
...Jam istirahat, kantor HW Group...
...••••••...
Di sebuah ruang kerja milik CEO Group HW, Keyran yang bekerja dengan serius telah menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Dia mulai melakukan peregangan bahu dan leher, dan setelah itu dia menyeruput secangkir kopi yang telah disediakan.
Saat Keyran menikmati kopi itu, tiba-tiba datanglah seseorang yang tidak diundang masuk ke ruangannya. Orang itu tidak lain adalah Amanda. Tanpa merasa sungkan sedikit pun Amanda langsung duduk di sofa yang berada di sebelahnya Keyran, dia juga berpose layaknya seorang wanita yang anggun nan berkelas.
Amanda bermaksud ingin menggoda Keyran dan menarik perhatiannya, namun Keyran hanya melirik sekilas lalu melanjutkan meminum kopi. Keyran memperlakukan Amanda selayaknya seperti angin lalu, tidak menganggap kehadirannya sama sekali.
Bahkan saat Keyran menghabiskan kopinya, Amanda masih saja terus seperti itu, tidak berkata sepatah kata pun dan juga tidak berniat untuk pergi. Keyran mulai merasa terganggu dan kemudian menatap Amanda dengan tatapan sinis sambil berkata, "Pergilah, kehadiranmu tidak dibutuhkan!" ucap Keyran dengan ketus, lalu dia memutar kursinya membelakangi Amanda.
"Key... jangan seperti ini..." Amanda langsung beranjak dari sofa, lalu berjalan mendekat ke arah Keyran dan berdiri di hadapannya. "Kenapa sikapmu berubah menjadi lebih dingin? Padahal aku temanmu... ayolah... tersenyum padaku..." bujuk Amanda dengan nada manja.
Mendengar Amanda yang bicara seperti itu kepadanya, Keyran merasa semakin muak. Karena cara bicaranya yang terdengar manja, seketika dia langsung terbayang-bayang tentang kejadian di bak mandi saat bersamaan Nisa. Dan pada akhirnya Keyran mulai kehilangan kesabarannya.
"Apa tujuanmu datang kemari? Jika kau hanya ingin membicarakan hal yang tidak berguna, sebaiknya kau cepatlah pergi!"
Hng! Dimana Valen? Kenapa hama yang satu ini bisa masuk? Kehadirannya cuma menggangguku.
"Key... aku datang kemari bukan tanpa alasan, aku merindukanmu..." Amanda mencoba menyentuh pundak Keyran, tapi seketika Keyran langsung menepis tangannya. "Humph! Aku ingin mengundangmu untuk menjadi partner dalam acara penghargaan, kamu mau kan? Aku mohon... tolong sekali saja kabulkan permintaanku..."
"Heh! Aku tidak punya kewajiban untuk mengabulkan permintaanmu! Jadi cepatlah pergi!"
"Key... ini adalah acara penghargaan film dan musik yang paling bergengsi, banyak artis terkenal dan tokoh penting yang akan datang. Acara ini tidak akan membuat derajatmu turun, jadi aku mohon datanglah bersamaku..."
"Aku tetap menolak! Sekarang pergilah!" ucap Keyran dengan tegas sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Uuuhh... baiklah, sekarang aku mengerti. Aku juga paham statusku, aku janji tidak akan ada skandal di antara kita. Kamu sekarang sudah menikah, jangan-jangan... apa kamu takut kalau istrimu nanti salah paham?"
"Tsk! Jangan bahas tentang dia! Aku sama sekali tidak takut kepadanya!" teriak Keyran seakan tidak terima.
Untuk apa aku takut Nisa salah paham? Dia itu cuma barang bekas! Mengingat tentangnya saja sudah membuatku merasa muak.
"Emmm.. o-oke," Amanda tiba-tiba tersenyum licik.
Keyran marah saat aku menyebut tentang istrinya. Ternyata Keyran sama sekali tidak punya perasaan kepadanya! Ini adalah peluangku, mungkin saja aku bisa merebut Keyran dari gadis busuk itu.
"Key, jika kamu memang tidak takut kepadanya, maka hadiri acara itu bersamaku... Dengan begitu kamu bisa membuktikan padaku kalau kamu benar-benar tidak takut kepadanya..."
