
Suasana khidmat menyelimuti seluruh aula, dan di hadapan semua orang tepat di samping pendeta berdirilah seorang mempelai pria, yaitu Keyran. Lalu di antara para tamu yang datang, ada seorang pemuda yang merupakan orang yang dicintai oleh mempelai wanita, yaitu Ricky.
Lalu tak lama kemudian pendeta berkata, "Panggil mempelai wanita kemari!"
Dan kemudian datanglah Nisa yang didampingi oleh ayahnya, Nisa lalu menundukkan kepalanya yang sudah ditutupi oleh kerudung seolah-olah seperti sedang menyembunyikan wajahnya dari semua orang. Dan hal yang tidak bisa dihindari akhirnya terjadi juga, semua orang langsung kaget setelah tahu kalau mempelai wanita adalah Nisa.
Namun ada satu orang yang saat melihat Nisa langsung merasa hancur, dia adalah Ricky. Ricky sangat sulit mempercayai bahwa gadis yang selama ini dia cintai akhirnya menikah dengan orang lain tepat di hadapannya, dia ingin sekali menghentikan pernikahan ini, tapi yang terjadi adalah dia hanya bisa diam. Tubuhnya terpaku seperti orang lumpuh, bahkan dadanya juga terasa sangat sesak. Hatinya sangat sakit sampai-sampai bicara pun dia tidak sanggup.
Setelah Nisa sampai dan berdiri di sebelah Keyran, upacara pernikahan dimulai. Pendeta lalu memulai dengan pertanyaan peneguhan, kemudian dengan lantang dia berkata, "Pada pernikahan suci ini, hari ini akan dipersatukan Keyran Kartawijaya dengan Nisa Sania Siwidharma," pendeta kembali berkata, "Sekarang sebagai seorang hamba Tuhan, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada mempelai pria dan mempelai wanita."
"Saudara Keyran Kartawijaya, apakah saudara mengakui di hadapan Tuhan bahwa saudara bersedia menerima saudari Nisa Sania Siwidharma, sebagai istri satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup?" tanya pendeta.
"Iya, saya bersedia." jawab Keyran.
"Apakah saudara mengasihinya sama seperti saudara mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, kelimpahan atau kekurangan, sakit atau sehat dan setia kepadanya selama saudara hidup?" tanya pendeta lagi.
"Iya," jawab Keyran lagi.
"Yang terakhir, apakah saudara bersedia menjaga kesucian pernikahan ini sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang hidupmu?"
"Iya, saya bersedia," jawab Keyran sambil menatap mata Nisa.
"Saudari Nisa Sania Siwidharma, apakah saudari mengakui di hadapan Tuhan bahwa saudari bersedia menerima saudara Keyran Kartawijaya, sebagai suami satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup?" tanya pendeta pada Nisa.
"I-Iya, saya bersedia..." ucap Nisa dengan nada gemetar.
"Apakah saudari bersedia tunduk kepada suami seperti tunduk kepada Tuhan, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, kelimpahan atau kekurangan, sakit atau sehat dan setia kepadanya selama saudari hidup?" tanya pendeta lagi.
"Iya, bersedia..." jawab Nisa lagi.
"Lalu, apakah saudari bersedia menjaga kesucian pernikahan ini sebagai istri yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang hidupmu?"
"I-Iya..." jawab Nisa sambil melirik ke arah Ricky.
Setelah pendeta selesai bertanya kepada Keyran dan Nisa, kemudian dia mulai bertanya kepada seluruh orang yang hadir, "Kepada seluruh para hadirin yang menyaksikan dan mendengarkan janji-janji ini, saya bertanya. Apakah hadirin sekalian mendukung dan mendoakan kedua insan ini dalam hidup nikah mereka? Jika ada yang keberatan silakan bicara, atau diamlah selamanya!" ucap pendeta dengan suara lantang.
