Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Sebab dan Akibat (2)


__ADS_3

"Eh?!" Nisa terkejut lalu menatap ibunya sambil ternganga. "Memangnya ibu ingin segera punya cucu??"


"Bukan begitu, ibu sama sekali tak ada niatan untuk menuntutmu. Tapi jika kau hamil ... maka itu akan membawa perubahan besar, kau akan jauh lebih sibuk untuk mengurus anakmu dibandingkan dengan urusanmu sebagai gangster. Saran ibu adalah ... Kau jangan melupakan kodratmu sebagai seorang wanita, kau juga harus merencanakan urusan rumah tanggamu mulai dari sekarang."


"Ehmm ... ya, akan aku pikirkan."


Rencana rumah tangga apanya? Yang aku pikirkan selama ini cuma rencana pelarian dari pernikahan. Ibu benar juga, mungkin aku harus membicarakan hal ini dengan Keyran. Lagi pula urusan rumah tangga kan harus dibicarakan berdua, ini lebih mengarah pada komitmen atar pasangan.


"Haha, ekspresimu itu lucu. Kau sepertinya langsung memutar otak. Tapi jangan lupa kalau dalam pernikahan itu ada macam-macam hal, dan lihat lingkungan sekelilingmu sebagai perumpamaan. Misalnya saja yang sekarang sedang musim para wanita jal*ng ... suamimu itu jika goyah sesaat pasti juga bahaya. Terlebih lagi ibu juga mengamati kasus seperti itu dari kalangan atas, kebanyakan dari mereka adalah yang kepincut dengan rekan kerjanya sendiri, sekretaris lah sebutannya. Nah, sebagai istri sah bagaimana sikapmu jika muncul sosok pelakor?"


"Kubunuh!" jawab Nisa secara spontan.


"Wah ... ternyata ibu salah, yang berbahaya itu jelas-jelas kau. Tapi justru ibu berharap suamimu dikerubungi oleh para jal*ng itu, mungkin jika begitu yang namanya pelakor akan berkurang karena takut olehmu."


"Cuihh ... akan sangat menjijikkan jika hal seperti itu benar terjadi. Padahal sudah punya istri, tapi jika masih kepincut dengan wanita lain itu berarti rendahan. Keduanya sama-sama rendahan. Tapi aku percaya kalau Keyran berbeda, dia itu konglomerat asli, tentu saja seleranya juga tinggi. Memangnya siapa yang pantas jika dibandingkan denganku?"


"Tidak ada, orang sepertimu hanya ada satu di dunia."


"Huh! Aku cukup kesal dengan pertanyaan ibu. Sekarang aku akan balik tanya. Benar kata ibu kalau sekarang memang semakin banyak perempuan jal*ng, dan yang semakin membuatku jijik adalah seakan-akan hal itu bisa dibanggakan. Nah, pertanyaanku adalah ... Ayah juga termasuk orang tampan untuk seusianya, bagaimana jika ayah punya sugar baby di luar sana? Apa yang akan ibu lakukan?"


"..." diam dan menatap Nisa dengan tatapan sinis.


"Hoho, ibu jangan menatapku begitu. Bahkan temanku ... bukan teman juga sih, tapi kenalan seangkatan, dia mengaku padaku kalau dia juga seorang sugar baby. Dia bilang kalau penghasilannya lumayan, sebulan bisa sampai ratusan juta, bahkan katanya jika dia dapat daddy yang royal dia juga diberi mobil. Jadi bagaimana tanggapan ibu?"


"Haiss ... dunia semakin lama memang semakin gila. Bisnis yang paling mudah memang menjual badan, dulu sudah cukup dengan adanya wanita malam, tapi sekarang sugar baby yang kebanyakan kaum remaja juga bermunculan. Orang yang seperti itu bisa dibilang sudah rusak, harga dirinya cuma sebatas uang, padahal sebenarnya harga diri itu tak ternilai harganya. Tapi harga diri seseorang itu seakan tak ada nilainya jika sudah berhadapan dengan cinta, para pelakor yang membenarkan tindakannya juga menuntut perbuatannya berdasarkan cinta. Intinya jatuh cinta itu boleh, bodoh jangan!"


