
Nisa langsung berlari ke arah Keyran dengan langkah riang, dia juga bergegas untuk duduk di sofa tepat di samping Keyran. Dan kemudian Nisa tiba-tiba memeluk erat Keyran serta mencium pipinya. Setelah Nisa melepas ciumannya, dia langsung meringis sambil berkata, "Kenapa darling memintaku kemari?"
Keyran ternganga dan ekspresinya menggambarkan rasa tidak percaya. Namun di sisi lain, Nisa terus menatapnya dengan tatapan yang polos seperti anak kecil. Keyran masih tetap tidak berkata apa pun, dan tiba-tiba saja Nisa memejamkan matanya kemudian bersandar di bahu Keyran. Nisa juga terlihat sangat menikmati posisi itu.
Nisa kemudian menarik tangan Keyran, lalu menggenggamnya seerat mungkin dengan mata yang masih tertutup. "Aku tahu alasan darling memanggilku... Darling pasti sangat merindukan aku. Itulah mengapa darling kehilangan fokus saat bekerja, dan kemudian memintaku kemari sebagai penghilang rindu. Aku benar kan?" tanya Nisa dengan nada manja sambil mencubit tangan Keyran yang dia genggam.
"Y-yaa... t-tentu saja..." jawab Keyran dengan senyum canggung.
Inikah akting yang kau maksud? Hampir saja aku terkena serangan jantung! Padahal tadi pagi kau masih menatapku dengan tatapan membunuh, tapi sekarang bisa-bisanya berbalik 180 derajat. Ini sedikit berlebihan, tapi tetap saja aku harus menemanimu bermain. Semoga saja ayah tidak menyadari kalau ini cuma sandiwara.
"Ya ampuunn... ternyata tidak bisa hidup tanpaku ya~" Nisa membuka matanya lalu tersenyum kepada Keyran. "Sebenarnya aku juga rindu pada darling, aku merindukanmu sebanyak 100 kali."
"Oh, benarkah? Saat bekerja aku juga merindukanmu, bahkan sampai sebanyak 200 kali. Sepertinya... masih cintaku yang lebih besar~"
"Haha... darling salah mengartikan maksudku, yang aku maksud 100 kali saat pagi, 100 kali saat siang, 100 kali saat sore, 100 kali saat malam, dan 100 kali lagi saat ingin tidur. Jadi cintaku yang lebih besar..."
"Hmmm.. mungkin kau merasakan rindu lebih banyak dariku. Tapi, rasa rinduku padamu sudah tak tertahankan lagi... karena itulah aku memintamu kemari~"
"Kalau memang sangat merindukan aku sampai tak tertahankan lagi, darling kan bisa mengajakku video call dulu... Jika seperti ini aku sedikit kerepotan, aku perlu menghabiskan banyak waktu untuk bersiap-siap. Aku ingin tampil cantik di depan darling, emmm... apakah sekarang aku cantik?"
"Istriku tentu saja selalu cantik, berpakaian seperti apa pun tetap cantik... Lebih cantik lagi jika tidak memakai apa pun~" ucap Keyran sambil mencubit pipi Nisa.
"Darling bisa saja... aku mana mungkin keluar rumah tanpa memakai apa pun. Tapi, jika di ruangan tertutup yang hanya ada kita berdua... aku bisa kok~ Seperti sekarang ini... Permintaan darling adalah perintah bagiku..."
"Cukup!! Hentikan kemesraan kalian!" bentak Tuan Muchtar dengan tatapan penuh kekesalan. Dia juga merasa tidak terima karena sudah diabaikan oleh anak dan menantunya. "Apa kalian pikir aku ini sebuah lukisan!?"
"Eh!? Aku baru sadar ternyata ada ayah mertua disini. Di mataku hanya terlihat Keyran seorang, aku tidak menyadari kehadiran ayah mertua. Jadi... maafkan aku ya?" ucap Nisa dengan tampang memelas.
"Sudahlah, sekarang semua orang sudah lengkap. Aku ingin membicarakan hal penting dengan kalian!" ucap tuan Muchtar dengan tatapan serius.
"Hal penting seperti apa?" tanya Nisa seolah-olah penasaran. Dan kemudian dia memandang ke arah Keyran.
