Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Perfect Honeymoon (4)


__ADS_3

Nisa yang merasa sedikit tertantang lalu berjalan mendekat ke arah Keyran. "Sekarang aku masih pakai piama, tunggu aku ganti baju dulu, setelah itu biar aku tunjukkan kehebatanku."


"Heh," Keyran menyeringai. "Dasar sombong, awas saja kalau gerakanmu nanti mengecewakan!"


"Tidak akan~"


Selang beberapa menit kemudian, Nisa yang telah selesai berganti pakaian di ruang ganti akhirnya datang dengan penampilannya yang membuat Keyran melongo. Atasan sport bra yang memperlihatkan garis leher, lengan, serta perutnya yang ramping, dengan celana legging olahraga yang panjangnya di atas lutut.


Nisa lalu menghampiri Keyran yang tengah duduk di kursi yang tadinya dia duduki, kemudian dia berkacak pinggang dengan penuh percaya diri. "Nah, sekarang aku siap! Apa kau sudah siap melihat gerakan yang mengagumkan?!"


"Kau sengaja mau menggodaku dengan berpenampilan begitu?" tanya Keyran dengan ekspresi datar.


"Siapa juga yang mau menggodamu?! Aku pakai model ini supaya minim guncangan, akan sangat risi jika dadaku terlalu banyak guncangan. Kau saja yang selalu berpikiran mesum!" Nisa berteriak sampai dirinya tidak sadar bahwa tubuhnya membungkuk dan dadanya sudah berada di depan muka Keyran.


"O-ohh ... begitu ya," Keyran lalu membuang muka ke samping. "Wajar kan jika aku berpikiran begitu, toh sekarang kita sedang bulan madu. Mungkin saja kau ingin melakukannya di tempat yang tidak biasa ... seperti halnya sekarang." ucap Keyran dengan suara pelan namun dapat dipastikan Nisa mendengarnya.


"..."


Aku tidak habis pikir, ternyata suamiku sudah melewati batas kemesuman yang bahkan belum pernah aku lihat konten seperti ini di situs video porno.


Nisa kemudian sedikit menjauh dari Keyran untuk melakukan beberapa gerakan pemanasan dan peregangan, seperti gerakan lari-lari kecil di tempat, melompat, rotasi atau memutar tubuh, mencium lutut dan split.


Keyran yang melihat semua itu mendadak berkata, "Tubuhmu lentur ya~"


"Haha ... sudah pasti," jawab Nisa sambil meringis. Setelah itu dia mengakhiri gerakan split lalu berjalan mendekat ke arah samsak yang tergantung. Dia lalu mengecek kondisi samsak, lalu setelahnya dia malah terdiam.


"Ayo mulai, ke mana perginya rasa percaya dirimu tadi?" tanya Keyran dengan tidak sabar.


"Aku cuma sedang berpikir, kau mau melihat teknik yang mana?"


"Perlihatkan teknik tendangan, taekwondo kan fokus pada gerakan kaki."


"Kau bodoh ya?" tanya Nisa sambil tersenyum miring. "Salah besar jika menganggap taekwondo hanya berfokus pada gerakan kaki. Memang di dalam kejuaraan kyorugi alias pertarungan, gerakan tendangan memang paling banyak digunakan. Tapi di kejuaraan poomsae alias jurus, gerakannya berfokus pada tangan."


"Ohh ... jadi waktu itu saat aku melihat trophy di kamarmu, salah satunya bertuliskan poomsae yang ternyata artinya jurus!" ucap Keyran seakan mendapat pencerahan.


"Yahh ... bukan hal aneh juga kalau kau tak tahu, lagi pula kebanyakan istilah di taekwondo pakai bahasa Korea, taekwondo asalnya juga dari sana." Nisa lalu melambaikan tangannya. "Kemarilah!"


"Untuk apa?" tanya Keyran dengan raut wajah bingung, namun tiba-tiba saja Nisa malah menghampirinya lalu menyeretnya mendekat dan berdiri tepat di samping samsak.


"Nah, sempurna!" Nisa berdiri di depan Keyran, lalu dia berjinjit dan tangannya berusaha mengukur dan menyelaraskan tinggi badan Keyran dengan samsak tersebut.


"Kau ini sedang apa?"


"Menandai titik vital." Nisa lalu menunjuk ke salah satu sisi dari samsak itu. "Lihat ini!"


Seketika Keyran menoleh. "Jadi maksudmu, kau ingin mengibaratkan kepala target pada samsak ini!"


