
Acara pernikahan Daniel dengan Natasha menjadi sebuah acara yang sama sekali tidak pernah terduga. Namun hal itu mendapatkan sambutan baik dari kedua belah pihak keluarga. Bahkan karena saking senangnya mendapatkan seorang cucu pertama, Tuan Muchtar juga membujuk agar mulai hari ini Natasha beserta bayinya menginap di kediaman.
Seperti hal wajar yang dilakukan oleh bayi pada umumnya, bayi Natasha juga berulang kali menangis saat tengah malam. Hal itu sedikit membuat Natasha kewalahan karena tidak biasanya dia merawat bayinya seorang diri, biasanya selalu ada Chelsea yang selalu membantunya.
Tangisan bayi yang keras itu juga didengar oleh para pelayan yang akhirnya turut membantu mencoba menenangkan sang bayi. Sudah menjadi hal mutlak bahwa suara bising di malam hari sangat mengganggu orang-orang yang sedang beristirahat.
Itulah yang saat ini dirasakan oleh Nisa, meskipun letak kamarnya lumayan jauh dari tempat di mana bayi itu berada, tetapi suara tangisan bayi itu masih bisa terdengar. Akibatnya sekarang dia terbangun sangat susah untuk mencoba tidur lagi.
"Astaga, masih belum diam juga." gumam Nisa yang kemudian menoleh ke arah Keyran.
Berbeda halnya dengan Nisa, Keyran sejak tadi sudah tertidur lelap. Dia sama sekali tidak terganggu dengan suara apa pun, memang karena pada dasarnya suara tangisan bayi itu hanya terdengar pelan dari kamarnya.
Nisa mengerucutkan bibirnya, dia juga iseng menowel pipi suaminya itu. "Darling ..." ucapnya dengan suara lirih.
Keyran diam dan sama sekali tidak menunjukkan respons apa pun. Nisa yang menyadari hal itu langsung bergeser lebih dekat lagi dan mendekap ke tubuh suaminya yang hangat.
Bayinya Natasha ternyata rewel, apa mungkin giginya akan tumbuh? Eh, tapi ... memangnya bayi yang usianya baru seminggu bisa tumbuh gigi?
"Ck sudahlah, jangan dipikirkan." gumamnya.
Ternyata pengetahuanku seputar tentang bayi masih minim. Mungkin jika aku hamil nanti, ada baiknya kalau aku mengikuti kelas parenting. Jadwal yang harus di atur ada jam kuliah, lalu kelas pastry, dan jika jadi masih ada kelas parenting. Hiks ... sibuknya, sepertinya aku memang payah jadi seorang wanita. Mau bagaimana lagi, sejak kecil saja aku sudah dididik dan dilatih untuk jadi gangster.
Nisa menggeleng pelan lalu memeluk erat Keyran. "Aku harap suatu saat nanti aku akan terbangun karena suara tangisan bayiku sendiri, bukan bayi orang lain." gumamnya yang kemudian menutup mata rapat-rapat dan mencoba untuk kembali tidur.
***
Hari berganti. Namun hari ini terasa sangat berbeda dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, tentu saja hal yang menyebabkan perbedaan itu tidak lain adalah kehadiran Natasha.
Nisa dan Keyran juga telah mengubah rencana menginap mereka di kediaman utama. Mereka yang awalnya hanya berencana untuk menginap sekitar dua sampai tiga hari, sekarang mereka harus menginap di sana sampai acara pernikahan Daniel dengan Natasha selesai.
Sejak pagi hari, suasana kediaman itu tampak lebih ramai dibanding dengan biasanya. Orang-orang dari wedding organizer juga sudah berdatangan, mereka sudah dipercaya untuk mengatur semua jalannya pelaksanaan acara pernikahan dan mereka juga melakukan tugasnya dengan sedemikian rupa.
Di dalam upaya persiapan pernikahan ini, Nisa sebagai menantu pertama dari Keluarga Kartawijaya juga berinisiatif untuk andil dalam membantu persiapan. Tetapi dia masih agak menjaga jarak dengan Natasha dan hanya bicara seperlunya saja dengannya. Tentu saja hal itu dikarenakan mengingat seperti apa sebelumnya hubungan permusuhan dari keduanya.
