
Waktu berlalu dengan cepat, dan tibalah malam hari. Keyran yang sudah selesai dengan pekerjaan di kantor akhirnya pulang ke rumahnya. Dia langsung membersihkan diri dan setelah itu turun untuk makan malam. Namun anehnya hingga dia selesai makan, dia sama sekali tidak melihat keberadaan Nisa.
Nisa biasanya tidak pernah ketinggalan acara yang berhubungan makanan, oleh sebab itu Keyran merasa ada hal aneh yang sedang terjadi. Namun dia sudah cukup mengenal sifat Nisa, dia berpikir bahwa Nisa belum pulang dan masih keluyuran di luar.
Melihat tuannya sudah selesai makan, bibi Rinn lalu membereskan meja makan. Dan kemudian bibi Rinn berkata, "Apa yang sedang tuan pikiran? Apakah tuan mencari nyonya?"
"Tidak, aku sudah tahu kalau dia pasti masih keluyuran di luar." ucap Keyran dengan nada malas.
"Tuan salah, nyonya sejak tadi sore sudah pulang. Nyonya sudah bilang kalau beliau tidak ingin makan, katanya sedang puasa."
"Heh! Baguslah jika dia memang tidak ingin makan." Keyran lalu berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan.
"..." setelah melihat Keyran pergi, bibi Rinn hanya diam dan kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
Ya Tuhan... satukanlah tuan dan nyonya, semoga masalah di antara mereka cepat selesai. Jika seperti ini terus, aku sebagai pelayan di rumah ini pasti bertambah repot sekaligus merasa tertekan.
Setelah meninggalkan ruang makan, Keyran teringat bahwa ada pekerjaan yang masih harus dikerjakan. Dia kemudian masuk ruang kerjanya, dan dia dikejutkan oleh Nisa yang ternyata sedang belajar.
Nisa juga terkejut saat melihat Keyran yang tiba-tiba masuk. Pandangan mata mereka bertemu dan keduanya juga tidak mengatakan apa pun, karena suasana canggung masih ada di antara mereka. Seketika Nisa langsung memalingkan pandangannya dan kemudian melanjutkan belajar. Sementara itu Keyran juga bergegas menuju ke mejanya dan memulai aktivitasnya sendiri.
Selama mereka berdua melakukan aktivitasnya masing-masing, mereka berulang kali saling melirik satu sama lain. Sebenarnya mereka berdua tahu kalau sedang diperhatikan, namun keduanya masih enggan untuk berbicara.
"Hadeehh..." ucap Nisa sambil membolak-balik halaman berkas yang sedang dia pegang.
Nasib... nasib... punya suami kok tukang ngambek. Keyran berulang kali melirik ke arahku, dan itu terasa sangat mengganggu.
Di sisi lain Keyran merasa tidak terlalu suka dengan kehadiran Nisa. Namun dia tetap berusaha untuk fokus pada pekerjaannya, "Tidak berguna..." ucap Keyran seolah-olah menyindir.
Ini cukup aneh, Nisa mendadak punya kemauan untuk belajar. Tapi, aku cukup puas melihatnya seperti ini. Dari tadi dia terlihat kesal dengan kertas-kertas yang dia pegang itu, mungkin dia kewalahan mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk. Itu salahmu sendiri, siapa suruh kau sering membolos!
"Hah..." Nisa menghela napas lalu termenung sembari menatap kertas itu cukup lama.
Jonathan, laporan yang telah kamu buatkan itu bukan yang akan aku kumpulkan. Aku tetap memilih HW Group sebagai objekku, karena aku sudah menjanjikan HW kepada Terry. Dan jika aku menggantinya dengan SR Company, maka Terry pasti akan menaruh curiga padaku. Lagipula aku juga nggak ada hubungannya dengan SR Company, dan nggak ada bukti aku pernah berada di sana.
Aku sudah membuat laporan lainnya mengenai HW Group, tapi laporan yang dibuat Jonathan juga ada gunanya. Aku bisa mengorek informasi penting tentang SR Company, dan mungkin saja nanti akan berguna, entah kedepannya akan menjadi sekutu ataupun saingan.
