Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Kembalikan Aku Seperti Sebelum Mengenal Cinta


__ADS_3

Gorden putih panjang berkibar diterpa angin malam, cahaya terang sang purnama turut menerobos masuk, menyinari dengan cahayanya yang lembut. Pasangan yang saling melepas rindu itu perlahan melepaskan pelukan mereka. Kini mereka berdua telah kembali bersama, senyum bahagia terukir jelas di bibir mereka.


Nisa membelai wajah suaminya dengan lembut. Kemudian menghapus sisa air mata yang masih tertinggal di pipi sambil berkata, "Berhentilah menangis, ini memalukan bagi seorang pria besar sepertimu."


"Aku menangis hanya demi istriku, apakah itu memalukan? Kalaupun iya, itu tidak masalah. Aku rela melakukan hal yang paling memalukan sekalipun asalkan istriku kembali."


Sejurus kemudian Keyran langsung memeluk Nisa lagi, dia merasa belum puas dengan pelukan yang sudah berlangsung lama tadi. "Aku mencintaimu Nisa, sangat ... sangat mencintaimu."


"Iya, aku tahu. Tapi mau sampai kapan kau terus memelukku? Sebenarnya kau jadi mengajakku pulang atau tidak?"


"Tentu saja jadi, aku hanya ... sangat merindukanmu saja. Biarkan aku memelukmu sebentar lagi, setelah itu kita pulang."


"Baiklah, asal kau senang." jawab Nisa yang kemudian membalas pelukan Keyran.


"Emm ... Nisa, apa kau akan menemui rekan-rekanmu dulu sebelum kita pulang?"


"Tidak usah, mereka sudah paham dengan sendirinya. Kau bisa tahu aku di sini pasti juga karena diberitahu salah satu dari mereka. Kau tak perlu memikirkan apa pun yang tersisa di sini, kita bisa langsung pulang."


"Baiklah, tunggu 5 menit lagi baru aku selesai memelukmu."


"Haha, kau ini ...."


***


Di sebuah sudut area bermain kasino, tampak seorang pria yang sedang berdiri sendirian, pria itu adalah Jonathan. Saat ini dia sedang berbincang dengan seseorang di telepon, ekspresinya tampak serius saat berbincang dengan tangan kanannya yang tidak lain adalah Morris.


Di tengah perbincangan serius itu tiba-tiba saja Jonathan tertegun. Kedua matanya tak bisa dia alihkan dari dua orang yang bergandengan tangan sedang berjalan menuju pintu keluar. Meskipun hanya punggung yang terlihat, dirinya bisa tahu bahwa orang itu tidak lain adalah Nisa dan Keyran. Kedua orang itu tampak begitu bahagia dengan kebersamaan mereka, sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang yang terluka berada jauh di belakang mereka.


"...." Jonathan membisu, ekspresinya pun juga berubah menjadi kecewa. Perasaan sedih yang mendalam juga berkecamuk di dalam hatinya.


"Morris, batalkan semua yang aku minta tadi. Dan cukup pesankan 1 tiket ke Italia ..." pinta Jonathan dengan nada suara sedikit gemetar.


"Ah ... Ok," jawab Morris.


"Hei, do you think i'm stupid?"


"Yes!" jawabnya tanpa ragu yang kemudian langsung menutup telepon.


"Haha ..." Jonathan tertawa di tengah kesedihannya. Sama sekali tidak ada hal lucu yang terjadi, namun yang dia tertawakan adalah dirinya sendiri.


Kenapa ... kenapa rasanya bisa sesakit ini? Tapi siapa yang bisa aku salahkan?


Jonathan akhirnya sadar jika dirinya bukanlah pria yang dipilih oleh sang pujaan hatinya. Namun, benar adanya jika dia tidak bisa menyalahkan siapa pun. Dia sendiri yang membuat dirinya terjatuh.


Sebab, dia terlalu angkuh. Mengira jika kehadirannya akan membuat luka sang pujaan sembuh. Berpikir jika seseorang yang telah patah hati pasti akan mengerti bagaimana caranya menghargai.


Benar, semua itu benar adanya. Setelah yang terluka sembuh, setelah kepingan hatinya kembali tertata. Dirinya kembali angkuh, merasa telah mendapatkan secercah harapan, merasa puas jika cintanya tidak berakhir sia-sia.