Ini pertama kalinya ayah mertua menatapku dengan cara ini. Sementara Keyran... aku perhatikan dia sepertinya juga belum tahu dengan hal yang akan dibahas. Jangan-jangan ayah mertua sudah menyadari kalau data perusahaannya bocor! Ternyata aku sudah meremehkan rubah tua ini.
Dia juga menuntut kehadiranku, apakah dia menyadari kalau masalah ini ada hubungannya denganku? Tapi, bagaimana dia bisa menyadarinya? Padahal yang tahu tentang hal ini cuma aku dan ayah, jangan-jangan ayah keceplosan dan akhirnya ketahuan! Jika memang begitu, sebisa mungkin aku harus meyakinkan dia bahwa aku sama sekali nggak ada hubungannya dengan masalah ini.
"Sebelum membahasnya... aku perhatikan sepertinya ada yang aneh, terutama kau!" ucap tuan Muchtar sambil menunjuk ke arah Keyran.
"Aku?"
Jangan-jangan ayah sudah menyadari kalau ini cuma sandiwara! Padahal aku merasa aktingku sama bagusnya dengan Nisa, tapi kenapa dia hanya mencurigaiku?
"Sikapmu ini bertolak belakang dengan dirimu yang biasanya. Ketika berkunjung ke rumahmu waktu itu kau tidak bersikap seperti ini. Kau sendiri juga menyadari kehadiranku, bahkan jika kau sebegitu cintanya pada istrimu, apakah mungkin kau bersikap seperti ini?" tanya tuan Muchtar dengan tatapan curiga.
"S-soal itu... a-aku..." Keyran lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Nisa. Dia memberi isyarat agar Nisa yang menjawab pertanyaan dari ayahnya. Dia seperti itu karena masih bingung mencari alasan palsu untuk menipu ayahnya.
"Ayah mertua tidak peka sekali..." ucap Nisa dengan tampang cemberut.
"Maksudmu?" tanya Tuan Muchtar dengan wajah bingung.
"Ketika ayah mertua bertamu, memang saat itu sikap Keyran masih terkesan dingin. Tapi, tentu saja sekarang sudah berubah. Di antara kami sudah terjadi sesuatu..." Nisa lalu menundukkan kepalanya. "Hehe ayah mertua tahu sendiri lah..." Nisa kemudian menatap ke arah Keyran, "Aku benar kan darling?"
"Yaa.. itu benar sekali." Keyran lalu merangkul pundak Nisa dan kemudian mencium keningnya. "Sekarang ayah paham kan mengapa sikapku berubah? Sikapku ini juga hanya aku tunjukkan kepada istriku. Sekarang ayah bisa katakan alasan mengapa ayah ingin kami berkumpul! Aku masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama istriku."
"Oh, itu bagus sekali! Sekarang aku akan langsung mulai membahas tentang hal penting yang aku maksud. Tapi sebelumnya, keadaan perusahaan sedang baik-baik saja kan?" tanya tuan Muchtar pada Keyran.
Ternyata yang diceritakan oleh Valen benar, ini adalah suatu kemajuan yang besar! Aku tidak menyangka bahwa menantuku berhasil merubah sikap putraku secepat ini, akhirnya sekarang aku bisa lebih tenang.
"Keadaan perusahaan selalu stabil. Sepertinya ayah melupakan hal ini karena terlalu sering bermain golf. Dan untuk apa ayah menanyakan hal ini kepadaku?" tanya Keyran terheran-heran.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Lalu... menantuku, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya tuan Muchtar pada Nisa.
"Emmm... biasa saja, semuanya juga berjalan dengan baik. Kenapa ayah mertua mengajukan pertanyaan ini kepadaku?"
Apakah ada hal penting yang sudah aku lewatkan? Jika memang begitu, seharusnya aku nggak bolos hari ini.
"Hahaha... bagus.. bagus..! Semuanya sesuai dengan harapanku, aku ingin meminta kalian berdua melakukan sesuatu. Aku ingin kalian pergi berbulan madu!!"
"Bulan madu!?" ucap Keyran dan Nisa bersamaan.
