Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Orang Baru


__ADS_3

"Tuan, kabar buruk!" teriak Valen pada Keyran.


"Kabar buruk seperti apa sampai kau panik seperti ini?" tanya Keyran terheran-heran.


"I-itu... ketiga agen yang disuruh untuk mengawasi nyonya telah diserang, dan yang telah menghajar mereka adalah penjual roti temannya nyonya itu!"


"Jelaskan secara rinci alasan mereka bisa dihajar oleh penjual itu! Dan bagaimana dengan Nisa?"


"Menurut laporan dari para agen, awalnya nyonya dan penjual itu bertingkah seperti biasa. Tapi, nyonya tiba-tiba menyerahkan amplop berisi uang kepada penjual itu. Mereka berdua mulai berbisik satu sama lain, setelah itu mereka langsung berjalan bersama menuju ke sebuah tempat. Saat di perjalanan para agen kehilangan jejak nyonya dan temannya. Lalu, saat mereka bertiga berkumpul tiba-tiba temannya nyonya muncul dan menghajar mereka."


"Apa kau berpikir bahwa Nisa tahu kalau dia sedang diawasi, karena itu dia membayar temannya itu untuk menghajar para agen itu?"


"Soal itu saya tidak terlalu yakin, karena sebelumnya nyonya bertingkah seperti tidak tahu apa-apa. Menurut saya yang mencurigakan adalah temannya nyonya itu, dia bisa menghajar ketiga agen itu sampai pingsan hanya dengan satu pukulan. Ketiga agen itu juga mengalami luka serius, yang pertama tulang rahangnya bergeser, yang kedua setelah sadar dia mendapati kedua tangan dan satu kakinya patah. Dan yang terakhir, sampai sekarang dia belum sadar karena telah mendapat pukulan yang sangat keras di ulu hati."


"Dia sehebat itu? Memangnya bela diri apa yang dia gunakan?"


"Sepertinya muay thai, dan kemungkinan besar dia sudah ahli di bidangnya. Lalu untuk para agen itu, mereka bilang kalau tidak bisa melanjutkan tugasnya untuk mengawasi nyonya. Apa tuan masih ingin mengirim orang lagi untuk mengawasi nyonya?"


"Ya, kirimkan lebih banyak orang lagi! Dan jangan lupa cari tahu siapa sebenarnya temannya itu!"


Nisa, apa yang kau coba sembunyikan dariku? Atau... apakah mungkin seperti ini caramu menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya?


"Baik tuan, segera saya laksanakan..."


...Pada saat yang sama, keadaan Nisa...


...••••••...


Nisa telah tiba di tempat tujuannya, yaitu rumahnya Ivan. Saat Nisa sampai, dia langsung mendobrak pintu dan kemudian mencari apakah Ivan ada di rumahnya atau tidak. Dan ternyata dia menjumpai Ivan yang sedang duduk sambil sibuk menatap monitor. Melihat hal itu Nisa tanpa berkata apa pun langsung mencekoki Ivan dengan jus wortel yang telah dia buat.


"Uhuk.. uhuk.. uhuk!" Ivan terbatuk-batuk dan seketika menatap Nisa dengan tatapan marah, "Udah gila ya!? Apa seperti ini caranya bos memberi salam padaku!? Pakai jus wortel lagi, emangnya nggak ada yang lebih enak apa!?" protes Ivan.


"Kenapa, nggak terima? Jus wortel sangat bagus untuk matamu, seharusnya kau itu berterima kasih padaku! Lagian, kau sendiri juga tahu kalau aku gila atau nggak." ucap Nisa acuh tak acuh.


"Iya, bos itu orangnya memang gila. Kalau nggak gila, nggak mungkin lah jadi bosku!" Ivan lalu memperhatikan Nisa, dan seketika dia langsung merebut kantong plastik yang dibawa oleh Nisa. "Ini untukku kan? Makasih ya, bos baik deh~"


"Iya, untukmu. Ivan, pinjam korek dong!" ucap Nisa sambil mengulurkan satu tangannya.


