
...PERINGATAN!...
...Episode ini memuat adegan kekerasan dan penggunaan senjata yang tidak patut ditiru....
...Mohon kebijakan pembaca dalam menikmati episode ini....
Malam hari di tengah hiruk pikuk masyarakat perkotaan yang serba maju. Sebuah mobil Rolls Royce berwarna hitam melaju kencang di jalan raya. Semuanya mata yang melihat mobil mewah itu hanya bisa terpukau dan penasaran ke mana mobil itu menuju.
Nisa sang pengendara mobil itu suasana hatinya sedang tidak baik, yang ada di pikirannya saat ini cuma satu, yaitu balas dendam. Balas dendam untuk janinnya yang telah tiada. Kini dia telah berhenti menyalahkan diri sendiri, dia telah mengubah cara berpikirnya.
Semula dia selalu menyesal karena telah berbuat baik, menyesal telah menyelamatkan temannya yang berujung pada kegugurannya. Tetapi kini yang dia salahkan adalah seseorang, seseorang yang telah membentuk sebuah kelompok di mana kelompok tersebut melakukan bisnis prostitusi, perampokan, juga satu hal yang erat kaitannya dengan dermaga, yaitu perdagangan manusia dengan menyusupkannya ke dalam kapal penyelundup.
Begitulah yang terlintas di pikiran Nisa saat ini, dan tak lama kemudian dia telah sampai di bagian barat kota, dia menuju ke sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu tampak sepi karena sudah selesai beroperasi lebih dahulu dibandingkan dengan kawasan industri di sekitarnya, juga akses yang belum lengkap membuat pelabuhan ini sepi pengguna.
Nisa memberhentikan mobilnya di sana, sebelum dia turun, dia melirik ke sebuah senjata pistol berjenis Glock Meyer 22 yang sebelumnya dia letakkan di kursi penumpang di sebelahnya. Nisa mengambil pistol itu kemudian menyimpannya di saku blazer yang dia pakai.
"Huft ..." Nisa menghela napas, dia lalu memantapkan diri untuk turun dari mobil.
Nisa sudah disambut oleh sekumpulan pria berpakaian serba hitam yang jumlahnya puluhan, mereka semua berbaris dan membentuk jalan untuk Nisa.
TAP TAP TAP ...
Suara langkah kaki Nisa merupakan suatu kebanggaan bagi mereka karena bisa mendengarnya. Tak ada satu pun yang mengangkat kepala, mereka yang posisinya lebih rendah menunduk serta membungkuk untuk menunjukkan penghormatan sekaligus pengabdian.
Nisa menyeringai, kemudian dia melepaskan kaca mata hitam yang dia pakai. "Wah wah ... kalian sama sekali tidak menyisakan satu pun untukku, sopankah begitu?"
"Mana ada, kami masih menyisakan satu untukmu. Barangkali bos berminat untuk berbincang dan meminum teh dengannya," ucap Yhonsen yang datang menyambut dan menerima kacamata hitam yang Nisa lepas.
"Hmm ... Apa kau sedang kehabisan job?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.
"Kami semua senggang, itulah sebabnya kami semua di sini."
"Pantas saja cepat selesai. Bawa aku menemuinya!"
Yhonsen kemudian memimpin jalan untuk Nisa. Sesampainya di sana, di tempat yang sekelilingnya penuh dengan kontainer, ada seseorang yang sedang bersimpuh di tanah. Dia tidak dapat bergerak, karena kedua kakinya telah dipatahkan dan kedua tangannya diikat di belakang. Laki-laki tersebut dikelilingi oleh para rekan-rekan Nisa lainnya.
Rekan-rekan Nisa telah menyiapkan sebuah kursi di depan laki-laki yang bersimpuh itu. Nisa duduk di kursi itu, dia lalu mengarahkan kakinya untuk mengangkat dagu orang tersebut agar mendongak dan menatap dirinya.
