Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Kehilangan Kepercayaan


__ADS_3

"Enyah!"


Satu kata yang diucapkan oleh Keyran itu seakan-akan membuat dunia Nisa menjadi runtuh. Tanpa memedulikan apa pun lagi, Keyran langsung bergegas pergi dari paviliun itu dan tak sekalipun menoleh ke belakang.


Semua orang yang menonton pun satu persatu juga pergi, apalagi para wartawan yang buru-buru pergi untuk segera memuat berita panas ini ke media masing-masing.


Sedangkan Nisa, dia yang saat ini hanya seorang diri masih membeku di sana. Tubuhnya gemetar, dia menangis hingga air matanya membasahi selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kenapa ... kenapa kau tak mempercayaiku? Bukankah kau mencintaiku?" gumamnya yang diiringi oleh isak tangisan.


***


Hari berganti, sebuah berita panas yang dimuat di berbagai media massa telah mengejutkan banyak orang pagi ini. Yang menjadi trending topik bukanlah berita tentang meriahnya sebuah acara hari jadi perusahaan ternama, melainkan sebuah berita perselingkuhan yang dilakukan bersama dengan ipar.


KEBENARAN MENGEJUTKAN! VIDEO ASLI PERSELINGKUHAN KONGLOMERAT!


Hal itu seolah-olah menjadi headline dari berita yang sedang heboh saat ini. Berbagai komunitas yang aktif di dunia maya saling berbagi video itu. Artikel-artikel yang disertai dengan link itu menyebar, sehingga membuat hal ini semakin terkenal.


Pagi hari ini banyak sekali para wartawan yang berkerumun di depan gerbang kediaman Kartawijaya. Mereka semua berharap akan mendapatkan keterangan lebih lanjut demi membuat berita ini semakin heboh di masyarakat.


Tuan Muchtar mengambil tindakan tegas dengan menyuruh para pengawal di kediaman itu mengusir para wartawan itu. Tetapi, jagat maya kembali dihebohkan dengan sebuah postingan. Natasha memberikan semua keterangan menurut sudut pandangnya seperti yang orang-orang inginkan, dia menuliskan hal itu secara rinci di blog pribadinya sendiri.


Postingan itu menjadi viral, banyak mendapatkan perhatian dan balasan komentar dari orang-orang. Tentu saja kebanyakan dari mereka turut merasa prihatin dengan Natasha, tidak sedikit juga yang mengecam perbuatan Nisa dan bahkan mengutuk dirinya.


Namun, pagi ini tak satu pun orang yang berada di kediaman mengetahui di mana Nisa berada. Seakan-akan Nisa telah menghilang entah ke mana sejak semalam. Tetapi mereka semua tak ada yang peduli, lantaran sudah merasa jijik dengan apa yang telah Nisa perbuat yang kini berakibat mencemarkan nama baik mereka.


Keluarga Nisa sendiri pun tak terkecuali, mereka merasakan rasa malu yang lebih besar, apalagi saat ada orang yang mencibir bahwa mereka sebagai orang tua tidak becus dalam mendidik anak. Reihan dan Dimas juga sama saja, mereka berdua sengaja tidak masuk sekolah karena tak mau ditanyai seputar Nisa yang kini seperti telah menjadi aib memalukan bagi mereka.


Saat ini situasi di universitas tempat Nisa kuliah sedang sangat heboh. Mereka yang satu angkatan dan mengenal Nisa merasa tidak menyangka bahwa sosok seperti Nisa akan melakukan hal serendah itu. Kedua teman dekatnya yaitu Jenny dan Risma menjadi sasaran semua orang, orang-orang bahkan sampai pihak universitas sendiri juga turut menanyakan soal Nisa kepada mereka berdua.


Beberapa orang gadis yang pernah satu geng dengan Natasha berjalan di koridor, mereka memasang raut wajah sinis kepada kedua teman Nisa yang baru saja keluar dari ruangan dosen.


"Wah-wah ... jangan-jangan mereka berdua sama busuknya dengan Nisa Sania~" sindirnya yang sontak saja membuat semua mahasiswa yang berada di dekat sana menjadi terdiam, mereka semua berhenti melakukan aktivitasnya dan malah memperhatikan orang-orang yang mencari perhatian itu.


"Haha, yang satu sekarang bau busuknya baru tercium, yang satunya lagi pernah kabur dari rumah sampai heboh, lalu yang terakhir terkenal jadi tukang gonta-ganti pacar. Ckck, memang dasarnya mereka bertiga semuanya orang bermasalah!" Celetuk seorang gadis lainnya lagi.