"Iya, bulan madu! Kalian bisa menghabiskan beberapa minggu untuk bulan madu, tapi maksimal kalian hanya boleh pergi selama satu setengah bulan. Keyran adalah CEO perusahaan ini, tidak baik jika terlalu lama berlibur. Nah, rencananya kalian ingin pergi kemana? Ke luar negeri atau tetap ingin di dalam negeri?" ucap tuan Muchtar dengan antusias. Namun Keyran dan Nisa hanya ternganga, mereka berdua masih tidak percaya dengan hal yang barusan mereka dengar.
"Aku ingin kalian berdua segera membuatkan aku cucu! Laki-laki atau perempuan tidak masalah, kembar juga boleh. Yang penting cepat buat saja! Toh kalian berdua juga pengantin baru, wajar saja jika pergi bulan madu. Dan untukmu menantuku, urusan absensimu di kampus jangan dipikirkan. Aku yang akan mengurus semuanya! Aku sarankan kalian berdua segera mengemasi barang-barang kalian, berangkatlah hari ini juga!" ucap tuan Muchtar dengan nada memaksa.
Keyran dan Nisa masih belum memberikan tanggapan apa pun. Kemudian mereka memandang satu sama lain. Tak lama kemudian mereka berdua mulai berbisik, mereka berdiskusi tentang jawaban seperti apa yang harus mereka berikan kepada Tuan Muchtar yang sangat antusias.
"Key, apa kau sudah tahu tentang ini?" bisik Nisa.
"Jika aku tahu sudah pasti aku tidak akan memanggilmu kemari, sekarang bagaimana?" bisik Keyran.
"Aku nggak mau bulan madu, ini diluar kesepakatan kita tadi malam. Pokoknya kita harus menolak permintaan ayahmu ini!"
"Yaa.. kupikir berpura-pura mesra di depannya sudah cukup, ini juga di luar perkiraanku. Ayahku adalah orang yang sangat nekat, bagaimana caramu menolaknya?"
"Aku punya banyak alasan untuk menolaknya, tapi nanti kau harus bekerja sama denganku. Setiap pertanyaan yang aku tujukan padamu, kau harus mengiyakan semuanya, dan kau juga harus menjawabnya sambil tersenyum!"
"Baiklah, lakukan saja."
"Oke..."
Sialan, hanya demi sebuah coretan tanda tangan aku harus melakukan semua ini. Entah berapa banyak kebohongan yang sudah aku ciptakan, dan tentu saja kedepannya juga akan terus bertambah. Semoga saja ayah mertua bisa menerima alasan bodoh yang akan aku utarakan.
__ADS_1
Keyran dan Nisa lalu bersama-sama menatap tuan Muchtar dengan senyuman. Dan tentu saja tuan Muchtar sangat tidak sabar dengan jawaban yang akan diberikan oleh mereka. "Jadi... kalian berdua ingin pergi kemana?" tanya tuan Muchtar.
"Emmm... maaf membuat ayah mertua kecewa, aku dan Keyran tidak akan pergi ke mana pun. Kami menolak untuk berbulan madu!" ucap Nisa dengan nada sopan.
"Kenapa menolak?" tanya tuan Muchtar dengan ekspresi kecewa.
"Kami punya kesibukan masing-masing, mungkin keadaan perusahaan memang sangat stabil. Tapi tetap saja sebagai seorang CEO... Keyran pasti punya banyak sekali urusan penting yang harus dikerjakan. Aku benar kan darling?"
"Iya, akhir-akhir ini aku cukup disibukkan oleh urusan peluncuran produk baru. Soal bulan madu, sebaiknya dilakukan lain kali." Keyran lalu tersenyum ke arah Nisa, "Ternyata istriku mengerti betapa sibuknya diriku, sungguh perhatian sekali..."
"Tentu saja, aku ini istri yang penuh perhatian. Selain itu, aku sendiri juga punya kesibukan di kampus. Tugas yang diberikan oleh dosen sangat banyak, tentu saja aku tidak bisa mengabaikan hal itu. Ayah mertua pasti paham betapa pentingnya pendidikan, jadi tentu saja aku tidak bisa absen. Aku adalah orang yang tekun dan rajin, benar kan darling?"
"Iyaaa.. istriku sangaaatt rajin."
Tekun dan rajin pantatmu! Hobimu saja bolos kuliah, bahkan hari ini juga membolos. Ternyata kau memanfaatkan kesempatan ini untuk membuatku memberimu pujian secara tidak langsung. Sungguh licik~
"Apa kalian tidak mau memberikan aku cucu!? Padahal ini adalah permintaan yang mudah bagi kalian, ternyata kalian tidak sudi mengabulkan permintaanku ini!" ucap Tuan Muchtar seakan tidak terima.
