
Keyran yang memutuskan untuk mencari angin akhirnya menuju ke taman rumah sakit. Sesampainya di sana, dia duduk di sebuah bangku berwarna putih yang di sekitarnya tidak begitu ramai orang.
Dari kejauhan dia melihat begitu banyak orang jalan-jalan yang juga sedang mencari udara segar seperti dirinya. Ada banyak pasien, keluarga pasien, perawat, staf-staf rumah sakit, lansia, dan anak-anak yang sedang bermain juga ada.
"Hah ..." Keyran menghela napas, dia sekarang merasa jauh lebih rileks. Dia bisa melepas sedikit penat akibat kejadian-kejadian kurang mengenakan yang telah menimpanya akhir-akhir ini.
Letih sekali, ini rasanya jauh lebih melelahkan ketimbang bekerja sepanjang hari. Padahal aku hanya duduk dan menunggu, tapi begitu dia bangun hasilnya berbeda dengan harapanku. Bahkan ketika seluruh keluarganya datang, dia tidak merasakan ada yang kurang, dia tidak membutuhkan keberadaanku.
Setelah semua ini akhirnya aku menyadari. Bahwa menunggu itu melelahkan, diabaikan itu menyakitkan, tapi tidak tahu harus berbuat apa adalah penderitaan yang lebih buruk. Entah ke depannya bisa terus bersama atau tidak, terlepas dari semua itu, aku hanya ingin dia menerimaku dan mengakuiku.
"Sekarang aku benar-benar bingung ..." Keyran tertunduk lesu, hanya menatap lututnya sendiri.
Tak lama kemudian tiba-tiba ada sebuah bola tenis yang menggelinding dan menabrak kakinya. Keyran lalu mengambil bola itu, kemudian dia mendongak dan mengamati sekeliling. Dia melihat ada seorang anak perempuan yang rambutnya dikepang, dan juga mengenakan baju seragam pasien sedang mendekat ke arahnya.
Anak kecil itu tertunduk malu, perlahan dia mengulurkan tangannya. Lalu dengan suara lirih dia berkata, "Itu bolaku ..."
"Ini," Keyran dengan nada bicaranya yang hangat memberikan bola tenis tersebut. Anak kecil itu mendongak, tampak senyum ceria di wajahnya karena mendapatkan bolanya kembali.
"Terima kasih, om ..." ucapnya penuh gembira. Lalu tiba-tiba dia malah ikut duduk di samping Keyran. Anak kecil itu menggenggam erat bolanya di depan dada, lalu dia menoleh ke arah Keyran sambil berkata, "Untung saja ada om baik, bola ini pemberian dari mama ... Yuna akan sangat sedih jika bola ini hilang ..."
"Jadi namamu Yuna?"
Padahal aku tidak bertanya dari mana asalnya bola itu.
"Iya, terus nama om baik ini siapa?"
"Key, panggil saja dengan nama itu."
"Salam kenal, Om Key ..." Yuna lalu mengajak Keyran untuk berjabat tangan. Saat jabat tangan itu lepas dia langsung berkata, "Om Key sedang sedih, ya?"
"Kenapa tanya begitu?"
Anak kecil saja tahu, sepertinya wajahku memang tampak sangat tertekan.
"Ehmm ... i-itu Om Key yang sering berada di ruang rawat sebelah sana kan?" tanya Yuna sambil menunjuk gedung utama rumah sakit yang berada belakangnya, dia juga mengarahkan telunjuknya ke salah satu jendela yang terbuka.
"Benar, tapi apa hubungannya?"
"Yuna bertanya karena sering melihat Om Key sedang melamun menatap keluar dari jendela itu. Tapi om tidak pakai seragam pasien, jadi Om Key pasti keluarganya pasien yang dirawat di sana. Kata mama, kalau sedang sedih supaya tidak berlarut-larut sebaiknya cerita ke orang lain. Jika om tidak punya teman untuk bercerita, om bisa cerita ke Yuna. Tapi Yuna juga tidak memaksa kok ..."
"Berapa umurmu?"
"Eh?! 10 tahun, sebenarnya hampir 11 sih. Memangnya kenapa dengan umurku?"
"Bukan apa-apa," jawab Keyran yang lalu mengalihkan pandangannya.