__ADS_1
Persiapan demi persiapan telah diselesaikan dengan baik dengan memperhatikan seluruh detail. Hingga tibalah saat ini, saat di mana dilaksanakannya upacara pemberkatan pernikahan Daniel dan Natasha.
Upacara pemberkatan itu dilaksanakan di sebuah gereja yang letaknya cukup tidak diketahui oleh banyak orang. Kedua keluarga konglomerat itu telah mengatur semuanya agar pernikahan ini menjadi pernikahan tersembunyi yang sempurna.
Pernikahan itu dilaksanakan di pagi hari, kedua mempelai beserta segenap keluarga menuju ke gereja yang ditunjuk untuk melaksanakan pemberkatan pernikahan. Namun karena ini merupakan pernikahan tersembunyi, maka tidak ada satu pun jemaat gereja yang menyambut rombongan itu dengan suka cita.
Begitu di dalam gereja, Daniel dan Natasha duduk bersanding di depan mimbar. Sementara orang tua dari masing-masing mempelai duduk di barisan paling depan, dilanjutkan oleh anggota keluarga lainnya di belakang.
Prosesi diawali dengan melantunkan pujian bersama-sama, pemberitaan firman Tuhan lalu disambung dengan upacara peneguhan nikah yang dipimpin oleh pendeta.
Di dalam upacara peneguhan nikah ini, pendeta akan mengajukan beberapa buah pertanyaan untuk kedua mempelai. Tentu saja hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kesungguhan kedua mempelai dalam memasuki bahtera pernikahan.
Dengan suara yang lantang, pendeta itu berkata, "Pada pernikahan yang suci ini, hari ini akan dipersatukan Daniel Kartawijaya dengan Natasha Faradila Adinata!"
Pendeta itu lalu menatap ke arah Daniel. "Saudara Daniel Kartawijaya, apakah saudara mengakui di hadapan Tuhan bahwa saudara bersedia menerima saudari Natasha Faradila Adinata, sebagai istri satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup?"
"Saya bersedia," jawab Daniel dengan ekspresi datar. Dari sorot matanya sama sekali tidak terlihat rasa gugup, tidak terima atau apa pun. Tak ada yang bisa menebak apa yang saat ini tengah dia rasakan dan apa yang dia pikirkan di dalam benaknya.
"S-saya ... bersedia," jawab Natasha dengan suara gemetar. Meskipun sekarang dia merasa lega karena pria yang telah menghamili dirinya mau bertanggung jawab, tetapi jauh di lubuk hatinya dia merasakan kekecewaan yang teramat besar.
Bagaimana tidak? Hatinya tidak mau menyangkal bahwa dirinya masih mengharapkan sosok pria lain, pria yang telah menjadi pujaan hatinya selama ini, dia tidak lain adalah Ricky. Ini merupakan ironi bagi kedua menantu keluarga Kartawijaya. Di pernikahan yang sebelumnya, posisi Nisa juga sama seperti Natasha, dia juga sangat mendambakan Ricky sebagai mempelai pria nya. Sungguh ... entah suatu takdir atau kebetulan luar biasa yang sudah direncanakan oleh Tuhan kepada mereka berdua.
Di sisi lain pendeta itu pun melanjutkan pertanyaan peneguhan. Beberapa saat setelahnya, kedua mempelai telah menjawab semua pertanyaan dari pendeta yang diajukan secara simbolis dan bergantian.
Usai melakukan upacara peneguhan dari pendeta, Daniel dan Natasha berdiri dan saling berhadapan. Mereka berdua berpegangan tangan, lalu pengucapan janji nikah yang dipandu oleh pendeta pun dimulai.
Masing-masing mempelai diharuskan mengucapkan janji nikah dengan mulutnya sendiri. Janji nikah berisi pernyataan kesanggupan untuk menjadi suami istri secara resmi. Janji nikah dibuat atas keinginan kedua mempelai dan harus dipertanggungjawabkan seumur hidup. Meskipun pernikahan ini adalah pernikahan tanpa cinta, momen pengucapan janji nikah ini juga adalah momen yang menegangkan bagi keduanya.
Prosesi selanjutnya adalah saling menyematkan cincin di jari manis tangan kanan masing-masing. Sebelum penyematan cincin sebagai simbolis, pendeta kembali berucap. "Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir. Sebagai lambang kasih yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi kalian berdua untuk saling berbagi kasih dalam kehidupan rumah tangga, dengan mengasihi pasangan tanpa awal, juga tanpa akhir."