Hingga akhirnya, sesuatu yang tak pernah dia bayangkan terjadi, sesuatu yang tak pernah dia sangka tiba-tiba menjadi nyata. Sang pujaan yang telah sembuh lukanya pergi berlalu meninggalkan dirinya.


Bagaikan terjatuh di lubang dalam yang telah digali sendiri. Bagaikan tertusuk pisau tajam yang telah diasah sendiri. Bagaikan tenggelam setelah nekat mengarungi lautan dengan badai yang hebat. Hatinya hancur, terkoyak, berantakan.


Dan kini, dia hanya bisa terpaku. Lalu bergumam, "Aku yang sekarang adalah orang bodoh, merasa sakit hanya karena kau berjalan menjauh. Aku jadi seperti ini karenamu ... kau harus bertanggung jawab. Kembalikan diriku yang dulu, kembalikan aku seperti sebelum mengenal cinta ...."


***


Di sisi lain, ruangan terdalam yang berada di kasino. Gilang Sutadharma, ayah kandung Nisa dan ketua dari generasi pertama, pria itu tampak berdiri seakan-akan hendak menantang sekumpulan pria paruh baya.


Ya, mereka semua tidak lain adalah para Family generasi pertama. Tanpa sepengetahuan oleh Gilang, semua mantan Family berkumpul demi menyambut kedatangannya, meskipun menyambut bukan dengan cara yang ramah.

__ADS_1


Gilang datang kali ini bukan sebagai mantan ketua, melainkan sebagai ayah dari Nisa. Dia masih tetap berdiri di tempat dan menerima setiap tatapan sinis dari para rekannya itu. Terlebih lagi tatapan dari seseorang yang duduk di atas kursi roda, dia tidak lain adalah Morgan, sang pendiri Grizz Glory Casino.


Morgan menghembuskan napas, terlihat kepulan asap rokok keluar dari mulutnya. Dengan senyuman ramah dia berkata, "Selamat datang di Grizz Glory Casino~"


"Kau tak perlu menyambutku!" jawab Gilang dengan ketus.


"Haha, aku hanya terlalu bahagia karena kau menginjakkan kaki di sini lagi. Oh iya ketua, kau tidak terlihat seperti seseorang yang ingin meminum teh bersama. Apa yang membuatmu datang kemari?"


"Heh, gayamu sedari dulu tidak pernah berubah ya, Morgan. Kau terlalu bertele-tele, kau mengumpulkan semuanya di sini. Jadi kau pasti sudah memprediksi jika aku akan kemari."


Morgan menyeringai. "Ya, kau benar. Alasanku mengumpulkan semuanya di sini karena sebagai antisipasi, jujur saja aku tidak bisa mengatasimu jika kau mengamuk di sini. Aku bisa memprediksi kau akan kemari, dan itu semua tidak terlepas dari ulah putriku yang suka membuat keributan."


"Tutup mulutmu! Nisa adalah putriku!" teriaknya seakan tidak terima.


"Hahh ... orang dewasa seperti kita tahu bagaimana cara dunia bekerja, jadi kau tak perlu berteriak. Dan soal Nisa, tidak mungkin kau sudah lupa jika kau sendiri yang menyerahkannya padaku untuk mendidiknya. Jadi Nisa juga putriku."


"Bajing*n kau! Aku menyuruhmu menjaganya! Bukan meracuninya!" teriaknya yang seketika membuat semua orang kecuali Morgan dalam posisi siaga. Mereka semua langsung menodongkan pistol kepada Gilang.


"Ayolah, kau terlalu temperamental. Sikap tidak baikmu ini menurun ke putri kita loh. Dan kalian, turunkan benda itu. Aku tidak ingin melihat darah ataupun kain yang membalut tubuh seorang mantan Yakuza di sini."


Mereka langsung menyimpan kembali senjata mereka. Gilang yang menyadari hal itu hanya diam dan tersenyum tipis.


"Sungguh ironis," gumamnya.


Sekarang kalian berani menodongkan senjata ke arahku, padahal dulu kalian selalu menundukkan kepala jika berhadapan denganku. Tapi sekarang, ternyata bajing*n seperti Morgan bisa mengendalikan kalian.


"Hei Morgan, apa kau masih ingat kesepakatan kita waktu itu?" tanya Gilang.


