
Pada keesokan harinya, Keyran meminta Valen agar mencari tempat kursus pastry terbaik yang sesuai untuk Nisa. Setelah mencari-cari referensi di internet, butuh waktu seharian untuk Valen mencari tempat yang cocok.
Esok harinya lagi barulah Nisa memulai kursus memasaknya. Dia menghadiri kursus setelah menyelesaikan jadwal kuliahnya. Bahkan kali ini pun secara spesial dia juga diantar oleh Keyran.
"Apa kau tidak lelah?" tanya Keyran.
"Haha, aku masih kuat. Lagi pula kelasku hari ini tak terlalu melelahkan. Kau jangan terlalu khawatir seperti ini, aku sudah sehat dan baik-baik saja. Justru aku khawatir padamu."
"Khawatir kenapa?"
Nisa lalu mengernyit. "Kau belakangan ini lebih sibuk dari biasanya, bahkan saat aku memberitahumu ingin pergi ke mana pun, kau pasti selalu bersikeras untuk mengantarku. Sekarang juga begitu, padahal kau itu tipe orang yang sangat disiplin, tapi sekarang kau bahkan meninggalkan kantor di luar jam istirahat hanya demi mengantarku berangkat kursus."
"Heh, itu terserah aku. Lagi pula tak akan ada yang berani menegurku, aku kan bos nya!" ucap Keyran penuh percaya diri.
"Key!!" Nisa yang merasa geram lalu mencubit pipi suaminya itu, tapi sesaat kemudian Keyran menahan tangannya.
"Kenapa mencubitku? Memangnya aku salah?"
"Humph! Bukan begitu, tapi kau setidaknya tolong pikirkan dirimu sendiri! Jarak dari sini ke kantor lumayan jauh dan kau harus bolak-balik mengantarku, kau bisa kelelahan. Kalau daya tahan tubuhmu menurun lalu kau jatuh sakit bagaimana?"
Sejenak Keyran tertegun, tiba-tiba dia menarik tangan Nisa yang dia tahan lalu mencium punggung tangan itu. "Aku senang saat kau khawatir tentangku, tapi perlakuanku padamu ini wajar saja. Ini hari pertamamu mengikuti kursus memasak, tentu saja suamimu ini harus mengantarmu." ucap Keyran dengan senyuman.
Seketika Nisa menarik tangannya kembali. "Dasar gombal!" ucapnya dengan pipi yang merona. "Ah sudahlah, aku sudah hampir terlambat!"
Nisa hendak membuka pintu mobil namun tangannya lagi-lagi ditahan oleh Keyran. "Ada apa? Kau minta dicium?"
"Emm ... sebenarnya bukan itu, tapi kalau kau mau menciumku juga tidak apa-apa." jawab Keyran sambil meringis.
"Lalu apa maumu?"
"Aku cuma mau bilang, jika nanti ada yang menyusahkanmu atau ada hal apa pun yang membuatmu tidak nyaman, kau cepatlah hubungi aku."
Nisa terkekeh. "Iyaa ... darling! Bahkan jika nanti aku kesulitan membuka tutup selai kacang maka aku juga akan bilang!"
Mendadak Nisa mendekat dan memberikan sebuah kecupan di pipi suaminya itu. "Sudah aku cium, kau tidak ada alasan apa pun lagi untuk menahanku pergi, kan?"
"Tidak, kau pergilah dan belajar memasak dengan benar. Jika kau sudah mahir, kau bisa sering-sering membuatkan kue untukku!"
"Janji, ya?" tanya Nisa dengan tatapan berbinar.
"Iya darling, aku janji."
"Awas saja kalau sampai saat itu tiba tapi kau menolak makan! Pokoknya kau dilarang menolak kue yang aku buat dengan sepenuh hati!"
"Iya," jawab Keyran yang kemudian juga memberikan kecupan manja di pipi chubby istrinya itu. "Cepat belajar sana!"
"Hehe," Nisa memasang senyum bodohnya sambil memegangi pipinya yang telah dicium oleh Keyran. Bahkan setelahnya Nisa turun dari mobil dengan langkah penuh riang.
Keyran yang melihat dan memperhatikan tingkah konyol istrinya itu juga tersenyum sambil bergumam, "Dasar bodoh. Bagaimana mungkin aku tidak menemanimu? Melihatmu yang kembali ceria seperti ini merupakan suatu kebahagiaan untukku."