Sedangkan kedua teman Nisa itu hanya diam, mereka sebenarnya muak tetapi mereka tak bisa membantah jika Nisa memang benar adalah teman akrab mereka.


"Tutup mulut kalian yang kotor itu!" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di koridor, dia berjalan tergesa-gesa menghampiri beberapa mahasiswi itu. Orang tersebut tidak lain adalah Nisa sendiri.


Sontak saja semua orang kaget dengan kedatangan Nisa ke kampus yang tiba-tiba seperti ini. Mereka tidak habis pikir jika Nisa masih punya keberanian untuk memperlihatkan wajahnya di hadapan umum. Banyak juga dari mereka yang tak melewatkan kesempatan ini, mereka mengeluarkan ponselnya lalu sibuk merekam dan mengambil gambar, berharap akan terjadi sesuatu yang menarik untuk disebar luaskan.


Sekilas Nisa menatap Jenny dan Risma, kemudian dia beralih menatap sinis kepada mahasiswi lain yang sempat mencibirnya.


"Cukup! Kalian semua tak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Jadi berhentilah bicara yang tidak-tidak tentangku maupun tentang temanku!" bentak Nisa.


Salah satu gadis itu menyeringai, dia bersedekap seolah-olah ingin menantang Nisa. "Heh, sepertinya urat malumu itu sudah putus ya. Dasar pelakor, bisa-bisanya selingkuh dengan ipar sendiri."


Seorang gadis lain pun mengikuti gaya temannya. "Benar, gara-gara orang semacam kau ini jadinya kampus kita dicap buruk! Dasar tidak tahu malu, sampah masyarakat sepertimu itu harusnya dibuang di tempat yang sepantasnya!"


"Terserah jika kalian mau bicara buruk tentangku! Lagi pula komentar dari orang rendahan seperti kalian tak berarti apa pun bagiku! Tapi jangan-jangan sekali-kali kalian menyeret nama teman-temanku! Mereka tak ada hubungannya dalam hal ini!" teriak Nisa yang membuat semua orang melongo.


Mereka semua tidak habis pikir jika Nisa tidak mencari pembelaan untuknya sendiri, tetapi malah memperingatkan orang-orang agar jangan mengganggu temannya.


Namun, di tengah keheningan itu tiba-tiba saja Jenny dan Risma mendekat ke arah Nisa. Ekspresi yang ditunjukkan oleh mereka berdua terlihat gugup, sesekali mereka berdua saling melirik untuk bersiap mengatakan sesuatu.


"Kalian kenapa?" tanya Nisa.


Jenny yang tampak gugup lalu berkata, "Maaf ...."


"Maaf kenapa?" tanya Nisa kebingungan.


Jenny tak menjawab, dan kemudian Risma pun berkata, "Kita mau terima kasih soal semua bantuan yang sudah pernah kamu lakukan buat kita. Tapi maaf ... sepertinya pertemanan kita cukup sampai di sini."


"Aku sama Jenny dikritik dan dibully habis-habisan, biarpun baru sehari ini ... tapi kita berdua juga nggak kuat lagi terus-terusan dapat komentar jahat. K-kita berdua mau cari aman ... kita harap kamu bisa ngerti, San ..." lanjut Isma lagi.


Nisa kehilangan kata-kata, dia sama sekali tidak tahu harus berkata apa sekarang. Teman yang sudah dia bela ternyata sekarang malah berbalik memutuskan hubungan dengannya. Teman yang sudah kerap kali dia bantu kini mengabaikan dirinya.

__ADS_1


Kedua orang itu berbalik dan meninggalkan Nisa yang masih mematung di sana. Tetapi sekejap kemudian tiba-tiba mahasiswa lain bersorak, "Huuu ... perempuan sampah!"


"Mati saja sana! Hidup juga nggak guna!"


"Tukang selingkuh! Pelakor jelek!"


Kerumunan orang yang bersorak dan mencaci Nisa kian bertambah banyak, bahkan kini orang-orang itu mulai melemparinya dengan bola kertas dan benda-benda lainnya.


"Sok cantik lo! Video 25 detik lo tuh viral!"


"Cewek nggak punya hati! Pikirin tuh suami lo!"


"Baik pencitraan doang! Aslinya bau bangkai!"


"Cukup! Kalian semua hentikan sekarang juga!" Seorang pemuda tiba-tiba datang dan berdiri di depan Nisa, dia menghadang benda-benda yang dilemparkan ke arah Nisa.


Benar saja, seketika semua orang langsung berhenti melempari Nisa karena kedatangan pemuda itu. "Bubar!"


