
Nisa melakukan aktivitasnya sesuai seperti yang telah dia rencanakan. Setelah selesai mengurus berkas-berkas persyaratan kelulusan, dia langsung menuju ke kediaman utama seorang diri untuk menemui ayah mertuanya.
Pertemuannya dengan Natasha seolah-olah tak bisa dihindari, tetapi kali ini Natasha sama sekali tidak berkata sepatah kata pun saat melihat Nisa. Entah apa yang dipikirkan olehnya, Nisa tak ambil pusing dan tetap memprioritaskan tujuan utamanya.
Perbincangan antara Tuan Muchtar dan Nisa cukup memakan waktu, akhir dari perbincangan itu Tuan Muchtar memutuskan untuk mengajak Nisa ke kantor pusat perusahaan HW Group. Di sana dia mengenalkan Nisa kepada orang lain yang nantinya akan membantu dalam mempersiapkan acara tahunan, beberapa orang itu dibentuk sebagai tim khusus yang diketuai oleh Nisa.
Di pertemuan pertama ini mereka juga membahas tentang hal-hal penting mengenai persiapan acara, bisa dikatakan rapat ini berjalan cukup lancar dan memakan waktu yang cukup lama.
"Jadi kesimpulan yang bisa kita dapatkan pada rapat siang hari ini adalah persiapan konsep, daftar para tamu dan susunan acara. Rapat selanjutnya akan membahas mengenai rincian anggaran dana. Demikian rapat siang hari ini, semoga ke depannya perusahaan kita bisa semakin maju dan berkembang lagi. Terima Kasih, selamat beraktivitas kembali." ucap Nisa dengan senyum ramah.
Rapat itu ditutup oleh Nisa, rekan satu tim Nisa yang lain pun segera meninggalkan ruang rapat tersebut. Saat ini Nisa terlihat sedang merapikan beberapa buah berkas ditemani oleh Tuan Muchtar yang belum beranjak pergi dari sana.
"Nisa, kau melakukannya dengan baik. Pasti membutuhkan tenaga yang besar untuk itu, sebelum pulang mau makan bersamaku dulu?" tanya pria tua itu.
"Ah, terima kasih atas tawarannya ayah mertua. Tapi sebaiknya ayah mertua duluan saja, soalnya aku masih ingin membereskan berkas-berkas ini dulu. Sebagian ada yang perlu ditandatangani oleh Keyran, jadi akan langsung aku selesaikan agar nanti tidak keteteran."
"Haha, baiklah. Kau tinggal bilang saja jika ingin bertemu dengan suamimu, aku paham anak muda sepertimu."
"B-bukan begitu! Aku orang yang profesional kok!" protes Nisa dengan wajah tersipu.
"Haha, tak usah malu ... orang tua sepertiku senang melihat kalian berdua yang selalu mesra meskipun sudah lama menikah."
"Tidak juga, kami menikah juga belum genap setahun ..." ucap Nisa tanpa memandang ke arah ayah mertuanya.
"Oh, benar juga! Baguslah jika kau berpikir begitu, teruslah romantis seperti pengantin baru! Selamat melepas rindu, aku akan pergi dulu!"
Tak berselang lama kemudian Nisa keluar dari ruang rapat dengan membawa beberapa berkas. Dia menuju ke sebuah lift khusus yang hanya diperuntukkan bagi para eksekutif.
TING!
Pintu lift terbuka, Nisa kaget karena melihat Keyran yang sedang berada di dalam lift tersebut. Sedangkan Keyran, dia tersenyum semringah saat melihat istrinya, dia juga menghalau lift itu dengan tangannya seolah-olah dia adalah penguasa lift tersebut.
"Wah ... kebetulan sekali bertemu denganmu, apa mungkin kita jodoh?" tanya Keyran dengan nada sedikit menggoda.
"Jangan bertanya yang jawabannya sudah jelas." Nisa terkekeh, dia masuk ke lift itu. Dia sedikit heran karena Keyran tak kunjung keluar juga hingga pintu lift tertutup.
"Kenapa masih di sini? Kau tidak jadi keluar?" tanya Nisa.
