
"Hoamm ..." Valen menguap, lalu dia melihat arloji di tangan kirinya.
Sudah jam 21:43, kenapa mereka berdua lama sekali? Apa mungkin mereka ketiduran? Kalau benar, lalu yang aku lakukan sekarang ini apa? Masa harus menunggu sampai pagi?
Valen mendekatkan telinganya pada pintu, sama sekali tidak ada suara yang terdengar. Tangannya meraih gagang pintu, namun dia masih ragu untuk membukanya.
"Ck, ayolah!" keluh Valen dengan suara lirih.
Clarissa sudah menungguku di rumah, tadi aku lupa memberinya makan, pasti sekarang dia sedang mencakar sofa yang baru seminggu lalu aku beli. Haiss ... dasar kucing pungut tak tahu terima kasih, tapi sayang kalau dibuang.
KLAAK!
Mendadak pintu dibuka dari dalam, Valen tersentak karena langsung berhadapan dengan Keyran yang menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Secara spontan Valen langsung melangkah mundur menjaga jarak dari Keyran.
Nisa muncul dari belakang Keyran dan langsung menggandeng tangannya, tapi dia tetap kaget saat tahu bahwa Valen masih menunggunya di luar.
"Kau masih di sini?"
"Iya, saya ingin memastikan bahwa Nyonya baik-baik saja." jawab Valen yang terus menghindari pandangan dari Keyran.
"Oh, begitu." Sejenak Nisa melirik ke arah Keyran, lalu dia berjinjit semampunya dan mendekatkan bibirnya di telinga Keyran untuk berbisik, "Kita ajak Valen sekalian, ya? Lagi pula lampion yang aku buat jumlahnya ada lima."
"Baiklah, itu pun kalau dia mau."
"Pasti mau!"
"Emm ... bolehkah saya pulang sekarang?" tanya Valen dengan senyum canggung.
"Eitss ... sayangnya belum boleh, bagaimana jika kau ikut menerbangkan lampion bersama kami?" tanya Nisa yang masih terus menggenggam tangan Keyran.
"I-itu ..." ucap Valen dengan nada ragu sambil melirik ke arah Keyran.
"Tenang saja, dia tidak keberatan kok. Lagi pula semakin banyak orang semakin seru! Oh iya, apa kau tidak keberatan memeriksa paviliun sebentar?"
"Nyonya juga ingin mengajak Bibi Rinn?"
"Iya, kalau dia belum tidur maka ajak saja."
"Tapi bukannya sekarang acaranya sudah berakhir?"
"Memang, tapi nanti kita terbangkan lampion di taman belakang. Jadi cepat lakukan tugasmu dan jangan banyak tanya lagi, oke?"
"Baik, saya permisi." Valen langsung bergegas pergi.
Nisa dan Keyran masih berdiam diri di tempat. Nisa terus tersenyum dan Keyran juga membalasnya dengan senyuman, meskipun senyuman kecil. Namun mendadak Nisa berhenti tersenyum, tangannya meraih wajah Keyran lalu mengusap bibirnya. Dan saat itu juga Keyran menahan tangan Nisa.
"Minta dicium lagi?"
"B-bukan kok!" wajah Nisa memerah.
"Terus apa? Mau modus dan ingin memberiku surprise kiss?"
"Ihhh bukan! Aku cuma mau menghapus lipstik di bibirmu, malu kalau sampai dilihat orang lain ..."
"Cih, terlambat, Valen sudah melihatnya. Tapi ngomong-ngomong ... rasanya manis, seperti stroberi."
"A-apa sih?! Yang seperti itu dipendam saja, jangan diungkapkan!"
Sial, kata-katanya seperti membuatku terkena serangan jantung.
"Darling, boleh tidak aku request rasa lain? Jeruk atau leci misalnya? Atau ... jika memungkinkan keju! Aku suka keju."
"Kau pikir lip balm itu sirup?! Mana ada yang seperti itu, apalagi yang keju! Kau buat saja sendiri, kalau eksperimenmu berhasil maka aku akan dengan senang hati memakainya!"