"Aku nggak punya, sekarang aku ngevape. Kalau mau, pakai kompor di dapur sana!"


"Tsk! Iya deh..." Nisa lalu berjalan menuju ke dapur, tak lama kemudian dia kembali lalu duduk di sebelah Ivan sambil mulai menghisap rokok.


"Ckck..." gerutu Ivan yang tengah memakan roti sambil geleng-geleng kepala.


"Kenapa?" tanya Nisa dengan nada malas.


"Nggak kenapa-kenapa kok, aku cuma mau bilang kalau nggak punya asbak," Ivan lalu mengulurkan kantong plastik pada Nisa. "Nih, pakai ini! Aku malas bersih-bersih rumah soalnya."


"Yaa.. makasih."


"Bos, boleh nggak aku tanya sesuatu?"


"Fyuuh... tanya saja, kalaupun kau bertanya kapan aku mati juga bakalan aku jawab." ucap Nisa sambil terus menghisap rokoknya.


"Bukannya dulu bos pernah bilang kalau sudah nggak mau peduli lagi, bahkan dulu ada juga loh yang kecewa. Lalu, sekarang apa bos benar-benar serius?"


"Yup, dulu memang sempat aku nggak peduli dan nggak mau tahu. Fyuuh... sekarang aku sadar, itu semua memang nggak bisa berubah. Pada akhirnya inilah diriku, terserah orang mau bilang apa aku nggak peduli."


"Kalau secara pribadi sih, aku lebih suka bos yang seperti ini. Bahkan dulu dengan bangganya bos berkata 'pacarku itu dokter, jadi aku mau berhenti merokok' Tapi, lihatlah dirimu yang sekarang..." ucap Ivan seolah mengejek.


"Haha, ternyata kau masih ingat. Sebenarnya aku juga punya alasan lain, aku sudah lama merindukan perasaan bebas seperti ini. Dan jika aku seperti ini, aku merasa bebanku sedikit berkurang..." ucap Nisa dengan senyum pahit.


"Iya sih, sekarang bos sudah bebas, nggak jadi budaknya cinta lagi. Ngomong-ngomong... selamat atas pernikahanmu!"


"Huh! Pernikahan apanya? Aku sendiri bahkan nggak merasa kalau sudah menikah, tapi bagiku pernikahan ini juga ada sisi baiknya. Sekarang aku merasa kalau aku menjadi diriku yang dulu, aku bisa melakukan semua yang aku mau!"


"Memangnya nggak takut kalau seandainya suamimu tahu kelakuanmu yang seperti ini? Apa dia nggak memperlakukanmu dengan baik? Atau, bahkan dia nggak peduli sama sekali?"


"Yaa.. begitulah, aku juga nggak tahu dia bakalan marah atau nggak. Kalau tentang suamiku sih, aku akan terus memainkan drama di depannya, sebenarnya ini juga yang menjadi alasanku datang kemari. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku!"


"Melakukan apa?"


"Mudah saja, kau hanya perlu mengutak-atik CCTV! Lokasinya nanti aku beritahu, kau gunakan saja akses jarak jauh."


"Heee? Bukannya hal mudah seperti itu bisa bos lakukan sendiri, untuk apa minta bantuanku untuk urusan sekecil ini?"


"Fyuuhh..." Nisa meniupkan asap rokok tepat di wajah Ivan, "Aku bilang lakukan ya lakukan!" bentak Nisa.


"Iya deh, terus kapan bos akan beraksi? Sama siapa juga?" tanya Ivan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Malam ini jam 10, dan aku akan beraksi sendirian. Kau langsung utak-atik CCTV begitu dapat kabar dariku!"


"Oke. Tapi, kenapa malam hari? Suaminya bos emangnya nggak nyariin? Kasihan loh kalau nggak dapat jatah~"


"Jatah palamu! Dia nggak ada di rumah, makanya seminggu ini aku bebas ngapain aja! Dia itu sedang di Jerman, semoga saja selamanya nggak akan pulang!"