"Aku mohon..." ucap Nisa dengan lirih sambil menatap ke arah Ricky dengan tatapan penuh harapan.
Ricky... aku mohon bicaralah! Kamu bilang sampai kapan pun kamu mencintaiku, sekarang buktikanlah cintamu padaku! Cepatlah berdiri dan katakan kalau kamu keberatan! Aku mohon...
"...." Ricky menatap Nisa balik, tapi dia hanya diam dan mengelus dada.
__ADS_1
Nisa... ternyata ini alasanmu, aku ingin sekali berteriak 'Aku keberatan!' Tapi, dadaku terasa sesak, aku sama sekali nggak sanggup untuk mengatakannya! Lalu, saat kamu diberi pertanyaan oleh pendeta kamu menjawab semuanya dengan kata 'Iya' bukankah itu artinya kamu sudah setuju, tapi kenapa kamu masih menatapku seperti ini? Apa kamu sedang mempermainkan aku...?
"...." Keyran diam dan memperhatikan Nisa.
Gadis ini sedang melihat ke arah siapa? Kenapa dia sampai gemetar seperti itu? Tapi, tunggu...
Keyran lalu mencoba untuk memperhatikan sebenarnya ke arah mana Nisa memandang, setelah dia berhasil dia tiba-tiba menyeringai.
Haha, ternyata begitu! Gadis ini punya hubungan spesial dengan orang lain, ternyata ini yang dimaksud ayah...
"Baiklah, jika tidak ada maka akan saya lanjutkan! Selanjutnya adalah pengucapan janji setia suami istri, silakan untuk kedua mempelai saling berpegangan tangan!" ucap pendeta.
Keyran dan Nisa kemudian berpegangan tangan, karena Nisa masih tidak percaya bahwa Ricky memilih untuk diam, tangannya pun gemetaran. Keyran yang melihat hal itu langsung menggenggam tangan Nisa lebih erat seolah-olah sedang memberi isyarat, dia bermaksud memperingatkan Nisa agar tetap fokus dan jangan sampai membuat acara menjadi berantakan.
"Saudara Keyran Kartawijaya, sekarang ucapkan janji pernikahan dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan," ucap pendeta.
Keyran mengambil napas panjang dan berkata, "Aku, Keyran Kartawijaya, menerima engkau Nisa Sania Siwidharma, menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka maupun duka, semasa kelimpahan atau kekurangan, di waktu sakit dan sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, sampai kematian memisahkan kita, di hadapan Tuhan dan para saksi, inilah janji setiaku kepadamu, semoga Tuhan merestui pernikahan kita." ucap Keyran dengan suara lantang.
"Saudari Nisa Sania Siwidharma, sekarang ucapkan janji pernikahan dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan," ucap pendeta.
"A-aku..." ucap Nisa terbata-bata.
Sialan! Kenapa Ricky memilih diam!? Aku nggak bisa melakukan ini! Sekarang kau harus bagaimana...?
"Baik..." ucap Nisa dengan nada pasrah, lalu sesaat kemudian dia mengambil napas panjang dan berkata, "Aku, Nisa Sania Siwidharma, menerima engkau Keyran Kartawijaya, menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka maupun duka, semasa kelimpahan atau kekurangan, di waktu sakit dan sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, sampai kematian memisahkan kita, di hadapan Tuhan dan para saksi, kuucapkan janji setiaku kepadamu, semoga Tuhan merestui pernikahan kita." ucap Nisa sambil tersenyum, senyum kehancuran.
Aku nggak terima! Semoga Tuhan segera mengakhiri pernikahan terkutuk ini...
"Dengan demikian, atas nama Tuhan, saya sebagai Hamba Tuhan menyatakan Keyran Kartawijaya dan Nisa Sania Siwidharma resmi dan sah sebagai suami istri." ucap pendeta dengan suara lantang.
"Hah..." Nisa menghela napas dan tanpa sadar salah satu matanya telah meneteskan air mata.
