Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Sehari Sebelum Pernikahan (2)


__ADS_3

Di sebuah ruang peristirahatan ada sepasang ayah dan anak yang sedang duduk berhadapan dan mereka tengah menunggu seseorang. Mereka tidak lain adalah Tuan Muchtar dan Keyran, tetapi atmosfer di antara mereka berdua terasa sedikit aneh.


"Kenapa menyuruhku datang kemari? Ayah sendiri juga tahu kalau aku sibuk!" tanya Keyran.


"Kau ini... aku menyuruhmu kemari untuk melihat persiapan pernikahanmu sendiri! Ngomong-ngomong dekorasi di aula tadi cukup bagus, kau pasti sudah berusaha," ucap tuan Muchtar.


"Tsk! Berhentilah bicara omong kosong ayah, aula ini juga salah satu properti milik kita! Apa yang sebenarnya ayah ingin katakan padaku?" tanya Keyran dengan tidak sabar.


"Hah... apa kau sudah menelepon menantuku? Kapan dia akan datang? Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya!"


"Sudah, tapi gadis itu belum datang juga. Kenapa ayah sangat peduli pada gadis itu, dan sebenarnya siapa dia? Jarang sekali ayah begitu memperhatikan seseorang sampai seperti ini!"


"Kenapa bertanya seperti itu? Sangat wajar bagiku untuk peduli pada menantuku, yang tidak wajar itu kau! Sikapmu masih saja seperti ini, padahal kau itu akan segera menikah dengannya. Seharusnya kau itu lebih peduli padanya!"


"Lebih baik aku pergi, ayah terus bicara omong kosong seperti ini terdengar sangat memuakkan!" Keyran lalu berdiri dan beranjak ingin pergi.


"Duduklah kembali! Aku belum selesai bicara! Jaga perilakumu di hadapanku!" teriak tuan Muchtar.


"Baik..." dengan penuh kekesalan Keyran kembali duduk.


"Nak, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau mulai tertarik dengan calon istrimu? Dia itu sangat manis dan punya aura yang sangat energik, dia sangat berbeda dari gadis pada umumnya. Seharusnya kau sangat menyukainya kan?"


"Ayah salah mengatakannya, dia bukan berbeda tapi dia itu aneh! Aku mana mungkin tertarik dengan gadis aneh seperti dirinya! Kalau ayah sangat suka padanya, jadikan dia anak angkat saja! Kenapa malah bersikeras menikahkan aku dengannya? Ini tidak adil untukku!" ucap Keyran seakan tidak terima.


"Ckck... kau ternyata masih belum sadar. Aku bersikeras menikahkanmu dengannya karena dia yang terbaik untukmu, siapa pun tidak pantas menjadi istrimu selain dia! Jadi berhentilah mengeluh ataupun membantah!" teriak tuan Muchtar.


"Ayah... yang masih belum sadar itu dirimu! Ayah pikir gadis aneh itu menerima perjodohan ini dengan senang hati, tapi sebenarnya dia itu terpaksa! Apa ayah masih ingin dia menikah denganku? Ayah sangat suka padanya kan? Apa ayah tidak takut kalau dia membenci ayah?"


"Heh! Aku tahu kalau dia terpaksa, tapi aku melakukan semua ini juga demi kalian sendiri! Aku yakin, di masa depan kalian akan saling mencintai satu sama lain! Jadi bermimpilah kalau ingin merubah keputusanku!"


"Terserah...." ucap Keyran seakan tidak peduli.


"Oh iya, setelah menikah kau berencana untuk membawanya tinggal dimana?"


"Tentu saja di villa pribadiku! Aku tidak ingin setiap hari bertemu ayah, apalagi dengan tante Ratna! Berada di kediaman utama hanya membuatku semakin merasa muak!" ucap Keyran dengan ketus.


"Hah..." menghela napas. "Kau masih saja seperti ini, sebagai ayahmu aku masih harus memberimu nasihat. Kau itu akan segera menikah, jadi jangan lupa untuk memenuhi semua kewajibanmu sebagai seorang suami. Camkan itu!" ucap tuan Muchtar dengan serius.


"Iya, aku tahu. Yang akan dia nikahi itu aku, dia pasti tidak akan pernah kekurangan apa pun. Ayah jangan terlalu memikirkan tentang hal ini," ucap Keyran seakan meremehkan.


