
Nisa masih terus berada di dalam bak mandi setelah Keyran meninggalnya. Beberapa saat kemudian Nisa keluar dari bak mandi dan berjalan mendekati toilet, dia lalu berjongkok di samping toilet dan mulai muntah-muntah, "Hoekk... hoek...." Nisa memuntahkan alkohol yang telah diminum, namun efek dari alkohol tersebut belum hilang.
"Haa.. haa... haa..." Nisa mengatur napasnya, setelah itu dia merangkak dan bersandar pada dinding kamar mandi. Nisa terlihat tidak bertenaga dan raut wajahnya menggambarkan sedang mengalami masalah, meskipun lantainya sangat dingin, dia tetap seperti itu dalam waktu yang cukup lama.
"Ini cukup," ucap Nisa dengan suara lirih. Merasa efek alkohol telah berkurang, Nisa akhirnya berdiri dan berjalan keluar dari kamar mandi. Saat di luar, dia melihat Keyran yang sudah tertidur lelap. Nisa bergegas memakai baju, setelah selesai dia tidak pergi tidur, tapi malah mengambil selimut dari lemari.
Untuk sejenak Nisa terdiam dan hanya memandangi Keyran. Namun tak lama kemudian Nisa berjalan menuju ke balkon yang ada di kamarnya. Dia menyelimuti tubuhnya dengan selimut lalu duduk di sebuah kursi yang tersedia di balkon. Nisa termenung dan kemudian memandangi langit malam dengan senyuman.
"Nggak usah tidur, ini jam 3 pagi, sebentar lagi matahari akan terbit..."
Diterpa oleh angin malam, suara jangkrik yang terdengar cukup nyaring, cahaya bintang-bintang yang gemerlap, disinari oleh cahaya rembulan, malam ini adalah malam yang syahdu. Suasana ini membuat Nisa merasa sangat nyaman, dia mulai mengingat kenangan-kenangan indah yang telah dilaluinya. Dan semua kenangan itu membuatnya teringat pada seseorang.
"Aku merindukanmu..." satu kalimat yang diucapkan Nisa mewakili segalanya.
Bagaimana keadaanmu? Semuanya baik-baik saja kan? Rasanya sudah lama tidak melihatmu, aku ingin sekali mendengar suaramu. Setiap kalimat yang kamu ucapkan selalu terasa mengagumkan, dan setiap kali mendengarnya aku merasa telah ditunjukkan hal-hal baru. Bukan hanya tentang betapa indahnya dunia, tapi juga keburukan dan semuanya.
Kamu selalu menjadi penunjuk arah bagiku, tapi sekarang aku harus apa? Kehadiranmu sangat aku butuhkan, mengunjungimu juga sulit aku lakukan. Jika aku menulis surat, apa nanti kamu akan membalasnya? Sekarang semuanya telah berubah, semua kepolosanku juga sudah aku hilangkan. Tapi, apakah perbuatanku ini sudah benar?
Kamu juga selalu berkata bahwa tidak ada yang sepenuhnya benar, dan tidak ada yang sepenuhnya salah. Mungkin, jika aku benar-benar sudah lelah, maka aku akan berusaha untuk berkunjung. Keadaan disini sangat sulit untuk aku lalui, aku harap kamu bisa mengerti...
"Kakek..." ucap Nisa dengan suara lirih.
Cuma kamu di dunia ini yang bisa memahami jalan pikiranku. Aku sayang kakek, semoga kakek sehat selalu.
"Hah..." Nisa menghela napas lalu menutup kedua matanya.
Apa pilihan yang telah aku ambil salah? Sampai sekarang aku belum mendengar ayah menyampaikan berita dari kakek. Kakek tidak memberi tanggapan apa pun atas pernikahanku, apa kakek sudah tidak peduli lagi padaku? Atau apakah kakek kecewa dengan keputusan yang aku ambil?
Aku merindukan saat-saat ketika bersama dengan kakek, saat aku masih seorang anak kecil yang polos dan suka bermain. Tapi, anak kecil itu sekarang sudah menikah, sudah menjadi istri orang. Bukankah semua ini terasa tidak nyata? Tapi, inilah kenyataannya...
Bagiku menjadi seorang istri itu sangat sulit. Entah karena aku yang belum siap, atau karena memang aku yang buruk? Aku bahkan tidak tahu kapan suamiku pulang, dia pasti merasa kalau aku sungguh tidak berguna. Tapi apalah dayaku? Diriku memang seperti ini.
