Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Sepihak (2)


__ADS_3

KLAAK!


"Maaf saya terlambat, Nyonya masih di si ... Eh?!"


Seketika Valen terdiam karena terkejut melihat Nisa dan Ricky sedang berpelukan. Di sisi lain Nisa dan Ricky langsung melepas pelukannya begitu menyadari keberadaan Valen.


Suasana jadi canggung, sedangkan Nisa mulai kelabakan dan langsung saja mengambil tasnya yang berada di sofa. Dia segera menyuruh Valen untuk segera pergi bersamanya, namun sesaat sebelum melangkah keluar tiba-tiba dia berhenti dan menengok ke belakang.


"Ricky, terima kasih, terima kasih atas segala kebaikanmu ..." ucap Nisa dengan senyuman.


"Iya, sama-sama. Lagi pula jadi orang baik itu menyenangkan. Jangan ulangi lagi perbuatan bodohmu, karena lama-lama aku juga lelah terus mengingatkanmu."


"Haha, itu pasti. Dadah dokter Ricky!"


Nisa pergi, sekarang hanya tinggal Ricky seorang diri di ruang rawat itu. Lama-kelamaan senyuman yang sedari tadi dia perlihatkan perlahan berubah, berubah menjadi senyum pahit.


"Haha, ini sudah benar kan?"


Bisa-bisanya aku berkata begitu, sebenarnya aku ini tidak sebaik ataupun setabah itu. Tetapi, menunjukkan arah yang benar kepada orang yang tersesat itu termasuk perbuatan baik, kan?


Padahal aku ini dokter, di luar sana banyak yang memuji kemampuanku dan bahkan aku juga disebut jenius, berbakat, dan bisa mendapatkan apa yang aku mau. Tapi itu salah, aku tak sehebat itu, lukaku sendiri saja aku tak tahu bagaimana cara mengobatinya. Lukaku masih segar, masih berdarah, dan selama ini aku hanya berpura-pura sembuh, agar tak ada satu orang pun yang khawatir tentang lukaku.


Aku merasa benar-benar mati rasa, merasa seperti buta untuk memandang cinta, hatiku sebagian telah mati, dan aku enggan mengenal siapa pun lagi. Sekarang, aku hanya akan menjadi seseorang yang paling pasrah, terserah, aku akan berhenti peduli tentang bagaimana denganku nanti. Tak ada lagi harapan dan keinginanku untuk mengenal ataupun bertemu dengan siapa pun yang baru.


Selamanya, asalkan Nisa bahagia maka aku tak apa.


***


Nisa merasa canggung, dan sekarang saat sedang di perjalanan pun juga masih begitu. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengawali percakapan dengan Valen, yang dia lakukan hanya melihat pemandangan jalanan malam.


Di satu sisi Valen juga canggung, sesekali dia melihat ke arah kaca. Dia melihat Nisa yang sedari tadi diam di belakang, dan itu membuatnya semakin merasa tidak enak.


Apa Nyonya marah? Jangan-jangan dia merasa terganggu karena aku memergokinya sedang berpelukan. Harusnya aku datang lebih awal, jadinya mereka tidak akan berpelukan. Tapi aku terlambat juga gara-gara Tuan, jika Tuan tahu kalau Nyonya diam-diam berpelukan dengan orang lain di belakangnya ... itu gawat! Pokoknya aku harus menutupi hal ini, tapi aku penasaran kenapa bisa Nyonya berpelukan.


"Emm ... saya minta maaf jika tadi saya mengganggu, tapi ... untuk apa Nyonya berpelukan dengannya?"


"Aku yang minta dipeluk. Kenapa? Ingin dipeluk juga?"


"Haha, Nyonya bercanda. Saya tidak punya keberanian sebesar itu, gaji saya lebih penting daripada kehangatan dari pelukan Nyonya." ucap Valen dengan senyum canggung.


"Terserah, lagi pula berpelukan itu kan hal yang biasa. Sebagian orang saat ingin menyapa juga melakukannya. Tapi ... sebenarnya urusan penting apa yang kau maksud? Dan ke mana kita pergi? Arah ini sangat familiar."


"Kita akan pulang ke villa. Dan sebenarnya yang punya urusan penting adalah Tuan, bukan saya."


"..." Nisa mengerutkan dahi.


"Oh iya! Tuan bilang urusan penting itu harus dilakukan malam ini, jadi Nyonya jangan coba-coba mau kabur! Sekarang, Tuan sendiri telah menunggu Nyonya di kamar~"

__ADS_1


Hehehe dasar ... sungguh tidak sabaran sekali, begitu keluar dari rumah sakit langsung ditagih jatahnya. Mungkin sebaiknya aku cepat-cepat menikah agar aku bisa berhenti iri. Tapi, sepertinya tanpa sadar aku telah menikahi pekerjaanku. Astaga, malangnya nasibku ...