Informasi yang aku dapat dari Ivan mengatakan kalau Jonathan bukanlah warga negara ini, tapi dia tahu informasi mendetail dari SR Company. Sementara... perusahaan besar itu dibuat oleh warga lokal, dan pemilik perusahaan itu juga berasal dari keluarga yang berpengaruh. Apa Jonathan punya hubungan dengan keluarga itu?
Saat itu Jonathan dengan mudahnya membunuh orang-orang itu, bahkan dia terlihat seperti sudah sering melakukannya. Dia orangnya tertutup dan mengaku kalau pengangguran, tapi dia terus saja punya uang dan semua barangnya bermerek. Dia punya keahlian dan juga pintar, kemungkinan besar dia adalah seorang pembunuh bayaran! Tapi, kenapa dia mendekatiku? Apakah mungkin aku adalah salah satu targetnya?
Cara Jonathan bertemu denganku seperti bukan kebetulan, dia juga bisa tahu dimana kampusku berada, padahal aku belum pernah cerita. Mungkin saja dia sudah menyelidiki tentangku, sebaiknya aku sedikit berjaga-jaga saat bersamanya. Karena belum sepenuhnya tahu kemampuan Jonathan, kemungkinanku menang darinya adalah 50%, itu jika aku melakukannya dengan cara adil. Dan kemungkinan bisa berubah menjadi 95% jika aku menusuknya dari belakang.
Tapi... Jonathan begitu percaya kepadaku, dan aku juga merasa kalau perlakuannya kepadaku itu tulus. Saat mengobrol dengannya terkadang dia sedikit kaku, seperti orang yang jarang bersosialisasi. Dia juga bercerita bahwa aku adalah teman satu-satunya. Jika dugaanku benar kalau Jonathan memang pembunuhan bayaran, wajar saja dia nggak punya teman selain aku.
Jika diibaratkan, Jonathan itu seperti terperangkap oleh rantai kesendirian. Sementara aku... mungkin adik-adikku benar, aku itu seorang iblis. Dia kasihan sekali~ aku terus memanfaatkan dan menipu dia demi kepentinganku sendiri, dan persetan dengan semua itu! Toh aku belum lama mengenalnya, dia nggak terlalu penting dalam hidupku. Lebih baik aku fokus pada masalahku sendiri.
Permasalahannya sekarang adalah aku harus meminta tanda tangan Keyran untuk laporanku, tapi aku sedikit ragu kalau dia mau melakukannya. Bodo amat lah, coba saja dulu! Aku harus mengawali pembicaraan.
"Nisa!"
"Eh!?" Nisa terkejut dan seketika menoleh ke arah Keyran. "A-ada apa?" tanya Nisa dengan senyum canggung.
Kaget aku, ternyata dia duluan yang mengajak bicara, padahal akhir-akhir ini dia selalu menganggapku seperti nggak pernah ada.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Tadi tiba-tiba aku teringat pesan ayah, aku harus menanyakan kenapa perusahaan milik keluarganya menolak tawaran ayah.
"Soal apa?"
"Apa kau tahu alasan ayahmu menolak menjalin kerjasama dengan perusahaan keluargaku?" Nisa tidak menjawab pertanyaan Keyran, tapi malah hanya tersenyum kepadanya. "Kenapa malah tersenyum? Kau tahu atau tidak!?"
"Aku tahu, terus kenapa? Ayahku punya hak untuk menolaknya..."
Tentu saja aku tahu, itu semua karena aku yang meminta ayah untuk menolaknya. Aku nggak mau perusahaanku punya hubungan kerjasama dengan perusahaanmu, jika aku punya maka ayahmu bisa menekan keluargaku kapan saja. Meskipun perusahaanku akan diuntungkan, tapi aku nggak mau ambil risiko seperti itu.
"Aku paham ayahmu berhak menolak, tapi jika ayahmu menerimanya maka perusahaanmu sendiri yang akan diuntungkan. Aku merasa kalau ayahmu orang yang sangat berkemampuan, dia seolah-olah bisa menebak bagaimana langkah selanjutnya perusahaanku. Yang ingin aku ketahui adalah alasan ayahmu menolaknya."
