
"Uuuhh ... ya ampun." Nisa mengerutkan dahi sambil melihat layar ponselnya. Dia duduk di pinggir ranjang dan masih dalam keadaan telanjang.
Ada pemberitahuan kalau ujian benar-benar di tunda jadi besok. Suamiku memang seenaknya, gara-gara dia pengen nguewe di pagi hari, sekarang ujian di semua jurusan ditunda. Ini namanya membolos yang legend.
"Hehe ... aku hebat kan?" tanya Keyran yang tiba-tiba memeluk Nisa dari belakang, dia menyandarkan kepalanya di pundak Nisa dan keadaannya pun juga masih telanjang. "Sekarang kau tidak perlu khawatir lagi, ujiannya benar-benar ditunda jadi besok. Nah, mau lanjut ronde berikutnya?"
"Kau ... sebenarnya kau mendapat stamina itu dari mana?"
"Hei hei, karena ini masih pagi tentu saja aku sangat berstamina. Lanjut ronde berikutnya ya?"
"Key ... aku capek, dilanjut lain kali saja."
Nanti juga harus cuci seprei sendiri, aku malu kalau sampai dilihat bibi Rinn lagi. Tapi ... harus aku akui, memang masih belum terbiasa, tapi setidaknya lebih baik dari pertama kali.
"Kenapa harus lain kali, apa nanti malam tidak bisa?"
"Dengar ya, aku ada ujian, jadi untuk seminggu ke depan aku harus fokus belajar. Yang sabar ya darling ..." ucap Nisa sambil menepuk-nepuk pipi Keyran.
"Ck, satu ronde juga tidak masalah. Masa selama seminggu aku tidak dapat jatah?"
"Jangan coba-coba menawar! Memangnya sejak kapan aku mengatur jatah untukmu? Toh seminggu juga waktu yang sebentar."
"Sebentar itu untukmu, tapi bagiku itu lama. Pokoknya mulai sekarang aku minta jatah! Seminggu minimal 4 kali, lebih dari itu juga sangat boleh. Jika seminggu ke depan tetap tidak bisa, lebih baik puas-puaskan saja sekarang."
"Hei, kau jangan ..."
Buzz buzz ...
Tiba-tiba saja ponselnya Nisa berdering. Tapi Nisa diam saja dan merasa sedikit bingung harus menolak atau menerima panggilan telepon tersebut.
"Jerapah Itali? Dia siapa istriku?"
"I-itu ..."
"Hemm ..."
Itali ... Italia, jangan-jangan itu Jonathan. Nisa juga tampak ragu untuk mengangkatnya, sepertinya itu benar Jonathan. Cih, bajing*n itu mengganggu di saat kesenanganku.
"Angkat saja, siapa tahu itu penting, meskipun orangnya tidak penting."
"Emm ..."
Cara bicaranya seperti menyindir, apakah mungkin Keyran tahu kalau ini Jonathan? Tapi kenapa sih Jonathan tiba-tiba meneleponku?
"Tsk! Ya sudah," Keyran tiba-tiba merebut ponsel yang dipegang oleh Nisa. "Biar aku saja yang angkat!"
"Hei, kembalikan!!" Nisa mencoba meraih ponselnya kembali, namun saat itu juga Keyran langsung turun dari ranjang dan menjauh dari Nisa. "Key! Cepat kembalikan! Abaikan saja, jangan diangkat!"
"Tapi aku sudah mengangkatnya~ kalau begitu sekarang aku nyalakan speaker, biar kau juga dengar apa yang ingin dia katakan." Keyran lalu mengambil napas panjang. "Hei bajing*n! Ada urusan apa kau menelepon istriku hah!?"
"Kau ... kenapa kau yang mengangkatnya!? Dimana Nisa!?" teriak Jonathan yang terdengar sangat marah.
"Istriku sedang istirahat, dia masih kelelahan~ Kau menelepon di saat-saat kesenangan kami~"
"Key!! Apa yang kau katakan!? Jangan bicara yang aneh-aneh! Kembalikan padaku!!"