"Seminggu? Boss, jangan-jangan seminggu ini kau bolos kuliah dan terus di rumah aja. Pasti bos di rumah cuma merokok sama pushrank kan? Ngaku aja..."


"Betul, kau memang mengenalku." Nisa lalu mulai menghisap rokoknya yang kedua.


"Sebenarnya bos mulai merokok lagi sejak kapan? Bos juga terus-terusan bolos kuliah, emangnya nggak takut kena drop out dari kampus?"


"Aku mulai merokok lagi semenjak putus sama Ricky. Terus... soal kuliah kau nggak perlu khawatir, aku punya backingan. Lagian, aku pengen cepat-cepat wisuda. Dapat gelar S1 cukup bagiku, toh cita-cita juga sudah tercapai."


"Cepet amat wisuda? Bos kan kuliah baru 2 tahun lebih sedikit, ngelantur ya?"


"Kau saja yang sudah lupa. Aku ikut program fast-track yang 1 tahun ada 3 semester. Karena itu aku bisa cepat dapat gelar! Nanti masalah skripsi bisa copy paste, intinya hidup itu kau buat mudah saja."


"Idiihhh... hidup itu mudah hanya untuk orang sepertimu, nggak belajar juga sudah pintar. Cuma bakat dari lahir dan keberuntungan yang bisa melakukannya..."


"Hei hei, jangan pesimis dong~ lagian, penghasilanmu juga banyak. Kau masih lebih beruntung daripada Dika, setidaknya kau punya bakat. Hanya saja mungkin matamu yang jadi korban, memangnya matamu nggak lelah apa terus-terusan menatap komputer seperti ini?"


"Mana mungkin aku lelah, jalan hidupku memang seperti ini. Oh iya, aku ada berita yang cukup menarik!"


"Berita apa?" tanya Nisa dengan antusias.


"Semalam aku menemukan akun 'Grizzly Cat' yang kedua di dark web. Bos, menurutmu apakah ini semacam ancaman?"


(Dark web atau darknet adalah bagian internet yang tidak bisa diakses oleh sembarang orang, kebanyakan adalah hacker yang menggunakannya)


"Hmmm.. Grizzly Cat ya~" Nisa lalu menyeringai, "Biarkan saja, jangan terlalu dipikirkan. Paling juga masih pemula, tapi kalau kau masih penasaran, kau awasi saja dulu. Dan jika mulai buat masalah, langsung bereskan!"


"Huh! Aku pikir berita ini akan mengejutkan untukmu, tapi ternyata nggak dianggap sama sekali." ucap Ivan dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Tentu saja, ini bukan yang pertama kalinya. Lalu, kau teruskan saja pekerjaanmu itu. Aku baru akan pulang setelah habis sebungkus."


"Humph.. ora udud paru-paru ora smile! Andai saja Marcell tahu bos sudah kembali, pasti dia bakalan senang dan langsung salto 5 kali."


"Oh iya, tentang Marcell... aku tiba-tiba ingat sesuatu. 4 hari lagi kalau kau nggak sibuk datanglah ke DG!"


"Memangnya kenapa harus 4 hari lagi?"


"Aku ingin merayakan sesuatu dan hari itu pasti Marcell sudah keluar dari lapas. Sudah lama aku nggak bertemu dengannya, dan terkadang dia seperti menghindar dariku." ucap Nisa dengan wajah murung.


"Ya iya lah, waktu itu Marcell yang paling kecewa. Tapi, bos tahu dari mana kalau Marcell masuk lapas? "


"Dari Dika, Marcell tertangkap sehari yang lalu. Faris yang mengurusnya, setidaknya butuh waktu 4 hari untuk mengeluarkan dia dari sana."


"Marcell emang nggak ada kapok-kapoknya masuk lapas. Bahkan petugas disana pasti sudah hafal dengannya. Tapi bos sekarang sudah kembali, pasti nanti Marcell bakalan lebih tenang."


"Hah... semoga saja."