"Tepat, ukuran tubuhmu ideal jadi akan cocok. Tapi sebelum itu ... Kau cobalah dulu! Tendang bagian yang aku tandai tadi sekeras yang kau bisa, kau bisa pakai jenis tendangan apa pun!" Nisa lalu berpindah tempat sedikit menjauh dari samsak.


Sekilas Keyran melirik ke arah Nisa, lalu kemudian dia tersenyum miring sambil memandang lurus ke arah samsak.


Heh, benar-benar sombong! Aku tahu apa maksudmu, nantinya kau bermaksud membandingkan tendanganku dengan tendanganmu. Kalau begitu coba saja, aku pakai seluruh tenagaku, biar kita lihat bagaimana ekspresimu nanti.


Keyran memantapkan kaki depannya di satu tempat, dengan cepat dia mengayunkan kaki belakangannya naik ke arah sasaran, pada saat yang sama dia memutar pinggulnya untuk menambah kekuatan.


BHUAK!


Sontak saja samsak itu berayun cepat karena tendangan keras yang dilakukan Keyran. Tendangan roundhouse, salah satu teknik yang terbilang cukup mudah dikuasai, namun di balik ayunan kaki ini terdapat kekuatan yang bisa menyelesaikan laga dalam sekejap. Jika saat itu lawan melangkah maju dengan kaki depan, maka momentumnya akan lebih besar. Tendangan ini menjadi andalan dalam muay thai yang sering kali berdampak serius jika tak terbendung.


"Bagaimana?" tanya Keyran sambil tersenyum.


"Hehe, lumayan~"


"Apa?! Lumayan katamu?!"


Nisa menghampiri Keyran lalu mendorong tubuhnya untuk menyingkir menjauh dari samsak yang masih berayun itu. "Cepat menepi~ Saatnya giliranku~"


"Kau sebegitu percaya dirinya dengan kaki kecil kurus milikmu itu!"


Keyran semakin dibuat kesal, dia menyilangkan kedua tangannya dan menatap sinis Nisa yang sedang mencoba menghentikan samsak yang berayun. Setelah samsak itu berhenti berayun, Nisa kembali diam dan mengatur napasnya, bahkan dia masih sempat untuk menggoda Keyran.

__ADS_1


"Darling ... buka matamu lebar-lebar! Tadi kau bilang taekwondo itu berfokus pada gerakan kaki, sekarang akan aku perlihatkan gerakan pamungkas milikku dalam taekwondo."


"Cih, banyak omong!"


Nisa melangkah mundur mengambil ancang-ancang, dengan cepat dia memutar tubuh sambil melayang di udara, kemudian melakukan tendangan bulan sabit ke dalam atau anchagi dengan kerasnya ke arah samsak.


BHUAKK!!


Keyran melongo karena samsak yang ditendang Nisa berayun lebih keras dibanding dengan yang dia tendang sebelumnya. Bahkan Nisa masih sempat tersenyum saat dia mendarat dengan kedua kaki dengan keseimbangan yang sempurna.


"Balchagi 1080 derajat, tingkat kesulitan level lanjutan, dengan dua setengah putaran di udara ditambah langkah tendangan masuk untuk eksekusi. Bagaimana menurutmu?"


"B-bagaimana bisa lebih keras dibandingkan aku?! Kakimu saja kecil begitu ..." Keyran masih enggan untuk percaya.


"Hei, di dalam beladiri, kelas berat badan itu memang hal mutlak, tapi itu hanya berlaku jika lawannya sudah tertangkap. Misalnya saat takedown dua kaki yang sering terjadi di MMA. Tapi untuk kasus seperti sekarang berbeda, ini tidak ada hubungannya dengan kelas berat badan, tapi energi kinetik. Kau tahu itu, kan?"


"Ehmm ... Bukannya itu energi yang dimiliki sebuah benda karena gerakannya?"


"Tepat! Bahasa sederhana untuk hal ini yaitu usaha yang harus dikeluarkan untuk memperoleh daya penghancur sebesar yang diinginkan. Jika dalam duel, tinggi badan serta berat badanku kalah dari lawan, maka aku cukup berputar lebih sering dan lebih cepat dibandingkan lawan. Dengan begitu secara geometris daya penghancur dari balchagi alias tendanganku barusan akan meningkat. Jadi berhentilah mengatai kakiku yang kecil!"


Nisa lalu mendekat lagi dan menghentikan laju ayunan samsak itu. "Nah, mumpung aku sekarang bersemangat, bagaimana jika aku tunjukkan yang lain lagi?"


"Boleh. Ngomong-ngomong ... aku ingat saat itu di kamarmu banyak sekali trophy dari cabang beladiri. Apa kau menguasai beladiri campuran?"


