu sendiri, malam ini saja jangan tunjukkan wajahmu di hadapannya. Saat ini dia sedang melakukan pertaruhan di dalam hidupnya."


"Maksudmu?" tanya Jonathan kebingungan.


"Tetaplah dalam batasanmu, saat ini kau masih orang luar, kau bukan siapa-siapa. Tunggulah hingga malam ini berakhir. Jika esok pagi kau punya kesempatan untuk melihat wajah Nisa, maka kau akan punya kesempatan untuk menemaninya hingga seterusnya."


"Cih, bukan kau yang memutuskan!" Jonathan langsung bergegas pergi dari sana dengan penuh kekesalan.


Aku sudah sampai di titik ini, kali ini aku tidak boleh menyerah. Akulah yang selalu ada saat Nisa sedang susah, akulah yang selalu ada untuk menghibur dan menghapus air matanya. Hanya akulah orang yang menyembuhkan lukanya. Nisa pasti akan mengakhiri segalanya dengannya lalu memilihku. Aku yakin itu!


***


Di sisi lain Keyran masih berdiri di depan pintu masuk kasino. Dia tak berani melangkah lebih jauh karena sadar bahwa situasi masih belum memihaknya.


"Sial, apa ayah mertua menipuku? Dia bilang ingin membantuku, tapi sekarang malah terkesan mengantarku ke gerbang kematian," gumam Keyran yang terus dalam posisi siaga.


Dia langsung menghilang tanpa jejak setelah mengantarku sampai sini. Tetapi tempat ini berbeda sekali jika dibandingkan saat terakhir kali aku kemari. Tempat ini biasanya ramai, tapi sekarang sepi. Hanya ada penjaga bertubuh kekar yang tatapan matanya seolah-olah siap untuk membunuhku jika aku bergeser sedikit saja. Sialan, apakah sesulit ini untuk bertemu istriku sendiri?


TAP TAP TAP ...


Tiba-tiba saja seorang wanita cantik yang berpakaian rapi datang dan mendekati Keyran. Para penjaga di sana pun terlihat seperti menerima perintah dari earpiece yang terpasang di telinga mereka, mereka semua beralih posisi dengan rapi seolah-olah memberikan jalan untuk wanita tersebut.


"Selamat datang di Grizz Glory Casino~ Harap Tuan dapat bekerja sama dengan kami~" ucap wanita cantik itu sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Siapa kau?" tanya Keyran tetap waspada.


"Wah ... dirimu ternyata tertarik dengan diriku, kalau begitu diriku akan memperkenalkan diri~ Diriku bernama Kaitlyn, tapi diriku lebih akrab disapa Foxy~ Salam kenal Tuan Muda ..." ucapnya dengan nada manja.


"O-oh, untuk apa kau kemari?" tanya Keyran yang ekspresinya berubah canggung.


Sial, bisa-bisanya aku bertemu dengan banci ini yang asalnya dari Violent Zone lagi. Ternyata seperti ini wajahnya jika tidak pakai topeng.

__ADS_1


"Diriku diberi perintah untuk menyambut dirimu. Hemm ... diriku merasa terhormat dipercaya oleh ketua secara langsung. Untuk mempersingkat waktu, mari Tuan Muda ikuti diriku~"


"Baiklah, tunjukkan jalannya!"


Dia bilang ketua, pasti yang dia maksud adalah Nisa! Syukurlah Nisa mau bertemu denganku, akhirnya aku bisa melihatnya lagi.


Foxy mengantar Keyran menuju ke sebuah tempat yang telah ditentukan oleh Nisa. Selama mereka berdua berjalan, setiap penjaga menunjukkan sikap hormat saat berpapasan dengan mereka berdua.


Foxy tampak biasa saja, tetapi hal ini terasa asing bagi Keyran. Dia hanya terus berjalan dan berpikir, berpikir tentang pengaruh yang dimiliki oleh istrinya yang selama ini telah dirahasiakan darinya.


Tak lama kemudian mereka berdua sampai di sebuah tempat di dalam kasino yang luas itu. Foxy berhenti berjalan ketika telah sampai di pintu masuk sebuah private room.