Nisa terus menghisap rokok miliknya, saat dia menghisap batang rokok terakhir tiba-tiba Ivan berteriak, "Boss... ada sesuatu yang menarik! Cepat lihat ini!" ucap Ivan sambil menunjuk ke arah layar monitor.


"Mana?" Nisa lalu mendekat untuk melihat, dan ternyata berita itu cukup mengejutkan untuknya. "A-apa!? Keyran kecelakaan! Apa aku akan jadi janda secepat ini?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Sembarangan! Suamimu masih hidup bos! Ini berita setahun yang lalu! Makanya dibaca dulu tanggalnya!"


"Tsk! Setahun yang lalu toh, aku pikir berita terkini. Kenapa dia nggak mati aja sih?"


"Wah wah... nanti kualat loh! Seharusnya bersyukur dong suamimu masih hidup, tapi juga keajaiban bisa selamat dari kecelakaan separah itu."


"Apa cuma ini yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Nisa dengan nada malas.


"Nggak lah, lihat nih! Masih banyak..."


"Hmmm..." Nisa membaca informasi tentang suaminya dengan teliti. "Gila! Hidupnya dipenuhi dengan konspirasi! Pantas saja dia mengirim orang untuk memata-matai aku. Dugaanku benar, untungnya tadi Dika yang jadi kambing hitam."


"Dika? Kenapa dia nggak mampir dulu kesini?"


"Dia malas bertemu dengan streamer loli sepertimu. Informasi tentang suamiku ini cukup berguna, makasih ya sudah berinisiatif mencarinya!"


"Hehe, ini memang tugasku. Apa bos mau pergi sekarang?"


"Iya, bye Ivan... nanti malam jangan ketiduran dulu!" ucap Nisa sambil berjalan pergi.


Dengan perasaan yang cukup bahagia Nisa berjalan pulang. Saat dia sampai di suatu gang yang sepi, dia melihat pemandangan yang tidak biasa. Ada seorang pria yang berpakaian rapi sedang menghajar sekumpulan orang-orang yang juga berpakaian rapi.


Pria itu terlihat sangat mendominasi saat sedang bertarung. Melihat hal itu Nisa hanya diam dan terus mengamati, sampai pada akhirnya pria itu seorang diri berhasil melumpuhkan sekumpulan orang-orang itu. Setelah pria asing itu selesai, dia baru sadar kalau ada Nisa yang telah melihat semuanya sejak awal.


Kemudian dengan sorot mata yang tajam pria asing itu berjalan mendekati Nisa. Nisa bukannya merasa takut tapi malah tersenyum kepadanya. Pria asing itu merasa tidak peduli kepada Nisa dan mengabaikannya. Dia kemudian berjalan melewati Nisa sambil berkata, "don't report and assume never happened!"


(Jangan melapor dan anggap tidak pernah terjadi!)


"No problem."


(Tidak masalah)


Nisa dengan santainya berjalan melewati pria asing itu, dan kemudian menuju ke sekumpulan orang-orang yang telah dikalahkan oleh pria itu. Nisa menggeledah dan mengumpulkan semua ponsel milik orang-orang itu. Pria asing itu belum pergi dan masih mengawasi gerak-gerik Nisa. Dan Nisa kemudian memilih salah satu dari ponsel tersebut dan bersiap untuk menelepon.


"What would you do!? Are you plundering them? Who do you want to contact using the cell phone? I warned you not to report!" gertak pria asing itu.


(Apa yang akan kau lakukan!? Apakah kau menjarah mereka? Kau ingin menelepon siapa menggunakan ponsel itu? Aku sudah memperingatkanmu agar jangan melapor!)