***
Kursus pastry untuk hari pertama kali ini memakan waktu yang tak kurang dari 3 jam. Tentu saja waktu juga terpakai untuk sesi perkenalan, terlebih lagi dengan identitas yang Nisa punya sebagai istri Keyran yang diketahui oleh semua orang, itu membuatnya mendapatkan perlakuan yang spesial.
Tetapi bukan cuma karena itu, karena Nisa sendiri tak lagi menutup dan membatasi diri maka kali ini di tempat kursus dia mendapatkan teman baru. Nisa merupakan orang termuda yang mengikuti kursus. Di tempat kursus bukan cuma perempuan saja yang ikut, tetapi laki-laki pun ada.
Ada salah seorang yang sudah cukup lama mengikuti kursus di sana, namanya Lucas. Penampilannya termasuk menarik, punya senyum yang ramah dan sikapnya juga baik, bahkan dia juga membantu Nisa ketika Nisa mengalami kesulitan dalam memasak. Karena sebab itulah Lucas menjadi teman pertama Nisa dalam kursus ini.
Bahkan ketika waktunya pulang tiba, Nisa dan Lucas masih akrab berbincang sambil berjalan bersama saat keluar dari tempat kursus. Tetapi perbincangan menyenangkan itu berhenti saat Nisa menyadari bahwa dirinya telah dijemput oleh mobil yang sudah tidak asing lagi.
"Oh iya Nisa, apa rumahmu dari sini jauh? Mau aku antar pulang?" tanya Lucas.
"Ahaha, sebelumnya terima kasih, tapi aku sudah dijemput." jawab Nisa dengan senyum canggung.
"Oleh suamimu?"
__ADS_1
"Iya," jawab Nisa sambil melirik ke arah mobil yang bahkan kacanya masih tertutup rapat, namun dia sangat yakin bahwa suaminya yang posesif ada di dalam sana.
"Baiklah, ingat ya soal resep yang tadi aku sarankan, kamu bisa mencobanya di rumah! Sampai jumpa besok, dahh~" ucap Lucas sambil melambaikan tangannya.
"Dah ..." Nisa balas melambai, lalu dia segera berlari menuju ke mobil. Bahkan setelah dia masuk ke mobil, dia langsung disambut oleh tatapan sinis dari Keyran.
"Siapa dia?" tanya Keyran tanpa basa-basi.
"Teman kursus," jawab Nisa dengan ekspresi gugup, dia gugup karena sadar bahwa suaminya itu sedang cemburu buta.
"Ada dua jenis gender di muka bumi ini, pria dan wanita. Di tempat kursus kedua jenis itu ada, tapi kenapa harus pria yang kau pilih sebagai teman?"
"Itu ... kebetulan. Tapi apa salahnya jika itu seorang pria? Chef yang mengajar juga pria, sopir sekaligus asistenmu juga pria."
"Kenapa Nyonya bawa-bawa saya?" tanya Valen dengan nada tersinggung.
"Diam kau!" bentak Nisa sambil melotot, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah saat menatap Keyran. "Ayolah Key, jangan cemburu!"
"Aku tidak cemburu!"
Nisa menghela napas lalu tersenyum. "Baguslah kalau kau tak cemburu. Kalau begitu cobalah hasil praktik hari ini!"
Nisa lalu membuka box kertas berukuran kecil yang dia bawa. "Tadaaa! Hari ini aku membuat kukis! Aku jamin rasanya enak! Kau mau kukis cokelat, keju, kismis atau kacang?"
"..." Keyran membisu.
"Ah, bodohnya aku! Aku lupa kalau suamiku paling suka keju." Nisa mengambil sebuah kukis keju lalu menyodorkannya di depan mulut Keyran. "Aaaa~ buka mulutmu~"
"..." Keyran masih tak mau membuka mulutnya sedikit pun, tentu saja hal itu membuat Nisa merasa kesal.
"Cih, ya sudah kalau kau tak mau! Biar Valen saja yang makan!" Nisa berdiri dan terlihat jelas bahwa dia hendak menyuapi Valen. Keyran yang menyadari hal itu dengan cekatan langsung menahan tangan Nisa, mengarahkan kukis itu ke mulutnya dan dengan cepat menggigitnya.
