Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
XP 1. Hari Pertama Zahra


__ADS_3

" Kamu kenapa sayang ? "


Liana membelalakkan kedua matanya, Adit yang sedang sarapan pun menoleh dan terkejut hingga tersedak makanannya melihat penampilan Zahra sang putri yang sudah mulai beranjak dewasa. Liana langsung bangkit dan memberikan minum kepada suaminya, sedangkan Zahra hanya tersenyum dan duduk di posisi biasanya


" Ayah kan paksa aku pindah ke situ, jadi aku mau kayak gini " tersenyum manis


Zahra sang gadis kecil yang selalu di tutupi dari dunia luar tentang status aslinya, berpenampilan sangat berbeda. Dia menggunakan kaca mata yang sangat tebal, mengepang dua rambutnya dan menggunakan sebuah tompel buatan di pipinya


" Tapi ga harus kayak gitu juga sayang " Liana berusaha menjadi penengah melihat Adit sudah memasang wajah kurang suka


" Bunda aku sampe saat ini belum dapat teman yang tulus, aku janji ini yang terakhir " tersenyum manis membujuk kedua orang tuanya


" Sayang gimana juga kamu itu keluarga Pratama, dan di sana juga ada anak om Bastian. Masa penampilan kamu begitu " tegas


" Tapi akan ayah aku masuk sebagai anak angkat dari keluarga Pratama, lagi juga aku udah bilang sama Vian kok ayah " Adit hanya bisa terdiam


" Sampe kapan sayang kamu begini ? "


" Aku janji ayah ini yang terakhir "


Zahra sang pewaris tunggal dari seorang Aditya Pratama sedari kecil di tutupi identitasnya untuk mencari sahabat sejati, dia selalu bersekolah di tempat biasa dikatakan sebagai anak angkat dari keluarga Pratama. Walaupun dari kejauhan Zahra selalu di ikuti oleh para pengawal yang dikirim oleh Adit


Zahra selalu melakukan semua kegiatan seperti anak lain biasanya, bahkan dia menggunakan angkutan umum seperti anak biasa lainnya


Tetapi sampai detik ini Zahra belum juga bisa mendapatkan sahabat sejati seperti yang dia inginkan. Karena sudah memasuki kelas dua belas Adit meminta Zahra agar pindah ke sekolah miliknya, Adit hanya ingin Zahra mendapatkan pendidikan terbaik


" Boleh ya ayah ? " memelas


" Tapi nanti jadi dikucilkan sama teman-teman yang lain sayang " ucap Liana dengan lembut


" Ga apa kok bunda, aku malah senang jadi aku bisa tau mana yang bisa berteman dengan tulus sama aku "


" Terserah ayah kamu aja deh sayang "


Zahra langsung menolehkan wajahnya ke arah Adit seraya memasang wajah memelas


" Ayah "


" Tapi setelah kamu lulus sekolah ayah akan umumkan siapa kamu sebenarnya. Gimana ? "

__ADS_1


" Setuju " Zahra menjawab dengan antusias dan memasang wajah bahagianya


" Sayang anak kita udah besar sekarang, dan dia sama seperti kamu sayang. Dia benar-benar berhati baik seperti kamu "


Zahra menghabiskan susu yang telah di siapkan untuknya, dan langsung bangkit dari duduknya


" Loh kamu ga sarapan dulu sayang ? "


" Ga usah bunda nanti aku makan di kantin aja, aku ga mau terlambat hari pertama "


Zahra langsung bangkit dari duduknya dan mencium pipi Liana dan menghampiri Adit lalu mencium pipi Adit


" Makasih ya ayah, ayah memang yang terbaik "


" Ingat ya kalo ada masalah apapun, kamu harus langsung bilang sama Alvian "


" Siap ayah " tersenyum dengan manis


Zahra meninggalkan ruang makan dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kediamannya, dia berangkat ke sekolah swasta nomor satu di kota tersebut dengan di antar oleh Erik


Sebuah sekolah yang sangat mewah, sekolah yang mencetak para anak jenius. Hampir semua yang berada di sekolah itu adalah anak para orang ternama, bahkan ada beberapa yang berasal dari kota lain hanya itu bersekolah di tempat itu, walaupun ada beberapa anak yang memang karena mendapatkan beasiswa karena bidang yang mereka kuasai