"Heh, bosnya seorang wanita ... Eh, Kau?!" laki-laki itu membelalak.
"Kau mengenalku?" tanya Nisa.
"Tentu saja kenal! Kau wanita yang sering muncul di berita akhir-akhir ini, Nyonya Muda Kartawijaya! Wanita yang tidak becus menjaga kandungannya!"
PLAKK!!
Sebuah tamparan keras melayang ke wajah laki-laki itu hingga dia tersungkur. Meskipun kesakitan, dia justru masih bisa tertawa.
"Hahaha! Sebuah kehormatan bagiku bisa mengetahui hal ini, seorang Nyonya yang harusnya menjaga martabat dan citra keluarga kalangan konglomerat, tapi justru malah menjadi bos mafia yang bertanggung jawab atas pembunuhan ribuan orang dengan cara keji!"
"Terserah kalau mau membunuhku! Aku tak takut apa pun! Lagi pula semua orang-orangku sudah kalian habisi! Aku tak punya alasan untuk hidup lagi! Aku tidak takut untuk mati!!"
"Bangunkan dia!" pinta Nisa yang seketika membuat rekannya, yaitu Marcell membangunkan laki-laki itu untuk kembali menghadap ke arah Nisa.
"Oi, kau pikir kau berhak untuk memutuskan kapan kau sendiri akan mati? Nyawamu adalah milikku sialan! Dan aku tak akan memberikan kematian yang mudah untukmu! Tapi lain cerita jika kau bunuh diri dengan menggigit lidahmu sendiri. Tapi sebelum itu, apa kau tidak penasaran kenapa aku menghancurkanmu?"
"Apa lagi yang bisa membuatku penasaran?! Sudah jelas kalian cuma ingin memperluas daerah kekuasaan kalian! Wilayah barat kota sebelumnya adalah milikku, tapi sekarang jadi milikmu karena kalian melakukan serangan mendadak! Kau tak punya cukup nyali untuk menantangku secara adil!" teriak pria itu seakan tidak terima.
"Hei, kau pikir aku ini lelucon? Aku ini orang jahat, masa bodoh dengan keadilan. Tapi satu hal yang kurang tepat dari kata-katamu. Alasan utamaku bukan untuk merebut wilayah, tapi balas dendam! Balas dendam untuk bayiku yang telah tiada!"
"Apa?! Aku baru bertemu denganmu satu kali ini seumur hidupku! Atas dasar apa aku yang menyebabkanmu keguguran?! Kau pasti sudah gila!"
"Plaza Lux Hotel, tempat itu milikmu, kan? Awas kalau bilang tidak, kurobek mulutmu!"
Pria itu untuk sejenak termenung, "Iya, tempat itu memang milikku! Tapi aku tak pernah menangkapmu ataupun berurusan denganmu sebelumnya!"
"Kau menangkap salah satu temanku, bangs*t! Dia kehilangan kehormatannya dan sekarang menjalani terapi psikologi! Dan apa kau tahu? Demi menyelamatkannya aku terlibat, dokter bilang aku keguguran karena salah satu faktornya adalah kelelahan! Yang mengobrak-abrik hotel busukmu itu adalah aku!"
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan dari Nisa pria itu tiba-tiba menunduk, dia tertawa cekikikan, dia kembali mendongak dan tampak air mata mengalir keluar dari matanya. "Khekhekhe ... Terkutuk kau wanita sialan! Ternyata kau ... kau yang membunuh adikku! Aku bersyukur karena Tuhan itu Maha Adil! Kau membunuh banyak orang tanpa rasa bersalah, kau mendapatkan karma yang pantas dengan kehilangan bayimu!!"
"Apa katamu? Karma?" Nisa melotot dan mencengkeram rahang pria itu sekuat mungkin. "Yang namanya karma itu tidak ada! Aku tak mengenal karma! Kau sungguh naif, kau pasti mafia amatir."
