
Matahari terbit, dan pagi yang cerah pun datang. Tapi, hari ini tak secercah seperti sinarnya matahari. Keyran yang sudah pulang langsung bergegas masuk ke kamarnya, saat Keyran membuka pintu dia langsung dikejutkan oleh keadaan kamarnya sangat berantakan. Dia melihat darah berceceran dimana-mana, dan tepat di lantai tergeletaklah Nisa yang pakaiannya sudah berlumur darah. Saat melihat itu, Keyran langsung berlari menghampiri Nisa yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Gadis gila!" ucap Keyran sambil mengecek apakah Nisa masih bernapas atau tidak, dan ternyata hasilnya adalah Nisa masih bernapas. Setelah dia tahu kalau Nisa masih bernapas, dia mulai mengecek tubuh Nisa yang lainnya untuk mengetahui bagian mana yang terluka.
"Tsk! Untunglah kau masih hidup, jika kau mati entah apa yang akan ayahku perbuat. Dan ternyata kau cuma melukai telapak tanganmu, tapi kenapa darahmu bisa sebanyak ini?" Keyran lalu mengambil serpihan kaca yang masih Nisa genggam, kemudian dia mulai mengamati telapak tangan Nisa.
"Ckck... lukamu cukup lebar, tapi untungnya darahmu sudah berhenti keluar. Astaga... kenapa aku harus punya istri seperti ini? Hei, buka matamu!" teriak Keyran sambil menepuk pipi Nisa.
Nisa yang masih menutup matanya dengan refleks tiba-tiba menggenggam tangan Keyran, kemudian dia bergumam, "Kampret! Jangan ganggu aku, zzzz..." Nisa lalu melepaskan genggamannya dan kembali tidur.
"Wah wah... luar biasa, kata-kata mutiara yang pertama kali diucapkan istriku kepadaku sungguh indah~" Keyran lalu berdiri dan dengan perasaan kesal berkata, "Hng! Percuma saja aku khawatir padamu, kupikir kau pingsan, ternyata kau cuma tidur! Setelah kau bangun, bereskan sendiri kekacauan yang kau buat!" Keyran lalu berjalan keluar dari kamar.
Dan tak lama kemudian sinar matahari mulai menyoroti mata Nisa, dia kemudian bangun dan dengan tatapan linglung mulai memandangi keadaan di sekitarnya. Namun beberapa saat kemudian Nisa kembali memungut serpihan kaca yang berada di sampingnya, dia lalu mulai berkaca dan tiba-tiba dia menyeringai, "Heh! Persetan...!" ucapnya sambil melempar kaca yang dia pegang.
Nisa lalu merobek sedikit kain dari gaun pengantinnya untuk membalut luka di tangannya, setelah itu dia bersandar pada kaki ranjang dan kemudian dia hanya menatap langit-langit kamar. Namun beberapa saat kemudian dia menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya menggunakan tangan, dan anehnya dia malah tertawa cekikikan seolah-olah sedang menertawakan sesuatu yang sangat lucu. "Ha ha ha ha! Nisa sudah tiada..." ucapnya sambil menurunkan tangan dari wajahnya.
"Nisa sudah mati, Nisa yang dulu sudah mati, Nisa yang mencintai Ricky sudah mati! Sekarang hanya ada Nyonya Nisa, Nisa istrinya Keyran Kartawijaya! Nisa istrinya Keyran, Nisa hanya milik Keyran... seutuhnya milik Keyran..." setelah mengatakan itu tiba-tiba akal sehatnya kembali dan dengan senyum pahit dia berkata, "A-aku, istrinya Keyran..."
Nisa lalu berdiri dan mulai memungut semua serpihan kaca yang berserakan, dia juga membersihkan seluruh bunga mawar yang menghiasi kamar. Setelah itu, dia merobek lagi sebagian gaun pengantinnya untuk dijadikan kain lap, yang kemudian digunakan untuk membersihkan darahnya yang berceceran.
"Hah... akhirnya bersih juga!" ucap Nisa dengan nada puas.
Sekarang semua sudah beres, tinggal aku sendiri yang masih berantakan. Sebaiknya aku segera mandi...
Setelah Nisa selesai mandi, dia yang hanya berbalutkan handuk mulai memandangi seluruh isi kamar dengan tampang sedikit panik. Kemudian dia mulai berjalan berjinjit-jinjit ke arah lemari.
"Aku ini ngapain sih? Emangnya aku punya baju? Sekarang apa yang harus aku pakai...?" ucapnya dengan senyum bodoh.
Nisa lalu memberanikan diri untuk membuka lemari, dan dia kemudian mengambil sebuah kemeja lengan panjang milik Keyran. Tanpa pikir panjang Nisa langsung memakainya, dan tentu saja kemeja itu terlalu besar untuknya.