"Yang aku maksud bukan hanya tentang uang, untuk itu sudah pasti kau sangat mampu. Kau juga harus perhatian dan selalu ada untuk menjaganya, kau dan dia akan menjadi sepasang suami istri, jadi sebisa mungkin kau harus berbagi tentang apa pun dengannya. Karena di antara suami istri sama sekali tidak ada batasan. Seharusnya kau paham tentang hal ini!"


"Iya, aku paham. Hanya saja gadis itu..."


Tok tok tok....


"Permisi tuan, nona sudah datang..." ucap Valen.


"Suruh dia kemari!" teriak Keyran.


"Baik..." Valen membungkuk dan berjalan pergi.


Lalu tak lama kemudian datanglah Nisa dengan raut wajah yang dingin. Saat dia memasuki ruangan, dia tidak mengatakan apa pun dan langsung duduk di sebelah Keyran.


"Kenapa memanggilku kemari? Bukankah semuanya sudah beres?" tanya Nisa.


"Iya, semuanya memang sudah beres. Lalu yang ingin kau kemari itu ayahku, bukan aku!" ucap Keyran dengan ketus.


"Hei-hei... kenapa kalian berdua seperti itu? Oh iya! Menantuku, kenapa lama sekali baru datang?" tanya tuan Muchtar penasaran.


"Ada sedikit urusan yang penting. Sebenarnya apa keperluan anda mencariku?" tanya Nisa dengan tidak sabar.


"Menantuku... kenapa kau memanggilku 'anda'? Panggilan itu terdengar seperti orang asing, ayo panggil aku ayah mertua!" bujuk tuan Muchtar.

__ADS_1


"Kita memang orang asing, dan anda masih belum menjawab pertanyaanku," ucap Nisa dengan tatapan sinis.


Keyran dan tuan Muchtar tersentak setelah mendengar ucapan dari Nisa, lalu untuk beberapa saat mereka hanya diam.


Kenapa gadis gila ini bertingkah seperti orang lain? Atau... apakah ini sifatnya yang asli? Ayah juga terkejut saat mendengarnya. Ucap Keyran dalam hati.


"Hah... gadis sepertimu memang sulit ditebak. Aku mengundangmu karena aku ingin membuatmu lebih mengenal putraku, besok kalian berdua akan menikah, jadi aku rasa itu perlu. Dan aku menyarankan agar kalian berdua sebaiknya berkencan!" ucap tuan Muchtar seakan memaksa.


"Tunggu dulu, ayah..." bantah Keyran.


"Aku menolak!" sahut Nisa.


"Eh!? Kenapa menolak?" tanya tuan Muchtar dengan wajah bingung.


"...." Nisa diam lalu tiba-tiba menatap ke arah Keyran "Kau pergilah! Aku ingin bicara berdua dengan ayahmu!"


"Beraninya kau! Kau mengusirku!?" teriak Keyran seakan tidak terima.


"Key! Cepat pergi!" teriak tuan Muchtar.


"Ayah, kenapa kau memihak pada gadis gila ini!?"


"Tutup mulutmu dan cepatlah keluar!"


"Hng!" dengan penuh kekesalan Keyran lalu berjalan pergi.


Brak...! Suara bantingan pintu.


Setelah Keyran pergi, untuk beberapa saat Nisa dan tuan Muchtar hanya diam dan saling menatap satu sama lain.


Sangat jarang ada orang yang nekat dan berani bicara seperti itu padaku, tapi sekarang gadis kecil yang akan menjadi menantuku, dia malah tanpa rasa takut dan bahkan berani menatap mataku secara langsung. Dia pasti ingin bicara hal yang sangat penting, maka mau tidak mau harus mengusir Keyran pergi.


"Aku akan langsung ke intinya, kenapa harus aku?" tanya Nisa.


"Maksudku sudah sangat jelas, anda pasti sudah mendengar tentang kejadian di restoran. Aku sengaja melakukan semua itu, tapi kenapa anda masih tetap memilihku?"


"Ternyata kau ingin membicarakan tentang hal ini... Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya. Sejak awal aku memang sudah memilihmu sebagai menantuku, bahkan jika kau punya saudara perempuan lain aku masih akan tetap memilihmu. Aku memilihmu karena kau cocok dengan putraku, cuma kau yang pantas menjadi istrinya!" ucap tuan Muchtar dengan penuh keyakinan.