"Ayah mertua salah paham, kami bukannya tidak mau membuatkan cucu untukmu. Kami berdua terhitung masih muda, jadi... sebaiknya tidak perlu terburu-buru membuat anak. Setidaknya kami harus menikmati masa muda kami, kami belum siap jika memiliki seorang anak. Iya kan darling?"
"Iya, benar apa yang dikatakan Nisa. Kami masih ingin menikmati hari-hari dimana hanya ada kami berdua saja. Kami belum siap jika harus mempunyai anak. Aku mohon mengertilah ayah..."
"Hng! Kalian ini... jika memang belum siap, kalian tetap harus memberikan aku cucu! Jika kalian berdua tidak ingin direpotkan, aku sendiri bisa mengurusnya menggantikan kalian! Jadi pergilah berbulan madu dan buatkan aku cucu!!" paksa tuan Muchtar.
"Ayah mertua... aku mohon bersabarlah sedikit lagi. Setelah wisuda aku pasti akan memberikan ayah mertua cucu, kecerdasan anak itu diturunkan oleh ibunya. Ayah mertua pasti tidak ingin cucu yang bodoh. Oleh sebab itu aku harus fokus pada pendidikanku dulu. Keyran juga paham soal ini, bahkan ide ini adalah saran yang diberikan olehnya." Nisa lalu melirik ke arah Keyran.
"Iya, yang dikatakan Nisa benar. Kami ingin memberikan cucu yang berkualitas untuk ayah. Jadi tolong bersabarlah sedikit lagi, tunggu Nisa menyelesaikan kuliahnya. Seandainya kami punya anak, Nisa masih harus memikirkan tentang kuliahnya, dan dia juga harus mengurus anak. Apakah ayah tidak kasihan padanya?"
"Tsk! Aku paham rasa perhatian yang kau miliki untuk istrimu, tapi kalian masih bisa memperkerjakan baby sitter. Selalu ada penyelesaian di setiap masalah. Jadi berhentilah membuat alasan menolak permintaanku!"
"Ayah mertua, aku punya pemikiran sendiri. Aku tidak ingin anakku nantinya diurus oleh orang lain, harus aku sendiri yang mengurusnya! Aku berjanji pada ayah mertua, setelah wisuda aku pasti membuatkan cucu untukmu! Ayah mertua bisa pegang kata-kataku hari ini!" ucap Nisa penuh keyakinan.
"Memangnya kapan kau wisuda? Jika itu masih lama tetap saja akan percuma..." keluh tuan Muchtar dengan tatapan kecewa.
"Tidak akan lama kok, aku mengikuti program fast-track, jadi waktu kuliahku cuma sebentar. Untuk masalah anak, ayah mertua tidak perlu terlalu cemas, aku dan Keyran juga sudah pernah membahasnya. Bahkan setiap malam kami selalu membicarakan mengenai hal ini. Benar kan darling?"
"I-iya..." jawab Keyran dengan senyum terpaksa.
Kita sama sekali belum pernah membahasnya! Istriku ini pintar sekali berakting, dunia berhutang piala oscar kepadamu. Semakin lama kebohongan yang kau ucapkan semakin mengerikan.
"Keyran menginginkan anak perempuan yang manis sepertiku, sedangkan aku ingin anak laki-laki yang mirip dengannya. Dan akhirnya kami memutuskan untuk berencana membuat sepasang anak kembar, yang satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan. Kami juga masih dalam proses, seandainya dalam fase ini kami sudah diberikan anugerah, kami juga akan menerimanya dengan senang hati. Bahkan setiap kali membahasnya, Keyran selalu tersipu malu." Nisa lalu mencubit pipi Keyran, "Mengaku saja darling~"
"He-hentikan!" Keyran lalu menahan tangan Nisa yang mencubit pipinya. "Jangan bahas ini di depan ayahku! Ini rahasia kita berdua..."