"Baik, aku hanya tinggal mengakuisisi perusahaan kosmetik saja, pasti semua beres! Nanti akan ada lip balm dengan rasa buah terlengkap."
"Berhentilah boros! Jangan mengakuisisi atau membeli saham perusahaan kosmetik mana pun hanya demi memuaskan obsesi konyolmu! Aku mengaku, aku punya yang rasa jeruk, lain kali akan aku pakai."
Hiks ... padahal warnanya aku kurang suka.
"Nah, sekali-kali ciuman itu rasanya juga harus beragam. Tapi kalaupun hanya satu rasa, aku juga tak akan pernah bosan menciummu."
"Haha ... cukup, berhentilah menggombal. Kau tahu tidak penampilanmu sekarang ini seperti apa?"
"Memangnya apa lagi? Sudah pasti sempurna."
"Sempurna dari mana?! Rambut acak-acakan, baju kurang rapi, ditambah masih tersisa warna merah di bibirmu. Kau ini terlihat seperti orang yang habis diperkosa!"
"Hng! Tadi kau bilang kau menyayangiku, tapi sekarang kau mencibirku."
"B-bukan begitu, tapi aku cuma mengingatkan kalau penampilanmu ini kurang cocok dengan imagemu. Jadi ... sini, biar aku rapikan! Setelah itu kita ambil lampion lalu segera menyusul Valen!" Nisa kelabakan dan segera merapikan rambut Keyran, posisinya sangat dekat sampai tubuhnya bersentuhan langsung dengan Keyran.
"Ehmm ... Nisa, dadamu lembut."
"Diam! Jangan diungkapkan!"
***
Nisa dan Keyran yang telah selesai bermesraan akhirnya sampai di halaman belakang dengan membawa 5 buah lampion. Setibanya mereka di sana, kedatangan mereka telah dinantikan oleh Valen dan Bibi Rinn.
Karena di antara mereka semua baru Nisa yang sudah pernah menyalakan lampion terbang, akhirnya dia pun memberikan instruksi bagaimana caranya menerbangkan lampion.
Masing-masing memegang satu, secara bergantian mereka menyalakan sumbu yang terbuat dari kain yang telah dilapisi lilin dengan korek api. Butuh waktu beberapa detik untuk mengisi udara di dalam silinder kertas, jika sudah penuh dengan udara maka lampion akan mulai terangkat ke atas.
Sesaat sebelum mereka melepas lampion, mereka menutup mata untuk menyebutkan harapan mereka di dalam hati. Yang pertama kali membuka mata dan menerbangkan lampion adalah Nisa, kemudian diikuti oleh Bibi Rinn, Valen, dan terakhir adalah Keyran.
Meskipun hanya 4 namun tetap saja merupakan sebuah pemandangan yang indah. Mereka menatap langit, mengagumi dengan senyuman, serta berharap kalau harapan mereka akan terkabul. Diam-diam Nisa bergeser mendekat pada Keyran lalu menggandeng tangannya.
Seketika Keyran menoleh ke arah Nisa lalu tersenyum kepadanya. "Indah, ya?"
"Iya, sangat indah." jawab Nisa sambil tersenyum yang kemudian menyandarkan kepalanya pada Keyran.
Mereka semua kembali memandang langit, melihat lampion yang terbang semakin menjauh. Tapi saat ini senyuman yang diperlihatkan oleh Valen dan Bibi Rinn bukan hanya soal lampion, tapi juga soal kebahagiaan mereka sebab Keyran yang tak lagi mengurung diri.
Tiba-tiba Nisa berdiri tegap dan menoleh ke arah Bibi Rinn. "Bibi, harapan yang tadi Bibi sebutkan apa?" tanyanya dengan antusias.
"Haha ... itu bukan hal yang besar kok, harapan saya adalah agar putra saya, yaitu Anthony bisa meraih hasil yang terbaik dalam ujian semesternya kali ini." jawab Bini Rinn dengan senyuman.
"Oh, semoga terkabul."
__ADS_1
Sial, aku hampir lupa tentang ujian semester. Tapi juga tak perlu khawatir sih, aku kan ujian online dari rumah sakit, nilaiku pasti bagus karena aku menyontek semuanya! Tapi masih ada kemungkinan besar akan dipotong karena absensiku, sepertinya kali ini pun peringkatku masih di bawah petugas babi.
