Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Chemistry


__ADS_3

Hari berganti, lalu tibalah hari yang dijanjikan untuk foto prewedding. Keyran berniat untuk menjemput Nisa, saat di depan pintu rumah Nisa tiba-tiba dia berhenti sejenak untuk meredakan amarahnya terlebih dulu.


Hng! Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan gadis gila itu! Malas sekali hari ini aku harus bertemu dengannya lagi! Ini semua karena ayah, aku sudah bilang kalau gadis gila itu tidak ingin berfoto denganku, tapi dia masih saja memaksaku! Entah keributan macam apa yang akan dia buat hari ini?


Tok tok tok....


"Iya sebentar!" Teriak Reihan sambil membukakan pintu "Eh!? Kakak ipar... Cari kakakku ya?" Tanya Reihan sambil tersenyum ramah.


"Ya, dimana dia?" Tanya Keyran dengan tidak sabar.


"Kak Nisa nggak di rumah, dia masih kuliah!" Ekspresi Reihan langsung berubah.


Huh! Aku bilang baik-baik dianya malah berkata seperti itu... Awas aja, kakakku pasti akan membuatmu jadi gila!


"Aku sudah kesana dan dia tidak ada di kampus, dimana dia sebenarnya?"


"Hah!? Kalau gitu kak Nisa pasti bolos!"


"Dia biasanya bolos kemana?"


"Aku nggak tahu, dia bisa saja ada di mana pun, tapi nanti sebelum tengah malam kakak pasti sudah pulang. Kakak ipar kembali besok saja!" Reihan lalu bersiap untuk menutup pintu.


Tangan Keyran tiba-tiba menahan pintu "Hei, apa kalian kakak beradik sedang mencoba menipuku?" Keyran lalu menatap Reihan dengan tatapan sinis.


"Hah.... silakan masuk!" Reihan membuka pintu lebar-lebar "Kalau nggak percaya, cari saja kakakku sendiri! Kalau dia ada di rumah maka aku akan menyembahmu setiap pagi dan sore..." Ucap Reihan seakan tidak peduli.


"Aku tanya sekali lagi, dimana kakakmu!?" Teriak Keyran


Hng! Kakak beradik ini ternyata sama-sama gila!


"Ya ampuuunn.... aku nggak tahu, nggak percaya banget sih! Tapi, mungkin aku tahu kakakku dimana, aku juga nggak terlalu yakin sih..." Ucap Reihan sambil mengangkat pundaknya.


"Antarkan aku kesana! Mau tidak mau aku harus membawanya hari ini!" Teriak Keyran sambil menarik tangan Reihan.


"Oh, oke!" Reihan menganggukkan kepalanya.


Keyran dan Reihan akhirnya sepakat untuk mencari Nisa bersama. Tapi sementara itu Nisa malah sibuk menunggu di kedai milik Dika sambil memikirkan tentang sesuatu.


"Bos, ini sudah jadi...." Ucap Dika sambil menyuguhkan roti di meja "Silakan dimakan...." Dika lalu duduk berhadapan dengan Nisa.


"Makasih, ini ngutang loh...." Ucap Nisa dengan santai sambil mulai memakan rotinya.


"Iya-iya... aku tahu kok!" Dika lalu menatap dan memperhatikan Nisa dengan seksama sampai Nisa menghabiskan rotinya "Bos, pelan-pelan dong! Berantakan nih...." Keluh Dika sambil mengusap bibir Nisa "Kenapa sih? Kok tumben begini, ada masalah apa?" Tanya Dika penasaran.


"Hah... nggak tau ahh!" Wajah Nisa berubah murung.


Kemarin itu buruk sekali, bahkan setelah sampai rumah kak Tia masih seperti itu. Lalu saat paman Chandra tahu, dia malah menatapku seolah-olah menyalahkan aku, padahal kan aku nggak salah! Sekarang mau ketemu sama mereka aja pasti canggung, seakan seperti aku sudah memberi harapan palsu pada mereka. Sialan, aku harus apa....?


"Bos, cerita dong! Jangan disimpan sendiri...." Ucap Dika sambil melambai-lambaikan tangan di depan Nisa.


Nisa tiba-tiba menangkap tangan Dika "Dika, aku punya rencana, mau bantuin nggak?" Tanya Nisa dengan penuh harapan.


"Hm? Rencana seperti apa?" Tanya Dika penasaran.


"Rencana pembunuhan!" Ucap Nisa dengan enteng.


"Hah!? Serius? Emangnya siapa yang mau dibunuh?" Tanya Dika dengan panik.


"Serius kok, yang mau dibunuh itu aku, nanti kau yang jadi pelapor sama saksinya!"