"Tutup mulutmu! Aku sama sekali tidak perlu membuktikan apa pun kepadamu! Tapi jika kau masih bersikeras untuk membujukku, maka aku akan suruh orang untuk menyeretmu keluar! Apa kau masih tetap ingin disini hah!?"
"Keyran... kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Padahal dengan hati yang tulus aku mengajakmu, aku mohon da-..."
Braak!! suara bantingan pintu.
Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan Keyran, orang itu adalah Tuan Muchtar. Dengan sebuah tongkat kayu ukir yang dia pakai, dia berjalan dengan penuh wibawa. Kemudian dia menatap ke arah Amanda dengan tatapan yang mengintimidasi, seketika Amanda langsung merasa ketakutan dan bergegas keluar dari ruangan Keyran.
Setelah Amanda pergi, Tuan Muchtar langsung duduk di sofa dan menatap Keyran dengan tatapan sinis. Melihat ayahnya yang seperti itu kepadanya, Keyran sama sekali tidak takut tapi malah membalas tatapan ayahnya dengan cara yang sama.
Suasana tegang seperti itu tak berlangsung lama, Tuan Muchtar merubah ekspresinya yang menakutkan itu. Dan Keyran seketika mengalihkan pandangan matanya lalu berkata, "Ada perlu apa ayah menemuiku?" tanya Keyran acuh tak acuh.
"Aku hanya ingin menemui putraku sendiri, tapi sepertinya kau merasa tidak senang bertemu denganku. Apa ini sikap yang pantas untuk kau tunjukkan hah!?"
"Ayah, aku mohon jangan ganggu aku! Biasanya ayah tidak terlalu peduli dengan urusan perusahaan, dan seharian cuma bermain golf bersama teman-teman ayah itu, kenapa tiba-tiba datang ke kantor?"
"Hei, kau harus tahu posisimu! Memang benar kau adalah CEO, tapi aku adalah ayahmu sekaligus Komisaris perusahaan ini. Tugasku adalah mengawasi dan aku masih punya kewenangan di sini, jadi bukan hal yang aneh jika aku datang kemari."
"Terserah, semuanya baik-baik saja, jadi ayah bisa pergi! Ayah teruskan saja bermain golf dengan teman-teman ayah itu! Ayah mengganggu waktu istirahatku!"
"Tsk! Aku tidak bisa bermain golf dengan mereka, aku kehilangan muka saat bertemu mereka. Dan itu semua adalah salahmu!" ucap tuan Muchtar seakan tidak terima.
"Salahku? Apa yang ayah bicarakan? Aku bahkan tidak berkata apa pun kepada mereka, dan memangnya kenapa ayah bisa kehilangan muka?"
"Cih, kau tidak akan paham dengan yang aku rasakan! Teman-temanku semuanya sudah punya cucu, hanya tinggal aku sendiri yang belum punya! Mereka semua terus-terusan mengejekku, bahkan mereka juga memamerkan foto cucu-cucunya yang manis. Tentu saja aku merasa kehilangan muka, dan semua itu adalah salahmu!"
"Huft... ternyata ini alasan ayah menemuiku, kenapa setiap kali ayah terus membahas tentang ini? Jika ayah hanya ingin membicarakan hal bodoh seperti ini, sebaiknya ayah pergi saja!" Keyran mengabaikan ayahnya, lalu menyalakan laptopnya kembali dan kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Hei, ini bukan hal bodoh. Lagipula aku belum pernah mendengar kalau ada kemajuan dalam hubunganmu, kau bahkan tidak berinisiatif untuk membawa istrimu berkunjung ke kediaman utama. Aku lihat akhir-akhir raut wajahmu selalu masam, apa kau sedang ada masalah dengan istrimu?"
"Terus kenapa? Urus saja masalah ayah sendiri, jangan coba ikut campur dalam urusanku!"