"Tapi Nisa, kau tahu ayahmu seperti apa. Dan jawaban atas pertanyaanmu itu tergantung, itu semua kembali ke diri sendiri. Selama kita bisa menjaga pasangan, membuatnya selalu betah, dan pastinya membuatnya tetap jatuh cinta lagi dan lagi. Ibu jamin dengan begitu hubungan pasti akan bertahan lama. Kau menikah belum ada setahun, tapi ibu sudah bertahun-tahun. Jika kau ada masalah atau apa pun yang mengganggumu, kau bisa mengatakannya ke ibumu."


"Dan ... ada satu hal yang paling penting, jangan pernah terpaku pada masa lalumu. Ricky adalah Ricky, dan Keyran tetaplah Keyran. Jangan pernah sekalipun mengungkit hal yang berhubungan dengan Ricky di hadapan suamimu, meskipun itu hal remeh, itu tetap akan melukai perasaannya. Ricky mungkin adalah cinta pertamamu, dan kau sudah menghabiskan waktu lebih banyak dengannya dibanding dengan suamimu. Tapi jangan membuat itu sebagai patokan dalam cinta, cinta itu bukan seberapa lama kalian bersama, tapi seberapa besar kalian saling mencintai setiap harinya."


Nisa tersenyum, tiba-tiba dia meletakkan pisaunya lalu melepaskan apron yang dia kenakan.


"Terima kasih atas saran ibu, dan maaf aku hanya bisa membantu ibu sampai sini. Aku teringat kalau besok Keyran ada rapat pagi, jadi besok kami pagi-pagi sekali harus pulang. Sekarang aku harus menata barang-barang dulu agar besok tak kelabakan. Tapi jika masih sempat, aku akan kembali dan membantu ibu lagi."


Nisa kembali membasuh tangan kemudian berjalan pergi meninggalkan dapur, sedangkan ibunya yang sendirian di dapur masih tersenyum hingga bayangan Nisa tak terlihat. Suasana dapur menjadi sunyi begitu Nisa pergi, hanya ada suara letupan dari minyak panas di penggorengan.


"Hah ... anak itu sudah banyak berubah,"


Setelah mendengar keseluruhan cerita dari sudut pandang Nisa, akhirnya sebab dan akibatnya sudah jelas. Terlebih lagi ada satu sisi positif lain, Nisa yang biasanya pendiam dan selalu memendam semuanya sendiri akhirnya bisa terbuka. Dan tentunya jika berbagi seperti ini akan mengurangi rasa tertekannya.


Emosi Nisa itu labil, bahkan dia juga mengalami gangguan kecemasan berat, akibatnya dia terobsesi berlebih pada suatu hubungan tertentu dan merasa takut pada kesalahan. Sebenarnya dia memerlukan perawatan psikologis, tapi dia selalu menolak dan hanya mengandalkan obat antidepresan.

__ADS_1


Jika menyinggung tentang identitasnya dia memang selalu sensitif, seolah-olah segalanya harus menggunakan caranya sendiri dan dia tak mengizinkan siapa pun mengganggunya. Akan sangat berbahaya jika Nisa ditinggal sendirian. Semoga saja kehidupan pernikahannya selalu bahagia, itu akan berdampak baik pada kesehatan mentalnya. Tapi entah apa pun yang akan terjadi kedepannya, aku harap putriku satu-satunya itu akan baik-baik saja.


***


Nisa telah sampai di kamarnya dan begitu dia masuk, dia melihat Keyran yang masih sibuk bertelepon dengan rekan bisnisnya. Nisa tak berkata apa-apa dan bersikap biasa saja, berbeda dengan Keyran yang agak kaget saat melihat kedatangan Nisa.


Nisa berjalan mendekat ke lemari, lalu dia terdiam karena bingung pakaian mana saja yang akan dia bawa.