"Boss... kalau mau bunuh diri itu lakuin sendiri lah, masa minta tolong ke orang sih! Lalu kenapa mengajakku? Kalau ada masalah tuh diselesaikan dulu, jangan ambil jalan pintas! Bisa-bisanya bicara begitu, otakmu masih di jemuran ya? Kalau iya, ayo pulang! Aku bantu angkat!" Dika lalu menarik tangan Nisa.


"Lepasin woi!" Nisa menepis tangan Dika "Siapa juga yang mau bunuh diri!? Tenanglah dan dengarkan rencanaku!" Teriak Nisa.


"Oh, oke..." Dika kembali tenang.


"Jadi rencanaku itu... aku cuma pura-pura jadi korban pembunuhan, untuk tempat dan barang bukti aku yang urus. Pertama, aku akan menghilang selama beberapa hari, saat muncul laporan kalau aku hilang itulah waktumu beraksi. Tugasmu hanya sebagai orang pertama yang melapor telah terjadi pembunuhan. Nah, lalu di tempat kejadian aku akan meninggalkan beberapa barang dan pakaian milikku yang sudah berlumuran darahku. Untuk menghindari kecurigaan polisi, kau tinggal ajak satu orang lain lagi yang nggak tahu apa-apa sebagai saksi. Jangan lupa sebarkan berita secepat mungkin dan usahakan semua orang percaya kalau aku sudah mati. Mulai saat itu aku hanya harus bersembunyi selama beberapa saat. Saat semuanya sudah reda, maka aku akan kembali sebagai orang hidup dengan identitas yang berbeda. Kalau kau nggak mau menolongku, maka lupakan saja semua yang aku katakan barusan!" Ucap Nisa dengan serius.


"Bos, begini ya... sebenarnya ada masalah apa sampai ingin berbuat seperti itu? Hal seperti ini sangat berbahaya jika dilakukan...." Tanya Dika penasaran.


"Dika, masalah ini cukup rumit! Aku sedang mencoba kabur dari semua orang, termasuk keluargaku sendiri. Kalau aku pergi keluar negeri, mereka tetap bisa melacakku, bahkan jika aku berbuat sedikit kesalahan maka keluargaku juga terkena imbasnya. Inilah satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan...." Raut wajah Nisa berubah murung.


"Tapi, kira-kira sampai kapan dan dimana bos akan sembunyi?"


"Mungkin itu akan butuh waktu sekitar satu bulan, dan aku akan sembunyi di rumahmu!"


"Rumahku!? Nggak, nggak bisa!" Tolak Dika dengan paksa.


"Kenapa nggak bisa?" Nisa menatap Dika dengan tatapan sinis.


"Boss.... aku jelaskan ya, biaya sewa rumahku mahal. Bos, nggak akan sanggup membayarnya! Mau roti aja masih ngutang, kalau mau bayar pasti nanti ujung-ujungnya ngutang juga! Kalau begini terus... bisa-bisa nanti aku jadi gelandangan!"

__ADS_1


"Heh! Malah bahas soal hutang, emangnya berapa sih hutang yang aku punya!?" Tanya Nisa dengan kasar.


"Bos, dari semenjak aku membuka kios ini kau nggak pernah membayar sama sekali! Bahkan sekarang aku sampai lupa menghitung berapa hutangmu padaku, apa bos nggak kasihan..."


"Hmph! Tunggu aku jadi kaya dan sukses, nanti aku bayar semuanya!"


"Sukses? Apanya yang sukses...? Bos sendiri aja hobinya bolos kuliah! Menunggu bos sukses sama saja dengan menunggu Bill Gates jadi miskin! THIS IS IMPOSSIBLE!"


"Ngeremehin aku banget sih...."


"Ya emang gitu kenyataannya...."


Nisa dan Dika kemudian hanya diam dan saling menatap satu sama lain. Raut wajah mereka seolah-olah dipenuhi dengan rasa kekecewaan karena kejamnya dunia. Tapi, setelah beberapa saat Nisa tiba-tiba menggenggam tangan Dika.


"Boss... kenapa?" Tanya Dika dengan wajah bingung.


"Dika, kawin yuk!" Ucap Nisa dengan penuh semangat.


"Hah!?" Dika terkaget lalu tiba-tiba menyentuh kepala Nisa "Bos, apa ada sekrup yang lepas atau longgar di otakmu? Aku tahu! Pasti kau tertekan karena aku terus memaksamu membayar hutang kan? Makanya jadi error begini!"


"Nggak Dika, aku serius.... ayo kawin!" Nisa menarik tangan Dika lalu mendekatkan wajahnya.


"A-aku mau sih... t-tapi..." Wajah Dika memerah.


"Hm? Tapi apa...?"


"Tunggu dulu, apa ini caramu supaya bebas dari bayar hutang?"