"Maaf saja, mungkin anda akan sedikit kecewa! Anda masih belum mengenalku dengan baik, kejadian seperti itu bisa aku lakukan berulang kali. Sebaliknya dengan kakakku, dia adalah gadis lugu dan anggun, cara bicaranya juga lebih halus dan lembut daripada aku, bahkan dia juga terkenal. Seharusnya kakakku yang paling cocok untuk menjadi menantu anda," ucap Nisa seakan terdengar memaksa.


"Haha, putraku benar! Ternyata kau memang naif, kau bahkan tidak sadar seperti apa sebenarnya dirimu sendiri!"


"Maksudnya...?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Maksudku kau itu berbeda, kau bahkan tidak sadar dengan apa yang sedang kau perbuat. Jarang sekali ada orang yang berani bicara seperti ini padaku, bahkan di keluargaku juga tidak ada yang seberani kau. Sebaliknya dengan kakakmu itu, diluar sana masih banyak gadis sepertinya. Jika gadis yang seperti itu cocok untuk putraku, dia pasti sudah jatuh cinta pada seseorang sejak lama. Tapi, setelah bertemu denganmu, dia mulai perlahan menunjukkan emosinya, itu artinya kau orang yang cocok!"


"Heh! Aku tidak senaif yang anda kira. Anda sendiri yang bilang kalau sejak awal sudah memilihku, pernikahan ini ada karena perjanjian, dan perjanjian itu ada sejak lima tahun lalu. Bukankah itu berarti anda sengaja menargetkan aku? Padahal saat itu umurku masih 14 tahun, anda ini nekat sekali ya?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.


"Bagus~ ternyata menantuku ini pintar sekali! Tapi yang kau bilang itu tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Ini sepenuhnya terjadi karena putraku, seandainya putraku sudah menikah dan menemukan orang yang dia cintai, mungkin aku tidak akan mengingatmu. Aku selalu memaksanya segera menikah, tapi dia malah membawa sembarang gadis untuk dikenalkan padaku! Tentu saja aku sangat muak!" keluh tuan Muchtar.


"Jadi...?"


"Hah... ternyata perbuatan baik itu gampang sekali dilupakan! Saat aku merasa muak, tiba-tiba aku mengingatmu. Aku berpikir bahwa gadis kecil yang menolongku sudah besar, jadi mulai saat itu aku segera menyelidiki tentang dirimu. Tapi siapa sangka Tuhan sangat baik padaku! Gadis kecil yang selama ini aku cari, ternyata keluarganya telah membuat perjanjian denganku. Jadi mulai dari setahun yang lalu aku sudah memilihmu sebagai menantuku!" ucap tuan Muchtar kegirangan.


"Tapi... kenapa anda bisa mengingatku? Dan memangnya apa yang sudah aku lakukan pada anda?" tanya Nisa dengan ekspresi sedikit aneh.


Haha, untung saja cuma setahun yang lalu, bisa bahaya kalau dia mulai mengawasiku sejak saat aku masih sekolah...


"Aku bisa mengingatmu karena kau sangat manis, apalagi kau punya lesung pipi dan tahi lalat di bawah mata yang membuatmu cukup istimewa. Lalu perbuatan baik yang kau lakukan adalah membantuku menyeberang jalan, bahkan ingatan itu masih sangat jelas di kepalaku! Seumur hidup aku tidak akan pernah lupa!"


"C-cuma itu...? Dan anda masih mengingatnya?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Iya, cuma itu! Saat itu aku sedang berdiri di seberang jalan raya dengan memakai kacamata hitam dan membawa tongkatku ini, lalu tiba-tiba kau datang untuk membantuku menyeberang jalan. Yang paling lucu adalah kau mengira kalau aku adalah orang buta! Dan kau dengan polosnya mengatakan 'Tidak apa-apa kakek, aku akan membantumu dan melindungimu' Tentu saja aku tidak menolak tawaranmu!" ucap tuan Muchtar kegirangan sambil menunjukkan tongkatnya pada Nisa.

__ADS_1


"Nani....!?" Nisa lalu diam dan ternganga.


"Meskipun kau menganggapku buta, aku tidak tersinggung kok! Aku malah merasa kalau itu sedikit seru. Jadi jangan sungkan-sungkan padaku!"


"Haha..." Nisa tertawa dengan canggung.


Aaaahhhh! Apa yang sebenarnya terjadi padaku!? Alasan konyol macam apa itu!? Masa gara-gara menolong orang aku harus menikah dengan anaknya! Ya Tuhan.... apa ini semua memang takdir? Tapi kenapa takdirku seperti ini...! Mati pun aku nggak akan terima...!