"Tentu saja, istrimu ini memang berbakat~"


"Heh, tapi jika begitu harusnya kau dulu lumayan berisi?" tanya Keyran dengan nada mengejek.


"Apa maksud pertanyaanmu itu hah?!"


"Maksudku adalah kejuaraan beladiri pasti punya kelas berat badan. Melihat kenyataan bahwa pencapaianmu banyak, harusnya berat badanmu ..."


"Cukup, jangan terpaku pada kelas berat badan. Seni beladiri campuran, katakan saja MMA atau mixed martial arts. Martial art yang bisa dibilang dasar dari MMA, yang sudah diketahui banyak orang, yang menjatuhkan lawan dengan kepalan tangan, yang sederhana dan monoton, yaitu tinju!"


Tiba-tiba saja Nisa melayangkan sebuah tinju yang keras ke arah samsak.


"Infighter! Gaya tinju yang agresif dan gigih, yang dalam sekejap menusuk dada, tak peduli berapa pun berat badannya. Inilah gaya tinju yang aku pilih. Terlebih lagi ... dengan berat badanku yang ringan, aku juga bisa mengatasi dengan sebuah teknik jika lawanku juga seorang infighter."


"Flying arm-bar! Sebuah teknik menangkap tangan lawan lalu melompat dan memutar siku ke arah luar, jika lawan bersikeras bisa saja lengannya akan cacat karena cedera. Tapi ... kau ada benarnya juga soal berat badan, jika teknik setara tapi berat badan berbeda, jika di perlombaan resmi pasti dikenai penalti berat badan. Itulah mengapa secara fisik pria lebih unggul dibanding wanita."


"Ya ... kau benar, buktinya saja sudah jelas kalau kau sering kalah saat melawanku~"


"Key!! Itu olahraga yang berbeda! Lagi pula kau selalu menyerangku terlebih dulu, itu tidak adil!"


Keyran lalu mendekat ke arah Nisa dan berbisik, "Kalau merasa tidak adil, malam ini seranglah aku dulu sebelum aku menyerangmu~"


"Keyran!!!"


"Haha, I love you~"


"Ck, sekarang aku malas." Nisa memalingkan wajahnya, baru selangkah dia berjalan dirinya sudah ditarik masuk ke dalam pelukan Keyran. "Apa yang kau lakukan?! Aku mau pergi, kalau kau sudah selesai maka mandilah lalu setelah itu kita makan malam!"


"Makan malam?" tanya Keyran dengan tatapan polos.


"Tadinya aku ke sini karena memang ingin mengajakmu makan malam. Apa kau sudah lupa?"


"Emmm ... menu makan malam kali ini apa?" Keyran mendadak mengeratkan pelukannya.


"K-kau ...!!"


Mereka berdua saling bertatapan, perlahan namun pasti pandangan mata Nisa turun. Dia melihat tangannya sudah menempel di dada suaminya yang bidang itu.


Tangan kurus itu merasakan keringat yang belum sepenuhnya kering yang masih bercucuran di tubuh suaminya yang kekar itu. Suara debaran jantung kian terdengar semakin keras. Ketika Nisa mendongak, dia melihat Keyran yang tersenyum lembut kepadanya.


"Glup," Nisa menelan ludah. "Menu makan malam kali ini adalah .... roti sobek ..." ucap Nisa dengan suara lirih dan wajah yang memerah.


"Apakah itu enak?"


"Sangaaatt enak!"


"Hehe, kau sendiri yang bilang~"

__ADS_1


***


Hari berikutnya. Di malam hari, sepasang suami istri yang bahagia, tenteram dan sentosa itu sedang asyik menonton film di sebuah ruangan bioskop yang ada di mansion.


Mereka berdua menikmati jalannya film yang diputar, ditemani oleh popcorn dan minuman bersoda. Di sepanjang film, mereka yang duduk bersandingan juga bergandengan tangan dan sesekali juga saling menyuapi popcorn. Saking terhanyutnya dalam suasana, 1 film pun berlalu tanpa terasa.


Nisa masih belum merasa puas, dia meminta agar diputarkan sebuah film lain lagi. Namun film yang diinginkannya terdapat sedikit masalah, jadi dia harus bersabar sampai film tersebut dapat diputar.


"Hmm ... masih lama, ya?" tanya Nisa yang sedang mengunyah popcorn.


"Sabar, sebentar lagi pasti akan beres. Ngomong-ngomong ... bagaimana perasaanmu sehabis spa tadi sore?"


"Luar biasa, aku merasa sangat rileks. Aku sempat kaget saat tahu kalau ada spa juga. Tapi ... aku malu saat beauty therapist itu melihat punggungku. Dia sampai bilang begini ... Wah, banyak sekali tanda cinta yang mendalam!"