Nisa lalu melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar, tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah pistol yang sebelumnya dia simpan di saku blazer.
"Oh, kau sudah tidak sabar ya untuk membunuhku! Bunuh saja aku! Aku tak takut mati! Cepat tembak!"
Nisa menyeringai. "Hei, apa kau tahu Yakuza?"
"Yakuza? Yakuza adalah mafia Jepang, apa jangan-jangan kau bagian dari mereka!"
"Tidak, dasar bodoh. Aku cuma ingin bercerita saja, cerita tentang bagaimana cara mafia menyingkirkan korbannya. Anggap saja aku sedang menceritakan dongeng sebelum kau tidur, tidur untuk selama-lamanya."
"Ehem, aku mulai ya ... Yakuza itu mafia, tapi katanya juga berkontribusi besar dalam masyarakat. Bicara soal kontribusi, kita misalkan saja pada pembangunan infrastruktur seperti jalan. Aku beritahu fakta menarik, bahan baku pembangunan jalan tersebut adalah mayat! Mayat itu dipotong-potong dengan ukuran tertentu, lalu dimasukkan ke dalam aspal cair bersuhu lebih dari 3000 derajat celsius, setelah itu dicampur dengan pasir tanah. Semua diaduk hingga tak ada lagi bentuk aneh, misalnya tulang atau tengkorak. Lalu aspal cair itu digunakan untuk pekerjaan pembangunan jalan raya."
"Sadis ya. Tapi sisi baiknya, polisi tidak bisa menemukan bukti. Dengan cara itu maka hilanglah identitas manusia, bahkan DNA saja tidak akan bisa dideteksi. Jadi pertanyaanku, apa kau tertarik untuk mencobanya?"
"Gila ... wanita gila!" teriaknya dengan tubuh yang berkeringat dingin.
"Haha, jangan takut begitu, aku cuma bercanda~ Aku tak punya waktu untuk bermain-main dengan mayatmu nanti! Tapi, aku beritahu satu hal lagi! Yaitu cara umum mafia dalam membuang mayat! Emm ... sebenarnya boleh mayat, boleh juga yang masih hidup. Nah, mereka dimasukkan ke dalam drum besi, di tutup dengan semen, lalu dibuang ke laut. Eh, kalau dipikir-pikir situasimu cocok untuk pakai cara ini!"
"Tapi tunggu sebentar, di sini kan juga ada kontainer. Bisa juga kau dimasukkan ke dalam kontainer, lalu nanti kontainernya dihancurkan dengan alat berat! Dan setelah itu ..."
BUZZ BUZZ ...
BUZZ BUZZ ...
BUZZ BUZZ ...
Ponsel Nisa tiba-tiba berdering, dia kemudian melihat siapa yang meneleponnya saat ini. "Eh, darling yang telepon."
Nisa lalu menoleh ke arah pria yang bersimpuh itu. "Tutup mulutmu sebentar ya, aku ingin bicara dengan sayangku dulu~"
Pria itu tak memberikan reaksi apa pun, menyadari hal itu Nisa langsung mengangkat telepon. "Key, ada perlu apa meneleponku?" tanya Nisa dengan nada lemah lembut.
"Tidak kok, aku memang belum tidur. Apa kau masih bekerja sampai sekarang?"
"Yah ... hanya tinggal sedikit, sekalian mencicil untuk besok. Aku ingin menyelesaikan urusanku secepat mungkin agar bisa cepat pulang. Belum ada sehari saja aku sudah merindukanmu."
"Aku kan sudah bilang jangan terlalu gila kerja, kau bisa kelelahan nanti ..."
"Dasar wanita jal*ng! Kau pembohong! Kau pembu ... whupp?!" Pria itu berteriak dan seketika saja mulutnya dibungkam oleh Damar.
Percakapan Keyran dan Nisa terhenti, tiba-tiba Nisa berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari sana sambil menutup speaker ponselnya.