Hemmm... boleh juga, nggak beda jauh sama punya-nya Ricky! Tunggu dulu...
Plak.. plak...! Suara tamparan.
"Aaahhh! Nisa bodoh! Ayo move on... Jangan sedikit-sedikit ingat sama mantan! Ini kemeja milik suamimu!" teriak Nisa sambil menampar wajahnya sendiri.
"Hadehh.... sekarang aku harus apa? Apa aku harus memasak? Yah... boleh juga, semoga saja si brengsek, maksudku suamiku belum pulang..." ucap Nisa dengan raut wajah malas.
Nisa memutuskan untuk pergi memasak, saat sedang menuju dapur dia tiba-tiba dikejutkan oleh Keyran yang sedang menunggunya di meja makan. Dan Keyran juga terkejut saat melihat Nisa yang datang dengan memakai kemeja miliknya.
Tap tap tap.... suara langkah kaki.
"Oh, kau sudah bangun?" Keyran menoleh ke arah Nisa, "Eh!? Itu..." Keyran lalu menatap Nisa dari atas sampai bawah.
Dia memakai kemejaku! Pahanya kelihatan... dan putih juga...
"Haha iya, aku baru bangun. Anu... i-ini kemeja milikmu. M-maaf... a-aku memakainya tanpa seizinmu..." jawab Nisa sambil menggaruk kepala.
Uuuhhh... aku nggak nyangka bakalan jadi canggung begini, terus kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia akan marah?
"Terserah! Cepatlah duduk dan sarapan!" Keyran lalu memalingkan wajahnya.
Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku bisa punya pikiran pada gadis gila ini!?
"Baik..." jawab Nisa dengan nada pasrah.
Tuh kan, sebenarnya kapan dia pulang? Apa dia sudah masuk ke kamar dan melihatku saat aku masih tidur? Kalau itu benar, maka habislah aku...
Nisa kemudian berjalan ke arah meja makan, karena merasa sedikit canggung dia akhirnya memilih tempat duduk yang agak jauh dari Keyran. Sementara itu Keyran bertingkah seakan tidak peduli dan dia mulai menyeruput secangkir teh sambil membaca koran, tapi sesaat sebelum makan, Nisa tiba-tiba melirik ke arah Keyran dan dengan nada lembut dia berkata, "Suamiku..."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk..." Keyran tiba-tiba tersedak karena kaget mendengar Nisa memanggilnya seperti itu.
"Eh!? Gapapa kan?" Nisa lalu mendekat dan kemudian menepuk punggung Keyran secara perlahan.
"Kau...!!" Keyran lalu menatap Nisa dengan tatapan aneh.
Apa yang terjadi pada gadis gila ini? Apa dia telah bertukar jiwa dengan orang lain? Aku kira saat dia melihatku semua nama binatang akan keluar, tapi kenapa malah memanggilku dengan sebutan 'Suamiku' ini sangat aneh...
"Ya? Aku kenapa?" tanya Nisa dengan wajah polos.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, lain kali kau panggil aku dengan namaku saja, jangan ucapkan kata-kata itu lagi! Lalu kenapa tiba-tiba kau memanggilku?" ucap Keyran dengan tatapan sinis.
"Baiklah, lain kali aku hanya akan memanggilmu dengan namamu. Dan aku juga minta maaf karena sudah membuatmu tersedak," Nisa kemudian menarik kembali tangannya lalu berkata, "Aku memanggilmu karena ingin bertanya, siapa yang memasak makanan ini?"
"Oh, ternyata kau menanyakan hal itu. Semua makanan ini dimasak oleh pelayan." jelas Keyran.
Ini sangat aneh... Dia bahkan meminta maaf padaku, apakah sebenarnya gadis ini punya kepribadian ganda? Jika memang seperti itu, Aku harus segera membawanya ke psikiater.
"Pelayan? Tapi tadi malam aku nggak melihat ada satu pun pelayan di rumah ini, dimana pelayan itu sekarang?" tanya Nisa.
"Hah... akan aku panggilkan, bibi Rinn! Cepat kemari!" teriak Keyran.
Lalu datanglah seorang wanita tua yang berusia sekitar 50 tahunan lebih, meskipun dia seorang pelayan, dia berpakaian sangat rapi dan raut wajahnya terlihat berseri seperti tidak ada beban. Lalu dengan senyum ramah dia berkata, "Iya tuan, ada keperluan apa memanggil saya?"
"Istriku ingin bertemu denganmu, kau perkenalkan dirimu padanya!" ucap Keyran.