"Tentu saja ingat, lagi pula hanya ada satu kesepakatan. Kita semua dilarang saling mencampuri urusan antar generasi. Tapi kenapa malah kau sendiri yang melanggarnya?!"


"Betapa tidak tahu malunya kau! Kau yang pertama kali memutuskan untuk berhenti. Dan kau juga yang pertama kali menyeret Nisa ke dalam semua ini, tapi kau malah bersikeras membuat Nisa mengikuti jejakmu."


"Kau pikir aku tak tahu apa ambisi bodohmu itu? Sungguh menggelikan bagi orang yang kotor sepertimu menginginkan reputasi baik. Kau kesulitan mengendalikan putrimu, lalu kau membiarkan dia luluh dan berubah begitu saja. Kau melakukan itu dengan cara mendekatkan Nisa ke dokter yang suci itu."


"Sedangkan Nisa sendiri adalah penerus dari kelompok ini, ada atau tidak dirinya tentu saja sangat berpengaruh. Tapi kau malah memperlakukannya seperti boneka."


Gilang tersenyum tipis. "Kau benar, aku tak akan menyangkal semua yang kau katakan. Tapi ... sepertinya kau salah pengertian. Aku tidak memperlakukan putriku selayaknya boneka, tapi aku hanya melakukan kewajibanku sebagai ayahnya. Aku tahu apa yang terbaik untuk putriku."


"Akulah ayah Nisa, akulah yang paling berhak atas dirinya. Dan biar aku perjelas lagi, semua tindakanku hanya dimaksudkan untuk keluargaku. Soal bagaimana Nisa tetap menjadi ketua generasi kedua atau tidak, itu pilihannya sendiri. Jadi berhentilah meniru caraku!"


Morgan membelalak karena terkejut, namun setelahnya dia malah menyeringai. "Heh, yang benar saja ... Ternyata kau masih punya mata-mata di sini. Tapi sudahlah,  aku mengaku jika akulah yang memberitahu pria bernama Jonathan itu jika Nisa berada di sini."


"Kau menginginkan reputasi baik, bukan? Dialah yang paling cocok. Setelah aku memeriksa latar belakangnya, ternyata dia masih tuan muda dari keluarga Cakrakumala, ditambah lagi dia punya kendali atas mafia di Italia. Pria yang sangat cocok untuk Nisa, bahkan sepertinya dia sangat tergila-gila padanya. Aku bilang seperti ini demi kebaikan Nisa sendiri."


"Jika kau benar-benar ayah Nisa, kau pasti tahu mana yang paling baik untuknya. Bisa-bisanya kau memihak pada pria yang bahkan tidak memiliki kepercayaan terhadapnya."


"K-kau ...!" gertak Gilang yang kian merasa geram.


Sial, aku benci mengakuinya. Tapi apa yang dibilang Morgan adalah sebuah kenyataan. Kesalahan yang Keyran perbuat memang fatal, entah Nisa akan memaafkannya atau tidak.


Terlebih lagi Morgan juga mengambil langkah cepat. Entah siapa pasangan Nisa nantinya, semua itu akan menentukan bagaimana nasib Nisa juga nantinya. Jika Nisa bersama seseorang yang sama-sama mafia, aku takut jika aku tidak akan bisa mengendalikannya lagi.


TAP TAP TAP ...


Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki mendekat datang dari arah belakang Gilang. Pandangan semua orang langsung tertuju kepada seseorang yang muncul, dan dia tidak lain adalah Marcell.


Morgan menatap tajam kepada putranya itu, ekspresinya bahkan menggambarkan seolah-olah tidak suka atas kehadirannya. "Kenapa kau kemari? Kau sudah tahu peraturannya, bukan?"


"Ya, tetapi ada hal penting yang harus segera aku sampaikan. Ini soal Nisa," jawab Marcell sambil membalas tatapan tajam ayahnya.

__ADS_1


Ekspresi Morgan seketika berubah. "Memangnya Nisa kenapa?"


"Dia baru saja pergi meninggalkan kasino, bersama suaminya."


"A-apa?!" Sontak saja jawaban dari Marcell membuat semua orang terkejut. Namun di satu sisi Gilang menampakkan senyum kepuasan, karena apa yang dia inginkan benar-benar terjadi.