"Nisa, tadi itu apa?" tanya Keyran yang suaranya terdengar panik.
"Bukan apa-apa, hanya seseorang yang kesal karena pacarnya selingkuh. Oh iya, aku belum bilang kalau aku sedang tidak di rumah, aku pergi jalan-jalan keluar dengan mobilmu yang Rolls Royce. Sekarang aku sedang mampir di sebuah kafe, orang yang berteriak tadi adalah orang yang membuat keributan, sekarang dia sudah diusir keluar."
"Oh ... kupikir kau terkena masalah, jangan terlalu lama di luar rumah, kau juga harus beristirahat agar kondisimu cepat membaik. Kau selalu saja bertingkah saat aku tak ada, cepat habiskan kopimu dan pulang, oke?"
"Iya, darling. Kau juga lakukan yang terbaik, aku juga ingin kau menemaniku. Aku kesepian di sini, aku merindukanmu ..."
"Hmm ... baiklah, kalau begitu aku akan usahakan pekerjaanku agar cepat selesai. Tunggu aku, kalau kau bosan kau bisa pergi keluar tapi jangan lupa waktu. Aku mencintaimu."
TUT TUT ...
Panggilan telepon berakhir, Nisa lalu kembali dan berjalan ke tempat semua dengan penuh kemarahan. "Lepaskan dia!"
"Baik," Damar langsung melepaskan bekapan tangannya dari mulut pria itu.
Begitu mulutnya terbebas, pria itu langsung berteriak, "Kenapa hah?! Wanita pengecut! Kau bahkan tidak berani menghadapi suamimu sendiri! Kau takut jika mengetahui perbuatan keji mu ini!"
Nisa berekspresi datar, sejenak dia termenung untuk beberapa saat. Tetapi setelahnya tiba-tiba Nisa berkata, "Sudah waktunya untuk kau mati!"
"Seret dia!" Nisa langsung berjalan pergi dari sana, diikuti oleh semua rekan-rekannya dan Damar yang menyeret tubuh pria itu dengan kasar.
__ADS_1
Nisa berjalan menuju tempat di mana semua anggota dapat melihatnya. Ketika dia berhenti melangkah, seketika saja pria tersebut dilepaskan dan didorong oleh Damar hingga jatuh tersungkur.
Pria itu kesakitan, dia mendongak saat pandangannya tertutupi oleh bayangan hitam tubuh Nisa.
"Apa kau penasaran bagaimana kau akan mati?" tanya Nisa dengan tatapan membunuh sambil menodongkan pistol ke arah kepala pria itu.
"Untuk apa penasaran?! Ayo lakukan! Tembak saja aku!" teriak pria itu sekencang-kencangnya.
"Heh, kalian dengar itu anak-anak! Bajing*n ini menantang kita! Dia harus mendapat hukuman! Hukuman kali ini adalah hukuman seratus lubang!"
"Aku yang akan buat lubang pertama!" Nisa kemudian mengarahkan pistolnya ke dada samping kiri pria tersebut, dengan tanpa keraguan Nisa lalu menarik pelatuk pistol itu.
DORR!!
Nisa kemudian berjalan mundur, suara tembakan pistolnya itu bagaikan aba-aba yang membuat seluruh anak buahnya mengeluarkan senjata. Dimulai dari pangkat yang tertinggi sampai yang terendah, semuanya bergiliran menembakkan peluru yang jumlahnya pas 100 tembakan.
Tiba-tiba saja Nisa mendekat ke salah satu anak buahnya yang baru pertama kali dia lihat. Dia seorang laki-laki yang masih muda, terlihat seumuran dengan adiknya, tetapi matanya yang sebelah kiri terlibat sedang dibalut oleh perban.
Menyadari bahwa Nisa mendekatinya, mendadak laki-laki itu menunduk.
"Angkat kepalamu!" pinta Nisa.
"Baik Ketua," laki-laki itu menuruti Nisa dan mengangkat kepala, tetapi dia menghindari untuk menatap mata Nisa.
