Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
DG Club


__ADS_3

Nisa akhirnya sampai di Rumahnya, tapi saat ingin membuka pintu tiba-tiba saja dia berhenti sejenak.


"Bersiaplah." gumam Nisa sambil memegang gagang pintu.


Setelah aku membuka pintu ini, semuanya akan dimulai.


"Aku pulang~" ucap Nisa dengan semangat sambil membuka pintu.


Tak ada seorang pun yang menjawab salam dari Nisa. Lalu dia dengan senyum sinis mulai berjalan masuk dan segera menuju ke kamarnya. Tapi, saat dia memasuki kamar, dia langsung dihadapkan oleh suaminya. Keyran lalu berjalan mendekat ke arah Nisa dan berdiri tepat di depannya.


"Kau sudah pulang?" tanya Keyran dengan tatapan mata seolah-olah ingin membunuh orang.


"Iya, aku sudah pulang." jawab Nisa sambil menengadah.


Aku benci ini! Orang ini cukup tinggi, aku harus melihat ke atas untuk menjawabnya. Terus... tatapan matanya itu terlihat sedikit menakutkan. Jangan-jangan aku sudah berbuat kesalahan, makanya dia begini.


"Kau kemana saja sampai lupa waktu seperti ini!?" tanya Keyran dengan nada kasar.


"A-aku pergi main..." jawab Nisa dengan suara lirih.


"Tunggu sebentar," Keyran tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Nisa. "Matamu kenapa? Apa kau habis menangis?"


"Iya," jawab Nisa sambil mengangguk kepala. "Aku menangis karena berpisah dengan seseorang." ucap Nisa dengan nada putus asa.


"Dengan siapa? Apa orang itu penting untukmu?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Dengan cinta. Dia memang sangat penting untukku. Sebenarnya dia juga sudah lama sakit hati, tapi hari ini dia sudah mati." ucap Nisa dengan senyum pahit.


"Sakit hati?"


"Iya, semacam kanker hati. Hari ini aku pergi melayat dia, karena itu aku terlambat pulang. Aku tahu kalau aku salah, seharusnya aku menghubungimu dulu. Tapi terserah padamu, kau bisa menghukumku..." ucap Nisa dengan tampang memelas.


"Menghukummu? Kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Keyran terheran-heran.


"Karena aku salah, jadi kau bisa menghukumku. Lagipula saat kau menatapku, kau terlihat marah sekali. Silakan kalau kau ingin menghukumku..." Nisa lalu menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, aku tidak akan menghukummu. Tapi, lain kali kau harus pulang tepat waktu, jam malammu hanya sampai jam 9. Camkan ini baik-baik!" bentak Keyran.


"Baik," jawab Nisa dengan nada pasrah.


"Lalu..."


"Cukup! Kalau kau masih ingin membahas hal lain, nanti dilanjut di ranjang saja. Aku mau mandi dulu." Nisa lalu berjalan melewati Keyran dan langsung menuju ke kamar mandi.


"O-oke..."


Dilanjut di ranjang katanya, kenapa dia bersikap seperti ini? Tadi aku mencium bau alkohol, juga samar-samar ada aroma parfum pria. Tapi, dia bilang habis melayat temannya. Apa dia berbohong padaku?


"Hah... Sudahlah, gadis itu memang aneh, jangan pedulikan dia!"


Kalau memang benar dia berbohong, tentu saja masalah seperti ini harus diselesaikan di atas ranjang.


Dengan senyum jahat Keyran lalu menunggu Nisa di atas ranjang. Sementara itu, keadaan Nisa di kamar mandi malah seperti orang yang sedang panik.


"Sialan! Seandainya aku tahu kalau dia belum tidur, aku pasti langsung pulang setelah dari tempatnya Ricky. Seharusnya aku nggak usah main ke tempat lain!" gerutu Nisa.


Ini semua gara-gara Damar! Niatku sih awalnya cuma curhat, tapi malah keblabasan sampai habis 7 botol. Awas aja nanti, dasar kucing garong!


"Bodo amat lah, cepetan mandi!"


Setelah selesai mandi, Nisa yang berada di kamar mandi hanya melongo dan menatap sekeliling. Dia kemudian sedikit membuka pintu dan mulai mengintip keadaan di luar. Dan dia melihat suaminya yang sedang sibuk bermain handphone di atas ranjang.


"Habislah aku..." gumam Nisa.


Ternyata dia belum tidur. Aku kok bisa-bisanya lupa bawa handuk sih! Sekarang aku harus apa? Aku nggak berani keluar kalau masih telanjang...


"Tol*l!" ucap Nisa secara spontan.