"Haha, seharusnya sekarang kau paham! Apa yang dipilih Nisa sama seperti pilihanku, karena aku benar-benar ayahnya! Satu peringatan terakhir untukmu, Morgan! Jangan pernah berusaha untuk mempengaruhi Nisa dengan cara apa pun! Jika kau masih bersikeras, maka akan kubuat kau benar-benar jadi cacat!"


"Ayo Marcell, aku butuh kau!" ajaknya tanpa ragu.


"Baik," Marcell mengangguk setuju.


"Tunggu sebentar Marcell! Bisa-bisanya kau berpihak padanya dan mengkhianati ayahmu sendiri! Apa kau sudah lupa siapa yang paling berjasa dalam hidupmu?!" bentak Morgan penuh amarah.


Marcell tertegun, kemudian menatap ayahnya lekat-lekat. "Aku tidak berpihak kepada siapa pun kecuali Nisa. Asalkan langitku bisa kembali cerah, aku rela melakukan apa saja. Inilah pengabdian yang ayah sendiri ajarkan."


Gilang dan Marcell bersama-sama keluar dari ruangan itu, meninggalkan Morgan yang terbakar api amarah di sana. Dengan arahan dari Marcell, mereka berdua akhirnya tiba di sebuah tempat.


Tempat itu berada di bawah tanah, kotor, gelap dan penuh dengan besi berkarat. Di situlah tempat untuk menghukum para anggota yang berkhianat ataupun musuh yang tertangkap. Kedua pria itu berdiri di hadapan pria yang terikat di kursi. Dia adalah Daniel, bahkan sampai sekarang pun masih belum sadarkan diri.


Gilang melangkah lebih dekat, memeriksa keadaan Daniel dan melepaskan tali yang mengikatnya. "Hahh ... dasar Nisa, apa yang sudah kau perbuat dasar bocah nakal!"


"Itu aku yang melakukannya," sahut Marcell.


"Diam kau, aku tahu kau melakukan ini atas perintah Nisa. Jadi ini sama saja perbuatannya!"


"Jika dia mati, itu salahku." Marcell kemudian memalingkan wajahnya. Membuat Gilang menghela napas karena tingkahnya yang selalu membela Nisa.


"Haiss ... luka memar, jari tangan patah, tulang rusuk retak, lalu disetrum listrik. Untung kau punya kemauan hidup yang besar, entah apa nanti yang harus aku katakan pada besanku?"


Sejenak Gilang terdiam, dan setelahnya tiba-tiba memberikan tamparan keras di wajah Daniel.


"Eh?!" Marcell melongo.


"Huh, aku belum perhitungan karena kau sudah menjebak putriku! Kau beruntung masih dibiarkan hidup, dasar pria brengsek!"


"Marcell, bantu aku membawanya!"


"Ke pemakaman untuk dikubur hidup-hidup?" tanya Marcell.


"Bukan, tapi membawanya ke rumah sakit! Setidaknya dia harus hidup agar aku masih punya muka bertemu besanku!"


"Baiklah ...."


"Terima kasih, aku berhutang padamu."


"Tidak perlu berterima kasih, aku terpaksa setuju membawa orang ini ke rumah sakit," jawab Marcell dengan nada malas.


"Bukan soal itu, tapi soal kau yang sudah mau memberikan informasi jika Nisa berada di sini."


"Hmm ... itu bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin jika langitku terus-menerus tertutupi awan mendung."


"Maksudmu?" Gilang menatap bingung.


"Jonathan, meskipun dia adalah pria yang rela melakukan apa saja demi Nisa. Tetapi yang dia berikan hanya kesenangan belaka, Nisa sama sekali tidak terlihat bahagia bersamanya. Sedangkan saat bersama pria itu, dari cara bicaranya Nisa saja sudah berbeda, dia menjadi dirinya sendiri meskipun saat itu dia masih menutupi identitasnya."


"Jadi kau berpikir jika hanya Keyran satu-satunya yang membuat Nisa bahagia?" tanya Gilang.


"Iya," jawab Marcell tanpa ragu.

__ADS_1


"...."


Aku tak pernah paham bagaimana kau bisa begitu memahami Nisa, bahkan melebihiku yang merupakan ayah kandung. Jika saja kau membuang ideologi bodohmu yang menganggap Nisa sebagai langit, maka aku akan dengan senang hati mempercayakan Nisa padamu.


__ADS_2