Nisa sangat panik, dia langsung menghampiri Keyran dan berniat untuk merebut kembali ponselnya. Menyadari hal itu Keyran juga terus berusaha menghindar dari Nisa.
"Wah wah ... istriku, apa kau ingin main kejar-kejaran dalam keadaan telanjang?"
"Berhenti bicara!! Segera tutup panggilan itu!"
Sialan! Jonathan mendengar semua ini, ini sangat memalukan!! Rasanya ingin sekali menghilang dari muka bumi.
"Nisa, apa kamu baik-baik saja!? Apa bajing*n itu menyiksamu!?" teriak Jonathan yang terdengar sangat panik.
"Lupakan saja! Cepat akhiri panggilan! Tolong salah satu di antara kalian berdua akhiri panggilannya!!"
"Wah ... istriku, apa kau malu~ lebih baik baginya untuk tahu yang sebenarnya. Toh kita juga suami istri yang sah. Biarkan saja si tukang perebut istri orang ini mendengarnya~"
Hehe ... masih tersambung, ini saatnya membuatnya sadar tempat.
"Dasar yamori! Kembalikan padaku!"
Nisa terus berupaya untuk mendapatkan ponselnya kembali. Tapi Keyran mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi agar Nisa tidak bisa meraihnya.
"Istriku ... kau melompat-lompat seperti ini, gunung kembar milikmu itu seperti sedang diterjang gempa loh~"
"Dasar gila! Sinting! Cepat tutup teleponnya! Aku bisa mati karena malu!! Joe!! Tolong akhiri panggilannya! Lupakan semua yang kamu dengar!"
"Cih, kenapa memohon kepadanya? Ayo memohon kepadaku~"
"Key!! Kenapa kau jadi gila seperti ini!? Aku mohon ... tutup teleponnya!"
"Cukup Nisa, suamimu memang bajing*n! Kita bicara lain kali." teriak Jonathan.
Tut ... tut ...
"Kembalikan padaku!!"
"Eitss ... tidak bisa~"
__ADS_1
"Kenapa!? Jonathan sudah mengakhiri panggilannya, cepat kembalikan!"
"Karena aku belum puas, sekarang adalah giliran mantanmu~ Aku penasaran seperti apa reaksinya ..."
"Hmph! Coba saja, memangnya kau tahu nomornya yang mana?"
"Old Baby~"
"Sialan, bagaimana kau bisa tahu!? Aku mohon jangan hubungi dia! Apa kau merasa puas saat membuatku malu!?"
"Aku hanya akan puas jika ..."
"Jika apa!?"
"Jika kau setuju memberiku jatah minimal 4 kali dalam seminggu. Bagaimana? Atau ... aku telepon mantanmu sekarang?"
"Uhh ... baiklah, aku setuju. Sekarang kembalikan!"
"Cih, ternyata demi mantanmu kau baru rela. Syaratku aku rubah, minimal 5 kali!"
"Terserah, yang penting kembalikan dulu! Asal aku masih kuat, kau bisa dapat jatah."
"Janji ya?"
"Iya, janji."
Hiks ... Keyran ini sangat licik, kenapa sih syaratnya harus itu?
"Nah, begini kan bagus. Jadi istri yang penurut itu bagus. Ini, aku kembalikan ..." Keyran lalu mengembalikan ponselnya Nisa, bahkan dia mengembalikannya dengan senyuman.
"Cih, istri ying pinirit iti bigis ..." setelah mendapatkan ponselnya kembali Nisa langsung berjalan pergi, namun tangannya lagi-lagi ditahan oleh Keyran. "Apa lagi?" tanya Nisa dengan nada malas.
"Kau mau kemana?"
"Astaga, aku masih di kamar dalam keadaan telanjang. Tentu saja aku mau pergi ke kamar mandi, aku mau mandi!"
"Hemm ..." sekali lagi Keyran merebut ponselnya Nisa, kemudian dia melemparnya tepat ke atas ranjang. Namun tiba-tiba saja dia malah menggendong Nisa.
"Hei, kau mau apa!?"
"Katanya mau mandi, maka aku akan membantumu~ Kita mandi bersama!"
