Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Petuah Sang Master (2)


__ADS_3

Sial sial sial! Selalu saja ada kejadian aneh di rumah ini! Sekarang aku sangat malu jika bertemu dengan ibuku sendiri. Terlebih lagi sekarang ada Keyran, akan semakin buruk jika terus di rumah ini.


"Nisa ..." ucap Keyran sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Nisa.


"Eh!? Kau bilang apa?"


"Kau dari tadi melamun, apa yang kau pikirkan?"


"Oh itu, kau datang kemari karena ingin mengajakku pulang kan?"


"Tadinya begitu, tapi setelah aku pikir-pikir ... menginap di sini juga boleh. Orang tuamu juga pengertian sekali ..." ucap Keyran sambil tersenyum.


"Lupakan soal orang tuaku." Nisa beranjak dari ranjang dan kemudian menarik-narik tangan Keyran. "Ayo pulang! Aku mau pulang! Rumah ini kurang cocok untukmu!"


"Eh? Maksudmu?"


"Pokoknya rumah ini jauh dari kata aman, tenteram dan damai! Lebih baik kita pulang ke rumah sendiri! Ayo cepat!"


"Hoho ... apa kau ingin berduaan saja denganku~"


"Kau!!" wajah Nisa memerah. "Terserah mau berpikiran apa, pokoknya aku mau pulang!"


"Baik bu presiden ..."


Keyran akhirnya menuruti ajakan Nisa untuk pulang. Saat Nisa membuka pintu kamarnya, tanpa disangka dia menemui seluruh keluarganya sedang menguping.


"K-kalian semua ... a-ayah juga ..." ucap Nisa seakan tidak percaya.


"Ayah cuma kebetulan lewat ..."


"Anu ... aku ingat kalau masih ada PR! Dimas, ayo pergi!"


"Ayo kak, PR-ku banyak!"


Akhirnya gerombolan tukang penguping yang kepo itu bubar dan segera pergi meninggalkan Nisa dan Keyran. Sedangkan Nisa, dia hanya tersenyum canggung kepada Keyran.


"Jangan dimasukkan ke hati yaa ... keluargaku memang seperti ini ..."


Keluarga cacad, isinya orang aneh. Aku heran kenapa ayahku bisa jadi ketua RT.


"O-oke, tak apa. Dulu ayahku kan juga pernah melakukan hal yang sama, aku paham ..." ucap Keyran dengan senyum terpaksa.


Untung saja aku dan Nisa tidak sungguh-sungguh melakukan itu. Keluarga istriku ini benar-benar unik.


***


Keesokan harinya. Hari ini semua aktivitas berjalan seperti biasa, Nisa masuk kuliah dan Keyran juga bekerja di kantor. Kali ini pekerjaan Keyran sedikit terasa lebih ringan, hal itu dikarenakan Valen sudah sembuh dari sakit tipes dan akhirnya kembali bekerja.


Saat ini pukul 15:25, Valen mendadak dipanggil oleh Keyran untuk ke ruangannya. Valen mulai merasa gugup karena melihat tuannya yang terlihat seperti tidak biasanya. Dia berpikir kalau tuannya sedang dilanda masalah rumah tangga, dan dia ketakutan jika akan berimbas pada gajinya yang akan dipotong.


"Tuan ada perlu apa memanggil saya?"


"Aku ada sebuah tugas khusus untukmu."


"Tugas?"


Semoga bukan tentang nyonya! Jika masalahnya tentang nyonya, pasti nanti akan rumit.


"Tugasmu adalah menjemput master, maksudku ... adik iparku pulang sekolah. Segera jemput dia dan ajaklah dia kemari untuk menemuiku!"


"Baik tuan." Valen langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan Keyran.


Kenapa aku disuruh untuk menjemput anak SMA? Tuanku ini kenapa tumben sekali ingin bertemu dengan adik iparnya? Tapi ... bukannya adik iparnya ada dua, yang disuruh datang yang mana?