Bisa-bisanya bocah 10 tahun bicara seperti ini kepadaku, ayahku saja tidak pernah berkata begitu.
Pembicaraan antara Keyran dan Yuna berakhir. Namun Yuna masih tak kunjung pergi, dia tidak lagi berinisiatif mengawali pembicaraan, dia hanya memainkan bola tenis itu dengan melempar-lemparkan ke atas tapi tak terlalu tinggi.
"Hmm ..." Keyran mulai merasa sedikit gundah, dia meragukan sesuatu dan sesekali melirik ke arah Yuna.
Mungkin bocah ini ada benarnya juga, lagi pula dia masih kecil, dia tidak akan mengerti tapi setidaknya aku bisa bercerita, dan itu bisa melegakan perasaanku.
"Hei!" panggil Keyran.
"..." Yuna tidak menoleh dan masih terus memainkan bolanya.
"Hei, bocah!" Keyran mulai geram.
"..." Yuna masih tidak menoleh.
"Hei, aku memanggilmu!"
Yuna masih diam saja, dan menyadari hal itu Keyran berinisiatif untuk mencolek pundaknya, lalu seketika Yuna pun menoleh. "Ada apa, om?"
"Apa kau dari tadi tidak mendengarku?"
Mungkinkah bocah ini tuna rungu?
"Dengar kok," jawab Yuna secara spontan.
"Kalau dengar kenapa tidak menjawab?"
"Memangnya Om Key memanggilku? Tadi om cuma bilang hei dan bocah. Selain aku ada banyak juga kok anak-anak lain di sini. Kata mama, kalau memanggil orang itu harus dengan namanya. Om Key sendiri sudah tahu namaku, jadi untuk selanjutnya harus memanggilku dengan nama. Kalau om lupa namaku, maka aku ingatkan lagi bahwa namaku adalah Yuna!"
"Oh, Yuna ... akan kuingat."
Ternyata bocah ini mirip dengan Nisa, mereka berdua sama-sama menguras emosi! Tapi ... ini ada bagusnya juga, mungkin saja cara berpikirnya akan sama dengan Nisa. Jika seperti itu maka dapat diibaratkan kalau aku bicara dengan Nisa.
__ADS_1
"Jadi, kenapa Om Key memanggil Yuna?"
"Karena om mau cerita, tapi Yuna harus janji tidak akan mengatakan ke siapa pun. Termasuk mama nya Yuna! Bisa kan?"
"Yuna bisa, lagi pula Yuna juga jarang bertemu mama ..." ucap Yuna yang terlihat sedikit murung.
"..."
Apa aku salah bicara? Dia dari tadi sangat semangat menyebut mama nya, tapi begitu aku mengungkitnya dia malah sedih.
"Kenapa om jadi diam? Ayo, cepat cerita! Nanti keburu Yuna dibawa pergi sama kakak perawat, jam bermain Yuna hampir habis loh."
"Baiklah, om mulai. Tadi Yuna bertanya kenapa om sedih, om itu sedih karena istri om sakit, dia ..."
"Tunggu dulu!" Yuna menyela. "Om Key sudah menikah?!"
"Sudah, memangnya kenapa?"
"Kalau Om Key sudah menikah, lalu dimana anak om? Besok-besok izinkan Yuna bermain dengannya, ya?"
"Tidak bisa, om belum punya anak. Tapi ... Yuna doakan saja semoga secepatnya om bisa punya anak, jadi nanti Yuna bisa secepatnya bermain dengan anak om!"
"Bagaimana bisa belum punya? Apakah Tuhan lupa mengirimkan paket untuk Om Key?"
"P-paket?!" tanya Keyran terheran-heran.
"Iya, paket. Kata mama, setelah mama dan papa menikah, mereka berdua harus melakukan ritual khusus untuk meminta anak. Jika ritual khusus itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan akan menyuruh malaikat untuk mengantarkan paket. Dan paket itu adalah anak, atau bisa disebut malaikat kecil. Untungnya lagi, malaikat yang baik hati tidak mengenakan biaya ongkos kirim. Tapi Om Key adalah orang baik, kenapa Tuhan bisa lupa mengirimkan paket kepada om?"
"Haha ... mungkin saja malaikat lupa alamat rumahnya om."