"Baik," bibi Rinn mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah Nisa, "Halo nyonya, anda bisa memanggil saya bibi Rinn. Saya juga satu-satunya pelayan di rumah ini, jika nyonya butuh apa pun, nyonya bisa memanggil saya kapan saja."
"Iya, salam kenal bibi Rinn." ucap Nisa dengan senyum lembut, lalu dia berkata, "Oh iya, kenapa aku tadi malam nggak melihat bibi Rinn? Apa saat malam hari bibi pulang?" tanya Nisa penasaran.
"Nyonya benar, tapi saya tidak pulang ke rumah saya, melainkan saya pulang ke paviliun belakang rumah ini. Setiap pagi saya datang kemari dan saat malam, tepatnya setelah makan malam saya kembali ke paviliun. Itulah mengapa tadi malam nyonya tidak melihat saya," jelas bibi Rinn.
"Oh, ternyata begitu. Lalu masakan yang dibuat bibi terlihat enak," Nisa kemudian menyantap sesuap makanan yang dibuat oleh bibi Rinn, "Wah... rasanya juga enak sekali, bibi Rinn sangat hebat!" ucap Nisa penuh kekaguman.
"Haha, nyonya bisa saja. Makanan itu sangat bagus untuk memulihkan stamina nyonya, karena hal semalam nyonya pasti kelelahan kan?" ucap bibi Rinn sambil tersenyum.
"Ah!? Kelihatan sekali ya? Semalam apa aku sangat berisik?" tanya Nisa dengan wajah bingung.
Apa aku berteriak sangat keras sampai-sampai bibi Rinn mendengarnya? Tapi, yang dia bilang benar juga, menangis itu sangat melelahkan...
"Nyonya tenang saja, saya tidak mendengar sama sekali kok, dilihat saja saya sudah tahu. Oh iya, apakah nyonya masih merasa sakit?" tanya bibi Rinn dengan senyum nakal.
"Emmm... untuk itu sedikit sih, masih terasa sedikit nyeri. Tapi gapapa kok, nanti sakitnya pasti segera hilang," ucap Nisa sambil tersenyum.
Wah... bahkan juga menanyakan tentang luka di tanganku, perhatian sekali.
"Nyonya ini orangnya terang-terangan sekali~" ucap bibi Rinn seakan mengejek.
"N-nyonya... masih ada hal lain yang harus saya kerjakan, saya pamit undur diri," bibi Rinn sedikit membungkuk lalu berjalan pergi.
Tuan pasti merasa malu, makanya beliau menyuruh aku pergi. Yah... namanya juga anak muda, aku paham seperti apa gairah mereka.
"Hei, cepat habiskan sarapanmu! Setelah itu ikut aku pergi ke suatu tempat!" ucap Keyran dengan ketus.
"Iya," jawab Nisa dengan senyum terpaksa.
Huh! Dia buta ya? Pakaianku aja masih begini, mau mengajakku kemana sih?
Saat Nisa selesai makan Keyran langsung menarik tangan Nisa dan menyeretnya ke sebuah ruangan, namun selama di perjalanan Keyran terus memandangi paha Nisa yang putih nan mulus. Dan saat mereka berdua memasuki ruangan, Keyran langsung mengunci pintu kemudian menuntun Nisa untuk duduk bersama di sebuah sofa.
"Anu... apa yang ingin kau lakukan?" tanya Nisa dengan nada gemetar.
Apa dia akan melakukan KDRT di hari pertama setelah menikah? Tapi jika itu benar-benar terjadi, aku juga nggak akan menahan diri lagi.
"Kau..." Keyran lalu mendekatkan wajahnya pada Nisa, "Apa kau sakit?" tanya Keyran dengan tatapan serius.
"Eh!? Apa yang kau maksud tanganku ini?" Nisa lalu mengangkat tangannya yang terluka.
"Bukan, maksudku DID!" ucap Keyran penuh keyakinan.
(DID \= dissociative identity disorder/kepribadian ganda, semacam penyakit kejiwaan)
"Hah!? Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Nisa dengan wajah bingung.
"Atau... kau itu bipolar!"
(Gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis)
"Kenapa kau bisa berpikir kalau aku punya penyakit kejiwaan? Aku itu normal!" bantah Nisa.
__ADS_1
"Aku tidak percaya!" Keyran semakin mendekatkan wajahnya, "Kenapa hari ini kau seperti orang lain? Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" ucapnya dengan pandangan penuh curiga.
"Ternyata begitu," Nisa lalu bergeser sedikit menjauh dari Keyran, "Aku paham kalau kau merasa aneh dengan perubahan sikapku, tapi itu semua aku lakukan secara sadar. Sekarang aku ini adalah istrimu, aku sedang berusaha menjadi istri yang baik. Jadi aku sama sekali nggak punya penyakit kejiwaan, dan berhentilah berpikir negatif tentangku!"