"Tugas diriku hanya mengantar Tuan Muda sampai sini. Ketua telah menunggu dirimu di dalam sana," ucapnya yang langsung bergegas pergi meninggalkan Keyran seorang diri.


Keyran menatap pintu yang tertutup rapat di hadapannya. Dia lalu memegang gagang pintu itu sambil bergumam, "Aku sedikit gugup bertemu denganmu."


Akhirnya Keyran memantapkan diri untuk membuka pintu itu, perlahan dia melangkah lebih jauh ke dalam. Dan benar saja, Nisa telah duduk dan menunggunya di sana.


"Nisa!? Apa kau tahu jika aku ...." Seketika Keyran membisu, karena Nisa yang menyambutnya tak sama seperti apa yang dia bayangan. Nisa yang dia lihat saat ini memasang ekspresi datar, seolah-olah tampak tidak begitu peduli dengan kehadirannya.


"Silakan duduk," ucap Nisa dengan tatapan dingin.


"..." Keyran hanya diam. Meskipun telah melihat Nisa, entah kenapa hatinya semakin terasa sakit. Dia akhirnya duduk di kursi yang telah disiapkan. Memang saat ini dia berhadapan dengan Nisa, tetapi sebuah meja panjang membuat jarak di antara mereka.


Kenapa Nisa? Kenapa kau sekarang terkesan begitu jauh? Aku pikir saat bertemu denganmu, aku bisa langsung memelukmu dan meminta maaf. Apakah kesalahanku sebegitu besar hingga membuatmu berubah?


"Ayo cepat bicara! Kenapa lama sekali?!" celetuk Ivan tiba-tiba.


"Diamlah bodoh!" teriak Dika sambil memukul bahu rekannya itu.


"A-apa?!" Seketika Keyran menoleh ke sumber suara. Akhirnya dia sadar bahwa di sisi kanan kiri terdapat 8 orang pria yang menatapnya dengan tajam. Sebelumnya dia tidak menyadari karena jarak yang berjauhan dan penerangan yang gelap. Hanya terdapat sebuah lampu yang menerangi, letaknya tepat berada di atas meja yang menjadi pemisah.


"Mereka teman-temanku," ucap Nisa sambil melirik ke arah rekan-rekannya.


Ya, sekarang mereka semua telah kembali. Misi yang diberikan oleh Nisa untuk menghancurkan bisnis gelap milik Daniel telah diselesaikan. Marcell, Ivan, Dika, Damar, Yhonsen, David, Hendry dan Faris. Kesembilan Family termasuk Nisa telah berkumpul. Keyran yang menyadari hal itu tahu benar bahwa suasana di dalam private room tersebut sangat berat dan bahkan membuat sesak.


"Nisa, aku pikir ini akan menjadi perbincangan pribadi di antara kita."


Nisa menghela napas. "Di sini aku yang menentukan, lagi pula bagiku mereka semua bukanlah orang luar. Mereka sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Keluarga yang tak akan pernah membuangku tak peduli sekotor apa pun diriku."


"A-aku ..." Lagi, Keyran dibuat terdiam. Perkataan menusuk barusan telah membuat rasa bersalahnya semakin besar. Bahkan sekarang dia menundukkan kepalanya.


"Baiklah, karena kau terus diam maka aku saja yang bicara!" ucap Nisa yang seketika membuat Keyran mengangkat kepala.


"Aku akan langsung saja, alasanku setuju untuk bertemu denganmu karena ingin meluruskan segalanya dan mencari jalan keluar untukku, untukmu, dan untuk hubungan kita."


"Apa maksudmu dengan hubungan kita? Mungkinkah kau berniat mengakhirinya?" tanya Keyran seakan tidak percaya.


"Ya, jika memang sudah tidak bisa dipertahankan. Aku muak, Key! Aku muak dengan pernikahan semacam ini! Aku sudah lelah, menyembunyikan segalanya tentangku sangat melelahkan. Berbohong pun ada batasnya, karena itu sekarang aku akan membongkar semua kebusukan yang aku sembunyikan darimu."


"Pertama, aku ini ketua gangster. Kau datang ke sini dengan mobil ayahku, jadi bisa dipastikan bahwa hal ini sudah dijelaskan oleh ayahku. Tapi sekali lagi akan aku perjelas siapa aku. Aku ini gangster, istrimu ini seorang kriminal!"