Aku tidak ingin berubah, dan aku juga tidak bisa merubah suamiku. Setiap kali ingin memperlakukan suamiku dengan baik, selalu saja aku merasa terjebak, terjebak di antara pikiran dan hatiku. Aku orang yang berpikiran terbuka, namun juga berhati sempit.
Pikiranku mengatakan aku harus sadar akan kenyataan dan status, namun di sisi lain aku juga tidak bisa mengabaikan hatiku. Aku masih butuh waktu, waktu yang cukup banyak... Kecuali jika selamanya juga tidak cukup, mungkin pernikahanku sungguh akan menjadi sebuah kompromi. Jadi apa yang harus aku pilih? Pikiran atau hatiku?
"Atau... apakah mungkin bukan keduanya?" Nisa membuka matanya dan untuk sesaat dia termenung.
Jika aku menurut pada pikiran atau hati, hasilnya sudah tergambar sangat jelas. Jika pikiran, maka sudah dipastikan aku menjadi istri yang berbakti namun jiwaku terasa kosong. Dan jika hati, sudah pasti aku tidak akan pernah mendapat kepuasan selama dendamku belum terbalas, bahkan jika terbalas nantinya aku juga tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Namun semua akan berbeda jika aku tidak menuruti hati ataupun pikiranku. Aku sama sekali tidak tahu hasilnya akan seperti apa. Dan masa bodoh dengan hasil! Di dunia ini yang aku inginkan adalah kebahagiaan yang sederhana, aku hanya tinggal berusaha dan melakukan apa yang bisa aku lakukan. Masalah hasil, serahkan semuanya pada Tuhan...
"Iya, seperti ini saja..." Nisa tersenyum ceria. Dan tiba-tiba dia berdiri dan bergegas pergi ke dapur. Setelah di dapur, dia membuat secangkir minuman cokelat panas, ketika selesai membuatnya dia langsung kembali menuju ke balkon yang ada di kamarnya. Suasana angin malam yang menenangkan, ditemani oleh cokelat panas, Nisa memilih untuk menikmati keadaan itu dan terus terjaga hingga matahari terbit.
...Pagi hari...
...••••••...
Pagi hari tiba, Keyran terbangun dari tidurnya. Meskipun hari ini adalah hari yang cerah, tapi raut wajahnya terlihat sangat masam. Dia masih teringat jelas tentang kejadian tadi malam, dia juga merasa tidak terima karena menganggap Nisa sudah mempermainkan dirinya.
"Ricky..." gumam Keyran.
Jika saja kau tidak menyebut nama itu tadi malam, mungkin suasana saat ini akan sangat berbeda.
"Kenapa Nisa... kenapa?"
Kenapa setiap kali aku ingin mendekat satu langkah padamu, saat itu juga kau langsung mendorongku menjauh? Trik macam apa yang kau mainkan!? Aku membencimu, dasar barang bekas!
Dengan penuh kekesalan Keyran bergegas turun dari ranjang lalu menuju ke kamar mandi. Dia sedikit terkejut karena tidak melihat Nisa yang semalam dia tinggalkan, karena itu dia beranggapan bahwa Nisa telah tersadar dari pengaruh alkohol. Dia juga mulai bertanya-tanya bagaimanakah sikap Nisa yang nantinya akan ditunjukkan kepadanya.
Setelah Keyran selesai bersiap, dia akhirnya turun untuk sarapan. Sampai saat itu dia belum melihat Nisa, dia mulai merasa ada yang janggal, namun dia mencoba untuk tidak peduli. Saat dia duduk dan bersiap ingin makan, tiba-tiba bibi Rinn mendekatinya dan menyuguhkan sepiring hidangan kepadanya. Lalu bibi Rinn berkata, "Tuan, ini adalah omelet yang dibuat oleh nyonya untuk tuan..."
"...." Keyran hanya diam dan menatap omelet itu dengan tatapan jijik. "Singkirkan itu!!" bentak Keyran.
"Eh!? Tapi, nyonya bilang tuan sangat menyukai omelet ini... Apa tuan sungguh tidak ingin memakannya?" tanya bibi Rinn dengan nada sopan, tapi Keyran malah melotot padanya. "B-baik tuan... akan saya singkirkan," bibi Rinn mengambil omelet itu kembali dan kemudian bergegas pergi.