"..."


Dasar gila! Kenapa nada bicaranya begitu? Tapi sebenarnya urusan penting macam apa? Ahh sudahlah, nanti juga akan tahu sendiri.


Tak berselang lama kemudian mereka telah sampai di Villa, dan begitu Nisa turun dari mobil, dia mengajak Valen untuk mampir dan istirahat sejenak, namun Valen menolak.


Sekarang hanya tinggal Nisa seorang diri, dia berjalan penuh keraguan menuju pintu masuk. Butuh keberanian ekstra untuknya membuka pintu, dan begitu di dalam, dia kembali dikejutkan.


Perasaan asing mulai melanda, dia berjalan perlahan sambil memperhatikan seluruh isi rumah. Lampu-lampu masih terlihat menyala di semua ruangan, dia ingat betul barang-barang apa saja yang tertata di setiap sudut ruangan, oleh karenanya dia sadar bahwa barang-barang yang semula kebanyakan telah diganti.


Mendadak dia mengingat kembali perkataan Valen, lalu dengan terburu-buru dia menaiki tangga dan segera menuju ke kamarnya. Namun lagi-lagi saat di depan pintu dia berhenti, tangannya sedikit gemetar saat ingin memegang gagang pintu. Dia sangat gelisah sekaligus penasaran tentang apa yang sudah menunggunya di balik pintu.


"Haahh ..."


Masih belum bisa dipercaya, aku tak pernah menyangka kalau aku akan kembali lagi ke tempat ini, tempat dimana aku menciptakan semua kebohongan. Mungkin saja saat bicara dengannya nanti, aku tak akan berani untuk menatap matanya lagi.


Entah, apa pun yang menungguku di balik pintu ini ... mau tidak mau, siap tidak siap, aku harus tetap menghadapinya. Aku ingin berhenti menghindar, aku ingin lepas dari perasaan menyesakkan ini untuk selamanya.


KLAAK ...


Pintu terbuka, Nisa masuk perlahan dan menutup pintu dengan hati-hati. Namun dia sedikit bingung karena dia tidak melihat keberadaan Keyran. Dia juga mulai memperhatikan sekeliling, tampak perubahan yang besar di setiap sudut kamar. Hal-hal kesukaannya telah menghilang, kamar itu sudah terkesan asing baginya, seolah-olah bukan lagi miliknya.


Dia berjalan menuju ke meja rias untuk meletakkan tasnya, dan ketika dia meletakkan tas itu, dia melihat selembar kertas beserta sebuah pulpen di sampingnya. Dia terkejut begitu membaca tulisan di kertas itu, karena kertas itu tidak lain adalah surat gugatan cerai, bahkan tanda tangan Keyran juga sudah tertera di atasnya.


Nisa merasa kalau ini masih butuh penjelasan yang jelas, pikirannya jadi buyar dan dia berjalan mengelilingi kamar yang luas itu. Dia baru sadar kalau ada sesuatu yang janggal, hari sudah malam tapi gorden kamarnya masih belum ditutup.


Nisa berjalan ke sana, dan di balik pintu kaca itu dia melihat Keyran yang sedang berdiri di balkon dengan posisi yang hanya memperlihatkan punggungnya. Nisa mendekat ke pintu kaca itu, dia tidak berniat membukanya namun memilih untuk menempelkan telapak tangannya.


Nisa menggigit bibirnya sendiri, dia sangat ingin berteriak agar Keyran berbalik dan menyadari kehadirannya, tetapi tidak bisa. Rasanya sulit, entah kenapa yang dia lakukan terasa bertentangan dengan hatinya. Mereka berdua sebenarnya hanya berjarak kurang lebih satu meter, namun pintu kaca yang menjadi pembatas seolah-olah bisa membuat jarak itu menjadi semakin jauh.


Mendadak secara refleks jari telunjuk Nisa mengetuk pintu kaca itu, dan seketika Keyran menyadari kehadiran Nisa karena mendengar suara ketukan itu. Namun dia memilih untuk tidak berbalik, dia masih bersikeras tidak ingin melihat Nisa. Dia merasa sangat membenci wajah itu, tetapi di saat yang sama wajah itulah yang selalu dia rindukan.


"Ternyata sudah datang, tapi kau masih di sini. Kenapa belum pergi? Bukankah kau selalu ingin lepas dariku?"


"..."


Nisa membisu, dia tak tahu akan berkata apa ataupun berbuat apa. Tubuhnya terasa berat, bahkan untuk menarik tangannya yang masih menempel di pintu itu terasa tak sanggup. Yang dia lakukan hanya mematung dan terus menundukkan kepalanya.