"Emm ... sudah, kita lanjutkan lain kali." ucap Keyran mengakhiri teleponnya. Keyran berjalan perlahan mendekati Nisa lalu tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Sedang apa?"


"Hah? Aku yang harusnya tanya begitu, kau yang sedang apa mendadak memelukku. Jangan macam-macam, oke? Aku sedang bingung mau bawa baju yang mana."


"Jangan bawa apa-apa, beli saja yang baru."


"Huh, aku sudah punya banyak baju, jika terus-terusan beli lagi aku bingung harus menyimpannya dimana, aku ini bukan tipe orang yang sekali pakai terus buang. Tapi ngomong-ngomong apakah aku mengganggumu? Kau langsung mengakhiri telepon begitu aku datang."


"Tidak, aku mengakhirinya karena memang harus diakhiri, dan lebih baik dibicarakan secara langsung."


Tentu saja harus aku akhiri, sebelumnya aku memang membicarakan soal bisnis, tapi yang barusan tadi itu aku sedang membicarakan hadiah kejutan untukmu.


"Nisa, sekarang kau sedang menyiapkan keperluan untuk besok. Memangnya kau sudah selesai membantu ibumu memasak? Berarti pesananku cheese stick sudah siap, jadi sekarang waktunya makan malam!"


"Haha sabar ... kurang dari 20 jam lagi kau akan terbebas."


"Key, kita akhiri saja permainan babu dan majikan ini, oke? Aku lelah, besok juga harus kuliah ..."


"Kuliah??"


Dasar pembohong, kau masih belum mengaku kalau kau sudah masa liburan semester.


"Iya kuliah, tapi dari cara bicaramu kau sepertinya meragukan aku. Jangan-jangan kau lupa kalau aku masih harus kuliah karena aku sudah terlalu lama di rumah sakit."


"Aku tidak lupa, tapi ... apa yang mau kau lakukan saat kuliah?"


"Haaa? Kau sendiri kan juga pernah kuliah, tapi yang begitu masih tanya. Yang harus aku lakukan itu banyak, mulai dari tugas, praktik, laporan, workshop, revisi, bahkan kegiatan organisasi. Dan besok ada hal penting dalam organisasi, makanya besok aku harus datang. Emm ... sepertinya aku belum pernah cerita kalau aku ikut organisasi tentang bahasa, tepatnya bahasa Jepang."


"Jepang? Apa kau suka tentang Jepang?"


"Sangat suka! Mulai dari budaya, cara berperilaku, film dan kartun yang diproduksi, makanan-makanan khas, pokoknya aku sangat suka! Bahkan sebelumnya aku pernah punya angan-angan untuk menikah dengan orang Jepang!" mendadak Nisa tersentak lalu dengan lirih berkata, "Upss ... maaf, aku salah bicara."


"Huh, setidaknya bukan Italia." ucap Keyran dengan nada menyindir.

__ADS_1


"Haha, maaf ..."


Astaga, dia masih menyimpan dendam pada Jonathan.


"Ngomong-ngomong apa sebelumnya kau pernah pergi ke Jepang?"


"Belum, kau pikir apa tujuanku mengikuti organisasi bahasa Jepang? Aku ingin menguasai bahasanya dulu, baru setelah itu berkunjung ke sana. Kenapa kau mendadak tanya?"


"Ohh ... bukan apa-apa, hanya penasaran."


Hehe, ini bagus juga. Akhirnya aku mendapatkan referensi tempat bulan madu yang tepat, aku ingin bulan maduku menjadi sempurna.


"..." Nisa termenung dan ekspresinya tampak khawatir.


Hanya penasaran katanya, padahal aku hanya menyinggung tentang hal remeh, apa jadinya jika dia sudah mulai penasaran tentang identitasku? Ibu benar, cepat atau lambat Keyran akan mengetahui tentang segalanya. Karena hubunganku dengan Keyran baru saja membaik, aku tak bisa mengambil terlalu banyak risiko. Tapi sebelum dia kecewa, aku akan melakukan sesuai rencanaku, aku akan memberitahunya secara bertahap, cara ini adalah cara paling aman yang dapat aku pikirkan.