Astaga, kenapa mama nya Yuna bisa menyamakan anak dengan fitur pembelian online?! Lalu ritual khusus itu maksudnya ... aahhh lupakan! Sepertinya Yuna ini dididik dengan cara yang tidak biasa. Jika di masa depan aku punya anak, semoga saja nanti Nisa tidak akan menjelaskan bahwa anak itu didownload.
"Hmm ... itu mungkin saja sih, tapi Yuna akan berdoa semoga malaikat cepat-cepat mengingat alamat rumahnya Om Key! Agar istrinya om bisa cepat hamil!"
"Iya, semoga saja paketnya tidak menyasar di tengah jalan. Nah, sekarang om bisa mulai bercerita?"
"Silakan, jadi selain istri om sakit ... lalu dia kenapa?"
"Dia marah kepada om, dan sebelum dia sakit, om juga marah kepadanya. Lalu sekarang om sangat ingin berbaikan, tapi om tidak tahu caranya. Itulah mengapa alasan om bisa sedih ..."
"Itu mudah, om tinggal minta maaf saja! Kata mama, minta maaf bukan sebab siapa yang terlebih dulu membuat kesalahan, tapi karena ingin memperbaiki kesalahan tersebut."
"Kalau itu ... Yuna juga tidak mengerti. Terkadang mama dan papa Yuna juga bertengkar, dan mama marah kepada papa sampai berhari-hari. Tapi pada akhirnya mereka juga berbaikan, Yuna ingat kalau mereka berbaikan itu karena papa mengalah, papa akhirnya menuruti permintaan mama."
"Memangnya mama nya Yuna meminta apa?"
"Mama minta dibelikan tas mahal yang baru, dan mama memintanya di saat tanggal tua, makanya papa marah."
"O-oh ..."
Ini sangat berbeda dengan kasusku, jika soal itu maka aku dan Nisa tidak akan bertengkar. Bahkan kalau aku ingat-ingat ... barang-barang yang diinginkan Nisa kebanyakan adalah barang yang konyol. Terakhir kali itu dia menginginkan bando bertelinga kelinci edisi terbatas.
Tiba-tiba saja ada seorang perawat yang berjalan ke arah Keyran dan Yuna. Perawat itu memasang senyum lembut sambil berkata, "Yuna, ayo kita pergi! Yuna masih harus minum obat lalu istirahat agar cepat sembuh. Yuna tidak ingin papa dan mama Yuna sedih kan?"
"Kakak perawat, berikan Yuna waktu sebentar lagi. Yuna masih ingin menemani om ini ..." pinta Yuna dengan tampang memelas sambil memegangi lengan Keyran.
"Ehmm ..." perawat itu mulai gugup saat melihat ke arah Keyran.
Keajaiban apa ini?! Akhirnya aku bisa berjumpa langsung dengan pria idamanku! Ternyata merawat Yuna bisa mendapatkan berkah tersembunyi, terlebih lagi Yuna sepertinya cukup dekat dengannya. Kalau tahu akan seperti ini, harusnya dari tadi aku terus di samping Yuna, bukannya cuma melihat dari kejauhan.
"Yuna tidak boleh seperti ini," ucap Keyran sambil menyingkirkan tangan Yuna dari lengannya. "Yuna harus menuruti apa yang dikatakan oleh kakak perawat. Lagi pula untuk sementara waktu om akan terus di sini, jadi Yuna bisa bertemu dengan om setiap hari. Besok kita lanjut bercerita lagi, oke?"
"Oke ..." Yuna lalu bersedia untuk pergi bersama perawat itu, namun saat sudah agak jauh tiba-tiba dia menoleh ke belakang sambil berteriak, "Om Key dengarkan kata-kataku ini yaa!! Cewek selalu benar! Jadi mengalah saja!"
Keyran hanya diam namun tersenyum dan mengangguk. Dia terus memandangi Yuna sampai bayangannya tak lagi terlihat.
"Minta maaf ..." Keyran kembali menunduk.
Jika hanya meminta maaf itu bukan masalah, tapi jika aku mengalah ... itu adalah akhir bagi segalanya. Yang terakhir kali Nisa minta dariku adalah perceraian, tapi setelah berpikir keras selama ini, tetap saja aku masih belum bisa menemukan jalan keluarnya.