Selesai... semua sudah hancur... nggak ada yang bisa aku lakukan... sampai akhir ternyata pernikahan terkutuk ini nggak bisa dihindari...
"Saudara Keyran, inilah saudari Nisa, wanita yang Tuhan berikan kepadamu sebagai penolong yang sepadan. Terimalah dengan ucapan syukur dan ketulusan. Untuk itu bukalah kerudungnya dan berikan dia ciuman." lalu pendeta kembali berkata, "Saudari Nisa, inilah saudara Keyran, pria yang Tuhan berikan kepadamu sebagai suami yang kepadanya engkau menjadi penolong dan pendamping yang setia. Terimalah dengan ucapan syukur dan ketulusan. Untuk itu berikan dia ciuman yang tulus."
Keyran lalu membuka kerudung Nisa secara perlahan, saat Keyran selesai membuka kerudung, dia langsung memegang wajah Nisa serta menghapus air mata di pipi Nisa. Keyran melakukan itu seolah-olah ingin seluruh dunia tahu, kalau istrinya menikahinya bukan karena keterpaksaan. Dengan tatapan mata yang tajam, dia kemudian mencium bibir Nisa. Sedangkan Nisa, dia menerima ciuman itu tanpa perlawanan sedikit pun. Tapi, tatapan mata Nisa bukannya mengarah pada Keyran melainkan mengarah kepada Ricky. Dan pada saat itu juga, semua orang langsung memberikan tepuk tangan yang meriah.
Prok... Prok... Prok...
Tapi, di tengah-tengah meriahnya tepuk tangan itu, ada seseorang yang hanya menatap Nisa dengan tatapan penuh kekecewaan, dia adalah Ricky. Hati Ricky saat itu hancur sehancur-hancurnya, karena seseorang yang jatuh cinta akan merasakan kebahagiaan yang sangat besar, tapi saat ini satu pihak tiba-tiba menarik cintanya dan bahkan juga berciuman dengan orang lain tepat di depan matanya, pukulan seperti ini tidak akan ada yang bisa menahannya. "Nisa..." ucapnya dengan senyuman, senyum kehancuran.
__ADS_1
Ricky tiba-tiba berdiri dan dengan suasana hati yang hancur, dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi. Ricky sangat kecewa karena dia beranggapan bahwa cinta yang dia berikan selama ini akhirnya terbuang sia-sia, dan dia juga berpikir bahwa mencintai gadis jahat seperti Nisa itu percuma.
"Nisa, aku kecewa padamu! Kamu ternyata memang gadis jahat! Mungkin kamu itu punya jantung, tapi kamu sama sekali nggak punya hati!" teriak Ricky dalam hati.
Nisa merasa sangat hancur setelah melihat Ricky pergi, tapi meskipun seperti itu Nisa tetap menahan semua kesedihannya agar acara pernikahan dapat berlangsung lancar. Setelah acara pernikahan selesai, Keyran lalu mengajak Nisa untuk tinggal ke villa pribadinya.
...Di malam hari yang bertepatan dengan malam pertama...
...••••••••••••••••...
Keyran dan Nisa yang masih mengenakan pakaian pengantin akhirnya memasuki kamar pengantin mereka. Kamar itu sudah dihiasi oleh bunga-bunga mawar merah yang dilihat saja sudah sangat indah, kemudian Keyran dengan perlahan menuntun Nisa untuk duduk bersama di atas ranjang. Dan untuk beberapa saat mereka hanya diam dan saling menatap satu sama lain. Lalu salah satu di antara mereka akhirnya bicara.
"Sekarang apa?" tanya Nisa dengan pandangan mata yang kosong.
Setelah mendengar Nisa bicara, Keyran kemudian berdiri lalu dia melepas tuxedo miliknya dan melemparnya ke ranjang, kemudian dia menyentuh kepala Nisa sambil berkata, "Kau beristirahatlah, malam ini aku akan keluar dan tidak akan kembali sampai pagi." setelah mengatakan itu Keyran langsung pergi.