***


Sekitar setengah jam kemudian Valen telah kembali dan menyelesaikan tugasnya. Saat dia memasuki ruangan Keyran, Keyran sedikit terkejut karena Valen mengajak kedua adik iparnya, yaitu Reihan dan Dimas. Padahal yang dia perlukan hanya Reihan sang master.


Saat bertemu dengan Keyran, Reihan tampak sangat antusias, berbeda dengan Dimas yang terlihat sangat malas. Bahkan Reihan tanpa sungkan langsung duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Keyran.


"Hallo kakak ipar~ Makasih ya gitar barunya ..." ucap Reihan dengan senyum semringah.


"Sama-sama master."


"Kakak ipar!" panggil Dimas.


"Ya? Kau ada perlu apa?"


"Yang kakak ipar ingin temui adalah kak Reihan, jadi apa aku boleh berkeliling di kantor ini?"


"Boleh, Valen yang akan menemanimu berkeliling."


"Baik tuan, saya akan mengajaknya untuk berkeliling."


Apa yang telah terjadi dengan tuanku selama aku cuti!? Kenapa dia memanggil adik iparnya sendiri dengan sebutan master? Bahkan tuan terkesan lebih hormat kepadanya dibandingkan kepada tuan besar.


"Ayo kak Valen, ajak aku berkeliling!" ucap Dimas dengan penuh semangat.


"Haha ... oke, lain kali cukup panggil saja Valen. Oh iya, kenapa tertarik sekali ingin berkeliling?"


"Aku tertarik dengan tata ruang kantor ini, dan rencananya setelah lulus aku mau kuliah jurusan desain, makanya aku tertarik. Dan ... kita ke pantry dulu ya? Soalnya aku lapar, maklum lah baru pulang sekolah, toh aku juga masih pakai seragam. Nanti ajak aku mengelilingi seluruh gedung ini ya?"


"Oke, ayo cepat!" ucap Valen dengan senyum bahagia.


Akhirnya ... akhirnya ada juga orang normal di antara saudaranya nyonya. Nyonya sendiri barbar, adiknya yang satu playboy, syukurlah yang satu ini normal.


Ruangan Keyran langsung hening setelah ditinggal oleh Valen dan Dimas. Itu dikarenakan Keyran masih ragu ingin mengatakan maksudnya. Sedangkan Reihan, dia malah asyik sendiri bermain ponselnya, dia sibuk membalas chat dari cewek-cewek yang memujanya.

__ADS_1


"Anu ... apa master juga lapar?"


"Nggak, aku sudah makan coklat hadiah dari cewek-cewek, jadi nggak lapar."


"O-ohh ..."


Memang adiknya Nisa, ditraktir cewek katanya dinodai, tapi biasa saja ketika itu adalah hadiah.


"Huft ..." Reihan lalu menyimpan ponselnya di saku celana. "Nah, kakak ipar mau bicara soal apa?"


"Emm ... itu, bagaimana caranya agar aku bisa seperti master?"


"Kakak ipar serius ingin sepertiku?"


"Iya, aku serius."


"Oh ... itu mudah, ingin menjadi sepertiku hanya butuh enam langkah. Pertama, cari cewek cantik sebagai target. Kedua, kenalan plus tanya-tanya. Ketiga, ajak dia jalan. Keempat, buat dia baper. Kelima, tinggalin pas sayang-sayangnya. Keenam, lakukan hal tersebut secara berulang-ulang. Nah, gampang kan jadi fakboy."


"Bukan itu maksudku! Yang aku maksud adalah bagaimana agar bisa lebih cepat menaklukkan wanita, seperti yang kau lakukan."


"Hemm ... itu mustahil bagi kakak ipar."


"Kenapa mustahil?" tanya Keyran dengan ekspresi kecewa.