"Aku paham kenapa kau ingin tahu alasan ayahku, sebenarnya sih wajar-wajar saja jika ayahku menerimanya, toh pernikahan kita juga berlandaskan perjanjian. Dan ayahku memang punya kemampuan, dia juga punya prinsip! Ayahku ingin memajukan perusahaan dengan usaha, bukan dengan mengandalkan hubungan." tegas Nisa.
"Ternyata kau juga tahu masalah tentang perusahaan, aku pikir yang bisa kau lakukan hanya bermain dan membuat masalah." ucap Keyran dengan tatapan merendahkan.
Heemmm.. jawaban yang diberikan Nisa sama dengan yang tadi siang ayah ceritakan, mungkin memang itu alasannya.
"Hei hei, kau jangan pernah meremehkan seseorang. Meskipun seharian aku cuma rebahan, tapi aku juga punya bakat terpendam. Aku paham betul soal perusahaan keluargaku, tapi untuk masalah internal lainnya aku nggak ikut campur, biarkan saja para orang tua yang mengurus..."
"Tunggu sebentar... aku tahu arti dari perkataanmu, barusan kau menyindirku kalau aku orang tua!" raut wajah Keyran langsung berubah menjadi marah.
__ADS_1
"Haha... i-itu... kau salah paham, aku mana ada menyindirmu. Kau itu adalah CEO yang tampan, muda, sukses, berkuasa, kaya, terhormat, bijaksana, murah hati, dermawan kepada istri~ Aku benar kan pria sempurna?" Nisa lalu mengangkat kedua alisnya.
"Kau...!!!" Keyran merasa tidak terima dan mengacungkan jarinya pada Nisa, namun setelah itu dia menarik tangannya kembali.
Sialan! Mau marah juga tidak bisa, karena aku sendiri yang mengubah nama kontak itu di ponselnya. Aku tidak menyangka kalau itu akan menjadi bumerang untukku, dia menggunakannya untuk mengejekku.
"Pffttt..." Nisa menahan tawa lalu memalingkan wajahnya.
Hahaha, ingin menang dalam berdebat denganku itu nggak mungkin! Coba lagi dalam 20 ribu tahun! Reinkarnasi 100 kali dulu! Aku ini orang yang tingkat nggak tahu malu nya sudah mencapai level master. Siapa suruh mengganti nama kontak di ponselku! Sekarang menyesal kan?
Keyran merasa sangat kesal karena telah diejek oleh Nisa, dia tidak berkata sepatah kata pun dan mulai melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu Nisa juga kembali termenung dan menatap lembaran kertas yang dia pegang, namun di raut wajahnya tergambar sedikit rasa penyesalan.
"Ya ampun..." ucap Nisa dengan suara lirih.
Apa yang telah aku lakukan!? Padahal aku ingin meminta tanda tangan kepadanya, tapi tanpa sadar aku telah membuatnya marah. Jika nanti gagal, terpaksa aku harus mengeluarkan kartu as milikku.
Nisa lalu merapikan kertas laporan yang dia pegang. Kemudian dia mengatur napasnya serta menyiapkan mental. Setelah memantapkan diri, Nisa langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah Keyran yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Keyran lalu melirik ke arah Nisa dan tatapan sinis, "Kau mau apa?"
"Anu..." Nisa tiba-tiba merubah ekspresinya menjadi memelas, "A-aku ingin meminta tolong kepadamu... Apa aku boleh memintamu untuk menandatangani serta memberikan cap perusahaanmu pada laporanku?"
"Laporan? Coba aku lihat!" Seketika Keyran langsung merebut laporan yang di pegang oleh Nisa, dia lalu membacanya dengan teliti. Dan semakin lama dia membacanya, ekspresi wajahnya menggambarkan rasa tidak percaya. "Apa kau sendiri yang membuatnya!?"
"Tentu saja aku membuatnya sendiri, itu tugas kuliahku. Kau mau mengabulkan permintaanku kan?" pinta Nisa dengan tatapan penuh berharap.