"Dasar ... kau pasti mau modus!"
"Ternyata selain penurut istriku ini juga pintar~ bangganya diriku~"
"...."
***
Malam harinya. Saat ini Nisa sedang fokus belajar, dan tepat di sebelahnya ada Keyran yang selalu mengawasinya. Keyran duduk manis, dia menanti istrinya selesai belajar untuk mendapatkan gilirannya.
Tentu saja Nisa merasa tidak nyaman dengan hal itu, sambil belajar dia terus memikirkan cara untuk mengelabuhi Keyran. Nisa terus membolak-balik halaman buku dan sesekali melirik ke arah Keyran.
Ya Tuhan ... tolonglah aku! Aku harus bagaimana? Belajar saja sudah melelahkan, tapi nanti aku masih harus memberi suamiku yang mesum ini jatah. Padahal tadi pagi sudah melakukannya berkali-kali.
"Butuh bantuan? Jika kau kesulitan memahami materi, aku bisa menjelaskannya untukku. Ini juga agar kau mempersingkat waktu belajarmu." ucap Keyran dengan senyuman.
"Aku bisa belajar sendiri, hanya saja ..."
"Hanya apa?"
"Hanya saja ada kau yang dari tadi terus mengawasiku, ini membuatku sedikit kurang nyaman. Kau tunggu saja aku di kamar, jika aku sudah selesai belajar aku pasti akan langsung ke sana. Bisakah kau pergi ke kamar dulu?"
"Huft ... baiklah, tapi jangan membuatku menunggu lama."
"Iya, aku akan belajar dengan cepat."
Sebelum Keyran pergi ke kamar, dia mencium kening Nisa terlebih dulu. Setelah dia sampai, dia menonton televisi seorang diri sambil menunggu Nisa selesai belajar.
Satu jam telah berlalu, Keyran mulai kehilangan kesabaran. Dengan cepat dia mematikan televisi dan kemudian kembali ke ruang belajar. Bahkan selama berjalan dia terus menggerutu.
"Cih, Nisa pasti berusaha menunda."
Klakk ... suara pintu dibuka
"Nisa! Apa kau sedang .. eh!?" Keyran terkejut saat melihat ternyata Nisa ketiduran. Nisa terlihat sangat tenang, kepalanya menindih buku yang berada di atas meja belajar.
"Haiss ... kau ini, sepertinya sangat kelelahan ya ..." Keyran mendekat, dia lalu perlahan membopong Nisa menuju ke kamar. Saat dia menurunkan Nisa di atas ranjang, dia kemudian mencium keningnya.
"Selamat malam Nisa. Malam ini kau tidak mengucapkan selamat malam untukku, rasanya seperti kurang lengkap. Tapi tak apa, aku mengerti kalau kau kelelahan." ucapnya dengan senyum lembut.
Keyran lalu naik ke atas ranjang, dia berbaring dan memasangkan selimut untuk dirinya dan istrinya. Dia memeluk tubuh Nisa lalu memejamkan matanya.
Setelah semua ini akhirnya aku mengerti, aku mengerti rasanya mencintai seseorang. Aku ingin memilikinya, ingin selalu di sampingnya, ingin melihatnya bahagia, juga ingin rasa ini terbalas. Syukurlah aku mencintai seseorang yang sudah menjadi milikku, aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya jika mencintai tapi tidak dapat memiliki.
Sekarang aku mengerti dari mana asalnya tekad mantan kekasihmu, tekadnya berasal dari rasa sakit itu. Tapi tekadku untuk terus mempertahankanmu juga tidak kalah, meskipun aku belum sepenuhnya memiliki dirimu, tapi aku yakin secepatnya hatimu akan menjadi milikku.
Meskipun sangat enggan mengakui, tapi dalam kisahmu aku terkesan seperti penjahatnya. Bahkan cintamu untuknya juga terbilang sangat dalam, selama sebulan lebih setelah pernikahan, setiap malam kau selalu mengigau menyebut namanya. Tapi, sekarang semua itu berbeda. Entah ini benar atau tidak, sekarang aku merasa kalau kau juga mulai membuka hatimu untukku.