"Aku membunuh orang, menyiksa orang, bahkan menghancurkan hidup orang. Aku juga melakukan bisnis gelap lainnya, bahkan jujur saja aku pernah memakai obat-obatan terlarang. Sekarang harusnya kau paham mengapa toleransiku pada alkohol sangat bagus, lingkunganku saja sudah seperti ini."


Keyran tak memberikan komentar apa pun, dan hal itu membuat Nisa tersenyum sinis.


"Yang kedua, aku sendirilah penyebab keguguranku waktu itu. Dengan bodohnya aku beraksi tanpa memikirkan tubuhku, dengan bodohnya aku mengorbankan janinku. Bukankah saat itu kau kecewa sekali karena kehilangan calon bayi yang sangat kau impikan? Maaf ya, aku membunuhnya."


Ekspresi Keyran masih tak berubah, dan hal itu sontak saja membuat Nisa terkejut. "Haha ... melihat dari reaksimu, seperti kau sudah tahu. Lucu ya, sesaat aku lupa telah menikah dengan siapa. Jika tebakanku benar ... harusnya kau telah menaruh curiga dan menyelidiki hal ini. Tapi anehnya kau sama sekali tidak marah padaku."


"Kira-kira kenapa, ya? Apa karena penyakit mental yang aku derita, kau jadi kasihan padaku? Tapi asal kau tahu, aku sangat benci dikasihani!"


"Tidak Nisa, aku sama sekali tidak bermaksud begitu ..." ucap Keyran dengan nada lembut.


"Jangan menyangkalnya! Jika bukan karena itu, lantas karena apa?!"


"Karena kau istriku, aku sadar jika kau sangat terpukul saat itu. Saat aku tahu kebenarannya, aku memutuskan menunggu agar kau yang mengakuinya sendiri, aku tak ingin ada salah paham yang lain."


Nisa menyeringai, "Heh, kau bodoh! Aku tidak habis pikir kau masih mau mendengarkanku sampai titik ini. Kalau begitu aku akan melanjutkan pengakuan terakhirku. Soal rekaman suara Daniel yang kini sudah terbesar, akulah dalang di balik kejadian itu."


"Mungkin kau juga sudah menduganya. Tapi kau belum tahu caraku melakukannya. Aku menculiknya dan melakukan beberapa tindakan terhadapnya agar dia mau mengaku. Kau tenang saja, adik tiri yang tidak kau sukai itu masih hidup dan dia masih aku tawan di kasino ini."


"A-apa?! Daniel di sini?!" Keyran melotot seakan tak percaya.


"Ya, kau bisa sekalian membawanya pulang bersamamu nantinya."


"..." Keyran membisu, dia tak tahu harus berkata apa untuk menghadapi Nisa yang sekarang. Sosok Nisa yang saat ini terlihat begitu asing baginya.

__ADS_1


Bagaimana caraku memberitahumu, Nisa? Aku datang ke sini karena ingin membawamu pulang, tapi sosokmu yang sekarang ... entah kenapa terkesan sulit digapai meskipun kau tepat berada di depanku.


"Key, aku sudah mengatakan segalanya. Selama ini aku menikah denganmu, aku selalu menutupinya karena tak ingin kau kecewa. Tapi sekarang ... aku sudah tak mau lagi berharap padamu."


"A-apa maksudmu?!" tanya Keyran dengan kedua mata yang membulat.


Nisa tersenyum tipis. "Terima kasih. Meskipun terkadang kau menyebalkan, tapi kau juga peduli padaku. Terkadang kau terlalu mengaturku, tapi kau juga memanjakanku dengan segala kemewahan yang kau punya. Kau pria yang baik, kau pantas mendapat wanita yang baik pula."


"Sedangkan aku bukanlah wanita yang baik, bukan istri yang baik pula untukmu. Statusmu dan statusku sangat bertentangan, bahkan jika dipikir banyak ketidakcocokan di antara kita. Meskipun begitu, aku tidak menyangka jika aku bisa merasakan kebahagiaan di pernikahan ini."