"Oh iya, Anthony pernah cerita tentang Nyonya yang terakhir kali masuk peringkat 3 besar. Tapi seperti yang saya lihat, Nyonya sama sekali tidak terlihat khawatir, apa Nyonya sangat yakin dengan hasilnya?"
"Tentu, karena kali ini sainganku menghilang satu." Nisa lalu berganti menoleh ke arah Valen. "Kalau kau, apa harapanmu?"
"Emm ... harapan saya sederhana, hanya saja perlu persetujuan dari Tuan." jawab Valen dengan nada ragu.
"Aku? Harapan macam apa yang berhubungan denganku?" tanya Keyran terheran-heran.
"Harapan saya adalah Tuan mau membuka lowongan pekerjaan lagi, saya butuh rekan kerja yang bisa diajak berbagi beban."
"Wah ... jadi sekarang kau berani mengeluh di depanku?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"Saya tidak mengeluh, saya hanya menjawab pertanyaan dari Nyonya."
"Iya iya ... sudah, jangan dipermasalahkan lagi." bujuk Nisa pada Keyran dengan senyuman kurang ikhlas.
Cih, selalu saja menggunakan aku sebagai tameng dalam perdebatan antar atasan dan bawahan ini.
"Key, ngomong-ngomong harapanmu apa?" lanjut Nisa.
"Sungguh ingin tahu?" Keyran terkekeh.
"Hmph! Tentu saja, itu sebabnya aku bertanya!"
"Harapanku itu ... aku ingin selamanya bisa bersamamu."
Wajah Nisa memerah, jantungnya berdegup kencang, dia tak tahu harus berkata apa lagi kepada Keyran. Dengan lembut Keyran menyentuh dagu Nisa, meluruskan pandangan Nisa kepadanya. Dia tersenyum, keduanya saling bertatapan dan di mata mereka hanya ada bayangan satu sama lain.
"Sekarang giliranmu, katakan apa harapanmu."
Nisa sama sekali tidak berkedip, kata-kata yang dilontarkan oleh Keyran seakan-akan mampu menghipnotisnya.
"Aku berharap, semoga apa pun yang diinginkan oleh suamiku menjadi kenyataan."
Keyran tersenyum, dengan erat memegang tangan dan pinggang Nisa, lalu menariknya mendekat ke dalam pelukannya. Membuat jantung Nisa semakin berdegup kencang.
"Ehem! Saya izin pulang, kucing saya sudah kelaparan!"
"Saya juga! Saya mengantuk, izin kembali ke paviliun!"
Valen dan Bibi Rinn kompak untuk segera pergi meninggalkan area halaman. Dan ketika suasana menjadi hening, Nisa pun tertawa sambil melingkarkan tangannya pada leher Keyran.
"Hahaha, mereka peka sekali, kau pandai dalam memperkerjakan orang~"
"Tentu saja, aku membayar mahal untuk orang-orang seperti mereka. Tapi ... sampai di mana kita tadi?"
"Entahlah, aku pikir kita masih belum sampai di mana pun. Dan aku ingatkan ya, rasanya masih stroberi loh~"
"Aku juga suka stroberi, jadi biarkan aku mencicipinya!"
Tanpa basa-basi lagi mereka berdua langsung berciuman. Kedua tangan yang memegang pinggang Nisa salah satunya perlahan merayap ke atas, menekan tengkuk yang membuat ciuman itu semakin dalam.
Keyran terus menciumi bibir mungil Nisa yang telah menjadi candu baginya. Kini dia menyesap dengan rakus seakan ingin menghabisinya seketika itu juga. Pandangan mata keduanya meredup, Nisa berinisiatif untuk menjulurkan lidahnya yang seketika juga ditanggapi oleh Keyran.
Napas Nisa mulai tidak beraturan, sesekali dia melepas tautan bibirnya namun setelahnya Keyran langsung kembali menciumnya. Nisa akhirnya melonggarkan rangkulan tangannya, sebelah tangannya berganti mencengkeram baju Keyran lalu memukul-mukul pelan dadanya.