Semoga saja ini benar. Sekarang hubungan kita bisa terbilang cukup baik, aku harap selamanya akan terus seperti ini. Meskipun orang-orang bilang di dalam pernikahan selalu saja ada masalah, tapi aku harap bersama-sama kita bisa melewatinya. Intinya aku sangat takut jika kehilangan dirimu. Aku janji, aku pasti akan menjagamu hingga akhir hayatku.
__ADS_1
Keyran lalu perlahan membuka matanya. "Nisa, karena malam ini kau lolos, maka besok malam akan berlipat ganda. Kau sudah berjanji, jadi jangan ingkar. Sekali lagi selamat malam~" Keyran segera memejamkan mata kembali.
"...."
Hehehe ... hampir saja, aku pikir kau sadar kalau aku cuma pura-pura tidur. Aktingku ini benar-benar bagus, sepertinya aku salah masuk jurusan. Kalau begini ... besok akan aku ulangi lagi! Enak saja minta jatah 5 kali, kau pikir aku bodoh apa? Sebenarnya kau yang selalu aku bodohi~
***
Hari-hari selanjutnya Nisa mengulangi trik licik yang sama, setiap malam dia selalu berpura-pura kalau dia ketiduran saat sedang belajar. Namun yang berbeda hanyalah tempatnya, bukan sekedar di ruang belajar, dia bisa ketiduran di sofa, depan televisi, bahkan di kursi yang ada di balkon juga bisa.
Tapi tetap saja Keyran mulai menaruh curiga. Dia curiga kalau Nisa sedang menghindar darinya. Saat dia mencoba menyentuh bagian dari tubuh Nisa yang sensitif saat sedang tidur, Nisa tetap saja bersikeras untuk pura-pura tidur. Dan akhirnya Keyran hanya bisa pasrah kalau dirinya tidak dapat jatah selama seminggu.
Hari ini adalah hari terakhir ujian, Nisa sangat percaya diri kalau mulai ujiannya akan memuaskan. Sepulang dari kampus dia langsung kembali ke rumah, namun setelah itu dia keluar rumah lagi untuk berjalan-jalan.
Nisa menyusuri jalan tak tentu arah, namun jalanan yang dia lewati tetap jalanan yang dia ketahui. Saat dia sedang berjalan, dia terus bergumam tak ada hentinya, seolah-olah dia sedang menceritakan seluruh keluh kesahnya kepada dunia.
Nisa terus berjalan-jalan hingga sore hari tiba, karena dia suka menyendiri akhirnya dia memilih jalanan-jalanan yang sepi untuk dilewati. Saat ini pun dia melewati gang yang sempit dan sangat sepi.
Huh ... sekarang aku sudah merasa lebih baik, UTS sudah selesai! Tapi ... akan lebih baik lagi jika bertemu dengan preman untuk dihajar. Dari tadi aku terus memilih jalan yang sepi, tapi kenapa satu preman pun belum aku temui? Ini aneh ...
Padahal aku juga sudah dandan se imut mungkin, harusnya aku kelihatan seperti gadis lemah dan mudah diganggu. Tapi kenapa aku belum berjumpa dengan orang brengsek?
"Aaahh! Nggak tau ah! Pulang saja deh, nanti pukul saja guling!" Nisa langsung menendang kaleng bekas minuman di depannya sekeras mungkin.
Traaang!!
"Ada yang sedang kesal nih~" ucap seseorang.
"Siapa!?"
Seketika Nisa menengok ke belakang. Nisa melihat sekelompok pria yang memakai jas hitam sebanyak 8 orang. Dan yang barusan berkata adalah salah satu di antara mereka. Menyadari hal itu Nisa sama sekali tidak takut maupun waspada, tapi dia malah menyeringai seakan sedang meremehkan.
"Mau apa kalian?"
"Haha ... bukan apa-apa, kami hanya ingin kau ikut dengan kami. Saranku kau menurut saja, jangan memaksa kami melakukan kekerasan pada tubuhmu yang lembut itu~ Sangat sayang jika tubuh sebagus itu harus merasakan sakit. Ayo kemari ..." ucap pria yang posisinya berada paling depan, bahkan dia juga mengulurkan tangannya pada Nisa dengan begitu ramah.