"Oh, secara sadar ya? Kalau begitu yang kau lakukan semalam itu apa?"
"Haha, itu..." Nisa lalu mengalihkan pandangannya, "Sudahlah, jangan bahas lagi! Lalu, ruangan ini terlihat seperti ruang kerja, apa alasanmu membawaku kemari?"
"Hng! Ternyata kau mencoba mengalihkan pembicaraan! Aku membawamu kemari karena ingin membahas sesuatu yang penting, ini mengenai hubungan kita sebagai suami istri! Dan aku akan memulainya dari kewajibanku sebagai suamimu," ucap Keyran dengan serius.
"Emmm... silakan..."
Kewajiban katanya, gimana nih... kok aku mulai gugup sih?
"Sebagai suamimu aku punya kewajiban untuk memenuhi semua yang kau butuhkan, sekarang coba kau sebutkan apa saja yang kau butuhkan!"
"Eh!? K-kau serius...?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Iya, aku serius. Aku akan penuhi semua kebutuhanmu!" ucap Keyran dengan penuh keyakinan.
Apa gadis ini meremehkan aku? Apa dia ini sudah lupa kalau dia menikahi orang yang punya segalanya seperti aku?
"Anu... i-itu," muka Nisa tiba-tiba memerah lalu dia menundukkan kepalanya, "Aku butuh... d-lam," ucap Nisa dengan suara lirih.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu, bicaralah lebih keras!" teriak Keyran sambil mendekatkan telinganya.
"Nggak, nggak jadi!" Nisa menggelengkan kepala secepat mungkin.
"Hei, kau ini kenapa!? Cepat katakan padaku!" teriak Keyran dengan tidak sabar.
"Celan@ dalam! Aku butuh itu!" teriak Nisa dengan wajah yang memerah.
"Eh!? Celan@ dalam? Memangnya kau tidak memakainya?" Keyran lalu mulai memperhatikan tubuh Nisa dan kemudian wajahnya tiba-tiba memerah.
"N-nggak... aku nggak pakai..." ucap Nisa dengan suara lirih, lalu dia menutup kakinya rapat-rapat dan berusaha menarik kemeja yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya.
Dan untuk beberapa saat suasana hening mulai terjadi di antara mereka. Nisa saat itu sangat merasa malu, dia hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Sementara itu Keyran langsung mengalihkan pandangannya dan mulai mengendalikan emosi dalam dirinya.
"Hei, bukankah itu-mu terasa sejuk?" tanya Keyran secara spontan.
Dasar gadis bodoh! Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu! Apa dia tidak merasa risih sama sekali?
"...." Nisa sama sekali tidak menjawab dan tubuhnya mulai gemetar.
"Kau dengar atau tidak? Kenapa tidak menjawab?"
"Aaahhh! Kenapa kau bertanya seperti itu!? Kau bayangkan saja sendiri!" teriak Nisa secara histeris.
Uuhh... rasanya ingin sekali aku menghilang dari muka bumi...
"O-oke, terserah kau! Kau pasti juga tidak memakai bra, lalu berapa ukuranmu? Aku akan suruh orang untuk membelinya," ucap Keyran dengan nada sedikit canggung.
"Hiks! Lebih baik aku mati saja T_T" keluh Nisa sambil menutupi wajah dengan tangannya.
"Tsk! Kenapa merasa malu sampai seperti ini, aku suamimu, jadi biasakan dirimu! Aku tanya sekali lagi, berapa ukuranmu?"
"Huuaaa... kau payah! Ini sangat memalukan untukku! Kau itu seorang pria, kau mana bisa paham dengan apa yang aku rasakan!" Nisa lalu menangis karena malu.
"Terserah, yang merasa tidak nyaman juga kau sendiri! Aku akan tanya sekali lagi, jika kau masih tidak menjawabku maka jangan harap aku akan membantumu! Berapa ukuran bra dan celana dalammu?" ucap Keyran dengan tidak sabar.
"Uuhh... aku butuh pulpen! Aku akan menulisnya!"
"Hah... baiklah!" Keyran lalu berdiri dan mengambilkan sebuah pulpen untuk Nisa.
Nisa kemudian menuliskan berapa ukuran pakaian dalamnya, setelah itu Keyran langsung menghubungi seseorang untuk segera mengantarkannya. Selama beberapa saat mereka hanya diam, tapi dalam suasana keheningan itu Keyran tiba-tiba mendekat ke arah Nisa.
"Hei, apa kau sudah merasa lebih tenang?" tanya Keyran.
"Yah... lumayan," ucap Nisa acuh tak acuh.
__ADS_1
"Lepaskan bajumu!"
"Apa!?"