"Tidak jadi, aku turun sebab ingin menemuimu yang katanya sedang rapat di lantai bawah. Aku heran karena rapatnya lumayan lama, aku jadi penasaran dan ingin melihatmu. Tapi sekarang kau di sini. Oh ya, berkas apa yang kau bawa itu?"
"Emm ... aku juga bermaksud menemuimu untuk meminta tanda tanganmu di berkas ini. Jadi jangan berpikir aku ingin bertemu karena rindu padamu!"
"Benarkah?" tanya Keyran dengan tatapan tajamnya.
"Y-ya, tentu saja!"
Keyran semakin menatap tajam, bahkan dia memojokkan Nisa hingga ke sudut dan menghadang di sebelah sisi dengan tangannya.
"Coba ulangi sekali lagi!" pinta Keyran yang wajahnya saat ini begitu dekat dengan Nisa.
Sejenak Nisa hanya terdiam, tetapi dia tiba-tiba malah menyeringai sambil menarik dasi Keyran. "Heh, jangan berlagak seperti CEO arogan di depanku!"
"Siapa yang kau maksud CEO arogan? Anggap aku suamimu! Aku beri kesempatan sekali lagi, kau ingin bertemu denganku karena apa?"
Nisa melepas cengkeraman tangannya dari dasi Keyran, tangannya beralih membelai pipi suaminya dengan lembut. Dengan cepat dia memberikan sebuah kecupan di bibirnya, kemudian dengan senyuman yang polos dia berkata, "Aku ingin bertemu karena merindukan suamiku. Bertemu dengan CEO arogan untuk tanda tangan hanya sebuah alasan."
Keyran menyeringai, dia membalas sebuah kecupan persis seperti apa yang Nisa lakukan tadi. "Nah, sekarang kita impas."
Pipi Nisa merona, dia lalu mendorong Keyran agar sedikit menjauh darinya. "Jangan begini, kita masih di kantor dan sekarang masih jam kerja. Ayo ke ruanganmu saja."
"Hm? Kau ingin melanjutkannya di ruanganku?"
"Bukan! Tapi aku mau meminta tanda tangan! Jadi jangan genit!"
__ADS_1
"Haha, baiklah."
Mereka berdua pun akhirnya menuju ke ruangan Keyran. Setelah Keyran menandatangani berkas-berkas itu, dia tak langsung menyerahkannya kembali kepada Nisa.
"Nisa, aku dengar tadi kau pergi ke kediaman utama. Kau tidak terkena masalah apa-apa, kan?" tanya Keyran dengan nada khawatir.
"Tidak terjadi apa pun, Natasha hanya diam saat berpapasan denganku. Dan aku sempat bicara sedikit dengan Daniel, dia cuma bertanya mengapa ayah mertua mempercayakan tugas penting ini padaku. Itu saja."
"Oh baguslah, lalu bagaimana rapatmu hari ini? Apa kau kesusahan?"
"Rapat berjalan dengan baik, hari ini aku membahas tentang hal dasar seperti konsep pesta mau dibuat seperti apa. Tapi ... sekarang aku dapat ide baru!"
"Benarkah? Apa itu bisa membuat pesta semakin meriah?"
"Ya! Aku jamin akan ada banyak orang yang semakin antusias! Aku berencana membuat undian doorprize! Tapi anggaran yang dibutuhkan akan semakin besar, menurutmu jika seperti itu apakah tidak apa-apa? Takutnya ada yang keberatan dengan ideku itu ..." ucap Nisa dengan nada ragu.
"Menurutku itu bisa saja, asalkan hadiah utamanya masih wajar. Kau bisa mendiskusikan ini lebih lanjut dengan tim mu."
"Baiklah, nanti akan aku bahas lebih lanjut bersamaan dengan dana anggaran untuk yang lain. Emm ... soal hidangan pesta ... aku juga mengatur agar aku sendiri yang bertanggung jawab."
"Hm? Bukankah hal itu akan kau serahkan ke bagian katering?" tanya Keyran dengan tatapan heran.
"Yaa ... sebagian besar memang begitu, tapi untuk dessert akan aku atur secara khusus. Kau tahu jika aku sudah cukup mahir karena ikut kelas pastry, jadi ... rencananya dessert yang akan dihidangkan semuanya akan dibuat berdasarkan resepku! Prosesnya akan lebih mudah karena pelayan di kediaman utama cukup banyak. Kau juga tahu jika aku punya keinginan untuk membuka toko roti, ini juga bisa menjadi ajang bagiku untuk promosi lebih awal!"