"Nggak! Itu bukan alasanku! Aku serius mau kawin denganmu! Aku siap jadi istrimu! Benar-benar jadi istrimu! Ayo kita daftarkan pernikahan sekarang!" Ucap Nisa dengan penuh keyakinan.


"Masa...? Aku nggak percaya!"


"Kau ingin aku bagaimana supaya kau percaya?"


"Ini beneran!? Kalau gitu.... cium aku!"


"Oke, tutup matamu!" Ucap Nisa tanpa ragu.


"Hah!?" Dika lalu menutup matanya rapat-rapat.


Gilaaaa! Mimpi apa aku semalam!? Wanita idamanku akhirnya mengajakku menikah! Ya Tuhan.... kuatkan jantungku.... dia sungguh ingin menciumku!


"Hentikan!!" Teriak seseorang.


K-Keyran? Kenapa dia bisa tahu kalau aku disini? Nisa lalu menengok ke arah luar kedai Eh...!? Di luar itu... Reihan! Pasti dia yang mengantar si brengsek itu kesini!


"Kemari kau!" Teriak Keyran sambil menarik tangan Nisa "Aku mencarimu kemana-mana tapi kau malah selingkuh dengannya! Apa kau sadar yang kau lakukan? Apa aku harus terus mengingatkanmu? Kau itu tunanganku!" Tiba-tiba Keyran mencium Nisa dengan paksa.


"Ummm....!" Nisa meronta dan melepaskan ciuman dari Keyran "Sialan! Apa yang kau lakukan hah!?" Nisa lalu berjalan mundur.


"Aku mencium tunanganku sendiri! Kenapa? Apa kau masih berani membantah!?" Teriak Keyran dengan penuh amarah.


"Huh! Setelah apa yang kau lakukan kemarin kau masih dengan percaya diri menyebutku sebagai tunanganmu! Dasar nggak tahu malu!"


"Kau yang tidak tahu malu! Kau sendiri yang berniat selingkuh dariku!" Keyran tiba-tiba menarik tangan Nisa lalu menyeretnya "Ikut aku! Hari ini mau tidak mau kau harus pergi denganku!"


"Lepaskan tanganmu dariku! Kemana kau akan membawaku!?" Teriak Nisa sambil terus meronta.


"Ingatanmu buruk sekali! Hari ini kau harus berfoto denganku!"


"Berfoto.... denganmu? Mending rakit PC!" Ucap Nisa seakan meremehkan.


Apa yang dia bicarakan!? Gadis gila ini selalu bicara tentang hal aneh!


"Berhenti bermain-main denganku! Apa kau ingin aku memperlihatkan kemampuanku untuk menghancurkanmu dan orang-orang disekitarmu!? Kesabaranku juga ada batasnya!" Teriak Keyran seakan terdengar sangat marah.


"...." Sialan! Sekarang dia malah mengancamku! Kau beruntung kali ini, untungnya aku cukup sayang pada keluargaku! "Hmph! Lepaskan tanganmu! Aku bisa jalan sendiri!" Nisa menepis tangan Keyran lalu berjalan keluar dengan gaya yang angkuh.


"Dasar kau...!" Aku tidak tahu lagi sebutan apa yang pantas untuk gadis ini! Keyran lalu berjalan keluar mengikuti Nisa.


Saat Nisa dan Keyran berjalan keluar, mereka berpapasan dengan Reihan yang malah berjalan masuk ke kedai. Saat di dalam kedai, Reihan langsung berjalan mendekat ke arah Dika.


"Yo! Kak Dika apa kabar? Kakak jangan bingung ya, tadi itu tunangan kakakku. Yaaa biasa lah, masalah kehidupan..." Ucap Reihan dengan santai pada Dika.


"Hah... pantas saja tadi bos ngajak aku nikah!" Keluh Dika.


Ternyata tunangannya bos orangnya seperti itu, kalau tahu begini seharusnya tadi aku setuju saja dengan rencana pembunuhannya bos!


"Apa!? Kak Nisa ngajak kak Dika nikah! Serius kak?" Tanya Reihan penasaran.


"Iya, tapi aku tahu alasannya kok. Bos pasti sangat ingin kabur dari tunangannya itu!" Ucap Dika seakan terdengar kecewa.

__ADS_1


"Cieee... kak Dika suka sama kakakku ya?" Ejek Reihan sambil menyenggol tangan Dika.


"Apaan sih? Bocah sepertimu tahu apa! Cepat pergi sana!" Dika salting lalu mendorong Reihan pergi.


"Nggak mau~ Aku mau beli roti, rasa coklat ya kak!"


"Serius beli? Nggak boleh ngutang sama seperti kakakmu loh!"


"Nggak akan kok, kan buat kak Dika cuma kakakku yang boleh ngutang~"


"Aku nggak butuh pembeli kayak kamu! Pergi sana!" Dika mendorong Reihan lagi.