"Entah akan seperti apa reaksinya jika aku muncul di depannya. Aku sangat ingin tahu itu, mungkin sebaiknya nanti aku coba saja."
***
Keyran yang telah berdebat dengan dirinya sendiri berulang kali akhirnya berhasil memantapkan diri. Namun dia mendadak berhenti ketika akan membuka pintu ruang rawat Nisa.
Aneh ... ini tidak seheboh seperti tadi, jangan-jangan keluarga Nisa sudah pulang. Tapi ini bagus, jika aku masuk maka hanya akan ada aku dan Nisa.
KLAAK ...
__ADS_1
Pintu dibuka, dan benar tebakan Keyran bahkan keluarga Nisa sudah pulang, namun masih ada satu orang yaitu Reihan. Reihan saat ini hanya sibuk bermain ponsel sambil duduk di sebelah Nisa. Keyran juga sedikit kecewa saat melihat Nisa yang sudah tertidur kembali. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang pasien, dia tak berkata apa-apa dan hanya mengusap kepala Nisa.
"Yang lain sudah pulang, kenapa kau tidak ikut pulang?" tanya Keyran tanpa melihat ke arah Reihan.
"Kak Nisa belum boleh ditinggal sendirian, jadi aku menunggu kedatanganmu." jawab Reihan yang pandangannya tak lepas dari layar ponsel.
"Kapan dia tertidur?"
"Sudah lumayan lama, toh kamar ini kelas terbaik, sangat nyaman bagi kakakku yang pemalas, makanya dia gampang tidur."
"Oh, baguslah kalau memang nyaman." Keyran tersenyum kecil, kemudian mendadak dia mengecup kening Nisa.
Adegan itu sekilas dilihat oleh Reihan, tapi Reihan diam mematung seakan-akan berkamuflase dengan udara, dia bersikap seakan-akan tak pernah melihat hal itu.
"Nisa, kau tahu tidak? Hari ini di taman aku bertemu dengan seorang anak kecil, dia sangat mirip denganmu. Sikapnya, tatapannya, senyumnya, bahkan dia juga pintar berkata-kata manis sama sepertimu. Jika nanti kita punya anak, mungkin saja anak kita akan mirip dengannya. Haha ... itu pun hanya akan terjadi jika kita terus bersama."
Iya, semuanya hanya bergantung pada kata "jika"
"Emmm ... sekarang kakak ipar ada di sini, aku pergi ya?"
"Pergilah, kau bisa pergi."
"Oke," Reihan menyimpan ponselnya dan langsung beranjak dari kursi. Namun sesaat sebelum keluar dia mendadak menoleh ke belakang. "Oh iya! Ayah ibuku tadi berpesan, kalau kakak ipar boleh meninggalkan Kak Nisa jika ada perlu di kantor. Kakak jangan khawatir, nantinya kami akan bergantian menjaga Kak Nisa."
"Tidak perlu, aku tahu mana yang merupakan prioritasku. Lagi pula aku masih bisa bekerja dari sini."
"Oh, oke. Besok sepulang sekolah aku dan Dimas akan ke sini lagi."
Ckck ... andai saja kau tahu kalau kakakku cuma pura-pura tidur. Tapi ya mau bagaimana lagi? Di saat seperti ini kalian berdua malah sama-sama jadi pengecut. Memang pasangan yang cocok.
***
Ya begitulah, Nisa terus bersandiwara lagi dan lagi. Dia hanya bangun saat ada keluarganya yang berkunjung atau pada saat Ricky melakukan pemeriksaan rutin. Di sisi lain Keyran juga sama, dia mendekat kepada Nisa hanya pada saat Nisa menutup mata.
Hari demi hari berlalu, hingga hari ini tepatnya 12 hari setelah operasi. Sampai hari ini masih belum ada percakapan di antara Keyran dan Nisa. Tapi hari ini kondisi Nisa ada perkembangan, lukanya mengering dan jahitannya dilepas. Terlebih lagi Ricky juga menggunakan salep agar luka Nisa sembuh 2 kali lebih cepat.
Belakangan ini Keyran juga tidak lagi merasa terlalu gelisah ataupun tertekan, karena dia setiap hari menyempatkan waktunya untuk bermain bersama Yuna. Dan saat ini pun juga begitu.