"Tunggu dulu!" teriak Keyran.
"Iya tuan, ada apa?" Bibi Rinn lalu berbalik menghadap ke arah Keyran.
"Dimana Nisa? Kenapa dia sama sekali tidak terlihat?"
Huh! Dia pasti sedang menghindar dariku, tapi dia masih membuatkan omelet untukku. Apakah dia tidak mengingat kejadian semalam? Atau... jangan-jangan dia hanya berpura-pura dan memang sengaja mempermainkan aku! Awas saja jika itu benar terjadi!
"Nyonya sejak tadi sudah berangkat joging. Tadi nyonya juga membungkus oleh-oleh yang dibawa oleh tuan, nyonya bilang sama sekali tidak butuh oleh-oleh itu, dia juga mengeluh karena tuan membelikan terlalu banyak. Jadi nyonya ingin membagikannya kepada para tetangga."
"Para tetangga? Memangnya Nisa akrab dengan mereka?" tanya Keyran terheran-heran.
Aku bahkan belum pernah berbicara ataupun menyapa mereka. Mereka semua tidak pantas berbicara denganku!
"Yaa.. begitulah, awalnya para tetangga merasa sungkan saat berhadapan dengan nyonya. Tapi karena nyonya orangnya ramah, akhirnya nyonya bisa membuat para tetangga tidak lagi merasa sungkan kepadanya. Bahkan mereka juga merasa sangat senang dan kagum karena nyonya punya jiwa sosial yang tinggi."
"Bibi, apa kau tidak menasihati Nisa kalau statusnya itu berbeda dengan mereka?"
__ADS_1
"Sudah, tapi nyonya malah berkata 'Jadi orang itu harus rukun sama semua orang, terutama tetangga, kalau nggak saat pemakamanmu nanti, nggak akan ada orang yang melayat' Begitulah jawabannya nyonya, karena itu saya juga tidak bisa berkata apa pun lagi..."
"Sudahlah, kau bisa pergi!" ucap Keyran dengan nada malas.
"Baik tuan..." bibi Rinn lalu berbalik dan bergegas pergi.
Sayang sekali, padahal nyonya berusaha keras untuk membuat omelet ini. Nyonya berulang kali mencoba mengingat rasa kesukaan tuan, tapi tuan malah tidak mau memakannya. Sepertinya sedang ada masalah di antara tuan dan nyonya, semoga saja mereka cepat berbaikan...
...Pada saat yang sama, di taman...
...••••••...
Karena merasa sedikit lelah saat joging, Nisa akhirnya duduk beristirahat di sebuah bangku yang tersedia di taman. Dia mendengarkan musik lewat airpods dan terus tersenyum sambil bersenandung.
"La la la~ la la la~ Nani yori.. Daiji na dekigoto.. Ikiteru kon'ya mo.. Kanarazu mae ni susume nakya ikenai.. Kino yori tsuyosa to yasashisa.. Otona ni nateru.. Minna kanjiteru.."
(Yang terpenting dari apa pun, aku harus lebih yakin, untuk terus melangkah maju malam ini, lebih banyak lagi kekuatan & kebaikan dari hari kemarin, aku harus lebih dewasa, karena semua orang merasakannya)
^^^~Lirik lagu Be The One^^^
Tiba-tiba ada seseorang yang menutup mata Nisa dari belakang, lalu dia berkata. "Tebak siapa aku!!"
"Eh!?" Nisa terkejut dan seketika meraba-raba tangan orang yang menutup matanya, "Siapa sih? Aku ini cewek baik-baik, jadi jangan menggangguku!"
Tangannya besar, ini tangannya cowok. Tapi siapa?
"Kalau bisa menebak siapa aku..." Orang itu mendekat lalu berbisik, "Nanti aku belikan ice cream, rasa cokelat dengan topping hazelnut."
"Ditambah blueberries! Baru aku akan jawab!"
Hehe, sekarang aku tahu siapa orang ini.
"Oke, deal!"
"Aku tebak... pasti jerapah! Aku benar kan?" ucap Nisa sambil meringis.
"Memangnya tanganku seperti kaki jerapah? Jawabanmu salah, kesempatanmu tersisa dua lagi! Jika masih sembarangan menjawab, maka tinggal satu butir blueberries yang akan aku berikan. Apa kau puas hanya dengan itu?"