Awalnya ekspresi Keyran biasa saja, namun ekspresinya berubah saat menelan habis kukis itu. "Ini enak sekali, aku mau lagi!"
"Hehe, sebenarnya itu bukan buatanku, tapi buatan temanku tadi." jawab Nisa dengan senyum canggung.
"Apa?!" Keyran terkesiap.
"Ehmm ... jadi begini, yang aku buat adalah kukis cokelat dan kismis. Sedangkan temanku tadi membuat adalah kukis keju dan kacang, kami saling bertukar hasil praktik. Kami juga saling memberi dan bertukar pendapat mengenai resep. Kalau kau mau mencoba kukis buatanku, maka aku sarankan cobalah yang cokelat, untuk yang kismis agak sedikit gosong."
"Tak apa, ini baru hari pertamamu, kau sudah melakukannya dengan baik!" Keyran lalu menutup box tempat kukis itu. "Sisanya akan aku makan nanti. Ayo pulang, ini sudah sore."
"Iya," Nisa kemudian memperbaiki cara duduknya dan bersandar pada Keyran. Baru lewat beberapa saat ketika Valen menjalankan mobil, tiba-tiba saja Nisa berkata, "Key, nanti mampir ke mall sebentar, ya?"
"Kau mau beli apa?"
"Aku mau membeli beberapa peralatan memasak kue yang baru, aku ingin mempraktikkan apa yang aku pelajari tadi di rumah. Peralatan dasar di rumah memang sudah lengkap, tapi aku mau beli cetakan-cetakan kue yang bagus."
"Baiklah, apa pun untuk istriku."
Sesuai seperti yang Nisa minta, sebelum pulang mereka mampir ke sebuah pusat perbelanjaan terlebih dulu. Awalnya Nisa ingin turun dan membeli apa yang ia butuhkan seorang diri, tapi tentu saja Keyran tak akan membiarkan istri tercintanya belanja sendirian.
Keyran menemani Nisa sambil mendorong troli belanja. Sebelum membeli cetakan kue, Nisa tertarik untuk membeli bahan-bahan lain yang sebelumnya tak masuk dalam daftar belanjanya. Bahkan ketika memilih cetakan kue pun dia terlihat sangat bingung.
"Lihat ini Key, cetakan kue berbentuk pohon cemara! Ah, ada juga santa claus, boneka salju dan kepingan salju! Ini sangat cocok untuk Natal nanti!"
"Iya, ambil saja apa yang kau mau." ucap Keyran dengan senyuman.
"Hehe, saat Natal nanti sudah tiba, aku janji kalau aku sudah mahir membuat kue. Aku akan membuat kue natal sendiri! Aku akan buat cupcake, brownies, gingerbread, kastangel dan kue-kue lain!"
"Kau ini ... padahal hari Natal masih lama."
"Terserah, pokoknya aku mau buat kue yang banyak!"
"..." Keyran hanya tersenyum saat melihat Nisa yang sangat antusias dalam membuat kue.
__ADS_1
Istriku sangat bersemangat, mungkin hal benar membiarkannya mengikuti kursus memasak. Kondisi emosinya jauh menjadi lebih baik dan aku harap dia tak akan melamun ataupun bersedih lagi.
***
Hari demi hari berlalu, selama ini juga Nisa mengatur jadwal antara kuliah dan kursus memasaknya dengan baik. Bahkan selama mengikuti kursus memasak, Nisa juga selalu membawa pulang hasil praktiknya.
Macam-macam jenis kue telah Nisa pelajari, bermacam-macam pula kue yang telah Nisa bawa pulang. Dia juga selalu meminta Keyran untuk mencicipi kue buatannya serta meminta pendapat soal bagaimana kue tersebut.
Sama seperti halnya hari ini. Ketika makan malam bersama di rumah, Nisa juga menghidangkan hasil praktiknya sebagai hidangan penutup. Hidangan penutup hari ini yang dia persembahkan untuk suaminya adalah pie apel yang juga disajikan dengan ice cream.
Namun malam ini Keyran tidak seperti biasanya, dia terlihat ragu untuk memakan pie apel yang terlihat menggiurkan untuk dimakan itu.
"Mengapa kau belum memakannya? Apa kau tak suka pie apel?" tanya Nisa yang kemudian menyendok pie apel miliknya sendiri.