"Keyran... Keyran..." ucap Tuan Muchtar sambil geleng-geleng kepala, "Aku adalah ayahmu dan juga ayah mertua dari istrimu, jadi aku berhak ikut campur dalam urusanmu. Saran ayah cuma satu, berhentilah bersikap angkuh dan turunkan sedikit egomu! Jika memang ada masalah di antara kalian, cobalah untuk saling bicara, komunikasi adalah kunci dari sebuah hubungan. Jika kau terus seperti ini, nantinya kau sendiri yang akan rugi. Key, kau bisa menceritakan masalahmu pada ayah..."
"Tsk! Baiklah jika ayah ingin tahu masalahku, maka dengarkan baik-baik. Istri yang ayah pilihkan untukku sangat tidak berguna! Yang bisa dia lakukan hanya membuat masalah!"
"Ha ha ha ha, jadi itu masalahmu? Ya Tuhan... tolong sadarkan putraku ini..." Tuan Muchtar tertawa lepas hingga meneteskan air mata, tak lama kemudian dia menggosok matanya dan kembali tenang.
"Apa ada yang lucu?" tanya Keyran terheran-heran.
"Iya, kau itu yang lucu. Kau terlalu bodoh karena menganggap menantuku tidak berguna." Tuan Muchtar lalu menyeringai.
"Kenapa ayah bicara begitu? Nisa itu memang tidak berguna, selain bisa memasak omelet yang mirip dengan ibu, dia tidak punya keahlian apa pun lagi! Aku bahkan sempat berpikir kalau dia gila, dia terlihat senang sekali saat membuat masalah."
"Ternyata kau masih belum sadar, aku tidak mungkin memilihkan istri asal-asalan untukmu. Nisa itu sangat berbakat, bakatnya itu melebihi dirimu. Ditambah lagi dia berasal dari keluarga yang cukup harmonis, mungkin saja kepolosan yang dia miliki bisa merubah sikapmu yang dingin dan angkuh." ucap tuan Muchtar seakan mengejek.
"Apa yang membuat ayah berpikir kalau dia lebih berbakat ketimbang diriku? Apa ayah sudah lupa tentang apa saja yang bisa aku lakukan? Nisa yang gila itu tidak pantas dibandingkan dengan diriku!"
__ADS_1
"Dia itu orang yang pintar, tahu tata krama, mudah bergaul, selalu ceria, mandiri, suaranya bagus dan juga pandai menari, dan yang terpenting dia itu berani. Sekali-kali cobalah menatap matanya, kau tidak akan pernah menemukan sedikit pun ketakutan di dalamnya. Bahkan ayah rasa dia seperti telah mengalami manis pahitnya dunia, itu yang ayah tahu. Mungkin masih banyak kelebihannya yang belum aku ketahui. Kau yang beruntung bisa mendapatkannya, jadi hargai dia!"
"Mengerikan, ayah sampai seperti itu mengawasi seseorang. Apa ayah tidak takut dia akan kecewa seandainya tahu ayah sudah mengawasinya?"
Mungkin ayah ada benarnya juga, saat dia masih menjadi sekretarisku, laporan yang diserahkan padaku cukup memuaskan, bahkan para dewan direksi juga puas. Padahal dia sendiri hobinya bolos kuliah, aku tidak menyangka dia bisa membuat laporan yang lebih baik daripada Valen.
"Sehari sebelum pernikahanmu, ayah sudah pernah bercerita kepadanya. Saat itu dia hanya sedikit terkejut, tapi setelah itu dia malah tersenyum pada ayah. Istrimu itu cukup menarik, aku tidak bisa menebak bagaimana pikirannya bekerja."
"Jika ayah sudah selesai bicara maka cepat pergi!"
Ayah terus-terusan membahas tentang Nisa, aku sudah cukup muak mengingat tentangnya.
"Astaga... kenapa dari tadi kau terus mencoba mengusirku? Ayah masih belum selesai bicara! Ayah ingin membahas tentang hal penting, ini juga masih ada hubungannya dengan istrimu. Jadi ayah rasa kau harus tahu..."
"Apa dia membuat masalah lain lagi?" tanya Keyran dengan nada malas.
"Bukan, ini masalah perusahaan, sebenarnya ini juga bukan masalah yang serius. Karena kau sudah resmi menikah, secara otomatis ini juga berdampak bagi kedua belah pihak perusahaan. Jadi ayah ingin menjalin hubungan kerja sama kartel dengan perusahaan milik keluarga istrimu."