"Ya mustahil, karena untuk menaklukkan hati seorang wanita dengan cepat itu butuh dukungan dari semesta. Harus ada pengalaman dan bakat. Tapi aku ini tetaplah master, kakak ipar bisa tenang. Karena target kakak ipar adalah kakakku, dan jika ingin lebih cepat menaklukkannya ... maka belum cukup hanya memahami perasaannya, kakak ipar juga harus tahu kelemahannya." ucap Reihan dengan senyum jahat.


"Kelemahan seperti apa?"


Jika tentang yang paling sensitif aku sudah tahu, dia paling sensitif di telinga.


"Biar aku jelaskan, setiap orang punya hal yang disukai, dan orang itu pasti akan lemah karenanya. Dan kakakku itu sebenarnya sangat suka dengan anak kecil."


"Lalu apakah aku harus membawa anak kecil untuk menaklukkan Nisa?"


"Bukan begitu, kakak ipar ini memang payah. Memang harus ada anak kecil, dan anak kecil itu adalah kakak ipar sendiri." Reihan lalu menunjuk pada Keyran. "Kakak ipar harus bersikap kekanakan seperti anak kecil. Aku berani jamin kalau kakakku akan langsung lemah, dan saat itu tinggal mengambil keuntungan darinya."


"Kau ..."


Ini gila! Aku ini pria dewasa, masa harus bersikap seperti anak kecil?


"Apa kakak ipar keberatan? Aku sudah berani jamin loh ... kakak ipar ini niat nggak sih?"


"Niat, aku sangat niat. Hanya saja ... apa yang disukai oleh Nisa cuma anak kecil?"


"Yang lain sih ada, misalnya roti sobek. Kalau kakak ipar pamer abs di depannya ... itu juga bisa melemahkan kakakku. Tapi masih kurang damage, belum bisa menggoyahkan iman kakakku. Kemungkinan gagal lebih besar, aku nggak berani jamin. Saranku kakak ipar bertingkah seperti anak kecil saja."


"Hemm ..."


Yang dibilang master benar, setiap pagi aku sudah pamer. Tapi Nisa tetap saja belum tergerak, malahan dia seperti menghindar.


"Kenapa kau yakin sekali jika aku bertingkah seperti anak kecil maka akan berhasil?"


"Haha ... i-itu boleh, nanti aku akan minta sendiri ke ibu mertua." ucap Keyran dengan senyum canggung.


Ya ampun, ternyata Nisa sudah barbar sejak dini. Tapi aku penasaran semanis apa dirinya waktu kecil. Mungkin saja saat aku punya anak nanti rupanya akan mirip dengannya.


"Nah, jadi kakak ipar sudah yakin?"


"Sebenarnya aku belum terlalu yakin. Yang diceritakan master adalah hubungan kakak adik, sedangkan aku dan Nisa adalah pasangan. Bukannya di antara pasangan itu lebih baik jika bersikap dewasa?"


"Huh ... terpaksa deh. Sebelumnya aku minta maaf, aku bukannya ingin manas-manasin kakak, tapi kakak ipar harus yakin. Karena hal itu juga sudah terbukti, buktinya adalah kak Ricky. Emm ... apa kakak ipar pernah melihat nama-nama kontak di hp nya kak Nisa?"


"Pernah, memang apa hubungannya? Nisa menamai semua nomor dengan nama-nama yang aneh."


"Kalau begitu ... apa kakak ipar masih ingat jika ada nama Old Baby?"


"Masih."


"Nah, sebenarnya itu adalah kak Ricky! Asal kakak tahu, sebenarnya kak Nisa menamai semua nomor sesuai dengan anggapannya. Dapat disimpulkan bahwa kak Ricky alias Old Baby, bagi kak Nisa dia memang seperti itu. Intinya kak Ricky juga bersikap manja seperti anak kecil. Kakak ipar paham kan?"