(Apakah kau melihat mereka? Mereka semua tidak sadarkan diri dan ada juga yang sekarat. Harus ada yang mengurus mayat mereka, aku cuma ingin menelepon ambulans. Aku juga tidak akan melaporkanmu pada polisi)


Nisa kemudian menelepon ambulans dan setelah itu dia membanting ponsel yang dia gunakan. Sementara itu, sisa ponsel lainnya dia kumpulkan lalu disembunyikan di dekat tong sampah di sekitarnya. Kemudian Nisa dengan santainya berjalan melewati pria asing itu dan tersenyum sambil berkata, "Thank you~"


(Terima kasih~)


Nisa pergi meninggalkan pria asing itu seorang diri. Saat Nisa sudah agak jauh, pria asing itu membuntutinya karena merasa bahwa Nisa tampak mencurigakan. Nisa mengunjungi bermacam-macam tempat, mulai dari supermarket, warnet, gedung olahraga, yang terakhir dia menuju ke perpustakaan dan berada di sana cukup lama.


Meskipun Nisa bertingkah sewajarnya, pria asing itu terus memperhatikan Nisa dan berpura-pura membaca buku di perpustakaan itu. Pria asing itu lama-kelamaan semakin mencoba mendekat ke arah Nisa yang tengah duduk di bangku sambil membaca buku.


Nisa semakin yakin bahwa dirinya sedang diawasi, karena itu dia lalu berpindah ke tempat duduk yang lumayan sepi. Seketika pria asing itu juga mengikuti Nisa berpindah, tapi Nisa masih berlagak seakan tidak peduli dan terus membaca buku.


"Cowok ini ngapain sih?" gumam Nisa.


Dari tadi dia secara terang-terangan terus mengikutiku, sebenarnya apa maunya? Padahal aku kan sudah bilang kalau nggak akan melapor. Aku juga sudah memastikan kalau dia itu juga bukan orang suruhannya Keyran, tapi orang-orang yang telah dia hajar tadi baru orang suruhannya Keyran.


Aku sangat yakin karena tadi saat aku ingin menelepon ambulans, aku melihat di hp orang itu kalau nomor yang sering dihubungi sama dengan nomornya Valen. Terus... sisa hp tadi, aku juga sudah menghubungi Ivan agar mengambilnya, aku ingin Ivan mengorek semua informasi yang ada dari hp-hp itu.


Tapi, masalahnya sekarang adalah cowok ini masih mengawasiku. Aku yakin kalau dia bukan orang yang sederhana, karena saat dia bertarung bela diri yang dia pakai adalah systema. Systema adalah bela diri aliran keras dari Rusia, secara teknis systema nggak digunakan untuk membela diri, tapi lebih digunakan untuk membunuh lawan dengan cepat dan tepat.


Jangan-jangan target orang ini yang sebenarnya adalah aku? Apa dia ingin melenyapkanku karena tadi sudah melihat semuanya? Nggak bisa begini, aku harus menghampirinya dan menjelaskan kalau aku benar-benar nggak akan melapor.


Nisa meletakkan buku yang dia baca dan kemudian menghampiri pria asing tersebut. Dia lalu duduk tepat di sebelahnya dan menatapnya dengan tatapan sinis. Setelah itu Nisa berkata, "Stop following me! I told you that I won't report you, trust me."


(Berhenti mengikutiku! Sudah kubilang aku tidak akan melaporkanmu, percayalah)


"Yeah, I trust you. I keep following you because I am attracted to you." ucap pria asing itu sambil tersenyum.


(Ya, aku percaya kepadamu. Aku terus mengikutimu karena aku tertarik kepadamu)


"What!? Please don't joke! What is your reason for being attracted to me?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


(Apa!? Tolong jangan bercanda! Apa alasanmu tertarik padaku?)


"You're panicking too much, it looks like you misunderstood what I meant. I am only interested in why you thanked me in advance. So, why do you say thank you?"


(Kau terlalu panik, sepertinya kau salah paham tentang maksudku. Aku hanya tertarik mengapa kau berterima kasih kepadaku sebelumnya. Jadi, mengapa kau mengucapkan terima kasih?)


"Oh, I see. The reason I am grateful, because of the entertainment you have provided. You beat them all alone, that's amazing!" ucap Nisa dengan antusias.