"Haa ... haa .. dasar rakus, aku hampir kehabisan napas!"
"Aku bisa memberimu napas buatan."
"Ck, lupakan! Ngomong-ngomong ... lampionnya masih tersisa satu, mau terbangkan lagi?"
"Aku heran, kenapa kau sampai membuat lima buah?"
"Yaa ... itu karena masih banyak bahan yang tersisa, lagi pula tahun lalu banyak juga orang yang tidak kebagian lampion, tadinya sih aku mau memberi sisanya pada mereka, tapi siapa sangka ternyata kita malah mengadakan festival lampion sendiri di rumah. Dan sekarang kebetulan sisa satu, aku punya ide, bagaimana jika kau saja yang terbangkan?"
"Kau saja, aku sudah menyebutkan harapanku, tapi harapanmu itu juga harapanku. Jadi kau terbangkan lagi, buat harapanmu sendiri."
"No! No! No! Aku sudah sering membuat harapan, tapi kau baru pertama kali. Begini saja, kau yang menerbangkan lampion tapi anggap saja kau mewakili ibumu yang belum sempat melakukannya. Kau sudah membuat harapan yang terbaik untuk kita berdua, jadi sekali lagi buatlah harapan untuk almarhum ibumu."
"Baiklah," jawab Keyran sambil mengusap kepala Nisa dengan lembut.
Keyran sekali lagi menerbangkan lampion yang terakhir, dan kali ini dia menutup mata sedikit lebih lama dibanding tadi. Keyran menengadah ke langit dan terus melihat ke mana terbangnya lampion itu. Namun tanpa dia sadari, Nisa diam-diam mengeluarkan ponselnya dan juga memotretnya.
Sungguh pemandangan yang indah dan langka, tanpa sadar Nisa sudah terlalu banyak mengambil gambar, bahkan Keyran pun akhirnya menyadari perbuatan Nisa.
"Kau ini seperti penguntit. Cepat hapus!"
"No! Kau ini harusnya bersyukur, kau tetap tampan meskipun tanpa filter. Lagi pula hasilnya bagus kok, nanti akan aku jadikan sebagai wallpaper!"
"Hmm ... terserah kau saja."
Ckck, kau belum tahu kalau galeri ponselku sudah dipenuhi oleh foto-fotomu, bahkan saat kau setengah telanjang juga ada.
"Hehe, terima kasih darling, lain kali aku akan izin dulu sebelum memotretmu."
Tapi bohong! Selama ini aku sudah sering memotretmu, bahkan saat tidur pun ada, lebih baik nanti aku cetak saja untuk memberimu kejutan.
Nisa kembali menyimpan ponselnya. Keyran mengajaknya untuk segera masuk ke dalam tapi dia menolak. Nisa menuntun Keyran untuk duduk bersama di sebuah bangku taman. Mereka duduk dengan menghadap pada sebuah air mancur yang tak terlalu besar.
Nisa menggenggam tangan Keyran, menyandarkan kepala di bahunya, kemudian dengan nyaman menutup mata. Keyran tersenyum, dia bahagia karena hari ini Nisa terkesan lebih banyak menempel kepadanya.
"Kenapa mengajakku duduk di sini?" tanya Keyran sambil mengusap kepala Nisa.
"Sekali-kali cari angin, lagi pula rasanya jenuh juga kalau kita hanya bermesraan di kamar. Key, hari ini aku sangat bahagiaaa ..." jawab Nisa yang masih menutup mata.
"Sungguh?"
"Iya, aku kira hari ini aku gagal melakukan festival lampion bersamamu, tapi ternyata tetap terlaksana. Dulu kukira kau itu membosankan, tapi setelah menghabiskan waktu bersamamu ternyata menyenangkan."
"..."
Kau juga sama, kukira menikah dengan gadis aneh sepertimu akan membuatku gila cepat atau lambat. Dan ternyata itu benar, sekarang aku tergila-gila padamu, entah hal konyol seperti apa yang kau lakukan, aku tetap menyukainya.