Di sisi lain masih ada Ricky yang terkadang juga membujuk Nisa untuk merendahkan egonya. Namun dia sangat mengenal Nisa, dan Nisa adalah jenis orang yang sangat sulit untuk mengalah juga terus bertahan pada sikap egois nya.
"Apa kamu tak lelah terus seperti ini?" tanya Ricky sambil mengatur selang infus.
"Lelah? Selama berhari-hari yang aku lakukan cuma berbaring, apanya yang melelahkan?" jawab Nisa sambil mengganti saluran TV.
"Ck," Ricky bersungut kesal, tiba-tiba dia merebut remote TV dari tangan Nisa lalu mematikan TV tersebut. "Kamu juga jangan pura-pura bodoh, yang aku maksud bukan itu! Cuma orang idiot yang percaya kalau kamu kebetulan selalu tidur saat ada dia. Sekali lagi aku perjelas, dia tahu kalau kamu hanya pura-pura."
"Memangnya kenapa? Aku sadar kalau dia tahu aku pura-pura, tapi dia memilih jadi orang idiot. Dia tak ada niatan untuk membangunkanku, yang artinya tak ada yang mau dia katakan kepadaku!"
"Huh ... Nisa, apa selamanya kamu akan terus seperti ini?"
"..." sejenak Nisa tertegun, lalu kemudian dia menunduk. "Aku heran Rick, padahal waktu itu saat tak sengaja bertemu di bazar, sikapmu berbeda jauh dengan yang sekarang. Sekarang, kamu terkesan seperti memaksaku untuk tetap bersamanya. Sikapmu ini artinya apa?"
"Huft ... ternyata ini yang kamu pertanyakan," Ricky lalu meletakkan remote TV di atas meja, kemudian dia duduk di ranjang namun membelakangi Nisa. "Apa kamu sungguh ingin tahu jawabannya?"
"Iya, sangat."
"Jawabnya ... aku sendiri tak bisa memberi jawaban yang pasti. Sebenarnya sikapku jadi seperti ini hanya karenamu, karena entah mengapa aku tidak tega melihatmu yang seperti ini. Dan ..."
"Dan apa? Kenapa tiba-tiba diam?"
"Jika aku lanjutkan, kamu harus janji dulu tidak akan marah."
"Iya, aku janji. Cepat katakan saja!"
"Ehmm ... dan aku selalu memperhatikanmu, aku tahu kalau kamu tertekan, kamu selalu berusaha mengalihkan pikiranmu dengan cara berhitung, bahkan aku perhatikan sampai ratusan. Jika kamu terus seperti ini, bisa jadi depresimu akan kambuh. Dan itu jelas-jelas tidak baik kalau kamu juga mengonsumsi antidepresan."
"Haha ... ini mengingatkanku tentang masa lalu, dulu kamu juga selalu mengamati kondisi psikis-ku, dan itulah mengapa kita akhirnya bisa dekat. Lalu ... apa kamu juga akan menyarankanku untuk konsultasi dengan psikiater sialan itu?"
"Hei, jangan bicara begitu. Aslan akan marah jika mendengar ayahnya dihina. Lagi pula jika kamu enggan konsultasi, maka jangan dipaksakan. Jadi inilah artinya sikapku, aku pikir kamu akan merasa lebih baik jika berbaikan dengannya."
"Entahlah Rick, bicara dengannya saja rasanya sulit."
Tapi menurutku sekarang Keyran tak terlalu sedih, dia selalu bercerita tentang anak kecil yang mirip denganku yang sering bermain dengannya di taman. Dia seorang pria dewasa yang baik, dia pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik ketimbang aku.
"Huft ... tak apa, kuatkan dulu dirimu." Ricky berdiri, kemudian dia kembali menyalakan televisi yang sempat dia matikan tadi. "Ternyata kamu masih saja suka menonton sailor moon."
"Ya, kamu benar. Sebaiknya kamu pergi saja, yang membutuhkanmu bukan cuma aku ..."
"Baiklah, sampai jumpa nanti sore ..." Ricky lalu mengambil catatannya dan bersikap melangkah pergi. Saat dia baru mengambil 3 langkah, tiba-tiba saja ada yang membuka pintu. Orang itu juga bukanlah orang asing, dan orang itu juga tampak membawa parsel buah.
__ADS_1
"J-Joe?!" Nisa ternganga.