"Hehe... ayah mertua lihat sendiri kan? Sekarang ayah mertua tidak perlu mencemaskan apa pun. Hubungan kami selalu dipenuhi oleh kebahagiaan seperti ini, mungkin saja keinginan ayah mertua akan segera terwujud sebelum aku wisuda. Jadi tolong bersabar sedikit ya...?"
"Huft... baiklah, aku tidak akan memaksa kalian lagi. Namun tetap saja aku terus berharap kepada kalian." untuk sejenak tuan Muchtar terdiam, dan kemudian berkata, "Jika kalian tidak ingin bulan madu, setidaknya kalian bisa menginap beberapa hari di kediaman utama. Apa kalian juga akan menolaknya?" tanya tuan Muchtar dengan tatapan sinis.
"Aku tidak punya alasan khusus, hanya saja setelah kalian menikah, kalian belum pernah menginjakkan kaki di sana. Aku sebagai orang tua merasa bahwa kalian berdua setidaknya sekali-kali harus berkunjung. Dan untuk menantuku, bukankah kau ingin menyapa ibu mertuamu dan adik iparmu?"
"Ah!? T-tentu aku ingin, tapi selama ini Keyran belum pernah mengajakku untuk berkunjung ke sana. Sebenarnya... aku tidak berani berkunjung seorang diri. Jadi aku tidak kesana karena masih bergantung pada Keyran..."
Nisa lalu melirik ke arah Keyran. Namun dia bermaksud menyampaikan isyarat bahwa dia tidak ingin berkunjung. Menyadari hal itu, Keyran lalu berkata, "Baiklah, nanti aku dan Nisa akan menginap di sana." Seketika Nisa terkejut dengan jawaban Keyran, namun dia hanya diam dan berpura-pura setuju.
"Nah, seharusnya kalian menjadi penurut seperti ini. Yang ingin aku sampaikan semuanya sudah aku katakan. Urusanku sudah selesai, sekarang aku akan pergi. Kalian bisa lanjutkan kemesraan yang sempat tertunda tadi!"
Tuan Muchtar lalu berdiri dan kemudian pergi meninggalkan ruangan. Tak lama kemudian Keyran dan Nisa hanya saling menatap satu sama lain. Nisa juga bergeser sedikit menjauh dari Keyran.
"Huft... akhirnya aku bisa bernapas lega! Kesepakatan kita akhirnya sudah berakhir." ucap Nisa dengan tampang penuh kepuasan.
"Berakhir? Dalam mimpimu! Yang aku maksud itu kau harus berpura-pura di depan ayahku bukan hanya sekali, tapi seterusnya!"
"Ini nggak adil! Aku cuma meminta tanda tanganmu satu kali, tapi kenapa syarat yang kau ajukan berlaku seterusnya!?" ucap Nisa seakan tidak terima.
"Apa kau pikir tanda tanganku itu murah? Aku juga terpaksa menandatangani laporan palsu milikmu. Secara hukum statusmu itu masih menjadi sekretarisku! Bahkan seharusnya kau itu terkena denda penalti karena melanggar kontrak kerja!"
"Yaa.. ya... denda saja aku, suamiku yang akan membayarnya! Toh semua uangku juga diberikan olehnya, kau minta saja dia yang membayar denda!"
"Kau ini... percuma saja aku berdebat denganmu. Ngomong-ngomong kenapa tadi kau seperti tidak mau berkunjung ke rumah ayahku?"
"Humph! Aku pikir nggak peka, ternyata kau paham juga isyaratku. Kau sudah tahu kalau aku nggak mau menginap disana, tapi kenapa malah setuju?"
"Aku setuju karena merasa tidak enak jika terus membangkang ayahku. Kau belum menjawab pertanyaanku soal kenapa tidak mau menginap, sebenarnya kau keberatan soal apa?"
"Aku nggak keberatan soal apa pun, hanya saja... aku sedikit gugup saat membayangkan bagaimana ketika bertemu dengan ibu mertua. Ibumu itu orang seperti apa? Apa dia galak?"
"Tsk! Jangan katakan itu lagi, dia bukan ibuku! Aku sama sekali tidak punya hubungan dengannya! Kau tidak perlu mencemaskan apa pun saat berhadapan dengannya, anggap saja dia tidak pernah ada!" ucap Keyran penuh penekanan.
"O-oke..."