"Haha iya deh, aku tebak... orang itu adalah kamu!"
"Baiklah, sekarang yang akan kamu dapatkan cuma biji blueberries!"
"Jangan dong~ pelit sekali dengan teman sendiri! Ini kamu kan Joe? Jonathan..." Orang itu melepaskan tangannya, dan Nisa seketika menengadah. "Joe, ice cream cokelat topping hazelnut dan blueberries yang kamu janjikan mana?"
"Ckck... tidak sabaran sekali, aku bilang nanti." Jonathan melompat lalu mendarat di bangku yang sama dengan Nisa. "Bagaimana bisa tahu kalau itu aku?"
"Aku cuma jalan-jalan, dan kebetulan aku melihatmu, jadi aku menghampirimu. Tapi, kenapa kamu memanggilku jerapah hah!?"
"Yaa.. itu sih karena dirimu sendiri, siapa suruh punya badan tinggi-tinggi! Memanggilmu jerapah itu sangat cocok, sebenarnya tinggimu berapa cm? Aku selalu minder kalau dekat-dekat denganmu."
"189 cm." Jonathan lalu memperhatikan wajah Nisa, "Jangan minder, kamu itu masih bisa tambah tinggi." Tiba-tiba tangan Jonathan mengusap bibir Nisa. "Dasar anak kecil! Kamu habis makan cokelat kan?"
"Aaaa.. i-iya..." wajah Nisa berubah menjadi memerah, "A-aku bukan anak kecil! Aku ini sudah dewasa tau, jadi jangan mengurusiku seolah-olah kamu adalah ibuku!" ucap Nisa sambil menyibakkan rambutnya dengan sombong.
"Haha iya, aku tahu..." Jonathan tiba-tiba terdiam.
Itu... ada bekas ****** di lehernya. Pantas saja Nisa bilang kalau sudah dewasa, waktu itu dia juga bilang kalau sudah putus dengan pacarnya. Jangan-jangan... dia sudah dapat pacar baru lagi. Tsk! Memuakkan!
"Nisa!" ucap Jonathan dengan nada kesal.
"Hm? Ada apa?"
"Bilang pada pacarmu kalau tanda yang dia tinggalkan masih terlalu ke atas, seharusnya lebih ke bawah lagi agar tidak terlihat." ucap Jonathan sambil menunjuk pada leher Nisa.
"Eh!? Tanda..." Nisa mengalihkan pandangan matanya lalu segera menutupi lehernya dengan rambut. "Joe, kamu salah paham. Aku nggak punya pacar, tapi s..."
"Masa!?" Jonathan menyela ucapan Nisa, "Kalau bukan pacar, entah siapa pun itu orangnya, bilang padanya kalau dia masih harus memperbaikinya lagi. Orang lain yang melihatnya akan merasa terganggu, termasuk aku!"
"Terganggu? Apa kamu jomblo?"
"Bukan itu maksudku! Tapi iya sih, aku memang jomblo. Maksudku itu, kamu pasti sudah berpapasan dengan banyak orang, orang-orang itu mungkin juga merasa terganggu dengan itu!"
"Joe, kamu menasihatiku seolah-olah sudah berpengalaman, sudah sangat jago ya~" ejek Nisa sambil mengangkat kedua alisnya.
"What!?" untuk sesaat Jonathan terdiam, lalu tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya pada Nisa. "Benar, aku memang jago. Apa kamu mau berlatih denganku? Akan aku ajari sampai ke tingkat yang sama denganku, bagaimana... mau kan?"
"Heh!" Nisa tersenyum sinis dan perlahan mendorong Jonathan menjauh. "Terima kasih atas tawaranmu, tapi aku rasa pengalamanku saat pacaran sudah cukup. Aku nggak perlu latihan lagi, apalagi itu denganmu. Kamu sama sekali bukan tipeku!"
"Benarkah? Aku bukannya mau sombong, tapi banyak loh wanita yang secara sukarela menawarkan dirinya sendiri kepadaku. Lalu, yang kamu bilang barusan... memangnya tipemu seperti apa?"
"Tipeku sih nggak terlalu muluk-muluk, tapi yang terpenting... tingginya nggak boleh lebih dari 180 cm!" ucap Nisa dengan penuh penekanan.