(Kartel adalah kerja sama yang dilakukan antar perusahaan sejenis dalam jangka waktu tertentu, dan masing-masing tetap berdiri sendiri, tujuannya untuk menguasai pasar)
"Perusahaan milik keluarga Nisa termasuk dalam perusahaan menengah, merupakan suatu peluang untuk mereka jika bekerjasama dengan perusahaan besar seperti kita. Mereka sudah pasti akan menerimanya."
"Tebakanmu salah, tadinya ayah juga berpikir sama sepertimu. Tapi, kenyataannya mereka menolak. Paman dari istrimu yang memegang kendali atas perusahaan sebenarnya ingin menerimanya. Tapi ayah mertuamu malah mati-matian menolaknya, dan keputusan akhir mereka adalah menolak tawaran yang ayah berikan."
"Hah!? Apakah mungkin ayah mertuaku sama bodohnya dengan anaknya? Dia sangat bodoh karena menolak kesempatan besar itu. Tapi, untuk menolak tawaran ayah juga perlu alasan yang kuat. Memangnya alasan seperti apa yang ayah mertuaku berikan?" tanya Keyran dengan wajah bingung.
"Ayah mertuamu beralasan ingin memajukan perusahaan dengan usaha yang sewajarnya, bukan mengandalkan nepotisme. Dan dia malah setuju untuk bekerjasama dengan perusahaan besar lainnya. Sebenarnya ayah mertuamu juga sangat berkemampuan, bahkan aku sempat merasa kalau dia bisa menebak langkah selanjutnya dari perusahaan kita. Bukankah itu seperti menghindari kita secara tidak langsung?"
"Aku sependapat dengan ayah, itu terdengar seperti mereka sedang berusaha menghindari kita. Tapi, untuk apa ayah menceritakan hal ini padaku? Apa ayah ingin aku melakukan sesuatu untuk ayah?"
"Sungguh pintar... kau memang putraku! Ayah ingin kau menanyakan hal ini kepada istrimu, bisa jadi dia tahu alasan kenapa ayahnya berusaha menghindari kita."
"Aku menjamin kalau Nisa sama sekali tidak tahu! Kerjanya seharian itu cuma rebahan dan bermain game di ponselnya. Dia bahkan juga sering bolos kuliah, orang seperti itu mana mungkin ikut campur dalam urusan perusahaan."
"Ayah bilang lakukan ya lakukan! Memang apa susahnya bertanya satu pertanyaan mudah seperti itu kepadanya?" bentak tuan Muchtar.
Hehe, mungkin dengan ini akan ada interaksi antara kau dengan menantuku. Dan semoga saja masalah di antara kalian bisa teratasi.
"Iya iya... nanti aku tanyakan. Sekarang cepat pergi!" ucap Keyran seolah-olah memaksa.
"Baiklah, ayah pergi." Tuan Muchtar lalu bergegas berjalan keluar, namun saat selangkah lagi dari pintu dia tiba-tiba berbalik dan berkata, "Key, jangan lupa untuk segera membuat cucu untukku!" ucap tuan Muchtar dengan penekanan dan setelah itu dia langsung pergi meninggalkan ruangan.
"Huft..."
Aku bisa gila jika terus dipaksa seperti ini! Tapi dia itu ayahku, orang tuaku satu-satunya yang tersisa. Aku hanya bisa menuruti kemauannya. Andai saja ayah tahu kalau aku berulang kali sudah mencoba membuatnya, namun tetap saja masih gagal. Bahkan sekarang aku tidak tertarik lagi pada Nisa, untuk apa aku tertarik dengan barang bekas?
...Pada saat yang sama, perpustakaan...
...••••••...
"Nani!? Serius permintaanmu itu?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Ya iya lah, jadi gimana? Tadi kau sudah berjanji akan memenuhinya loh! Bahkan jika itu sulit untukmu, kau tetap harus melakukannya!" ucap Terry dengan nada memaksa.