Nisa mendongak, dia melihat pemuda itu memakai almamater yang tampak tidak asing lagi baginya. "Terry?" tanya Nisa dengan tidak percaya. Dia sulit mempercayai bahwa seorang ketua komisi kedisiplinan yang juga merupakan musuhnya malah menolongnya.


Terry kemudian berbalik dan menatap Nisa yang saat ini tampak menyedihkan. "Ya, ini aku. Kau baik-baik saja?"


Nisa menggelengkan kepala.


"Sini, ikut aku!" Terry menarik tangan Nisa lalu menyeretnya untuk ke suatu tempat. Baru melangkah beberapa langkah saja mereka berpapasan dengan Jenny dan Isma.


Tiba-tiba Terry berhenti melangkah saat melihat pacarnya yaitu Isma berada di sana. Dengan penuh penekanan dia lalu berkata, "Kita putus!"


"A-apa?!" Isma terkesiap. Bahkan semua orang yang mendengar itu pun juga ikut kaget dengan ajakan putus yang tiba-tiba seperti ini.


"Tunggu Terry! Kenapa kita harus putus?! Apa ini gara-gara aku yang selalu mengajakmu lebih serius buat menikah?"


"Bukan, aku cuma mau berkata yang sejujurnya sekarang. Aku pacaran denganmu bukan karena suka, tapi aku mau mengorek informasi soal Nisa lebih banyak darimu. Tapi sekarang sudah begini, jadi aku mengajakmu putus, lagi pula percuma juga terus pacaran denganmu," ucap Terry dengan enteng.


"J-jadi selama ini kamu cuma manfaatin aku?!"


"Ayo Nisa, ikut aku!" Terry berlanjut menyeret Nisa bersamanya. Dia sama sekali tidak peduli pada orang-orang yang berkata apa pun tentangnya di belakang.


***


Tempat yang Terry tuju adalah taman yang berada di belakang kampus. Tempat itu saat ini cukup sepi, hanya ada Terry dan Nisa saja yang kini duduk bersebelahan di sebuah bangku yang sama.


Sejak tadi Nisa tak berkata apa-apa, dia hanya menunduk dan memasang senyum pahit. Dan sekarang tiba-tiba saja dia berkata, "Kenapa kau menolongku? Bukankah kita ini musuh?"


"Menolongmu itu sudah jadi tugasku yang bertanggung jawab memastikan ketertiban di universitas ini. Dan soal musuh atau bukan, lagi pula kita bermusuhan cuma sebatas di bidang akademik. Dan alasan utama tentu saja kau yang selalu menyusahkanku karena sering membuat masalah. Sekarang sebenarnya kau juga menyusahkanku. Tapi apa pun itu, apa masalahnya jika aku yang menolongmu?"


Sekilas Nisa melirik Terry, lalu dia tersenyum pahit. "Bukan apa-apa, aku cuma merasa miris dengan semua ini."


Terry menghela napas, dia lalu memalingkan wajahnya dan menatap ke depan, ke arah yang sama seperti yang ditatap oleh Nisa. "Katakan saja apa yang ingin kau katakan, aku akan mendengarkan lalu akan aku lupakan besok. Jadi kau bisa bicara dengan nyaman."


"Baiklah, tapi sebelum itu aku mau bertanya satu hal. Apa kau tidak merasa jijik denganku?"


"Untuk apa jijik? Aku tahu jika semua berita ataupun video perselingkuhan itu cuma bohongan. Kau pasti dijebak oleh Natasha."


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Hahh ... itu mudah saja ditebak olehku. Sejak masa orientasi dulu saja kalian sudah sering berselisih, dan itu tetap tidak berubah meskipun sudah lama, lalu makin panas saat kalian berebut senior Ricky. Keributan yang kalian berdua ciptakan sudah cukup membuatku pusing. Dan sekarang kalian malah jadi ipar, justru aneh jika kalian bisa akur."


"Begitu ya, tetap saja aku masih tidak menyangka."


"Soal apa?" tanya Terry.


"Kejadian ini ... memang salahku karena lengah dan akhirnya bisa dijebak. Tapi akhirnya ini membuka mataku, akhirnya aku bisa melihat siapa yang benar-benar percaya padaku. Orang tua dan keluarga sendiri pergi, lalu suamiku menginginkan agar aku enyah, dan sekarang teman-temanku memutuskan hubungan denganku. Aku kehilangan kepercayaan dari semua orang yang aku anggap penting. Tapi ... kau yang selalu aku anggap menyebalkan, malah jadi orang yang pertama kali peduli dan menolongku. Bukankah ini lucu?"


"...." Terry membisu, dia sama sekali tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur Nisa.