"Hmm..." Keyran mengabaikan Nisa lalu melanjutkan membaca laporan.
Dia bisa membuat laporan sebagus ini? Padahal dia menjadi sekretarisku hanya dalam 5 hari, tapi dia bisa tahu dan memahami manajemen secara mendetail mengenai perusahaanku. Apakah ini yang ayah maksud? Ternyata Nisa juga berbakat dalam hal ini.
Keyran hanya diam dan menatap Nisa setelah selesai membaca, namun tiba-tiba dia meletakkan laporan itu ke atas meja. Keyran tidak berkata sepatah kata pun, dan kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Nisa yang melihat itu mulai merasa bingung. "Apa ini? Kau menolak permintaanku, tapi kenapa?" Nisa kemudian hanya ternganga seakan tidak percaya.
"Bukan karena apa-apa, aku cuma tidak mau." jawab Keyran tanpa menoleh ke arah Nisa.
"Itulah pertanyaanku, kenapa kau nggak mau!? Apakah aku harus memohon kepadamu?"
"Mau memohon juga tidak ada gunanya, aku tetap tidak akan menandatangani laporan milikmu!"
"Jangan berputar-putar! Katakanlah alasanmu menolak untuk tanda tangan! Apa laporanku adalah laporan sampah!?"
"Laporanmu sangat bagus, hanya saja ini adalah laporan palsu!"
"Palsu? Apa maksudmu? Data yang aku lampirkan semua benar, sesuai dengan kenyataan. Aku juga memaparkan semua hal bagus tentang perusahaanmu, kau hanya perlu memberikan tanda tangan dan cap stempel, apa susahnya melakukan itu demi istrimu?"
Nisa hanya bisa diam dan tidak membantah satu pun perkataan Keyran. Namun dia masih bisa menatap mata Keyran dengan percaya diri, tak ada sedikit pun ketakutan yang tergambar di matanya. Nisa lalu mengambil kembali laporan miliknya dari meja, dan setelah itu dia tersenyum sinis kepada Keyran. "Apa kau sungguh ingin tahu dari mana asalnya keberanianku?"
"Katakan! Jelaskan semua padaku!"
"Baiklah, saya mohon kepada Bapak CEO Keyran Kartawijaya untuk mendengarkan baik-baik. Saya melakukan ini karena tugas kuliah, begitu pula saat saya melamar pekerjaan di perusahaan bapak, semuanya hanya demi tugas kuliah saya. Dan untuk masalah saya berhutang uang senilai 2 miliar kepada bapak, itu hanyalah alasan konyol kenapa saya bisa menjadi istri bapak. Saya juga sengaja absen meskipun sudah dikontrak oleh perusahaan bapak, karena saya menganggap bahwa itu tidak ada gunanya! Sekian penjelasan dari saya, saya harap bapak mengerti!"
"Kau...!!" gertak Keyran sambil mengacungkan jarinya pada Nisa.
Nisa sengaja merubah cara bicaranya saat aku menyinggung kalau dia masih menjadi sekretarisku. Dia berbakat dalam merubah kepribadian dalam waktu singkat. Kenapa ayah bisa mencarikan aku istri yang seperti ini?
"Tsk! Ya sudah kalau nggak mau!" Nisa langsung berbalik dan berniat ingin meninggalkan Keyran, namun tiba-tiba Keyran menahan tangannya. "Kau mau apa?" Nisa langsung menepis tangan Keyran.
"Aku berubah pikiran, aku akan menandatangani laporanmu. Tapi, dengan satu syarat..." ucap Keyran dengan senyum licik.
"Syarat? Kenapa yang kau minta cuma satu? Apakah satu itu cukup untukmu?" tanya Nisa seolah-olah mengejek.
"Kau mau atau tidak? Aku tidak akan rugi apa pun jika kau menolaknya, lagipula syarat yang akan aku berikan sangat cocok untukmu."
"Katakan dulu apa syaratmu, nanti baru akan aku putuskan iya atau nggak!"