"Terry... permintaanmu itu konyol! Aku juga merasa terhina dengan permintaanmu! Mintalah yang lain!"
"Tsk! Jangan sok-sokan terhina, itu sangat pantas untukmu! Aku hanya memintamu untuk jadi cewek normal, apa susahnya dengan itu?"
"Kau menghinaku! Secara nggak langsung kau mengatakan kalau aku abnormal. Aku beritahu ya, sejak lahir aku itu normal! Kenapa kau bisa-bisanya berpikir kalau aku abnormal hah!?" bantah Nisa seakan tidak terima.
"Karena nggak mungkin orang normal itu akan bertingkah sepertimu, kau itu aneh! Bahkan ketika membuat masalah kau terlihat sangat bahagia, itu bukanlah sesuatu yang normal. Tapi, kalau kau tetap bersikeras membantah, maka aku akan mengganti permintaanku!"
"Iya iya... cepat bilang!"
"Kau harus berhenti membuat masalah ataupun melanggar aturan kampus! Kau hanya menambah pekerjaanku jika masih membuat masalah. Apa kau pikir bisa lari dari pengawasanku? Kau terlalu meremehkan aku! Aku akan berusaha mengumpulkan bukti yang cukup untuk membuatmu di drop out dari kampus!"
"Ckck... kenapa sampai segitunya sih? Memangnya masalah apa yang telah aku buat?"
"Saniaaa... aku mohon sadarlah! Masalah yang telah kau ciptakan sangat banyak! Kau sering bolos, datang terlambat, mencoret-coret tembok, menghancurkan pot di taman, merusak peralatan olahraga, mencuri senyawa kimia berbahaya dari laboratorium, berlarian di koridor, berkata kasar di tempat umum, tidak sopan pada dosen, membuat keributan dan berkelahi dengan senior, bahkan kau juga pernah menampar wakil dekan di depan banyak orang! Aku heran kenapa kau belum juga di drop out dari kampus?"
"Haha, itu... aku menampar wakil dekan karena dia pantas menerimanya, saat ada panggilan orang tua yang datang adalah ayahku, dia nggak tahu malu bersikap genit pada ayahku. Makanya aku menamparnya untuk mewakili ibuku. Ayahku juga membenarkan tindakanku..." Nisa lalu memalingkan wajahnya. "Aku sendiri juga bingung kenapa aku nggak kena drop out. Dan aku akan berusaha memenuhi permintaanmu. Masalah yang aku buat cuma itu kan?" Nisa tiba-tiba menyeringai.
Hehehe, aku nggak kena drop out tentu saja karena rasa sayang dari ayah mertuaku yang berlebihan. Sebelumnya aku juga pernah mendapat surat peringatan, tapi semenjak setahun yang lalu aku nggak dapat lagi. Nggak peduli sebesar apa pun masalah yang aku buat, pihak kampus selamanya tetap akan membiarkan aku berbuat semauku.
"Bukan cuma itu, masalah yang kau buat sangatlah banyak. Aku bahkan membuat catatan khusus untukmu. Dan masalah yang paling nggak bisa ditolerir adalah saat kau membakar auditorium kampus. Pihak kampus percaya kalau itu cuma kesalahan teknis, tapi aku yakin bahwa itu juga ulahmu! Wahai Sania sang Trouble Lady... akuilah semua kejahatanmu!"
"Aku mana mungkin membakar auditorium? Itu sama sekali nggak ada hubungannya denganku!"
Sebenarnya itu juga salahku, awalnya sih aku cuma ingin membatalkan pertunjukan saat itu, lalu aku menyabotase kabel listrik, tapi aku nggak nyangka bakalan terjadi kebakaran. Untung saja nggak ada korban jiwa.
"Huh! Jangan bersikap sok polos di depanku, aku tahu sebenarnya kau ini punya jiwa seorang kriminal, psikopat, dan barbar! Menurutku kau itu 100% nggak normal!"
"Terserah kau mau apa! Yang jelas urusan kita sudah selesai, aku mau pergi!" Nisa berniat ingin pergi, tapi sekali lagi Terry menahan tangannya. "Buseeet... maunya apa sih? Ada apa lagi hah!?" Nisa langsung menepis tangan Terry.