"Kau mungkin menganggapku sebagai orang bodoh yang nekat, tapi aku akui jika itu benar. Padahal sebelumnya aku mengambil tanggung jawab mengurus pesta itu untuk mendapatkan kepercayaan semua orang, tapi sekarang aku dikucilkan dan dianggap sebagai sampah yang tak pantas berada di mana pun."

__ADS_1


"Lalu ... kau mau ke mana setelah ini?" tanya Terry.


Sebenarnya aku kasihan, tapi jika aku mengajaknya untuk menginap di rumahku juga akan jadi sebuah kesalahan. Aku tak mau keluarga Bachtiar juga terlibat, bisa-bisa nanti ayah marah.


Nisa tersenyum tipis. "Memangnya mau ke mana lagi? Tentu saja pergi ke satu-satunya tempat yang akan selalu menerimaku."


"Ke mana? Ke pemakaman? Kau berencana bunuh diri?!"


"Sembarangan! Aku tidak berencana mati dalam waktu dekat ini! Tapi jika aku benar-benar berniat begitu, kau jangan mencegahku!"


"Tidak, aku akan memberikan saran agar kematianmu jadi inovasi baru! Gantung diri itu terlalu klasik, kau bisa minum cairan pembersih lantai, menyetrika muka, berjemur di rel kereta atau atraksi lompat indah dari pesawat, pokoknya banyak yang bisa kau coba!"


"Pffttt ... hahaha, sekarang aku yakin kalau kau benar-benar musuhku!"


"Hei, kenapa kau malah tertawa?"


"Karena bercandamu jelek! Oh iya, ngomong-ngomong setelah ini kau mau apa? Langsung jadi ahli waris perusahaan keluargamu?"


"Aku berencana untuk lanjut studi, tetapi di luar negeri. Kalau kau bagaimana?"


"Aku mau langsung lulus, dan jika memungkinkan aku ingin membuka toko roti. Jika itu terjadi maka mampirlah, akan aku berikan gratis untukmu!"


"Heh, pasti di dalamnya ada racun!"


"Haha, tepat! Persis seperti yang aku alami semalam! Eh ... ups!" Nisa langsung membungkam mulutnya sendiri.


"Apa? Jadi kau dijebak lewat roti?!" tanya Terry.


Sejenak Nisa terdiam, tetapi dia berpikir jika itu percuma karena mengingat bahwa Terry bukanlah orang yang mudah dibodohi. "Begitulah, aku tidak sadar karena obat tidur itu tak berasa dan ditaburkan bercampur dengan gula halus. Semuanya dilakukan dengan sangat rapi."


"Haha ... aku ceroboh, kan? Ngomong-ngomong aku punya ide gila, ayo nanti kita jodohkan anak-anak kita!"


"Hei, aku baru saja putus belum ada setengah jam, lagi pula dalam beberapa tahun ke depan aku masih mau melajang." Terry menatap heran.


"Berarti posisi kita sama."


"Kau itu kan sudah menikah, lajang dari mana?"


Nisa menunduk. "Kau tahu ... situasinya sudah seperti ini, tidak menutup kemungkinan jika aku akan berpisah dengan suamiku. Meskipun aku tak mau, tapi aku bisa apa? Lagi pula dia tak mempercayaiku."


Nisa mendadak beranjak dari bangku. "Ah sudahlah! Terima kasih sudah membantuku hari ini. Aku berhutang budi padamu, sebagai gantinya aku tidak akan lagi memanggilmu petugas babi!"


"Ya, sama-sama ... kau jangan diam saja jika dilempari sampah!"


"Haha, tidak akan! Lain kali akan kubunuh mereka!"


"Dasar gila!"


...Pada saat yang sama, HW Group...


...•••••...


Valen tampak tergesa-gesa memasuki ruangan Keyran. Dia terlihat panik sambil terus menggenggam ponselnya.


"Tuan, gawat! Ada berita buruk tentang nyonya!"


"Ck, dia selingkuh. Apa berita itu bisa lebih buruk lagi?" tanya Keyran seakan tak tertarik.


"Tapi ini sangat buruk, dan berita ini berbeda!"


"Kalau begitu coba kulihat."


Valen lalu menyerahkan ponselnya untuk memperlihatkan berita yang dia maksud. Berita itu juga menyertakan video soal Nisa yang dilempari kertas ketika di kampus, hingga saat dirinya ditolong oleh Terry.


Keyran yang melihat itu semua kini menjadi salah paham lagi jika ada sesuatu di antara Nisa dan Terry. Bahkan orang-orang yang berkomentar di blog berita itu tak terkecuali.


"Nisa ... Nisa ... Aku tak tahu jalan pikiranmu."

__ADS_1


__ADS_2