"Iya deh~ Maaf kak, aku nggak godain kakak lagi! Aku beneran pengen makan rotinya kakak!"


"Tsk! Oke, aku siapkan dulu!" Dika lalu berjalan pergi.


"Hehe, iya~" Ucap Reihan sambil meringis.


...Sementara itu keadaan Keyran dan Nisa di studio foto...


...••••••••••...


"Ulang! Ulang lagi! Ulangi lagi!" Teriak seorang fotografer.


Dengan arahan dari fotografer, Keyran dan Nisa lalu berpose seperti sepasang pengantin yang bahagia. Tapi, yang terjadi hasilnya malah terlihat buruk, sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi dari fotografer.


"Mempelai pria perlihatkan senyum yang natural, jangan pasang tampang dingin seperti itu! Lalu mempelai wanita berusahalah selembut mungkin, jangan kaku seperti itu!"


"Tsk! Senyum gitu aja nggak bisa, dasar payah...."


"Hng! Kau sendiri juga kaku seperti itu, kau juga sama payahnya denganku...."


"Ayolah...! Kenapa kalian berdua malah ribut sendiri! Pose yang kalian pilih sangat sederhana, tapi kalian berdua sudah banyak mengulur waktu! Cuma berpelukan dan terlihat elegan apa susahnya!" Keluh sang fotografer.


"Diam kau! Ini pekerjaanmu, dan aku sudah membayarmu mahal! Kau saja yang kurang profesional!" Teriak Keyran seakan tidak terima.


"Tuan... sumpah mati aku belum pernah bertemu pelanggan seperti anda. Anda jangan marah dan menghina saya! Tapi, ayolah.... kalian berdua akan menikah, setidaknya tolong perlihatkan sedikit chemistry diantara kalian. Kalian ini pasangan macam apa? Aku sungguh tidak tahan lagi, jika sekali lagi gagal maka aku akan mengembalikan uang milik tuan...." Ucapnya dengan nada pasrah.


"...." Keyran terdiam lalu menatap Nisa.


Chemistry apanya? Aku dan gadis gila ini mustahil punya!


"...." Nisa lalu menatap Keyran balik.


Idiihhh.... aku dan si brengsek ini mustahil punya chemistry! Kalaupun punya, aku rasa mati itu lebih enak!


"Aku tahu! Kalau kalian berdua merasa ini sulit, kalian ganti pose saja. Aku sarankan agar kalian berdua berciuman dan menutup mata, setidaknya terlihat sedikit kaku itu wajar, bisa kan?" Ucapnya dengan semangat.


"Aku rasa boleh juga..." Jawab Keyran secara spontan.


"Nggak! Gila ya ciuman? Ini foto prewedding, nanti akan dilihat banyak orang! Pokoknya aku nggak mau!" Teriak Nisa seakan tidak terima.


"Heh! Kau menolaknya, tapi kau dengan senang hati ingin mencium selingkuhanmu itu!"


"Selingkuhan apa!? Tadi itu dia cuma memejamkan matanya, aku sama sekali nggak pernah menciumnya! Apa kau serius ingin membahas itu sekarang?"


Apa dia pikir aku bisa sembarangan mencium orang? Gila ya, kalaupun tadi dia nggak datang aku juga nggak bakalan cium Dika! Tadi aku cuma berniat bercanda dengannya!


"Kalau begitu, cium aku! Aku ingin pemotretan ini cepat selesai, kau sendiri juga sudah lelah kan? Kita masih harus mengurus hal lainnya!"


"Iya nona, turuti saja kemauan calon suamimu~" Sahut fotografer.


"Baiklah, aku akan berciuman, tapi cuma tiga detik! Kau harus cepat-cepat menangkap gambar, kalau tetap nggak bisa maka aku akan menghancurkan kamera milikmu!"


"Tentu saja nona...."


Nisa kemudian mendekat dan merangkul leher Keyran, lalu dia dan Keyran saling menatap satu sama lain dan tentu saja itu tatapan kebencian. Keyran perlahan mulai menutup matanya, setelah Keyran menutup mata, Nisa mulai perlahan mendekatkan bibirnya dan mereka akhirnya berciuman.


"M-mmm...."1, 2, 3!  Nisa langsung melepaskan ciumannya.


"Nona... aku belum sempat memotret, tolong ulangi lagi!"


"Kampret! Kubunuh kau....!"


"Maaf... Eh!?"


Keyran tiba-tiba menarik tangan Nisa dan menciumnya dengan paksa.


"M-mmm... mmm....!"


Cekrek! Cekrek! Cekrek!

__ADS_1


"Hahaha! Ini baru menarik! Tidak sia-sia aku meladeni kalian! Bagus tuan.... pertahankan!" Teriak fotografer itu dengan antusias sambil terus memotret.


__ADS_2