"Haha, baiklah, terserah kau saja, aku lelah. Kau selalu saja membuatku bingung, baiklah jika memang kau tidak ingin bicara apa-apa, maka aku yang akan bicara. Oh salah, bukan bicara tapi lebih tepatnya cerita. Akan aku ceritakan sedikit tentang diriku setelah apa yang kau lakukan kepadaku. Jika sudi mendengar maka menetaplah, dan jika bosan maka pergilah."


"Aku hancur saat kau bilang kalau semua yang kau lakukan cuma demi menipuku. Kau ingin berpisah sedangkan aku mati-matian menolaknya, tapi itu dulu, sekarang aku kabulkan permintaanmu. Mungkin terasa aneh karena aku mendadak merubah keputusanku. Tapi jangan tanyakan kenapa dan alasannya apa, tidak ada satu orang pun yang sanggup melihat orang yang dicintainya terluka."


"Aku tahu, jika kita berpisah maka akan banyak orang yang nantinya akan tahu. Dan dengan cara ini yang telah aku pilih, maka bisa dikatakan bahwa akulah yang memutus ikatan denganmu, bahwa akulah yang melepasmu, dan akulah yang gagal bertahan lebih lama di hidupmu. Tapi, pada kenyataan yang sama-sama kita berdua ketahui ..."


"Bukan, bukan aku yang memutus ikatan, tapi kaulah yang merasa tersiksa saat terikat denganku. Juga bukan aku yang melepasmu, tapi kaulah yang tak pernah betah bersamaku. Dan bukan aku yang gagal bertahan, tapi kaulah yang selalu memasang senyum terpaksa dan pura-pura setiap kali di depanku."

__ADS_1


"Sebenarnya ... aku sendiri tidak pernah menyangka bisa jatuh cinta, kita saja menikah karena perjodohan yang dipaksakan. Tapi, semuanya terjadi begitu saja. Rasanya menyenangkan jika aku kembali mengingat semua kenangan konyol yang telah kita lewati berdua. Kau tersenyum kepadaku, dan aku merasa bahagia saat itu, aku pikir kau juga mencintaiku. Tapi ternyata, yang merasa bahwa itu menyenangkan cuma aku. Ternyata cintaku ini cuma sepihak, dan ternyata kau masih begitu terikat pada masa lalumu."


"Aku menyerah jika sainganku adalah masa lalumu. Aku memilih berhenti jika kau yang aku kejar malah berlari ke arah masa lalumu. Aku memilih mundur jika kau yang aku ajak ke masa depan masih terperangkap di dalam masa lalumu. Karena sekeras apa pun aku berjuang, pada akhirnya aku tak akan pernah bisa sepenuhnya  memiliki seseorang yang jika setengah hatinya sudah hilang."


"Asal kau tahu, aku tak pernah berhenti menyayangi, aku cuma berhenti menahanmu untuk pergi. Jika bersamaku adalah beban bagimu, maka pergilah. Jika dengan meninggalkanku bisa membuatmu lebih baik, lakukanlah. Aku tidak ingin menjadi alasanmu bersedih ..."


"Jika memang pilihanmu adalah pergi, silakan cepat pergi! Aku tidak punya hak untuk menghentikan langkah seseorang yang mengejar kebahagiaannya. Berhati-hatilah, semoga lekas menemukan apa yang selama ini kau cari. Kau tak perlu khawatir ataupun peduli lagi, soal lukaku ini nanti juga akan sembuh sendiri. Lukaku bagianku, bahagiamu keinginanku ..."


Tubuh Nisa gemetar, dia menarik tangannya kembali serta mengepalkan tangan tersebut sekuat mungkin. Namun mendadak dia menggeser pintu itu, dan setelah penghalang itu hilang, Nisa langsung maju menghampiri Keyran lalu memeluknya dari belakang.


Pelukan itu sangat erat, begitu erat seakan-akan selamanya tak akan pernah lepas. Dia menempelkan wajahnya pada punggung yang terasa dingin itu, dan di dalam dekapan yang erat itu dia pun menangis, menangis sampai terisak.


"Maaf ... aku minta maaf. Maafkan aku yang tak mampu menjadi seperti yang kau harap-harapkan. Maafkan aku yang tak mampu memenuhi apa yang kau ingin-inginkan ..."


"A-aku tahu kalau kau sengaja menghindar, aku tahu kau sengaja berpura-pura acuh, aku tahu kau sengaja enggan bicara denganku, aku t-tahu semua itu ..."


"Maafkan aku yang masih terikat masa laluku, m-maafkan aku yang tak bisa sepenuhnya untukmu, maafkan aku yang telah ingkar dengan janji-janjiku, maafkan aku yang gagal menjadikanmu satu-satunya, maafkan aku ... A-aku tak bisa menjadi sempurna seperti yang kau inginkan, aku terlalu jauh dari harapan ... M-maaf, aku mengecewakan, sangat mengecewakan ..."