" Kurang aj*r..!! Seandainya ini bukan keinginan Zahra, kalian semua pasti akan saya buat menyesal "


Tampak wajah kesal dari Erik melihat cara mereka memandang Zahra seperti sedang mencemooh, sedangkan Zahra hanya tersenyum melihat ekspresi Erik


" Untung aja bukan ayah, kalo ayah pasti udah ngamuk sekarang "


" Aku ga apa kok om " tersebut manis dan Erik hanya membalas dengan senyuman


" Memang gadis yang baik "


Erik dan Zahra langsung menunju ke ruang kepala sekolah, Erik menjelaskan kepada kepala sekolah bahwa Zahra adalah anak asuh dari Aditya Pratama yang akan ikut bergabung di sekolah itu. Karena memakai nama Adit niat mereka langsung di sambut dengan baik, Erik juga meminta agar Zahra diberikan kelas yang sama dengan Alvian


Setelah semua urusan selesai Erik berpamitan dan meninggalkan Zahra di sekolah barunya, Zahra pun langsung di antar ke kelas di mana anak dari seorang Bastian berada oleh wali kelas mereka


Sang guru yang bernama pak Kholid berjalan di depan dan Zahra mengekor dari belakang, ketika sang guru duduk di kursinya Zahra berdiri di tengah kelas. Sontak saja semua murid yang berada di dalam kelas itu sebagian langsung tertawa melihat penampilan dari Zahra, membuat Alvian yang sedang asik mengganggu kekasihnya yang berada di sampingnya menoleh dan terkejut hingga menganga melihat sepupunya tersebut


" Dasar anak aneh "

__ADS_1


" Tenang semuanya, perkenalkan ini murid baru di kelas kita " menghadap ke para murid yang masih asik tertawa


" Ayo, perkenalan diri kamu " menghadap ke arah Zahra


" Perkenalkan teman-teman nama saya Zahra Pratama "


Hampir semua yang berada di dalam kelas itu menjadi tertawa kembali


" Masa anggota keluarga Pratama begitu ? "


" Tenang semua "


" Vian nama belakangnya Pratama apa dia saudara lo ? " ucap salah seorang sahabat Alvian, membuat kelas menjadi riuh kembali


" Saya anak asuh dari pak Aditya "


" Oh... Anak asuh, pantes aja beda banget penampilannya sama Alvian " celetuk salah seorang murid, hampir semua murid kembali tertawa hanya Alvian yang tersenyum


" Kalian bisa ketawa sekarang, coba aja kalian liat penampilan aslinya. Syukur deh dia gitu jadi ga perlu repot-repot jagain dia terus "


" Ya udah kamu bisa duduk di tempat yang kosong itu ya "


Pak Kholid mengarahkan jarinya ke sebuah bangku yang masih kosong di bangku paling belakang dan paling pojok, dan terlihat ada seorang murid laki-laki yang sedang melipat kedua tangannya dan menempelkan kepalanya di atas tangan seperti sedang tertidur. sedangkan dua murid di bangku depannya melambaikan tangan seperti memberi kode terhadap Zahra


" Terima kasih pak "


Zahra pun mulai melangkahkan kakinya ke arah bangku tersebut, dan mulai mendudukkan dirinya tepat di samping anak laki-laki tersebut. Sedangkan kedua murid perempuan yang di hadapannya langsung menjulurkan tangannya untuk berkenalan


" Aku Lena "


" Aku Sofia, kamu ga usah dengarin ya ejekan mereka. Maklum namanya juga anak-anak orang kaya " Zahra hanya membalas dengan senyuman


" Semoga mereka berdua bisa menjadi sahabat baik aku "


Sedangkan sang murid laki-laki itu masih tidak terbangun juga dari tidurnya walaupun sudah ada Zahra di sampingnya, hanya Alvian yang sedikit kesal karena melihat Zahra duduk di samping anak tersebut


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih atas dukungannya 😊

__ADS_1


Maaf ya kalo masih banyak typo maklum masih belajar 😉


__ADS_2