"Cih, ternyata begitu." untuk sejenak Keyran terdiam. "Apakah master dulu juga membantunya untuk mendapatkan Nisa?"


"Kakak ipar salah, aku sama sekali tidak ikut campur dalam hubungan mereka. Kak Ricky menaklukkan kakakku dengan caranya sendiri. Sebenarnya aku juga heran, dia hebat sekali sampai bisa membuat kakakku yang bagaikan iblis itu tunduk kepadanya. Jujur, menurutku jika bersaing secara adil, terlepas dari ikatan apa pun, kakak ipar sudah pasti kalah telak jika dibandingkan dengannya."


Bahkan jika diceritakan, sebenarnya kisah mereka bisa membuat semua orang iri, kecuali aku.


"Jadi di matamu aku tidak sebanding dengannya?"


"Bukannya tidak sebanding, tapi pada dasarnya kalian berdua memang berbeda. Toh itu tadi cuma pendapatku, jadi kakak ipar jangan merasa rendah diri. Kakak tenang saja, ada aku yang sepenuhnya mendukungmu. Emm ... btw, nomor kakak ipar dinamai apa oleh kak Nisa?"


"Kenapa kau ingin tahu?"


"Ya aku penasaran, aku ingin tahu kakak ipar dianggap sebagai apa oleh kakakku. Tapi kalau keberatan juga gapapa."


"Yamori, sekarang dia menyimpan nomorku dengan nama itu."


Sebelumnya Si Brengsek Cepatlah Mati, lalu aku ganti Pria Sempurna, dan kemarin aku lihat telah diganti dengan nama itu. Entah apa itu Yamori, setiap kali merasa kesal dia selalu mengataiku dengan nama itu.


"Hah!? Serius yamori?" Reihan langsung menunduk. "Pffttt ... yamori ..."


Kakak benar-benar gokil, dia mengatai suaminya sendiri yamori. Padahal yamori kan bahasa Jepang untuk cicak. Mungkin karena kakak ipar selalu menempel kepadanya, makanya dia disebut yamori.


"Kenapa tertawa!? Yamori itu artinya apa?"


"Haha ... i-itu artinya kakak ipar selalu dekat dengannya, bahkan bisa disebut menempel. Yamori itu sangat istimewa ..." Reihan lalu berdiri. "Kakak ipar cuma ingin tahu hal itu kan? Kalau iya, aku pergi sekarang."


"Iya, cuma itu. Sekarang kau bisa pergi."

__ADS_1


"Oke, dadah kakak ipar~" ucap Reihan sambil berjalan keluar dari ruangannya Keyran. "Cari Dimas dulu ah, sekalian kenalan sama kakak-kakak cantik."


"..."


Dia mungkin akan mengganggu para karyawanku, tapi dia banyak membantuku, sebaiknya aku biarkan saja.


***


Malam harinya, di rumah. Malam ini seperti malam biasanya, tapi Keyran yang sudah memakai piama masih mondar-mandir di luar pintu kamarnya.


Aaahhh! Bagaimana ini!? Kata master aku harus bersikap seperti anak kecil, ini sulit aku lakukan! Tapi jika untuk menaklukkan Nisa ... aku harus tetap melakukannya. 15 menit yang lalu aku juga sudah minta ide dari master. Dan ide itu sangat kekanakan.


Keyran lalu berjalan menuju tangga dan menoleh ke kanan kiri.


Sekarang Nisa masih di dapur. Masih ada waktu untukku bersiap.


Tak lama kemudian datanglah Nisa, saat menaiki tangga dia dihalangi oleh Keyran. Dia bergerak ke kiri, Keyran juga ke kiri. Dia bergerak ke kanan, Keyran juga ke kanan.


"Aku mau lewat!"


"Aku tahu." Keyran menyilangkan tangannya lalu malah duduk di tangga. Dia memblokir tangga dan tersenyum kepada Nisa.


"Aku mau lewat Key ..."


"Aku tahu."