"Aku teringat satu hal, nama depanmu Nisa kan?"
"Yup, terus kenapa? Mau mengejekku karena nama itu pasaran?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Kau juga sudah menikah kan?"
"Iya, apa kau juga akan mengejekku karena yang aku nikahi itu pria tua? Aku beritahu ya, jangan ikut campur dalam urusanku!"
"Siapa juga yang mau ikut campur? Aku cuma ingin memberitahumu kalau tadi itu, ada seorang pria di depan gerbang kampus mencari seseorang yang bernama Nisa, dia juga mengaku kalau Nisa itu istrinya. Dan mungkin saja itu suamimu..."
"Masa sih?"
Untuk apa Keyran mencariku? Tadi pagi dia masih ngambek, dan ini juga masih jam kerja. Apa ada masalah serius yang ingin dia bicarakan denganku?
"Cepetan lihat sana gih! Dia juga dikerumuni banyak cewek loh~ Mungkin di mata cewek-cewek suamimu itu cukup menarik... apa kau nggak cemburu?" ejek Terry.
Tapi tidak ada satu pun cewek yang berani mendekatinya, auranya terlihat dingin dan menakutkan.
"Untuk apa aku cemburu? Aku sama sekali nggak peduli padanya!" Nisa lalu bergegas keluar dari perpustakaan dan meninggalkan Terry.
Melihat Nisa berjalan pergi, Terry hanya diam dan menatapnya, dan setelah itu dia menggeleng-gelengkan kepala. "Sania... Sania..."
Padahal kau sudah punya suami, tapi kau malah menjadi penghangat ranjang CEO dari HW Group. Dasar istri yang durhaka pada suami!
Nisa kemudian bergegas menemui orang yang mengaku sebagai suaminya di depan gerbang kampus. Namun saat dia sampai di sana, dia tidak melihat keberadaan Keyran. Namun dia dikejutkan oleh kehadiran Jonathan yang sudah menyambutnya dengan senyuman.
Seketika Nisa langsung berlari ke arah Jonathan dengan perasaan riang, dia juga merasa tidak percaya kalau Jonathan benar-benar menunggunya. "Joe, ternyata kamu tahu dimana kampusku! Kenapa nggak menghubungiku dulu? Apa kamu sudah lama menungguku?"
"Ini kejutan untukmu. Dan yah... aku juga sudah cukup lama menunggumu, jadi bagaimana kamu akan menebus kesalahanmu?" tanya Jonathan dengan senyum lembut.
"Wah... wah... perhitungan sekali~ Tapi, aku orangnya bertanggungjawab kok, ayo pergi ke kafe, nanti semuanya aku yang traktir!" Nisa lalu menarik tangan Jonathan dengan semangat.
"Tunggu sebentar, apa kamu mau jalan kaki? Aku bawa mobil loh..."
"Eh? Aku nggak tahu kalau kamu bawa mobil, tapi kalau begitu naik mobilmu saja deh, nanti aku akan tunjukkan tempatnya."
"Baiklah, ayo kemari..." Jonathan lalu mengajak Nisa untuk menaiki mobilnya. Saat akan naik, Jonathan juga berinisiatif membukakan pintu mobil untuk Nisa. "Ladies first..." Jonathan bertingkah seolah-olah seperti pelayanan pribadi untuk Nisa.
"Thank you, Jonathan..." Nisa tersenyum dan langsung bergegas naik ke mobil.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di kafe yang dituju. Mereka berdua juga memesan kopi dan tak lupa dengan camilan bitterballen. Awalnya mereka berdua saling bercerita tentang pengalaman masing-masing. Namun selama mengobrol dengan Jonathan, Nisa terus memasang raut wajah tertekan.
Jonathan mulai merasa ada yang aneh dengan sikap Nisa, karena biasanya saat bersama dengannya Nisa selalu terlihat ceria. Jonathan tiba-tiba terdiam sejenak, setelah itu dia berkata, "Nisa, dari tadi kamu terlihat murung, apa kamu sedang ada masalah?"
"Iya, masalahku cukup banyak." ucap Nisa dengan nada putus asa.