"Hingga detik ini aku masih menganggapmu suamiku, karena itulah aku menghormatimu. Dan sebagai bentuk penghormatanku, aku ingin kau membuat sebuah keputusan untukku."


Tiba-tiba saja Nisa meletakkan sebuah benda kecil di atas meja. Dan setelah memperhatikan dengan saksama, Keyran tahu bahwa benda tersebut adalah sebuah flash drive.


"Di dalam sini terdapat bukti-bukti dari sedikit perbuatan kotor yang telah aku lakukan. Meskipun sedikit, tapi itu sudah cukup untuk membuatku dipenjara selama 20 tahun."


"Tunggu sebentar!" teriak Ivan yang tiba-tiba saja mendekat ke arah Nisa.


"Kenapa?" tanya Nisa dengan ekspresi datar.


"Kau pikir 20 tahun itu sebentar?! Tapi lupakan soal 20 tahun, memangnya kau serius menyerahkan bukti itu agar kau sendiri dipenjara?!"


"Ya," jawab Nisa secara spontan.


"Aku ikut!" sahut Marcell.


"A-apa?!" Ivan membelalak.


"Jika Nisa dipenjara, maka aku juga akan menyerahkan diri."


"Aku juga," sahut Dika yang kemudian diikuti oleh rekan-rekannya yang lain.


Ivan menghela napas. "Hahh ... baiklah, aku juga akan mengikuti kalian."


"Hei, kau terlalu banyak bicara," ucap Nisa dengan tatapan sinis.


"M-maaf," Ivan langsung diam dan kembali ke tempatnya semula.


Nisa lalu mengubah tatapannya ke arah Keyran. "Maaf, perbincangan kita terpotong karena sedikit gangguan."


"Nisa ... apa maksudmu?" tanya Keyran.


"Keyran Kartawijaya, kau merupakan seorang pewaris utama dan CEO ternama. Kau harus menjaga nama baikmu, dan untuk itu kau harus tetap bersih. Sedangkan kenyataannya ... akulah istrimu, aku tak mau jadi noda dalam hidupmu. Karena itulah tolong putuskan sekarang juga!"


"Jebloskan aku ke penjara sesuai hukum, dan tunggulah aku selama 20 tahun agar setidaknya aku tidak menjadi noda bagimu. Atau jika tidak ... kau bisa ceraikan aku. Aku siap menerima apa pun keputusan yang kau ambil."


"Waktuku tidak banyak, kuberi 3 menit dan cepat katakan apa keputusanmu!"







Akhirnya sampai juga di bagian ini😁 Oh iya, karena novel ini alurnya kompleks dan tokohnya banyak. Author mau kasih daftar nama para Family beserta peringkat posisi dan profesinya, baik untuk penyamaran atau bukan.


1) Nisa Sania Siwidharwa - BOS [mahasiswa malas, yg lain kalian sudah tahu sendiri haha]


2) Marcell - pengelola kasino [pembunuh berdarah dingin, paling mengagungkan Nisa]


3) Ardika - mengelola sebuah kedai kopi [Kedai Pembunuh, semacam jasa pembunuhan]


4) Ivan Laskara - hacker [mengelola bisnis di situs darkweb]


5) Damar - pengelola sebuah kelab malam [DG Club, tempat rahasia dan langganan orang-orang berstatus sosial tinggi untuk mengonsumsi narkoba]


6) Yhonsen - pembunuh bayaran internasional [super sibuk, sekalinya ada malah diperlakukan sebagai sopir oleh rekan-rekannya sendiri]


7) Hendry - masuk ke dunia politik [lebih tepatnya jadi boneka partai buatan ayahnya sendiri, satu-satunya yang sudah beristri, sekarang ada 3]


8) David Damian - idola dengan sebutan aktor sejuta umat


9) Faris - pengacara kondang [selalu menang tapi memeras kliennya sendiri]

__ADS_1


Oke guys, sekarang kalian sudah paham kan😉 Semoga kalian nggak bingung ya😂 sebenarnya masing-masing dari mereka sudah author beri kesempatan untuk menunjukkan karakternya masing-masing. Kalau nggak percaya silakan baca ulang wkwk


__ADS_2