***


Keesokan paginya. Keyran dan Nisa bangun lebih awal sesuai agenda mereka, pagi-pagi sekali mereka sudah rapi dan bersiap untuk pulang ke rumah mereka sendiri. Mereka tak lupa untuk tetap berpamitan dengan kedua orang tua Nisa, namun karena waktu yang mepet mereka berdua melewatkan sarapan yang sebenarnya sudah disiapkan.


Sesampainya di rumah, Keyran segera bersiap untuk memulai rutinitasnya lalu berangkat ke kantor. Berbeda halnya dengan Nisa, dia masih bersikukuh untuk memakai kuliah sebagai alasannya untuk bisa keluyuran sepuasnya. Dia sama sekali tidak mengira bahwa Keyran telah mengetahui kebohongannya.


Di satu sisi Keyran tetap mencoba untuk bersabar, karena dia tahu bahwa hari-hari dimana Nisa keluyuran sepuasnya akan segera berakhir. Keyran tetap pada rencananya, yaitu mempersiapkan kejutan untuk ulang tahun Nisa secara diam-diam. Hal itu berlangsung selama berhari-hari, dan tindakan Keyran sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan apa pun pada Nisa.


Hingga tibalah saat ini yang telah dinanti-nanti, dan saat ini pukul 23:50. Ya, hanya kurang 10 menit lagi dimana ulang tahun Nisa akan tiba. Namun saat ini Nisa masih tertidur lelap sambil memeluk guling, dan yang membuat Nisa memeluk guling tidak lain adalah Keyran sendiri.


Keyran awalnya berpura-pura tidur sambil memeluk Nisa, dan ketika Nisa sudah tertidur dia diam-diam menyingkir dan meletakkan guling sebagai penggantinya. Keyran dengan teliti mempersiapkan semuanya, mulai dari hadiah, buket bunga mawar, kue ulang tahun dengan lilin angka 20 di atasnya. Bahkan sebagai tambahan dia juga mengatur alarm pukul 00:00 dengan volume nada dering maksimal. Tentu saja semua itu dia lakukan tidak lain karena arahan dari sang master, yaitu Reihan.


Saat ini yang harus dilakukan hanya tinggal menunggu, Keyran yang memegangi kue ulang tahun sudah tidak sabar ingin berteriak untuk membangunkan Nisa di saat yang tepat.


"Hmmm ... Nisa pasti suka, Nisa pasti akan semakin mencintaiku! Itu pasti, karena aku suami paling baik sedunia!" gumam Keyran sambil tersenyum bodoh.


Semuanya sesuai dengan kesukaan Nisa, dia suka cokelat dan buah stroberi. Dan sekarang sudah ada kue blackforest dengan buah stroberi di atasnya yang dibuat oleh koki ternama. Agar suasana semakin romantis aku juga sudah menyiapkan buket mawar. Lalu tak lupa juga dengan hadiah spesial yang super romantis ...


Tapi ada satu hal yang membuatku ragu, Reihan menyuruhku agar memasang alarm dengan nada dering suara sirene pemadam kebakaran, bahkan juga menyuruhku untuk berteriak jika seandainya ada kebakaran. Apa ini sungguh tidak apa-apa? Ah sudahlah! Untuk apa ragu, lagi pula selama ini saran darinya selalu benar! Jadi aku tak perlu khawatir lagi.


"Hehe, aku tak sabar melihat reaksi Nisa!"


Keyran melihat ke arah jam, dia menyadari bahwa tinggal beberapa detik lagi ulang tahun Nisa akan tiba. Dia segera meletakkan kue di atas meja yang berada di dekat ranjang, lalu saat tepat pukul 00:00, alarm kebakaran berbunyi dan dia tanpa ragu langsung menyergap lalu mengguncangkan tubuh Nisa.


"Nisaaa!! Cepat bangun ada kebakaran!!!"

__ADS_1


__ADS_2