Keyran sensitif sekali saat membahas sesuatu yang berhubungan dengan ibunya. Mungkin saja dia punya kenangan buruk tentang itu. Saat itu dia juga bilang kalau ibunya sudah meninggal.
"Nisa, kenapa kau merasa gugup? Selama ini kau selalu bersikap seenaknya, aku sedikit penasaran tentang itu."
"Oh, bukan hal serius sih... Aku sedikit gugup karena pernah mendengar cerita dari ibuku, ibuku bilang dia pernah menangis gara-gara berurusan dengan nenekku. Saat aku bertanya tentang masalah apa, ibuku nggak mau menjawabnya. Dia bilang suatu saat aku pasti akan mengalaminya sendiri, karena itu aku sedikit gugup..."
"Mengingat sifatmu ini... aku berani menjamin kalau kau tidak akan pernah menangis. Tapi, saat berada di kediaman utama nanti... sebaiknya kau sedikit menjaga jarak dengannya, dengan Daniel juga!"
Karena kau itu adalah istriku, aku tidak ingin pikiranmu diracuni oleh mereka. Jika itu sampai terjadi, mungkin saja kau akan menjadi ancaman terbesarku.
"Baiklah, toh pada dasarnya aku juga sedikit kurang suka dengan perawakan mereka. Kau tenang saja..." ucap Nisa sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku paham maksudmu, orang-orang dari kalangan konglomerat seperti kalian memang seperti ini. Selalu ada konflik internal di setiap keluarga, sangat disayangkan... ternyata aku sudah termasuk ke dalam lingkaran ini.
"Apa benar kau bisa diandalkan? Aku ragu..." ucap Keyran dengan tatapan meremehkan.
"Tentu saja aku bisa diandalkan! Selain disuruh mencari kitab suci, aku bisa melakukan apa pun. Aku bisa membuktikannya!"
"Oh, kalau begitu buktikan padaku. Buktikan kalau kau bisa membuat secangkir kopi yang enak..."
"Heh! Kalau mau kopi ya tinggal bilang saja. Memangnya gengsimu itu setinggi apa sih?"
"Tolong buatkan ya, istriku yang tekun dan rajin~" ejek Keyran dengan senyum licik.
"Jangan mengejekku, aku ini pemalas nomor satu. Lagipula aku masih punya dendam denganmu karena masalah semalam. Jadi memohonlah dengan cara yang benar!"
"Apakah masih terasa sakit?"
"Sudah sembuh kok, hanya saja aku masih nggak terima saat kau menertawakan aku."
"Aku menertawakanmu karena saat itu kau sangat lucu, jadi jangan salahkan aku jika tertawa..."
"Lucu katamu!? Apakah melihat istrimu terjungkal dari ranjang itu sangat lucu!? Kau melempar bantal kepadaku sekuat tenaga hingga aku terjatuh, dimanakah harga dirimu sebagai seorang pria?"
"Hei hei, jangan bawa-bawa harga diri. Kau sendiri yang membuatku kehilangan kesabaran. Kau mengejekku banci karena tidak berani bersungguh-sungguh melawanmu, tapi saat aku bersungguh-sungguh ternyata kau langsung kalah. Seharusnya kau berterimakasih karena aku masih mau menolongmu. Sekarang cepat buatkan kopi untukku!"
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika semua kopi yang ada di pantry sudah kedaluwarsa, rasanya pasti bertambah nikmat~" Nisa lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan.
...Beberapa saat kemudian, Pantry...
...••••••...
Saat Nisa berada di pantry, semua pandangan langsung tertuju kepadanya. Orang-orang itu mulai saling berbisik dan ada juga yang mencibir Nisa. Tapi, melihat hal itu Nisa merasa biasa saja, seolah-olah sama sekali tidak pernah menganggap penting keberadaan mereka. Bahkan dia bisa bersikap tenang saat sedang membuat kopi untuk suaminya.
"Hmmm..." gumam Nisa.
Kenapa aku merasa kalau ini deja vu? Sepertinya aku pernah berada di situasi seperti ini, tapi... rasanya ada sesuatu yang kurang.
Semakin lama semakin banyak suara-suara tidak enak yang didengar oleh Nisa. Dan tiba-tiba datanglah seseorang yang punya dendam pribadi dengan Nisa, orang itu adalah Rachel, seseorang dengan jabatan sebagai manajer yang pernah diperlukan oleh Nisa. Dia berniat ingin membalaskan dendamnya. Orang yang menonton juga mulai mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam momen ini.