"Kamu bisa cerita padaku, mungkin saja aku bisa membantumu menghilangkan masalah yang membebani kamu."
"Huft... itu percuma. Selama kita masih hidup, kita akan terus mengalami masalah. Masalah itu nggak bisa dihilangkan. Lagipula jika aku bercerita kepadamu, itu hanya akan membuatmu repot."
"Haha, kenapa kamu berpikir begitu? Kamu lupa ya kalau aku pengangguran? Aku suka jika direpotkan dengan urusanmu, aku ini kurang kerjaan. Jadi ceritakan dulu masalahmu, mungkin aku bisa membantumu mengurangi masalahmu..."
"Bukan masalah besar kok, cuma masalah tentang tugas kuliah. Aku disuruh untuk membuat laporan dari hasil pengamatan sebuah perusahaan. Masalahnya aku belum pernah membuat laporan yang seperti ini..."
"Itu mudah, aku bisa membantumu!" ucap Jonathan dengan percaya diri.
"Benarkah? Makasih Joe..." Nisa lalu mengeluarkan laptop dari tasnya. Dia lalu bergeser sedikit lebih dekat dengan Jonathan. "Nah, mohon bantuannya..." Nisa lalu meringis pada Jonathan.
"Baiklah, sekarang perusahaan mana yang jadi objekmu?"
"HW Group," ucap Nisa dengan enteng.
"A-apa!? Aku tidak salah mendengar kan? Apa kamu serius? Kamu setidaknya harus mengenal perusahaan itu dengan baik, memangnya kamu tahu tentang perusahaan besar seperti itu?" tanya Jonathan seakan tidak percaya.
"Iya, aku paham kok. Aku juga tahu semuanya tentang perusahaan nomor satu itu..."
Aku pernah jadi sekretaris di perusahaan itu, tentu saja aku tahu betul tentang manajemen dari HW Group.
"Nisa, perusahaan itu sedikit..." untuk sejenak Jonathan terdiam, kemudian dia berkata, "Bagaimana dengan perusahaan lain? SR Company Tbk misalnya?"
"..." untuk sejenak Nisa termenung, lalu dia memperhatikan Jonathan dari atas sampai bawah. "Boleh, itu perusahaan nomor dua di kota ini. Nggak kalah bagusnya dengan HW Group." ucap Nisa dengan senyum lembut.
"Baiklah, kamu sudah setuju. Aku pasti akan membantumu sebisaku!" Jonathan mulai mengetik di laptop milik Nisa.
"Joe, aku sangat berterima kasih kepadamu..."
"Bukan apa-apa, ini sangat mudah!"
"Oh iya, tadi kenapa kamu mengaku sebagai suamiku?" tanya Nisa penasaran.
"Memangnya kenapa? Apa kamu keberatan?" Nisa menjawabnya dengan mengangguk, dan seketika Jonathan berhenti melakukan aktivitasnya. "Kenapa kamu keberatan?"
"Tentu saja aku keberatan, itu adalah kebohongan. Joe, aku nggak mau kamu bohong, karena sekali kita berbohong maka untuk selanjutnya akan terus berbohong. Jika terus seperti itu, kamu akan menjadi seorang penipu. Jadi jangan berbohong lagi!"
Aku nggak mau kamu menjadi penipu sama sepertiku.
"Oke, aku tidak akan mengaku sebagai suamimu lagi." Raut wajah Jonathan berubah menjadi sedikit murung, namun dia tetap melanjutkan membantu perkerjaan Nisa.
"Nah, begini dong..." ucap Nisa sambil tersenyum.
Kena kamu Jonathan! Dugaanku benar, kamu bukanlah orang yang sederhana. Dan sebenarnya aku nggak butuh bantuanmu, aku cuma malas mengerjakannya saja.
__ADS_1
Jonathan sepertinya punya hubungan dengan SR Company Tbk, nanti aku harus segera menghubungi Ivan. Sepertinya Jonathan juga masih belum tahu kalau aku sudah menikah. Ckck... semua ini semakin menarik saja, mungkin aku bisa menambahkan sedikit bumbu penyedap ke dalamnya.