Keyran lalu merangkul tubuh Nisa, memeluknya dengan penuh kehangatan. Keyran terus tersenyum sambil menatap air mancur dalam waktu yang lama, dia memikirkan tentang semua hal yang sudah dia lewati bersama Nisa. Tentang hal-hal kecil, namun bermakna yang telah membuatnya jatuh cinta.
"Nisa, aku mencintaimu. Katakan kalau kau juga mencintaiku."
__ADS_1
"..."
"Nisa, kau dengar atau tidak?" Keyran langsung menoleh ke arah Nisa. "Katakan kalau ... Eh?!"
"Zzzz ..."
"Haiss ... ketiduran toh," Keyran membelai wajah Nisa lalu mencubit pelan hidungnya. "Sepertinya kau kelelahan, bisa-bisanya ketiduran di taman."
Keyran membelai wajah Nisa, menyelipkan rambut yang tertiup angin malam itu ke telinga. Dia lalu membopong Nisa dan segera menuju ke kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Keyran langsung menurunkan Nisa di ranjang. Namun dia mendadak berhenti ketika ingin menyelimuti Nisa, dia berhenti karena mendengar suara notifikasi dari ponsel yang masih berada di saku celana Nisa.
Dia mengambil ponsel itu, dan dia sedikit terkejut ketika melihat isi pesan yang terpotong di lock screen. Dia penasaran, apalagi pesan itu berasal dari nomor yang disimpan dengan nama "Rentenir". Akhirnya dia menarik tangan Nisa dan meminjam jarinya untuk membuka ponsel itu. Setelah ponsel berhasil dibuka, dia membaca isi pesan dengan saksama.
--
Bos, 7 anak anjing berhasil ditangkap, tapi induknya belum melakukan tindakan ataupun menunjukkan taringnya. 5 di antaranya sedang sekarat, sebaiknya apakan mereka?
Kalau mereka mati bukan salahku loh, Marcell yang menyiksa mereka.
--
"Pesan macam apa ini? Bukannya Nisa tidak suka anjing? Tapi kenapa isi pesannya seperti ini? Dan siapa Marcell? Apa dia penjaga toko hewan?"
Hemmm ... ini membingungkan, orang ini memanggil Nisa dengan sebutan Bos. Dan ada penyiksaan terhadap anjing, sementara dia membenci anjing. Jangan-jangan Nisa memimpin sebuah eksperimen penyiksaan terhadap anjing! Pasti dia melakukannya karena dia ingin anjing punah.
Ckck, sungguh gila. Tetap saja penyiksaan terhadap hewan juga tidak dibenarkan, sebaiknya aku balas pesan ini dengan cara yang bijak.
--
Berhenti menyiksa mereka! Kalau ada yang mati maka kuburkan dengan layak! Yang masih hidup masukkan saja ke kandang, jangan lupa untuk memberi mereka makan dengan tulang!
--
"Tinggal kirim, lalu selesai! Tugasku sebagai manusia berbudi luhur berjalan lancar! Ibuku di akhirat pasti bangga. Nah, agar Nisa tidak tahu sebaiknya aku hapus saja pesan ini!"
Keyran meletakkan ponsel Nisa di meja lalu mematikan lampu tidur yang berada tepat di sampingnya. Dia naik ke atas ranjang, memasangkan selimut untuk dirinya dan Nisa, lalu setelahnya memeluk Nisa.
Dia membelai wajah yang tampak polos itu, dia tersenyum memandangi wajah yang selalu dia rindukan. Namun beberapa saat kemudian dia berhenti tersenyum, dia merasa ada sesuatu yang dia lupakan.
Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa? Lampu sudah dimatikan, alarm juga sudah dipasang.
"Oh iya, melepas bra! Hehe ... ini juga merupakan suatu tugas suami yang baik."
Keyran langsung menarik selimut, dia segera bangun dan menatap Nisa sambil tersenyum licik. Perlahan tapi pasti satu per satu kancing baju Nisa terbuka, lalu tampaklah sebuah pakaian dalam berwarna merah.
Keyran menelan ludahnya dengan kasar, dia berusaha sepelan mungkin untuk menarik keluar tangan Nisa dari lengan baju.