"Apa!?" Keyran seketika menoleh ke arah Nisa. "Kenapa kau mengintip seperti itu? Kalau memang sudah selesai mandi maka cepatlah keluar!" ucap Keyran dengan tidak sabar.


"I-itu..." ucap Nisa dengan nada gemetar.


"Dasar aneh!" Keyran beranjak dari tempat tidur lalu dia berjalan mendekat ke kamar mandi. Dia lalu mencoba membuka pintu, tapi ditahan oleh Nisa sekuat tenaga. "Kau itu kenapa!? Cepat keluar!"


"Jangan dorong lagi! Aku nggak mau keluar!" teriak Nisa dengan histeris.


"Tsk! Cepat keluar! Apa kau ingin aku sendiri yang menyeretmu!?" teriak Keyran sambil mendorong pintu sekuat tenaga.


"Jangan masuk! Aku mohon jangan masuk!"


"Kalau begitu apa mau mu!?" Keyran lalu berhenti mendorong pintu. "Apa kau ingin tidur di kamar mandi?"


"Bukan begitu, aku ingin minta tolong kepadamu..." ucap Nisa dengan lirih.


"Minta tolong? Memangnya kau ingin apa?"


"Anu... t-tolong ambilkan handuk untukku, aku lupa membawanya..." ucap Nisa dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


"Oh," Keyran tiba-tiba menyeringai.


Hehehe, akhirnya kesempatan ini datang juga! Sekarang aku bisa mempermainkan gadis kurang ajar ini.


"Emmm. kenapa masih disini? Bukannya kau ingin mengambilkan handuk untukku?" tanya Nisa sambil meringis.


"Caramu meminta tolong itu salah, kau harus memohon padaku!" Keyran lalu memalingkan wajahnya dengan gaya yang angkuh.


"Baiklah," Nisa lalu mengambil napas panjang dan merubah raut wajahnya menjadi memelas. "Key~ tolong ambilkan handuk untukku... aku mohon..." ucap Nisa dengan mata yang berbinar-binar.


"Heh!" Keyran lalu menjauh satu langkah dari Nisa, "Kau bilang apa? Coba ulangi lagi!"


"Keyran... tolong ambilkan handuk untukku! Please get a towel for me, please...!!" teriak Nisa.


(Tolong ambilkan handuk untukku, tolong...!!)


"I can't hear you! Try another language!"


(Aku tidak bisa mendengarmu! Cobalah bahasa lain!)


"Kau menjawabku itu artinya kau mendengarku, tolong jangan seperti ini..." keluh Nisa dengan wajah cemberut.


Sialan, kau ingin aku pakai bahasa lain, aku rasa bahasa hewan sangat cocok untukmu!


"Baiklah," Keyran lalu mendekat ke arah Nisa. "Memohonlah sekali lagi!"


Haha, ternyata seperti ini seru juga.


"Keyran yang baik hati dan tidak sombong, tolong ambilkan handuk untuk istrimu... Aku mohon... istrimu ini sangat membutuhkannya..." ucap Nisa dengan senyum terpaksa.


"Hmmm, aku memang baik hati." setelah menjawab Nisa, Keyran hanya diam dan masih belum beranjak pergi.


"Kenapa masih belum mengambilkan handuk untukku? Aku kan sudah memohon kepadamu..."


"Aku memang menyuruhmu memohon padaku, tapi aku tidak pernah berjanji akan mengambilkan handuk untukmu." ucap Keyran seakan mengejek.


"Kau!! Berhenti mempermainkan aku! Kenapa kau seperti ini kepadaku?"


Ngeselin banget, lebih ngeselin daripada Reihan.


"Ckck... tidak terima ya? Ini salahmu karena telah berbohong padaku!"


"Memangnya aku bohong tentang apa?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Hng! Masih berpura-pura, apa kau pikir aku bodoh? Kau bilang habis melayat, tapi kenapa di tubuhmu tercium bau alkohol!?" tanya Keyran dengan nada kasar.


"S-soal itu ya..." Nisa lalu mengalihkan pandangannya, "Aku bisa jelaskan, tapi nanti."


"Aku nggak bohong! Cinta memang sudah mati, kalau nggak percaya kau bisa tanya ke temanku yang lain! Aku bau alkohol karena setelah itu aku pergi main, itu saja."


"Main katamu? Kau main kemana sampai larut malam hah!?"


"Club."


"Club? Apa yang gadis kecil sepertimu lakukan di club? Katakan padaku kau pergi ke club mana! Jawab dengan jujur!"


"DG Club, kalau masih nggak percaya silakan cek CCTV disana!" ucap Nisa dengan percaya diri.


"..." Keyran diam dan melotot pada Nisa.