"Hei, menantuku~ apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"


"A-apa ya? Oh iya, kalau saja aku bukan salah satu anak perempuan dari keluargaku, apakah anda akan tetap mengajukan syarat pernikahan?"


"Tentu saja iya, dengan terpaksa aku harus menerima kakakmu sebagai menantuku. Tapi, kenyataannya kau itu ada, jadi dengan senang hati aku harus menjadikanmu menantuku!"


"Owh... begitu ya?"


Ya Tuhan.... untuk pertama kalinya aku berharap kalau aku ini sebenarnya adalah anak pungut! Jadi aku nggak perlu repot-repot menikah...


"Ayo tanya lagi~ aku sangat senang bicara denganmu seperti ini..." bujuk tuan Muchtar.


"Anu... jika aku bersikeras mundur dan memaksa kakakku untuk menggantikan aku, apa yang akan anda lakukan?"


"Maka aku akan menekan perusahaan keluargamu dan segera mengakusisinya! Tapi, kau kan pintar~ jadi itu tidaklah mungkin...."


"Ya.... anda benar!"


Sialan! Ingin sekali aku berkata kasar dan menghajar rubah tua ini! Tapi aku nggak bisa, akibatnya akan sangat sulit aku tanggung! Pokoknya aku harus segera pergi dari tempat ini, kalau nggak aku nggak bisa tahan emosi lagi...


"Ayo-ayo.... tanya lagi!"


"Emmm... untuk hari ini aku rasa cukup! Masih ada hal yang harus aku lakukan! Aku pamit undur diri, terima kasih banyak atas semua penjelasannya..." Nisa lalu berdiri dan bergegas berjalan pergi.


"Tunggu dulu! Kau ingin kemana? Aku akan suruh supir untuk mengantarmu!"


"Tidak perlu ayah mertua~ Aku hanya ingin menikmati hari-hari terakhirku sebagai gadis lajang! Terima kasih atas perhatiannya~" ucap Nisa sambil melambaikan tangannya.


"Baiklah menantuku~"


Hehehe! Wahai menantuku yang manis, pada akhirnya kau tetap memanggilku ayah mertua...


Saat Nisa berjalan keluar, dia berpapasan dengan Keyran yang ingin masuk untuk menemui ayahnya. Lalu tiba-tiba Nisa mendekat ke arah Keyran dan berbisik di telinganya.


"Selamat ya~" ucap Nisa dengan senyum pahit.


"Untuk apa kau memberiku ucapan selamat?" tanya Keyran dengan tatapan bingung.


"Tentu saja untuk semuanya~ Bye calon suamiku...!" Nisa lalu berjalan pergi.


Huh! Selamat, selamat atas pencapaian kalian berdua! Kalian ayah dan anak berhasil, kalian berhasil merebut kesempatan orang untuk bahagia. Bahkan kalian juga menghancurkannya, menghancurkan sampai sekecil-kecilnya. Aku ini ternyata hanya seorang pecundang...


"Apa dia bilang? Gadis itu kerasukan setan jenis apa?" gumam Keyran.


"Oh, ternyata kau disini! Aku masih harus mengingatkanmu!" ucap tuan Muchtar sambil tersenyum.


"Ya, aku disini. Memangnya ayah bicara apa dengannya tadi? Lalu ayah ingin mengingatkan aku tentang apa?"


"Bukan apa-apa, hanya pembicaraan biasa saja. Aku juga meningkatkanmu agar kedepannya nanti setelah menikah, kau jangan sampai membuat istrimu menangis, perlakukan dia selayaknya seorang ratu!" paksa tuan Muchtar.


"Apa yang ayah bicarakan? Untuk yang pertama aku mungkin bisa, tapi yang kedua sepertinya itu mustahil!" bantah Keyran.


"Ckck.... lihat saja nanti, setelah kau jatuh cinta padanya kau bukan hanya akan memperlakukan dia seperti ratu, tapi untuk orang sepertimu mungkin kau akan menyembahnya! Ingatlah hal ini!" ucap tuan Muchtar dengan penuh keyakinan.


"Hng! Hal seperti itu sampai kapan pun tidak akan pernah terjadi!" teriak Keyran seakan tidak terima.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang sudah dibicarakan oleh ayah dan gadis gila itu? Kenapa tingkah laku mereka menjadi semakin menyebalkan?


__ADS_2