"Cewek murahan! Cara kotor apa yang kau pakai agar bisa menikah dengan pak CEO!? Kau pasti menggunakan ilmu hitam kepadanya!" teriak Rachel dengan semangat yang menggebu-gebu.
"..." Nisa hanya diam dan melihat Rachel dari atas sampai bawah.
Ohh, ternyata ini yang kurang. Sekarang ini benaran deja vu. Sebenarnya salahku ke dia apa sih? Bisa-bisanya setiap ke pantry orang ini selalu cari gara-gara. Sebaiknya aku berikan pelajaran yang bagus agar dia kapok.
"Dasar licik! Awalnya kau hanya seorang sekretaris, tapi sekarang kau sudah menjadi istri dari CEO. Apa di rumahmu tidak ada cermin!? Seharusnya kau berkaca dulu apakah kau itu pantas untuknya! Banyak orang di dunia ini yang lebih baik darimu! Aku salut kau masih berani untuk menampakkan diri!"
"Anu... sebaiknya tutup mulutmu sekarang juga," ucap Nisa dengan nada sopan.
"Kenapa hah!? Apa kau pikir aku takut kepadamu!? Meskipun kau adalah istrinya CEO tapi kau tidak berhak memecatku! Statusmu sekarang ini pasti kau dapatkan dengan menjual diri! Sungguh murahan, atas nama seluruh wanita aku akan mengadilimu hari ini! Lihatlah sekitarmu, video ini akan cepat tersebar dan reputasimu akan segera hancur!"
"Kakak yang tidak sabaran, tutup mulutmu!"
"Apa hanya itu yang bisa kau katakan!? Aku beritahu ya, apa pun ancamanmu aku tidak akan takut!"
"Bukan, kau harus menutup mulutmu, ini saran bukan ancaman. Apa kau ingin dipermalukan?"
"Dipermalukan? Yang akan dipermalukan adalah dirimu sendiri!!"
"Hei, cepat tutup mulutmu. Di gigimu ada cabai yang menempel, dan..." Nisa lalu mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajah. "Nafasmu itu sangat bau, seperti nafas naga! Cepat sikat gigi sana!"
"A-apa...?" Rachel seketika menutup mulutnya.
Orang-orang yang ada di pantry semuanya menertawakan Rachel, dan teman-teman Rachel yang sebelumnya ingin mempermalukan Nisa juga langsung menghapus video di ponsel miliknya.
"Iiiihhh... dasar jorok!" Nisa lalu berjalan melewati Rachel dan bergegas meninggalkan pantry sambil membawa secangkir kopi yang sudah dia buat.
**
Saat kembali ke ruangan Keyran, Nisa langsung menyerahkan kopi itu kepadanya. Dia kemudian duduk di sofa yang berada di samping Keyran. Namun wajah Nisa terlihat sangat masam, melihat hal itu Keyran langsung berkata, "Kau kenapa? Apa tidak ada kopi yang kedaluwarsa di pantry?"
"Huh! Bukan urusanmu! Apa aku sudah boleh pulang?"
"Kau bisa pulang, tapi nanti kau harus berangkat ke kediaman utama sendirian. Karena setelah selesai kerja, aku akan langsung menuju kesana."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Duduk disini sepanjang hari dan memandangimu? Itu sangat membosankan..."
"Kenapa? Memandangi pria tampan sepertiku itu adalah sebuah anugerah. Kalau kau masih merasa bosan... kau bisa membantuku menyusun beberapa dokumen penting."
"Cih, aku nggak mau. Mending aku lanjut pushrank!" Nisa langsung bermain game di ponselnya.
"Ckck... manusia macam apa kau ini?" ucap Keyran sambil geleng-geleng kepala.
"Diamlah! Kau itu manusia biasa, CEO yang gila kerja sepertimu nggak tahu betapa serunya bermain game! Lanjutkan saja pekerjaanmu, jangan ganggu aku!"
"Yang ada kau itu yang mengganggu, pelankan sedikit volume ponselmu!"
"Iya iya... dasar pria sempurna!"
"Heh, dasar istri yang tekun dan rajin..."
Rajin membuat masalah.
__ADS_1