(Oh, ternyata begitu. Alasan aku berterima kasih, karena hiburan yang telah kau berikan. Kau mengalahkan mereka semua seorang diri, itu luar biasa!)


Tapi bo'ong! Alasanku sebenarnya adalah karena kau telah menjadi kambing hitam.


"It's nothing for me. I'm also a little curious why you obeyed me and didn't report? I think you're a little different, people usually panic a little bit when they witness something like that. Some are even dying, why don't you care if someone dies?"


(Itu bukan apa-apa bagiku. Aku juga sedikit penasaran mengapa kau menurutiku dan tidak melapor? Aku pikir kau sedikit berbeda, orang biasanya akan cukup panik saat mereka menyaksikan hal seperti itu. Beberapa bahkan sekarat, mengapa kau tidak peduli jika seseorang mati?)


"I didn't report because it's none of my business. Then, if someone dies, it's none of my business either. Death is a natural thing, if someone died it was their destiny." jawab Nisa dengan enteng.


(Aku tidak melapor karena itu bukan urusanku. Lalu, jika seseorang mati, itu juga bukan urusanku. Kematian adalah hal yang wajar, jika seseorang mati itu adalah takdirnya)


"Hey lady, you are quite attractive. Do you want to be my friend?"

__ADS_1


(Hei nona, kau cukup menarik. Apa kau mau menjadi temanku?)


"Friend?"


Kalau aku pikir-pikir... nggak ada ruginya juga jadi temannya. Aku bisa memanfaatkan dia jika aku jadi temannya, toh cowok ini pakai bahasa inggris, pasti dia orangnya pintar.


"So, what's your decision?" tanya pria asing itu sambil mengangkat kedua alisnya.


"Alright, i will be your friend. But, you have to introduce yourself first!"


(Baiklah, aku akan jadi temanmu. Tapi, kau harus memperkenalkan diri terlebih dahulu!)


"Okay, please listen carefully. My name is Jonathan, 27 years old, and I am unemployed. Now it's your turn to introduce yourself!" ucap Jonathan sambil mengulurkan tangannya.


(Oke, tolong dengarkan baik-baik. Namaku Jonathan, umur 27 tahun, dan aku seorang pengangguran. Sekarang giliranmu memperkenalkan diri!)


"Okay," Nisa lalu berjabat tangan dengan Jonathan. "My name is Nisa, 19 years old, and I am collage student. Nice to meet you Joe..." ucap Nisa sambil tersenyum.


(Namaku Nisa, 19 tahun, dan aku seorang mahasiswa. Senang bertemu denganmu Joe...)


27 tahun yaa.. dia seumuran dengan Keyran.


"Nice to meet you too Nisa. Now as your friend I will be honest with you..." ucap Jonathan sambil tersenyum.


(Senang bertemu denganmu juga Nisa. Sekarang sebagai temanmu aku akan jujur padamu...)


"About what?"


(Tentang apa?)


"Kau fasih sekali berbahasa inggris, sangat hebat~"


"Anjink babi! Persetan denganmu! Baru kenal sudah mempermainkan aku! Aku batal jadi temanmu!" teriak Nisa seakan tidak terima.


"Hei hei, pelankan suaramu~ ini perpustakaan loh! Lagipula kau sendiri yang memulai dengan bahasa inggris, aku hanya mengikutimu saja. Kalau kaget ya kaget saja, kenapa harus bicara sarkas seperti itu?" ejek Jonathan.


"Aku memang suka sarkasme, itu seperti memukul orang tepat di wajahnya dengan kata-kata. Sialan kau, aku pikir akan dapat teman baru yang menyenangkan. Tapi, ternyata malah seperti ini..."


"Ckck... kau ternyata sama sekali tidak sungkan saat bicara dengan orang yang lebih tua darimu. Tapi kau tenang saja, aku temanmu, jadi aku maklumi perbuatanmu."


"Aku nggak peduli siapa yang lebih tua. Bagiku usia hanyalah angka, itu nggak terlalu berpengaruh bagiku! Lagipula siapa juga yang temanmu? Aku sudah bilang kalau aku batal jadi temanmu!"