"Siapa namamu?" tanya Nisa.
"Leon," jawabnya yang mendadak membuat Nisa tersenyum kecil.
"Nama yang bagus, kau harus mati selayaknya singa, jangan sampai mati selayaknya anjing. Bagaimana keadaan adikmu?"
"Ah, adik saya sudah membaik. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Ketua karena telah membiayai pengobatan saya dan adik saya! Saya bersumpah setia untuk Ketua!" jawab Leon sambil membungkukkan badan.
"Apa kau menjalani pelatihan yang baik di Kedai Pembunuh? Apa Dika memperlakukanmu dengan baik?"
"Saya masih berusaha untuk mengasah kemampuan saya lagi, Ketua. Lalu senior Dika memperlakukan saya tidak berbeda dengan yang lain." jawab Leon sambil melirik ke arah Dika, kemudian dia mendapat respons senyuman kecil dari seniornya itu.
"Bagus, kau punya potensi. Ngomong-ngomong ... apa menurutmu aku ini perempuan jahat yang pantas keguguran?"
"Ehmm ..."
Tiba-tiba saja Dika mendekat, dia kemudian berdiri di antara Nisa dan Leon. "Cukup, jangan mempersulit orangku lagi!"
"Minggir! Aku cuma mau bicara santai dengannya, aku tak tertarik bicara denganmu!" ucap Nisa yang kemudian membuat Dika terpaksa menyingkir.
"Ayo jawab, aku menunggu jawabanmu."
"Izin menjawab pertanyaan dari Ketua. Menurut saya baik atau jahatnya seseorang itu relatif. Tapi menurut saya, Ketua adalah orang yang paling baik karena telah memungut dan sudi menerima saya yang berasal dari jalanan. Lalu soal keguguran, menurut saya tidak ada perempuan yang pantas keguguran. Semua perempuan layak menjadi seorang ibu asalkan mereka bertanggung jawab."
"Jadi menurutmu aku ini tidak cukup bertanggung jawab?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.
"Ketua adalah orang yang bertanggung jawab, buktinya Ketua bisa mengemban tugas dan tanggung jawab menjadi pemimpin kami semua."
Nisa menghela napas setelah mendengar jawaban dari Leon. Kemudian tiba-tiba dia mengulurkan tangannya ke samping. "Kacamata!"
Yhonsen mendekat dan mengembalikan kacamata hitam milik Nisa, setelah memakainya kacamata hitamnya kembali Nisa pun berjalan pergi.
"Bos, apa setelah ini mau mampir ke mana untuk main dulu?" tanya Yhonsen.
"Tidak, aku mau pulang, terserah kalian mau bagaimana setelah ini! Dan untuk mayat yang tersisa, lakukan cara seperti biasanya!"
Nisa segera kembali masuk ke dalam mobilnya, dia segera menginjak gas dan melaju kencang meninggalkan area pelabuhan. Tetapi tak berselang lama kemudian, mendadak Nisa menepi dan memberhentikan mobilnya.
Dia memukul setir mobil dan kemudian tertunduk lesu. Tanpa diinginkan, air mata mulai mengalir keluar dari kedua matanya yang sayu.
"Aku ini kenapa? Sebenarnya apa yang aku inginkan?!" Nisa lalu memegang dada, mengepalkan tangannya yang terus-terusan gemetar.
Aku sudah menyingkirkan akar penyebab dari semua ini, kenapa aku belum juga mendapatkan ketenangan? Aku harus bagaimana lagi supaya bisa merelakan bayiku?
__ADS_1
Aku lelah, aku lelah pura-pura tersenyum dan bersikap baik-baik saja saat bersama Keyran. Jika aku mengeluh, dia pasti akan bersedih. Aku tak mau menyakiti perasaannya ataupun membuatnya terbebani. Aku benci, aku benci diriku yang seperti ini, aku benci diriku sendiri!