Tadi Keyran tersenyum, tapi senyumnya itu mencurigakan.
"Baiklah, syarat yang aku maksud adalah... Saat di depan ayahku, kau harus berpura-pura bertingkah mesra denganku!"
"Hah!? Apa alasanmu mengajukan syarat konyol seperti itu?" tanya Nisa terheran-heran.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin, tapi ayahku terus-terusan mendesakku, lebih tepatnya kita, dia mendesak kita untuk segera membuatkan cucu untuknya..." ucap Keyran dengan nada malas.
"Owh... jadi begitu," untuk sejenak Nisa terdiam. "Baiklah, aku setuju!"
Dasar rubah tua... kau ingin cucu hah!? Berkebun saja sana! Tanamlah mentimun, siapa tahu akan berbuah bayi. Lalu kau bisa memberinya nama timun mas, timun perak, timun perunggu, timun kuningan, timun acar, jus timun, tumis timun, timun terserah aku nggak peduli!
"Bagus jika kau setuju. Aku peringatkan padamu, kau harus berpura-pura sebaik mungkin. Usahakan aktingmu nanti sempurna!"
"Iya, kau tenang saja. Berpura-pura itu mudah, kau nggak perlu mengingatkan aku!" Nisa lalu meletakkan laporan miliknya di meja kerja Keyran. "Jangan lupa tanda tangani laporanku! Besok lusa akan aku kumpulkan!"
__ADS_1
"Huft... baiklah, akan aku lakukan sekarang." Keyran akhirnya menandatangani serta memberikan cap stempel perusahaannya pada laporan milik Nisa. Setelah itu dia langsung menyerahkan laporan itu kepada Nisa. "Puas? Awas saja jika aktingmu nanti mengecewakan, aku sendiri yang akan merobek laporanmu!"
"Humph!" Nisa langsung memegang erat laporan miliknya, "Iya iya... nanti kau pasti akan ternganga saat aku mulai berakting! Sebaiknya kau persiapkan dirimu sendiri, meskipun kau hanya pemeran pendukung, kau juga harus tampil dengan baik!"
"Heh! Sombong sekali... kita lihat saja nanti!"
"Kau lanjutkan saja pekerjaanmu, aku akan ke kamar duluan." Nisa lalu bergegas keluar dari ruang kerja meninggalkan Keyran seorang diri.
"Huft..." Keyran menghela napas dan kemudian dia tersenyum puas.
Untung saja aku terpikirkan cara ini, jika nanti akting Nisa bagus... maka ayah pasti akan berhenti mendesakku! Dia berulang kali menemuiku hanya untuk membahas tentang hal bodoh seperti itu.
...Beberapa saat kemudian...
...••••••...
Setelah Keyran selesai dengan pekerjaannya, dia langsung menuju ke kamar untuk segera tidur. Namun saat dia memasuki kamar, dia sedikit terkejut saat melihat Nisa yang sudah berbaring di atas ranjang namun masih terjaga.
Keyran mencoba mengabaikan Nisa dan langsung berbaring di ranjang, "Selamat malam..." Keyran mengucapkannya dengan nada malas, dan kemudian dia memejamkan kedua matanya.
"Yaa.. selamat malam," Nisa kemudian termenung sembari menatap langit-langit kamar.
Hari ini banyak sekali yang terjadi, pertama aku dikecewakan oleh Ricky, kedua aku dikejutkan oleh Jonathan, dan yang ketiga Keyran akhirnya mau berbicara lagi padaku. Tapi, ketiga pria ini punya kesamaan. Mereka semua bodoh.
Ricky sangat bodoh karena memilih Natasha sebagai penggantiku. Jonathan bodoh karena terlalu percaya kepadaku. Sedangkan Keyran... dia bodoh karena belum menyadari perbuatan yang aku lakukan.
Saat Keyran membahas tentang ayah, aku sedikit gugup. Karena dia berasumsi bahwa ayah bisa menebak langkah selanjutnya dari perusahaan miliknya. Padahal semua itu bukan karena ayah yang berkemampuan, tapi karena data yang tersimpan di dalam flashdisk yang waktu itu aku berikan.