Klap.... suara pintu ditutup.
Dan tak lama kemudian terdengarlah suara mesin mobil yang dihidupkan, dan pada saat itu juga Nisa percaya kalau Keyran benar-benar telah pergi. Setelah itu Nisa yang seakan telah kehilangan nyawa tiba-tiba berdiri, dia kemudian berjalan mendekati meja rias lalu dia hanya diam dan berkaca.
"Siapa ini?" tanya Nisa dengan senyum pahit.
Lalu beberapa saat kemudian Nisa menyentuh permukaan kaca dan tiba-tiba dia tertawa. "Hahaha! Inilah aku, Nisa Sania, ternyata aku cantik juga saat memakai gaun pengantin ini~ Sayang sekali suamiku buta dan nggak bisa melihat kecantikan yang aku punya~" lalu tiba-tiba raut wajah Nisa berubah menjadi murung, dan saat itu juga dia langsung kehilangan akal sehatnya.
"Heh! Jangankan suamiku, bahkan Ricky orang yang selama ini aku cintai, dia juga nggak menginginkan aku lagi! Lalu sekarang untuk apa aku hidup!? Siapa pun nggak peduli lagi padaku!" setelah Nisa mengeluh, tubuhnya kini menjadi gemetar karena dia masih mencoba untuk menahan semua emosinya.
"Sialan! Ini percuma...!" teriak Nisa seakan tidak terima.
Prraang.....! Suara benda pecah.
Karena tidak sanggup menahan emosi akhirnya Nisa memukul kaca di depannya dengan tangan kosong, dan tentu saja tangannya berdarah. Tapi, tidak cukup sampai disitu, Nisa lalu memungut serpihan kaca yang telah dia pecahkan. Kemudian dia duduk di lantai sambil menggenggam erat serpihan kaca itu. Lalu darah pun mulai mengucur dari telapak tangannya.
"Kenapa.... kenapa semua ini terjadi padaku!? Kamu bilang kamu mencintaiku, tapi kenapa kamu diam!? Aku menaruh harapan besar padamu! Tapi kenapa kamu melenyapkan harapan itu!? Aku hancur... hidupku hancur gara-gara pernikahan terkutuk ini! Aku nggak terima...! Mati pun aku nggak terima...!" Nisa kini mulai berteriak dan menangis, seolah-olah dia sedang mengeluarkan semua kesedihan yang selama ini dia tahan.
"Aaaaahhhhh....! Aku benci dunia ini! Semua ini nggak adil untukku! Haaaaa....! Aku benci! Benci!" Nisa berteriak sangat keras, dan dia lama-kelamaan mulai kehilangan kendali atas pikiran dan perbuatannya. Karena merasa tidak terima, dia semakin lama semakin erat menggenggam serpihan kaca, dan dia kini mulai menggila.
"Pernikahan sialan! Semua masalahku berasal dari ini! Aku muak, muak melihat gaun pengantin ini!" Nisa mulai merobek-robek gaun pengantin yang dia pakai menggunakan serpihan kaca yang dia genggam, dan kini gaun pengantin itu juga sudah berlumuran darah yang keluar dari tangan Nisa.
"Aaaahhhh! Hidupku sepenuhnya hancur!" Nisa terus berteriak dan menangis sambil merobek-robek gaun miliknya, bahkan rasa sakit di tubuhnya dia sudah tidak peduli lagi. Hatinya teramat sangat hancur sampai-sampai di pikirannya mulai terlintas keinginan untuk mengakhiri hidupnya.
"Aku nggak peduli jika aku mati! Lagipula untuk apa aku tetap hidup!? Mati itu lebih enak!" teriak Nisa dengan suara keras.
__ADS_1
Sepanjang malam Nisa terus berteriak dan menangis, mungkin hari ini adalah hari pernikahan, tapi baginya hari ini adalah hari kehancuran.