"Dia benar, cinta kita memang sangat dalam~" Keyran tersenyum lalu menowel pipi Nisa.


"Ihhh!! Ini gara-gara ulahmu tadi siang! Tapi Aku berterima kasih karena kau sudah mengatur pelayanan spa untukku. Aku juga sangat suka kita bisa menonton film di bioskop pribadi seperti ini, aku bisa ke kamar mandi tanpa khawatir akan kelewatan bagian menegangkan dari filmnya, soalnya bisa dijeda hehe ..."


Nisa lalu menyandarkan kepalanya di pundak Keyran. "Rasanya seperti sedang berkencan, menonton film romantis bersama, hanya berdua, saling menyuapi popcorn. Key, jika nanti bulan madu kita selesai, apa kita tetap bisa seperti ini?"


"Menonton di bioskop lain?"


"Iya, tapi bukan cuma itu." Nisa lalu menggeleng pelan dan tersenyum. "Haha, lupakan saja. Ngomong-ngomong ... daripada bosan menunggu, bagaimana kalau kita bermain saja?"


"Memangnya kau mau main apa?"


"Permainan kata, dengan kata kunci SEANDAINYA. Jika nanti aku mengucapkan kalimat pengandaian itu, nanti kau harus menjawab seperti itulah yang akan kau lakukan jika benar-benar kenyataan, begitu pula sebaliknya denganku. Kau atau aku yang mulai dulu?"


"Kau duluan."


"Emm ... Seandainya aku seorang pembohong maka apa yang akan kau lakukan?"


"Haha, itu bukan masalah, toh kebohonganmu bisa aku sadari dengan mudah. Dan tentu saja jika ketahuan aku akan menghukummu dengan hukuman penuh cinta!"


"..." Nisa berhenti bersandar dan menatap Keyran dengan tatapan tidak percaya.


"Kalau begitu giliranku. Seandainya aku jatuh miskin, apa kau akan tetap bersamaku?"


"Pffttt ... hahaha! Pengandaian macam apa itu?! Mana mungkin seorang Keyran Kartawijaya jatuh miskin! Itu hanya akan terjadi jika seluruh dukun dari satu negara bekerja sama mengirim tuyul untuk mengambil uangmu!"


"Jawab dengan serius!" bentak Keyran yang seketika membuat Nisa berhenti tertawa. "Lihat saja sekarang, kau merasa bahagia dengan segala yang aku punya. Jika itu hilang, bagaimana aku akan membahagiakanmu? Kau pasti enggan bersamaku jika aku tidak bisa membahagiakanmu."


"Ehem! Aku akui aku suka uang, tapi kalaupun kau miskin aku tetap akan bersamamu. Karena pada dasarnya kau punya aset yang tidak bisa dirampas, yaitu pengetahuanmu soal bisnis, orang yang punya mindset sebaik dirimu kalaupun jatuh miskin pasti tak lama kemudian juga bangkit."


"Hehe, ternyata istriku tercinta ini pintar juga meskipun sering bolos kuliah~"


"..."


"Ayo istriku yang manis, giliranmu lagi."


Nisa lalu menatap dengan serius. "Huft ... Seandainya aku ini orang jahat maka kau akan apa?"


"Kau memang jahat. Ingatlah apa saja yang sudah kau perbuat padaku! Yang paling membuatku ingin menamparmu adalah saat kau bermesraan dengan orang lain sewaktu masih di rumah sakit! Bisa-bisanya kau menganggapku sebagai patung!"


"Ahaha ... maaf," Nisa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya.


Ternyata jawabannya adalah menamparku.


"Huh, sekarang giliranku lagi. Seandainya suatu saat kau pergi karena kesalahanku, kira-kira kesalahan seperti apa yang bisa membuatmu pergi?"


"Entahlah, tapi ada satu hal yang pasti. Aku paling benci diabaikan. Jika kau sepenuhnya mengabaikan aku, jangan harap aku mau bersamamu tak peduli seberapa besar cintamu."


Keyran lalu menarik kedua tangan Nisa dan menggenggamnya. "Aku janji tidak akan pernah mengabaikanmu. Kalaupun tanpa sadar aku melakukannya, saat itu kau boleh-boleh saja menendangku dengan balchagi 1080 derajat!"


"Haha baiklah, mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk menendangmu~"


Sejenak Nisa tertegun, setelahnya dia menatap Keyran dengan serius.


"Key, bagaimana jika seandainya istrimu ini adalah seorang gangster?"


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2