"Haha, baiklah ... ternyata otak bisnismu itu lumayan juga! Aku rasa jika kau yang mengambil alih perusahaan keluargamu, maka perusahaan department store itu akan semakin maju. Aku heran kenapa ayahmu tidak menyadari potensimu ini?"
"Hemm ... sebenarnya ayahku sudah sadar, cuma aku saja yang malas. Dulu aku lebih suka bermain-main ketimbang membantu orang tua, hehe ..." ucap Nisa dengan senyum canggung.
"Alasanmu jelek sekali."
"Lupakan soal itu! Ngomong-ngomong aku ingin bertanya, apa kau ada kenalan kolektor wine? Aku ingin memilih sendiri mana wine yang bagus atau tidak. Soalnya ayahmu berpesan katanya dia ingin menghadiahkan wine untuk beberapa tamu khusus, dan aku juga akan dapat sebagai imbalan!"
"Kau ini kenapa terobsesi sekali dengan minuman anggur itu? Bahkan kau meminumnya tak peduli saat hari spesial atau bukan."
Keyran menghela napas lalu menggeleng pelan. "Hahh ... terserah kau. Nanti akan aku beri kontak kolektor wine yang aku percaya."
Nisa tersenyum semringah dan langsung memeluk erat Keyran. "Kau sangat membantu! Dengan begini aku yakin 2 minggu lagi akan menjadi acara tahunan terbaik! Terima kasih darling!"
"Kalau kau benar-benar berterima kasih, malam ini aku minta jatah 2 kali lipat."
"Hei!!" Seketika Nisa melepaskan pelukannya dan memelototi Keyran.
"Apa? Itu sepadan, kan?"
"Humph, kau tidak profesional!"
"Beginilah bisnis dengan suamimu sendiri," ucap Keyran dengan senyuman.
***
Hari demi hari berlalu, Nisa mengerjakan tahap demi tahap persiapan acara tahunan dengan baik. Tak dapat dipungkiri bahwa selama itu juga dia sering bolak-balik ke kediaman utama demi memastikan segalanya berjalan dengan lancar.
Tanpa terasa waktu 2 minggu berlalu dengan cepat. Hari di mana acara tahunan yang memperingati awal mula berdirinya perusahaan properti ternama HW Group akhirnya telah tiba.
Pesta tersebut diselenggarakan di kediaman utama Kartawijaya. Tamu-tamu penting satu per satu telah hadir, seperti keluarga konglomerat lain, karyawan dengan jabatan tertentu, stakeholder, mitra bisnis, hingga media peliputan berita.
Acara itu tampak sangat meriah. Dengan dekorasi yang menakjubkan, hiburan yang berkelas, tamu-tamu yang glamor serta hidangan yang sekelas dengan restoran berbintang.
Nisa selaku penanggung jawab acara saat ini masih berada di kamar Keyran untuk berhias diri. Dia masih memandangi dirinya di cermin, lalu tersenyum puas saat melihat dirinya yang cantik dengan gaun mewah yang ia kenakan.
Keyran yang juga berada di sana tiba-tiba mendekat dan memeluk Nisa dari belakang. "Kau cantik sekali malam ini, dan untungnya ini akan segera berakhir ...."
"Hm? Pestanya bahkan belum dimulai. Apanya yang berakhir?"
__ADS_1
"Kesibukanmu. Belakangan ini kau selalu sibuk dan tak punya waktu untukku, aku tak suka itu." Keyran semakin memeluk erat, sikapnya ini persis seperti anak kecil yang sedang merajuk minta dimanja.
"Haha, setelah ini aku janji akan menghabiskan seluruh waktuku hanya untukmu. Sekarang lepaskan aku, oke? Aku harus segera turun dan menyambut para tamu."
"Tidak mau!"
"Hei, ada apa denganmu?"
"Aku tak tahu, tapi perasaanku tidak enak jika aku melepasmu. Bagaimana jika kau pura-pura sakit saja?"