Sepertinya gadis ini tidak berbohong, mungkin dia sangat terpukul karena temannya meninggal, makanya dia pergi ke club. Tapi, yang membuatku sedikit ragu adalah tempat yang dia datangi. DG Club bukanlah tempat yang bisa didatangi oleh sembarang orang. Istriku ini sebenarnya orang yang seperti apa?


"Kau pergi ke club dengan siapa?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Sendirian."


"Benarkah?" tanya Keyran dengan tatapan ragu.


"Keyran... aku sangat kedinginan, kalau masih ingin menginterogasiku nanti lanjutkan di ranjang saja ya? Aku mohon..."


"Hng! Baiklah, tapi awas saja kalau nanti masih berbohong!"


"Iya iya... aku nggak akan bohong kok~" ucap Nisa sambil tersenyum.


Keyran langsung menunggu Nisa di atas ranjang setelah mengambilkan handuk untuknya. Nisa yang selesai berpakaian hanya memakai tank top dan celana pendek langsung menuju ke tempat tidur. Nisa juga memasang tampang seakan tidak merasa bersalah sedikit pun.


"Nah, sekarang aku siap. Kau pilih posisi duduk seperti ini atau berbaring?" ucap Nisa dengan enteng.


"Eh!?" Keyran terkejut dan seketika menatap Nisa dengan tatapan tidak percaya.


"Hah..." Nisa menghela napas lalu dengan santainya berbaring sambil menyilangkan kedua tangannya di atas kepala. "Aku pikir berbaring lebih enak, tapi kalau kau terserah. Sekarang kau bisa mulai interogasinya!"


"Kau... apa kau mabuk?" tanya Keyran yang masih duduk di samping Nisa.


"Nggak, aku cuma minum sedikit. Aku sepenuhnya sadar."


"Kalau kau benar-benar sadar, kenapa sikapmu berubah seperti ini?"

__ADS_1


"Aku mana ada berubah. Kau juga berbaringlah, kita interogasinya sambil berbaring saja. Seperti ini kan lebih rileks..." ucap Nisa sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.


"Baiklah," Keyran lalu berbaring di samping Nisa. "Pertanyaanku adalah, bagaimana caramu bisa masuk ke DG Club?"


"Tentu saja lewat pintu. Kenapa kau mengajukan pertanyaan konyol seperti itu?"


"Kau yang konyol! Kau sama sekali tidak tahu DG Club itu tempat yang seperti apa, sebaiknya kau jangan pernah pergi kesana lagi!"


"Oke..."


Turuti saja deh. Padahal sejak dulu aku sering kesana, bahkan mungkin kedepannya aku akan lebih sering datang kesana.


"Ini aneh, kenapa kau penurut sekali?" tanya Keyran terheran-heran.


"Memangnya kau lebih suka kalau aku membangkang perintahmu? Lagipula, menurutku kau itu yang aneh!"


"Aku aneh? Maksudmu apa?"


"Begini ya, sejujurnya saat aku pulang tadi, aku sudah merasa kalau kau itu aneh. Hari-hari sebelumnya kau selalu menghindar dariku, bahkan aku juga berpikir kalau kau selamanya akan seperti itu. Tapi, hari ini kau malah peduli padaku, bahkan kau juga mempermainkan aku. Sebenarnya kau kenapa?"


"...." Keyran terdiam lalu mengalihkan pandangannya.


"Hah... Aku paham alasanmu menghindar, karena kejadian di kamar mandi itu kan? Sebenarnya aku juga sedikit merasa canggung, itu semua memang kesalahanku. Hari ini aku pulang larut malam itu juga salahku, aku memang belum bisa jadi istri yang baik untukmu. Keyran, apa kau menyesal menikah denganku?"


"Entahlah, tapi itu mungkin saja." ucap Keyran sambil tersenyum.


"Iya, tepat seperti perkiraanku." ucap Nisa sambil tersenyum.


Untuk beberapa saat mereka hanya diam dan saling menatap satu sama lain. Dan waktu terus berjalan, tapi mereka berdua belum juga tidur.


"Nisa," ucap Keyran dengan suara lirih.


"Apa?"


"Apa kau belum mengantuk?" tanya Keyran pada Nisa, lalu Nisa menjawabnya dengan menggelengkan kepala. "Ternyata belum mengantuk, kalau begitu aku akan menjawab pertanyaanmu tadi. Sikapku hari ini berubah karena aku telah memahami sesuatu tentangmu."


"Apa yang sudah kau pahami?" tanya Nisa seakan sangat tertarik.