"Ohh ... manis sekali kata-katamu. Kau mengatakan hal yang benar, tubuhku memang bagus dan lembut. Tapi ... memangnya kalian bisa menyakitiku? Kalian juga ingin aku ikut dengan kalian, maka jawabanku adalah ... mimpi saja sana!"
"Hei, jangan sombong! Kau hanya seorang diri, dan kau cuma gadis! Tapi kami ada 8 orang, kami bisa dengan mudah untuk membawamu dengan kekerasan!"
"Cih, 8 orang. Kalian sedang meremehkan aku ya!? Maju kalian semua!!"
"Sesuai permintaanmu! Semuanya, bawa dia dengan paksa!!"
"Baik!!"
"Dasar para cecunguk sampah!!"
Nisa tanpa ragu melawan kedelapan orang yang ingin membawanya. Bahkan semua serangan yang dia lakukan diarahkan ke titik vital, seperti pelipis, hidung, tenggorokan, ulu hati dan tak butuh waktu hingga 30 detik mereka semua tumbang hingga hanya tersisa satu orang.
"Hanya kau yang tersisa! Rasakan ini!! Tendangan pemutus keturunan!!!"
BUAKH!!
"Aaarghhh!!!"
Orang itu langsung jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri setelah junior kecilnya ditendang oleh Nisa. Sedangkan Nisa, dia tersenyum puas karena akhirnya dia bisa melampiaskan emosinya.
"Haha ... salahmu karena tadi terus melihat dadaku!! Cuma 8 orang ingin membawaku pergi? Itu terlalu merendahkan harga diriku! Kalian semua pantas mendapatkannya! Aku mematahkan tulang setiap orang, ini saatnya bagi kalian untuk gunakan BPJS kalian! Secara tidak langsung aku ini membantu pemerintah menjalankan programnya!"
Prok prok prok ...
"Wah ... aku terkesan~" ucap seorang pria ber jas hitam lagi yang bertepuk tangan. Pria itu terlihat seperti sudah berumur sekitar 30 tahunan lebih, bahkan dia juga memasang senyuman pada Nisa. Dan di belakang pria itu terlihat orang lain lagi yang berjumlah 5 orang.
"Om ini bos dari para sampah yang kalah ini ya?" tanya Nisa sambil menendang-nendang orang yang tergeletak di dekatnya.
"Yaa .. begitulah, tapi cara bicaramu aku kurang suka!"
"Terus kenapa!? Om adalah bos, jadi om adalah sampah yang lebih sampah! Bisa disebut ... kotoran~"
"Kau bocah sialan! Ikut denganku sekarang! Mumpung aku masih berbaik hati!"
"Buang saja kebaikan hati yang om punya, aku sama sekali tidak butuh itu! Ayo maju! Jangan buang waktuku!"
"Kau pikir aku bodoh? Rasakan ini!!"
Tanpa peringatan apa pun pria itu melempar sebuah benda bulat ke arah Nisa. Saat jatuh ke tanah benda itu langsung mengeluarkan asap yang tidak begitu banyak. Menyadari hal itu, Nisa langsung menutupi hidung dan mulutnya serta perlahan berjalan mundur.
Asap apa ini? Mataku biasa saja, ini bukan gas air mata, tapi ini gas apa?
Brugh ...!!
Tiba-tiba saja seluruh badan Nisa jadi lemas hingga dia terjatuh ke tanah.
"Uuuhh ..."
Sialan, i-ini gas pelumpuh saraf, ternyata mereka punya persiapan! Dadaku sesak, kepalaku sakit, pandanganku mulai buram ...
Tak sampai satu menit Nisa sudah tidak sadarkan diri, asap itu juga telah sepenuhnya menghilang. Pria yang melempar benda itu bersama para anak buahnya perlahan berjalan mendekati Nisa.
"Bawa dia!"
__ADS_1
"Baik bos!"