"Hah!? Memangnya kenapa kalau lebih dari 180 cm?" tanya Jonathan dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Yaa.. tahu sendiri lah, aku nggak terlalu tinggi. Jadi, aku nggak suka dengan yang 180 cm lebih itu karena..." Nisa lalu mengalihkan pandangan matanya, "Kalau mau ciuman susah! Leherku bisa sakit, ribet banget pokoknya!"
"Lah..? Jika memang itu alasanmu, kamu kan bisa meminta untuk membungkuk sedikit. Kenapa harus dibuat susah?"
"Joe, masa nggak paham sih? Maksudku itu surprise kiss, biar kelihatan uwu~ Seperti itu loh yang aku maksud, sepertinya... pengalamanku masih lebih tinggi dibanding denganmu." ucap Nisa seakan mengejek.
"Ckck... pengalaman yang didapat saat pacaran apa hebatnya? Tapi kamu terlihat sangat bangga, memangnya berapa tinggi mantanmu itu?"
"Eh!?" untuk sejenak Nisa terdiam dan wajahnya berubah menjadi murung. "Dia yaa.. tingginya 179 cm, itu yang aku tahu. Saat berciuman dengannya, aku nggak pernah merasa kesulitan..."
Uuuhh... dimana pun aku berada, kenapa aku terus terbayang akan dirimu? Ricky, sampai kapan akan terus seperti ini?
"Nisa, kamu..."
Jonathan... Jonathan... apa yang telah kau lakukan? Tanpa sengaja kau telah membuat sedih temanmu! Sekarang kau harus tanggung jawab, cepat cari topik lain!
"Nisa, ngomong-ngomong... tadi kamu menyanyikan lagu bahasa Jepang, apa kamu juga mahir dalam bahasa itu?"
"Eh!? Soal itu... aku belum mahir bicara bahasa Jepang, aku cuma tahu sedikit-sedikit. Dan ternyata kamu juga mendengarku bernyanyi, bagaimana suaraku? Tadi itu juga salah satu lagu favoritku loh!"
"Suaramu bagus, hanya saja aku tidak paham arti dari lagumu."
"Kalau itu kapan-kapan akan aku jelaskan. Sekarang penuhi janjimu dulu! Belikan aku ice cream cokelat dengan topping hazelnut dan blueberries!" Nisa berdiri dengan semangat lalu menarik-narik tangan Jonathan, "Ayo... belikan ice cream! Aku mau ice cream!"
"Iya.. iya..." Jonathan berdiri dan kemudian berjalan mengikuti Nisa yang terus menarik tangannya.
Ya ampun, Nisa merengek minta dibelikan ice cream, orang yang tidak tahu pasti mengira kalau aku adalah ayahnya. Tapi, Nisa memang terlihat seperti anak kecil, anak kecil yang manis...
Setelah Nisa dan Jonathan selesai membeli ice cream, mereka berdua memakannya sambil berjalan-jalan di kawasan taman. Namun tiba-tiba Nisa menjatuhkan ice cream miliknya dan berteriak, "Anjing!!!"
"Apa!?" Jonathan terkejut dan seketika menatap ke arah Nisa. Tapi, dia malah melihat Nisa yang sedang gemetar ketakutan. "Nisa, kamu kenapa?" Jonathan lalu mencoba mencolek pundak Nisa, dan seketika Nisa langsung mencengkeram tangannya seerat mungkin.
"Anjing! Anjing!" Nisa berteriak sambil menutup mata, lalu tiba-tiba dia memeluk Jonathan dengan erat. "Mamiii!! Anjing siapa itu! Kenapa dilepas!"
"Anjing?" Jonathan melihat ke arah depan, dan dia melihat ada seekor anjing rottweiler yang sedang mendekat ke arahnya. Dan semakin lama anjing itu semakin dekat, hingga pada akhirnya ekor anjing itu menyenggol kaki Nisa.
"Kyaaaa!! Tolong aku! Dasar anjing! Cepat pergi!" Nisa mengibas-ngibaskan kakinya dan berharap agar anjing itu segera pergi, tapi anjing itu malah menggonggong dengan keras karena merasa seperti diganggu.
Gukk! Guk! Guk!
"Aaaahhh!! Aku nggak tahan lagi!" Tiba-tiba Nisa merangkul pundak Jonathan, lalu melompat dan kemudian mengangkat kedua kakinya, posisi itu terlihat seperti Jonathan sedang menggendong Nisa.