"Mmm ..." Nisa terbangun, dia berkedip beberapa kali dalam kondisi setengah sadar. "Lain kali saja ... aku sangat mengantuk ..."
"Kau salah paham. Aku cuma ingin melepas bra saja."
"Ohh ... alasan bodoh." Nisa perlahan bangun, dengan cepat dia melepaskan bra miliknya sendiri. Tanpa mengancingkan bajunya terlebih dulu, tiba-tiba dia melepas celananya sendiri.
"Kenapa juga melepas celana?! Aku bilang kau salah paham!" wajah Keyran memerah.
"Yaa ... tidur dengan celana jeans itu kurang nyaman ..." Nisa lalu merentangkan kedua tangannya. "Peluk ... ayo tidur ..."
Mereka berdua berbaring bersama serta berpelukan. Setelah Keyran kembali memasangkan selimut, Nisa langsung membenamkan wajah di dadanya, bahkan Nisa juga menaikkan salah satu kakinya pada Keyran.
"Nisa ... kalau kau seperti ini ... Apa tidak bisa sebentar saja?"
"Zzzz ..."
Haiss ... sudah tidur lagi, dasar barbar! Tadi kau mengejek penampilanku, lalu kau ini sadar tidak seperti apa penampilanmu sekarang? Kancing baju belum dipasang, dada kelihatan, ditambah tidak pakai celana. Penampilanmu ini namanya bukan lagi seperti habis diperkosa, tapi minta diperkosa! Tapi sudahlah, kali ini kau lolos.
***
Pagi hari tiba, pagi ini lagi-lagi Nisa bangun lebih awal dibanding Keyran. Saat Keyran bangun, dirinya melihat bahwa Nisa sudah menyiapkan pakaiannya. Keyran tersenyum, dia senang karena Nisa mulai berubah menjadi sedikit lebih rajin.
Setelah Keyran selesai bersiap, dia langsung turun untuk sarapan. Di meja makan sudah ada Nisa yang menunggunya dengan semangkuk makanan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Keyran berjalan mendekat ke arah meja makan, dan sebelum dia duduk, dia memberi sebuah ciuman di pipi Nisa.
"Selamat pagi istriku yang rajin, sekarang kau bangun lebih awal dibanding denganku~"
"Terima kasih atas pujiannya, tapi hari ini aku sedikit menyesal karena bangun pagi. Niatku sih awalnya mau masuk kuliah, tapi aku lupa kalau hari ini tanggal merah. Oh iya, silakan dicoba makanannya!"
"Makanan apa ini?" tanya Keyran dengan tatapan sedikit ilfeel.
"Namanya seblak, tapi karena kau kurang suka pedas, aku sudah kurangkan cabai nya."
"Hmm ... ada kerupuk, telur, sosis, bakso ... makanan campur aduk macam apa ini?"
"Cicipi dulu, pasti ketagihan!"
"O-oke," Keyran mencicipi sedikit, dan setelahnya dia menatap Nisa tanpa berekspresi.
"Enak, kan?"
"Ada rasa kencur, kau ini buat sup atau jamu? Rasanya aneh."
"Bagaimana bisa kau tidak suka seblak?! Kau ini manusia dari planet mana?!"
"Bumi."
"Arghh! Padahal seblak itu tergolong makanan terfavorit loh, bisa membuat suasana hati jadi baik!"
"Tapi suasana hatiku sudah baik."
"Biar lebih baik lagi! Huh ... ya sudahlah, besok aku coba buat makanan lain."
"Kau pintar memasak ternyata, diajari siapa?"
"Tentu saja ibuku, mana mungkin chef Juned? Kau beruntung menikah denganku, setiap hari akan kubuat seolah-olah kau menghadiri festival kuliner! Tapi karena seblak gagal menyenangkanmu, kau tunggu sebentar, aku buatkan sandwich dulu!"
"Tunggu sebentar! Aku ingin bicara hal penting denganmu."
"Soal apa?"
__ADS_1
"Hari ini aku berencana mengunjungi ibuku, kau mau ikut, kan?"
"A-apa?!"