"Aku suka, tapi ... belakangan ini sepertinya terlalu banyak mengonsumsi makanan yang manis. Kau sendiri merasakan perubahannya di tubuhmu, kan?"
PRANG!!
Tiba-tiba saja Nisa meletakkan garpu miliknya dengan keras, dia juga memasang tatapan sinis kepada Keyran. "Maksudmu aku jadi gendut?"
"Glup ..." Keyran menelan ludah, dia baru sadar bahwa dia telah menyinggung soal hal paling terlarang.
Nisa kemudian menundukkan pandangannya. "Tak apa, kau memang benar. Bahkan berat badanku naik 3 kilo. Kalau kau tak suka istrimu jadi jelek karena gendut tak masalah. Besok aku akan sedot lemak."
"B-bukan begitu! Aku tak pernah bilang kalau kau jelek jika berat badanmu naik. Justru hal baik kalau berat badanmu naik!"
"Hal baik katamu?!" tanya Nisa sambil melotot.
"Biarkan aku selesaikan kalimatku dulu! Kau itu sebelumnya jatuh sakit, kau jarang makan dan aku melihat tubuhmu jadi semakin kurus. Sekarang berat badanmu naik itu merupakan sesuatu hal yang baik. Kau kelihatan lebih berisi, emm ... jauh lebih seksi!"
Sontak saja Nisa ternganga, bahkan Bibi Rinn yang kebetulan ada di sana juga mendengarnya. Bibi Rinn sendiri juga bungkam, lalu dia pergi berjalan ke arah dapur sambil berkata, "Wah ... seksi~ Tuan sudah memberikan kode untuk Nyonya."
Seketika wajah Nisa memerah, dia kemudian memalingkan wajahnya yang tersipu itu dari Keyran. "Dasar Bibi Rinn ... ada-ada saja. Apanya yang kode? Kode peluncuran nuklir?" gumam Nisa dengan suara pelan namun dipastikan bahwa Keyran mendengarnya.
"Iya, rudalku tidak sabar mau meluncur." ucap Keyran secara spontan.
"Kau bilang apa?!" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"B-bukan apa-apa!" Keyran salah tingkah dan langsung segera melahap pie apel itu dengan cepat.
Sial, ini memalukan! Aku tidak boleh terlalu agresif, itu terkesan seperti aku terlalu memaksa. Aku tak mau Nisa merasa terbebani jika dia masih belum siap.
Begitulah suasana makan malam hari ini yang ambigu. Dan untuk malam-malam seterusnya akan tetap sama, Nisa tetap menyajikan kue hasil praktiknya.
Tanpa terasa sudah 1 bulan Nisa mengikuti kursus pastry. Hari ini karena spesial 1 bulan, maka kegiatan Nisa di tempat kursus jadi lebih sibuk dibanding biasanya. Hari ini pun Keyran juga sama-sama sibuk, bahkan dia sampai tak punya waktu untuk menjemput istrinya pulang dari kursus.
Waktu untuk makan malam telah tiba, Keyran yang baru saja pulang dari kantor tampak kelelahan dan masih bersantai di kamar. Di sisi lain Nisa lalu memasuki kamar, dia hendak memanggil Keyran untuk turun dan makan malam.
"Key, makan malam sudah siap!" ucap Nisa sambil menghampiri Keyran yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"Sebentar, aku masih lelah karena baru pulang." ucap Keyran sambil menggulung lengan kemejanya ke atas.
Nisa tersenyum kemudian ikut duduk di samping Keyran. "Aku juga belum lama sampai rumah, hari ini cukup melelahkan."
Keyran lalu menyandarkan kepalanya di pundak Nisa. "Hari ini kita memang cukup sibuk."
"Kita istirahat dulu, baru setelah itu makan malam bersama. Dan berhenti bersandar padaku! Aku mau ke kamar mandi!" pinta Nisa sambil menggoyangkan pundaknya, namun Keyran bersikeras tetap bersandar.
"Mau apa ke kamar mandi?"
"Tentu saja mau mandi! Aku mau mandi dulu sebelum makan!"
Mendadak Keyran berhenti bersandar dan menatap Nisa lekat-lekat. "Aku juga belum mandi. Mau mandi bersama?"
"..." Nisa membisu, untuk sejenak dia termenung, kemudian memalingkan wajahnya sambil berkata dengan suara lirih, "Baiklah."
__ADS_1