"Cara berpikirmu. Tebakanmu benar, sebelumnya aku menghindarimu memang karena kejadian di kamar mandi itu. Aku memaklumi kenapa kau menolakku, itu bukan hanya karena alasan yang kau berikan saat itu. Tapi karena dirimu sendiri, lebih tepatnya perbedaan di antara kita. Mungkin perbedaan usia yang jauh di antara kita yang menjadi alasanmu, usiamu baru 19 tahun, dan untuk pernikahan memang bisa disebut terlalu dini untukmu. Aku paham jika kau belum sepenuhnya bisa bersikap dewasa, itulah mengapa sikapku berubah padamu."


"Iya, mungkin kau benar, aku memang belum dewasa. Terima kasih atas pengertiannya..." ucap Nisa sambil tersenyum.


Tapi, sebenarnya kau belum memahami apa pun tentangku. Pendapat kita juga berbeda, menurutku kedewasaan itu nggak dilihat dari usia, melainkan dari cara berpikir. Tapi, seperti ini bagus juga... sekarang jika kedepannya aku berbuat kesalahan mungkin dia nggak akan peduli padaku, bahkan mungkin akan menganggapku sebagai anak-anak.


"Oh iya, aku ingin memberitahu sesuatu padamu. Aku akan pergi."


"Pergi kemana?"


"Ke Jerman. Aku ada urusan disana, mungkin akan membutuhkan waktu berhari-hari, tapi maksimal 2 minggu. Saat aku pergi kau jangan buat masalah, juga jangan keluyuran sampai larut malam seperti ini!"


"Iya, aku akan ingat selalu pesanmu. Terus kapan kau berangkat?"


"Besok pagi. Valen juga akan ikut denganku, kalau kau ingin pergi ke mana pun, kau bisa pakai salah satu mobilku."


"Serius? Aku boleh pakai Rolls-Royce milikmu?" tanya Nisa dengan antusias.


"Boleh, asal jangan kau tabrakkan!" bentak Keyran.


"Haha, tenang saja... Aku sudah mahir mengendarai mobil saat masih 15 tahun. Aku jamin mobilmu aman di tanganku!"


"Oh, benarkah? Apa jaminan yang bisa kau berikan?"


"Hei hei, kau itu sudah sangat kaya. Memangnya kau ingin aku memberimu jaminan seperti apa?"


"Apa saja, asalkan itu berharga."


"Oke, jaminannya adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku. Belum ada seorang pun kecuali aku yang sudah menyentuhnya. Jangankan menyentuhnya, bahkan cuma aku dan orang tuaku yang sudah pernah melihatnya. Aku sudah sangat menjaganya sejak lama, bahkan berapa pun uang yang ditawarkan aku juga nggak akan menukarnya!"


"Oh, apa kau sungguh yakin membuatnya sebagai jaminan? Apa kau tidak takut akan menyesal?" tanya Keyran dengan senyum licik.


Heh! Aku tidak perlu menunggumu menabrakkan mobilku, suatu saat nanti itu pasti juga akan menjadi milikku. Cuma aku yang pantas mendapatkannya, karena aku adalah suamimu.


"Nggak akan, dalam hidupku nggak akan ada penyesalan!"


Mimpi saja sana! Action figure keramat milikku selamanya akan aman, karena aku sudah menyimpannya di tempat yang sangat rahasia.


"Oke, kita sepakat. Kau harus mengingat perkataanmu sendiri loh~"


"Iya, itu pasti! Hari ini cukup. Aku sudah mengantuk, aku mau tidur. Selamat malam Keyran..." Nisa lalu menutup rapat kedua matanya.


"Selamat malam juga, Nisa..." ucap Keyran dengan suara lirih.


Tak lama kemudian Nisa akhirnya tertidur pulas, tapi Keyran masih juga belum tidur. Dia terus memandangi ekspresi wajah Nisa yang sangat polos saat tertidur.


"Dasar..." Keyran lalu membelai pipi Nisa sambil tersenyum, "Aneh sekali, bisa-bisanya kau punya wajah polos seperti ini. Ini sangat berlawanan dengan cara bicaramu yang buruk itu..." Keyran tiba-tiba menarik tangannya kembali. "Apa yang aku lakukan? Kenapa tadi aku melakukan itu?"


Keyran lalu kembali menatap Nisa dengan tatapan yang penuh dengan keraguan, di benaknya mulai muncul berbagai macam pertanyaan untuk istrinya itu.

__ADS_1


"Sebenarnya kau ini orang seperti apa? Terkadang dengan mudahnya kau menangis, tertawa bahkan bisa mempengaruhi orang lain. Kau hebat juga pulang selarut ini sesudah minum alkohol tapi masih sadar, bahkan kau bisa pulang sendirian."


Aku tidak akan tinggal diam, selama aku pergi ke Jerman, aku akan menyuruh orang untuk terus mengawasimu. Aku pasti akan segera tahu siapa sebenarnya dirimu.


__ADS_2