"Apa?! Itu tidak bisa! Aku sudah mempersiapkan acara ini sebaik mungkin, sekarang aku tidak boleh hanya berdiam diri di kamar saja. Ayolah Key ... ini tidak seperti dirimu yang biasanya."
"Huh, biasanya aku cukup kasih sayang. Tapi saat ini aku kekurangan kasih sayang!"
Nisa menyingkirkan tangan Keyran dari pinggangnya, dia lalu berbalik dan mengusap wajah Keyran. "Darling ... aku mohon mengertilah, aku minta maaf karena belakangan ini mengabaikanmu. Biarkan aku melakukan tugasku yang terakhir hanya untuk hari ini. Setelah itu aku hanya milikmu!"
"Sungguh?"
"Ya, aku berhutang banyak waktu untukmu. Keluargaku tadi mengabari jika mereka sudah di perjalanan dan hampir sampai, karena itu aku harus menyambut mereka."
"Tunggu, ayo turun bersama!"
"Baiklah, tapi di mana dasimu?"
"Masih di lemari, sekalian pasangkan untukku!"
Tak berselang lama kemudian mereka berdua turun bersama, tetapi kemudian mereka berdua berpencar karena punya urusan masing-masing. Nisa menyambut keluarganya yang telah sampai dan berlanjut menyambut para tamu lainnya, sedangkan Keyran sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya.
Acara pembukaan pun dimulai, dilanjut dengan acara lain yang telah disusun dengan sedemikian rupa sehingga berjalan dengan baik. Ketika sudah sedikit senggang, secara tak sengaja Nisa melihat seorang pria yang tampak tidak asing sedang menyendiri di acara pesta itu.
"Dia ... kenapa begitu? Apakah dia tidak menikmati acara pesta yang telah aku persiapkan dengan sempurna?" gumam Nisa.
Gawat, dia adalah Arie Cakrakumala, tuan besar keluarga Cakrakumala! Sia-sia jika orang penting sepertinya tidak puas dengan pesta ini, aku tidak bisa biarkan hal ini terjadi!
Nisa langsung menghampiri pria itu, lalu dengan senyuman ramah dia berkata, "Selamat malam Tuan Arie Cakrakumala."
"Ah, selamat malam. Kau ... Nisa, menantu pertama keluarga Kartawijaya, bukan?" tanya Tuan Arie.
"Iya, benar."
"Aku dengar pesta ini dipersiapkan olehmu, kau sudah melakukannya dengan baik. Oh iya, aku ingat kalau kau pernah tenggelam saat acara pesta di kediamanku, aku minta maaf soal itu."
"T-tidak perlu meminta maaf, itu kecerobohan saya."
Sialan, itu kejadian memalukan. Aku kalah dari pelakor itu karena tidak bisa berenang. Aku tidak boleh membiarkan dia mengungkit soal hal ini lagi, pokoknya harus cari topik pembicaraan lain!
"Emm ... Anda sepertinya tidak terlalu menikmati pesta ini, adakah sesuatu yang membuat Anda merasa tidak nyaman?" tanya Nisa.
"Ya ... kau benar, tapi itu tidak berhubungan dengan pesta ini. Suasana hatiku sudah buruk sejak sebelum kemari."
"O-oh, begitu ya ..." Nisa tersenyum canggung.
Sial, aku harus tanya soal apa lagi biar tidak canggung? Ah, aku ingat satu hal! Pria bule bernama Roberto itu bilang jika Jonathan adalah anak dari Arie Cakrakumala. Saat itu Roberto bilang Jonathan menghilang, tapi nyatanya dia baik-baik saja. Sebaiknya tanyakan itu saja untuk sekadar basa-basi.
^^^*Note: Roberto pernah muncul di episode [Teman atau Musuh?, bab 128] ^^^
"Emm ... Tuan Arie, ngomong-ngomong bagaimana kabarnya Jonathan?"
"Kau kenal Jonathan?!" Tuan Arie terkesiap, dia menatap Nisa dengan tatapan tidak percaya.
"Kami berteman."
Tiba-tiba saja pria itu menarik dan menggenggam kedua tangan Nisa. "Bisakah kau membantuku?!"
__ADS_1
"E-eh ...?"