Sekarang Daniel dan Natasha telah sah menjadi suami istri. Keduanya lalu saling menempatkan diri, Daniel di sebelah kanan sedangkan Natasha di sebelah kiri. Selanjutnya mereka berdua mengucapkan terima kasih kepada orang tua atau sungkeman secara bergantian.
Prosesi diakhiri dan ditutup dengan doa berkat dan nyanyian penutup. Setelah ini biasanya kedua mempelai beserta segenap keluarga akan beranjak dari gereja dan melangsungkan resepsi pernikahan. Namun karena pernikahan ini sedikit berbeda dan resepsi baru akan dilaksanakan esok harinya, semua orang masih berdiam diri di gereja.
__ADS_1
Nisa yang sedari tadi duduk tenang tiba-tiba berbisik kepada Keyran yang duduk di sebelahnya. "Key!"
"Hm?"
"Ayo kapan-kapan kita menikah lagi!"
"Hah?! Apa maksudmu? Menikah satu kali itu sudah cukup."
"Maksudku tidak sampai melakukan upacara pernikahan lagi. Tapi ... aku teringat tentang foto pernikahan kita. Di foto itu make up ku di bagian mata sedikit luntur, dan ekspresimu juga jelek, sangat kaku! Kita sama sekali tidak terlihat seperti pasangan bahagia di foto itu. Jadi ayo kapan-kapan kita pakai pakaian pengantin lagi dan berfoto ulang."
"Oh, itu bisa diatur. Tapi memangnya gaun pengantinmu masih?"
"Ehmm ... haha, ya sudah kalau begitu! Kapan-kapan saja aku pikirkan dan rancang ulang!" ucap Nisa dengan senyum canggung.
Sialan, aku lupa kalau gaun pengantinku sudah aku robek-robek. Sepertinya dulu aku sangat depresi. Jadi memang sangat perlu untuk berfoto ulang, nantinya aku ingin menunjukkan kepada anak-anakku di masa depan kalau aku memang bahagia.
Si sisi lain, kakak dari mempelai perempuan yang tidak lain adalah Chelsea, gadis yang sudah didahului menikah oleh adiknya itu sejak tadi hanya duduk diam sambil memangku keponakannya tersayang.
Tiba-tiba saja Natasha mendekati Chelsea dan meminta bayinya kembali. Natasha lalu menghampiri pendeta tersebut sambil menggendong bayinya.
"Permisi, Pak Pendeta! Aku ingin memperkenalkan bayiku. Dia anak laki-laki yang manis, tetapi dia belum aku beri nama ... Bisakah Pak Pendeta yang memberikannya nama yang cocok?" pinta Natasha dengan tatapan berbinar.
Pendeta itu sejenak terdiam. Kemudian dia tersenyum tipis sambil mengusap kepala bayi yang tertidur pulas itu dengan lembut. "Agar tidak jauh-jauh dari nama ayahnya, maka akan aku beri nama ... Samuel."
"Terima kasih Pak Pendeta!" Natasha tersenyum semringah lalu mencium kening bayinya. "Sekarang kau sudah punya nama sayang! Samuel! Mama akan memanggil Sammy! Sammy yang lucu ..."
Daniel yang berdiri di dekat saja juga tersenyum kecil, dia juga menganggukkan kepala kepada pendeta sebagai bentuk rasa terima kasih nya.
Samuel, sebuah nama yang memiliki arti yang cukup baik. Sebagian ada yang mengartikan itu sebagai "hakim" dan ada juga "Tuhan telah mendengar" (doa ibu untuk anaknya).
Satu hal terakhir yang tidak bisa dilewatkan, tentu saja adalah sesi berfoto. Mereka semua berfoto bersama-sama dan memperlihatkan senyum bahagia yang terpancar dari wajah mereka.
Dan terlebih lagi ada sejarah baru yang terukir. Sebuah sejarah di mana kedua rival yang saling bersaing demi memperebutkan seorang pria yang ternyata sama-sama bukan takdir mereka, sekarang keduanya sudah menjadi sebuah keluarga besar dan saling memperlihatkan senyuman dalam potret foto bersama.
__ADS_1