Flashdisk itu berisi tentang data perencanaan Group HW, waktu itu aku menyalin semua data-data penting yang berkaitan dengan proyek-proyek dari Group HW. Data-data itu tersimpan di tempat cukup aman, dan tersusun rapi di ruang kerja CEO, yaitu ruang kerja di rumah ini sekaligus ruang belajarku.
Ruangan itu dilengkapi dengan CCTV, dan aku sudah menyuruh Ivan untuk mengutak-atik CCTV itu. Yahh... meskipun sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri, tapi aku malas. Tapi, itu juga baik untuk berjaga-jaga seandainya Keyran menyadari kalau CCTV itu sudah diutak-atik. Dia nggak akan bisa melacak alamat IP milik Ivan, dan keuntungan lainnya aku nggak mungkin jadi tersangka.
Aku juga nggak nyangka kalau Keyran mau tanda tangan. Sebenarnya aku juga sudah menyiapkan rencana cadangan jika Keyran tetap menolaknya, aku akan mengeluarkan kartu as milikku. Kartu as itu tentu saja adalah ayah mertua, dia sangat sayang kepadaku, jika aku merayunya sedikit saja... pasti dia akan mengabulkan apa pun yang aku minta.
Dan yang terakhir... Keyran tiba-tiba mengajukan syarat konyol seperti itu. Dia juga mengingatkan kalau aku harus berakting dengan baik. Berpura-pura itu sangat mudah dilakukan oleh seorang penipu seperti diriku.
"Nisa!"
"Eh!? Kau belum tidur?" Nisa langsung menoleh ke arah Keyran.
"Iya, aku belum tidur karena khawatir padamu. Kau dari tadi terus melamun dan menatap langit-langit dengan pandangan kosong, ini sudah malam... nanti bisa-bisa kau kerasukan setan."
"Siapa yang melamun? Aku ini sedang berpikir tentang hal penting!"
"Memangnya apa yang kau pikirkan saat larut malam seperti ini?"
"Aku berpikir tentangmu," ucap Nisa dengan wajah serius.
"A-apa!? Jangan pikirkan tentang aku! Cepat tidur sana!" wajah Keyran tiba-tiba memerah.
"Apaan sih... suka-suka aku mau tidur atau nggak," ucap Nisa dengan suara lirih. Nisa masih belum memejamkan matanya, tapi dia malah terus-terusan memandang wajah Keyran yang memerah. Dia merasa sedikit bingung kenapa wajah suaminya memerah, dia mulai berpikir bahwa Keyran sedang sakit panas atau demam.
Bukk!!
Keyran tiba-tiba menimpuk wajah Nisa dengan bantal.
"Apa yang kau lakukan!?" Nisa seketika langsung bangun.
"Aku bilang tidur ya tidur!! Kenapa kau terus menatapku hah!?" Keyran juga ikut-ikutan bangun.
"Kan bisa dikatakan baik-baik, kenapa malah menimpuk wajahku dengan bantal!?"
Bukk!
Nisa tiba-tiba menimpuk balik wajah Keyran menggunakan bantal.
"Kau!! Kau berani melakukan ini padaku!?" teriak Keyran seakan tidak terima.
"Yaa! Kau duluan yang memulainya, aku hanya membalas perbuatanmu... blwekk..." ejek Nisa sambil mengulurkan lidahnya.
"Kau! Awas saja! Rasakan ini!!" Keyran sekali lagi menimpuk Nisa dengan bantal.
"Baiklah, akan aku ladeni!!" Nisa merasa tidak terima dan terus menimpuk Keyran berkali-kali.
"Dasar gila!!" teriak Keyran.
"Kau brengsek!!" teriak Nisa.
__ADS_1
**
Begitulah akhirnya, di antara mereka berdua sama sekali tidak ada mau mengalah. Akhirnya perang bantal dimulai!! Mereka berdua terus saling melempari bantal satu sama lain, dan perang itu juga diselingi oleh makian dari Keyran dan kata-kata kasar dari Nisa. Sungguh pasangan yang luar biasa~