"A-aku akui, ini semua adalah salahku ... Aku terus bersikeras untuk balas dendam ... Aku tak bisa melepaskan obsesi masa laluku ..."


"T-tapi ... tolong izinkan aku egois sekali lagi! Aku ingin bersamamu, d-dan menghabiskan seluruh waktuku untukmu ... Aku tak akan lagi meninggalkanmu ... A-ayo mulai semuanya dari awal, tanpa dendam, tanpa kebencian, dan tanpa rasa tidak terima ..."


"Key ... maaf, aku mohon maafkan semua kesalahanku sebelumnya. S-sebelumnya aku melakukan semua itu karena masih belum mengakuimu ataupun menerimamu sebagai suamiku. Di mulutku aku memang menerimamu ... t-tapi di hatiku tidak begitu. A-aku janji, aku akan menjadi apa pun seperti yang kau mau, dan aku akan berusaha untuk membalas cintamu asalkan kau menerimaku ... karena sekarang ... A-aku telah sepenuhnya menerimamu ..."


Air mata Nisa semakin mengucur deras, untuk yang kedua kalinya dia merasa sangat takut kehilangan. Sedangkan Keyran, dia masih belum bisa mempercayai bahwa Nisa sedang mendekapnya dengan begitu erat. Padahal yang selalu dia bayangkan adalah Nisa yang akan pergi meninggalkannya tanpa permisi.


Keyran perlahan menggenggam tangan Nisa yang melingkar di pinggangnya. Bahkan tanpa sadar dia ikut menangis, dia menangis tanpa bersuara, namun tangisan itu bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa bahagia.


Apa ini? Nisa menangis di depanku? Untuk pertama kalinya aku ikut menangis karena seseorang menangis. Harus aku akui, kata-katanya telah membuatku luluh. Dia yang selalu bersikap seenaknya tetapi saat ini memohon maaf kepadaku berkali-kali. Aku ingin memastikannya sekali lagi.


Keyran menyeka air matanya, dia segera berbalik menghadap kepada Nisa. Dengan kedua tangan yang gemetar dia membelai wajah Nisa serta menyeka air mata di pipinya. Namun menyadari hal itu justru membuat air mata Nisa semakin bertambah deras mengalir, bahkan Nisa juga ikut menggenggam tangan Keyran yang sedang menyentuh wajahnya.


"Katakan Nisa, aku mohon katakan sekali lagi kalimat terakhir yang kau katakan, aku mohon ..."


"A-aku menerimamu, suamiku ... Maafkan aku ..."


"Iya, aku maafkan." Keyran mengangguk dan tersenyum. Sekali lagi dia menyeka air mata Nisa dan tanpa peringatan apa pun langsung menciumnya.


"Uhmm ...?!" Nisa terkejut, dia tak siap menerima serangan dadakan seperti ini. Ditambah dia merasa aneh karena dicium di saat dia masih menangis sampai terisak. Namun tetap saja lama-kelamaan dia menikmati ciuman itu, kedua tangannya secara refleks merangkul leher Keyran. Di sisi lain Keyran juga menekan tengkuk Nisa yang membuat ciuman itu semakin dalam.


Satu ciuman, ciuman yang meruntuhkan kesalahpahaman, yang berperan sebagai garis akhir penderitaan, yang sebagai pertanda awal dimulainya kembali sebuah hubungan, yang memupuk cinta yang tadinya telah layu dan hampir tiada, semuanya berakhir indah dengan sebuah ciuman yang dirindukan.


Begitulah cinta, terkadang rumit dan terkadang sederhana. Terkadang sulit dimengerti lalu berubah menjadi mudah dipahami. Dan ada satu hal yang pasti, yaitu harus saling mengerti.


Mencintai itu tidak hanya tentang memikirkan hati sendiri, juga tidak hanya tentang keras kepala yang harus dituruti. Tetapi tentang dua pihak, tentang dua hati.


Jangan hanya meminta dimengerti tanpa membalas mengerti, karena suatu saat yang berjuang pun akan berhenti, dan yang sabar pun akan memilih pergi. Jika ingin mempertahankan, maka tolong egonya direndahkan. Karena cinta itu harus dua arah, bukan satu arah atau sepihak. Bahkan jika begitu derasnya menghujani cinta, tetapi yang dicintai justru memilih untuk berteduh maka itu sia-sia. Yang mencintai akan terus memberi, dan yang dicintai akan terus berbuat seenaknya karena selalu dituruti.

__ADS_1


Mungkin cinta sepihak terkesan menyakitkan bagi yang mencintai, namun jangan pernah lupakan satu hal, bahwa semua hal dapat dikatakan adil di dalam cinta dan perang. Pada akhirnya hanya pemenanglah yang akan mendapatkan segalanya.


__ADS_2