"Nisa, tenanglah... ini cuma seekor anjing. Kamu tidak akan digigit, anjing ini jinak..." ucap Jonathan sambil tersenyum.
Hehehe, aku tidak menyangka kalau gadis yang menganggap remeh kematian ternyata takut pada seekor anjing.
"Nggak gigit apanya!? Lihatlah giginya itu! Semua anjing sama saja! Aku benci anjing! Entah itu jinak atau nggak!" Nisa semakin erat memeluk Jonathan. "Joe... tolong usir anjing itu! Kalau begini terus, memangnya kamu mau? Aku berat loh..."
"Hmmm.. iya, kamu berat sekali! Sebaiknya aku turunkan kamu lalu aku berikan pada anjing yang kelaparan itu... Pasti akan habis dalam sekali gigitan~"
"Huuaaa! Jangan, jangan turunkan aku! Aku nggak mau turun! Sampai kiamat pun aku nggak mau turun!" Nisa merengek dan terus memeluk erat Jonathan.
"Benarkah? Sampai kiamat?"
"Bukan begitu! Pokoknya aku nggak mau turun kalau anjing itu masih disini!" Nisa terus memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya pada dekapan Jonathan.
"Begitu yaa.." untuk sejenak Jonathan terdiam, lalu dia menyeringai. "Nisa, anjing itu memanggil teman-temannya yang lain. Sekarang ada 4 ekor anjing yang mendekati dirimu."
"Huuaaa... aku nggak mau tahu! Joe.. Jonathan... tolong usir anjing itu... Rasanya aku sudah mau pingsan, aku mohon... pleaseeee... help me..." ucap Nisa dengan nada pasrah.
"Baiklah, buka matamu dulu dan lihatlah keadaan di sekitarmu!"
"Okay..." Nisa lalu membuka matanya.
Saat Nisa membuka mata dan melihat keadaan di sekitarnya, dia pun dikejutkan oleh pemandangan yang dia lihat. Dia melihat anjing rottweiler itu sudah berada di tangan pemiliknya, namun yang membuatnya semakin terkejut adalah, dia melihat kerumunan orang yang sedang mengelilinginya karena mendengar teriakannya sendiri.
Nisa hanya menelan ludah lalu menatap ke arah Jonathan, "Jahat sekali... kenapa nggak bilang kalau anjingnya sudah ditangkap? Lalu, kerumunan orang-orang ini... jika tahu akan seperti ini, lebih baik aku pingsan saja..." ucap Nisa dengan nada menyedihkan.
"Cuma bercanda, jangan dianggap serius..." Jonathan lalu melirik ke arah orang-orang. "Semuanya, tolong pergi! Istriku hanya takut pada anjing, tidak ada masalah serius. Jadi mohon jangan pedulikan kami!" Setelah Jonathan berkata seperti itu, kerumunan orang itu langsung bubar. Dan kemudian Jonathan menurunkan Nisa secara perlahan.
"M-makasih, tapi kalau bercanda jangan kelewatan dong... Aku takut banget tau..." Nisa lalu menggosok-gosok matanya yang sudah berlinang air mata.
"Hei, apa kamu sungguh menangis?"
"Humph! Ya iya lah, tapi sekarang sudah nggak! Ganti rugi! Pokoknya ganti rugi ice cream milikku yang jatuh! Setelah itu baru aku maafin kamu!"
"Kenapa begitu? Kamu sendiri yang menjatuhkan ice cream milikmu, kenapa harus aku yang ganti rugi?"
"Ya sudah kalau nggak mau, sekarang aku mau pulang!" Dengan perasaan kesal Nisa berbalik dan meninggalkan Jonathan, namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Jonathan. "Apa lagi?" tanya Nisa seakan tidak tertarik.
"Apa perlu aku antar? Bisa jadi nanti di perjalanan pulang ketemu sama anjing lagi loh, serius ingin pulang?"
"Humph!" Nisa lalu menepis tangan Jonathan, "Aku bisa pulang sendiri, lagipula rumahku juga nggak jauh dari sini. Bye!" Nisa pergi meninggalkan Jonathan dengan gaya berjalan yang angkuh.
__ADS_1
"Nisa.. Nisa.." ucap Jonathan sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Kamu tidak membantahku saat menyebutmu sebagai istriku, apa jangan-jangan... Aaahh sudahlah, jangan dipikirkan!