"Jika sudah tahu maka minggirlah, beri aku jalan untuk lewat!"


"Tidak mau."


"Huhh ... darling~ aku mau lewat. Aku ingin tidur di kamar."


"Aku tahu."


"Sebenarnya kau mau apa!?"


"Jika ingin lewat maka harus punya tiket, mana tiketmu?" Keyran lalu mengulurkan tangannya.


"Seumur hidup aku baru dengar naik tangga harus punya tiket. Berapa harga tiketnya?"


"Tiket tidak dijual."


"Lalu bagaimana bisa aku dapat tiket?"


"Tiket hanya bisa didapat dengan kemauan dan usaha."


"Tiket macam apa yang kau maksud hah!?"


"Tiket ciuman. Kau harus mencium dulu, setelah itu baru boleh lewat." ucap Keyran dengan tampang polos.


"Astaga ..."


Tumben sekali berbelit-belit minta dicium, biasanya dia melakukannya secara mendadak. Tapi ekspresinya ini sedikit ... sedikit membuatku merasa kalau dia ini imut. Baru pertama kali aku melihatnya seperti ini. Ingin sekali aku memotretnya.


"Oke, kau ingin tiket maka kau akan mendapatkannya."


Nisa tersenyum lalu duduk di salah satu pahanya Keyran. Dia meletakkan tangannya di bahu Keyran. Dan akhirnya secara suka rela Nisa menciumnya.


"M-mmm ..."


Berhasil! Master memang bisa diandalkan! Semoga saja nanti ada keajaiban.


Tiba-tiba saja Nisa membuka matanya dan merasa ada yang janggal. Dia lalu perlahan melepaskan ciumannya.


"Key ... setelah berulang kali berciuman denganmu, sekarang aku baru sadar akan satu hal. Sebelumnya aku kurang memperhatikan, saat berciuman kau tahan napas ya?"


"Iya, apa itu salah?"


"Sebenarnya kau bisa bernapas secara normal, kau ini kurang berpengalaman. Ciuman pertamamu kau lakukan sudah lama sekali ya?"


"Belum lama, ciuman pertamaku aku lakukan denganmu. Saat di ruang ganti itu, saat acara pertunangan."


"A-apa!?"


Tunggu sebentar ... jadi aku ini adalah wanita pertamanya. Ternyata selama ini aku salah paham. Aku pikir aku adalah wanita ke sekian karena saat itu aku melihat banyak wanita yang keluar masuk di ruangannya. Tapi ada yang salah, Keyran ini kenapa bisa begitu mesum?


"Key ... apa sebelumnya kau pernah berpacaran?"


"Aku tidak pernah berpacaran. Berpacaran hanya membuang-buang waktuku."


"...."


Ya ampun ... aku merasa bersalah. Ternyata akulah yang telah menodai orang alim sepertinya. Dia bertingkah mesum setelah mengenalku. Ini sedikit kurang adil, aku akan mengajarinya berciuman yang benar.


"Sudah aku putuskan, aku akan mengajarimu berciuman yang benar. Pertama, ingat selalu untuk bernapas. Kedua, jika dirasa sudah nyaman kau bisa menutup mata. Yang terakhir ... ikuti saja insting. Mengerti?"


"Mengerti. Tapi ... apa kau menganggapku bodoh?"


"Haha ... bodoh dari mana? Kita ini sama-sama belajar, pokoknya lakukan senyaman mungkin."


"Oke ..."


Untuk pertama kalinya kedua orang itu melakukan ciuman dengan benar, yaitu tanpa paksaan dan atas dasar kemauan masing-masing. Lama-kelamaan ciuman itu semakin dalam, saling mengulum mulut dengan begitu lembut.


"Ehmmm ...!!?" tiba-tiba Nisa membuka matanya.


A-apa ini!? Ada yang menabrakku! I-itu miliknya kan?

__ADS_1



__ADS_2