"Nisa, kau aneh sekali. Seharusnya kau senang karena pertemanan kita diawali dengan kejujuran, apa kau lebih suka jika pakai bahasa inggris?"


"Hah... sudahlah, lupakan saja yang tadi itu! Kau tetap jadi temanku, tapi kau harus membantuku!"


"Bantu apa?"


"Ini..." Nisa lalu menyodorkan sebuah buku kepada Jonathan. "Bantu aku memahami materi di halaman 36 paragraf ke-4! Kalau bisa, kau tetap akan jadi temanku!"


"Hmmm..." Jonathan lalu membaca sekilas, "Ini mudah! Mendekatlah kemari, biar aku jelaskan!"


"Oke," Nisa lalu mendekat dan memperhatikan bagaimana Jonathan menjelaskan materi kepadanya. "Joe, makasih ya, berkatmu sekarang aku paham!"


"Sama-sama, teman memang harus seperti ini."


"Btw, nama akun medsos mu apa? Nanti aku follow terus jangan lupa follow balik, nanti kita bisa main bareng!"


"Joe_CX, itu nama akun ku."


"Baik, aku follow sekarang." Nisa lalu mengambil ponsel miliknya dan segera mencari akun Jonathan. "Joe, kenapa nggak ketemu? Apa sudah dihapus?"


"Aku lupa bilang, aku belum buat! Karena itu kau tidak menemukannya." ucap Jonathan sambil meringis.


"Tol*l! Sini hp mu! Aku buatkan sekarang!"


"Ini..." Jonathan lalu menyerahkan ponselnya pada Nisa, setelah selesai Nisa langsung menyerahkan kembali kepada Jonathan. "Nisa, kenapa postinganmu isinya seperti ini? Apa kau seorang cosplayer?"


"Yup, aku memang cosplayer. Semua hasilnya bagus kan? Aku juga dapat predikat sebagai ratu cosplay loh!"


"Ini.." Jonathan lalu memperlihatkan ponselnya pada Nisa. "Apa dia pacarmu?"


"Eh!? I-itu..."


Ternyata fotoku dan Ricky saat masih pacaran belum aku hapus. Sialan, gagal move on lagi!!


"Kau kenapa murung seperti itu?"


"Itu foto mantanku, aku lupa belum menghapusnya. Sekarang akan aku hapus..."


"Hei, jangan murung begitu.. Hari ini kau mendapat teman baru, jadi cerialah seperti tadi!"


"Haha kau benar, aku harus ceria! Nah, karena sekarang kau temanku, traktir aku kopi dong! Kau punya uang kan?"


"Jangan remehkan aku, meskipun aku pengangguran tapi aku punya banyak uang. Bahkan beli pabriknya sekalian aku sanggup!"


"Hehe, iya deh. Percaya kok~ kalau begitu let's go beli kopi!" Nisa lalu menarik tangan Jonathan dengan semangat.


"Okay, let's go!"


Nisa, kau adalah teman pertamaku. Kau bahkan memanggilku dengan sangat akrab. Tapi, aku tidak yakin bisa terus jadi temanmu.


🍃


🍃


🍃


🍃


Hallo!! Ini pertama kalinya author muncul. Kemunculan author bukan tanpa sebab loh~ Author cuma ingin memberitahu kepada para pembaca yang budiman bahwa novel ini sekarang sudah lengkap. Maksudnya, semua tokoh penting sekarang sudah muncul.😁


Author masih pemula, jadi dimohon untuk para pembaca yang budiman agar memaklumi ketika ada kesalahan dalam karya pertama author ini. Author juga belum bisa update setiap hari, tapi author pasti akan berusaha!!🔥🔥🔥


Sekedar informasi:


Jika suka dengan cerita saya, jangan lupa klik favorit serta like, komen, rate dan vote karya author yah. Agar author semakin semangat untuk menulis dan melanjutkan kisah ini. Sekian dan terima kasih.🤩




__ADS_1



__ADS_2