
" Bunda "
Panggilan dan tarikan tangan dari seorang Zahra mengembalikan kesadaran dari Liana, Zahra merasakan kecemburuan di dalam hatinya melihat bundanya di peluk oleh orang lain. Yang tak lain adalah Dimas mantan suami dari Liana
" Maaf kak jangan begini ga enak di liat orang "
Dimas pun ikut tersadar dan mulai melepaskan pelukannya dari tubuh Liana
" Maaf.. Aku seneng banget soalnya bisa ketemu kamu lagi Ana, apa kamu ke sini cari aku ? " wajah Dimas benar-benar tampak bahagia
" Enggak kok kak, aku ke sini mau ketemu teman "
Tampak perubahan jelas dari ekspresi wajah Dimas, yang awalnya bahagia seperti sedikit kecewa
" Ini anak siapa ? " Dimas melihat ke arah Zahra
" Dia anak saya "
Ucapan dari Adit dengan tegas membuat Liana dan Dimas menoleh ke arah Adit secara berbarengan, dan ternyata Adit sudah berdiri di samping mereka di dampingi oleh Erik tanpa mereka sadari. Adit ternyata melihat semua kejadian itu dari awal
" Ayah " teriak Zahra
" Anak pak Adit ya ? tapi kok bisa ada sama Ana ? Ana kan ga bisa punya anak "
Adit langsung tersenyum bahagia melihat malaikat kecilnya, dan Adit pun menggendong Zahra lalu mencium pipi gadis kecil itu
" Pak Adit " ucap Dimas dengan sopan
Adit hanya terdiam dan Erik langsung bergerak sigap membisikan sesuatu kepada Adit, memberitahukan siapakah gerangan pria yang berada di hadapannya itu
" Oh.. Manager.. Atau mungkin dia ini mantan suami mbak Liana ? "
" Kamu pasti capek ya sayang ? " Adit menatap Zahra dengan lembut tanpa menghiraukan sapaan dari Dimas
" Enggak kok ayah, tadi Ara tidur di mobil " Zahra tersenyum dengan sangat manis
Adit kembali mencium pipi gadis kecil itu, dia benar-benar bahagia saat melihat gadis kecil itu tersenyum
" Ya udah Ara ikut ke ruangan ayah ya " Zahra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Adit sudah hendak melangkahkan kakinya ke arah lift pribadinya, lalu tiba-tiba dia berhenti karena mendengar ucapan dari Dimas
" Ana saya mau bicara sebentar " Dimas memegang tangan kiri dari Liana
" Kamu siapanya mbak Liana ? " Adit menolehkan kepalanya ke arah Dimas
__ADS_1
" Saya mantan suaminya Liana pak "
" Oh.. Ya udah kalian ngobrol aja dulu, saya bawa Ara ke ruangan saya dulu mbak. Nanti kalo urusannya sudah selesai mbak bisa hubungi saya biar di jemput Erik "
" Maaf mbak saatnya mbak harus belajar untuk menerima kenyataan sama seperti saya "
Adit mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift tetap setia menggendong gadis kecil itu dan di dampingi Erik, sedangkan Liana hanya bisa diam mematung
" Ana tolong kasih saya waktu sebentar untuk bicara "
Mereka berdua pun pergi ke sebuah cafe tak jauh dari kantor Adit, Dimas berani melakukan itu karena bertepatan dengan istirahat jam makan siang. Kini mereka berdua sudah duduk dengan saling berhadapan dan hanya memesan minuman saja
" Aku seneng banget Ana bisa ketemu kamu "
" Kamu mau ngomong apa kak ? " Liana to the point
" Aku sekarang udah punya anak " ucap Dimas bersemangat
Ucapan dari Dimas berhasil membuat hati Liana semakin hancur, dia sudah membayangkan akan kehilangan Zahra dan kini dia merasa Dimas sedang memamerkan kebahagiaannya
" Terus hubungannya sama aku " sinis
" Aku mau kita rujuk lagi Ana " Dimas menatap intens ke arah Liana
" Maksud kamu ? " Liana pun mengerutkan keningnya
" Ternyata kamu memang ga punya hati kak, aku benar-benar salah memilih kamu "
" Maaf aku ga bisa kak " ucap Liana dengan tegas
" Kenapa Ana ? Apa kamu udah ga sayang sama aku ? "
" Maksud kamu aku harus bahagia dia atas penderitaan perempuan lain ? "
" Tapi pernikahan kami memang ga pernah bahagia dari awal, karena perempuan yang aku cinta itu kamu "
" Kalo kamu cinta sama aku, ga mungkin dulu kamu buang aku gitu aja kak "
" Maaf dulu aku terlalu pengecut, tapi aku akan tebus semua kesalahan aku "
Liana sudah mulai beranjak dari duduknya sambil terus menatap ke arah Dimas
" Aku udah maafin kak semua kesalahan kakak dulu, tapi maaf sekarang aku udah punya Zahra dan aku minta kakak jangan pernah ganggu aku lagi. Lebih baik kakak jaga keluarga kecil kakak "
Liana mulai pergi meninggalkan meja itu dan keluar dari cafe tersebut, sedangkan Dimas hanya bisa terdiam. Dimas benar-benar tak mengira bahwa dia akan mendapatkan penolakan dari Liana, dia tau dengan pasti bahwa Liana sangat mencintainya
__ADS_1
Liana mulai melangkahkan kakinya pergi ke arah sebuah taman dan mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman tersebut, Liana butuh waktu untuk menenangkan diri
" Ya Tuhan rasanya benar-benar sakit, tapi aku ga bisa Tuhan. Aku ga mungkin merebut dia dari perempuan lain "
" Sedangkan Zahra sebentar lagi pasti akan pergi tinggalin aku, aku harus bagaimana Tuhan ? "
Liana mulai menundukkan kepalanya dan tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya
" Bunda.. " ucap Zahra di hadapan Liana dan menghapus air mata Liana
" Bunda kenapa nangis ? apa om tadi jahat sama bunda ? " Liana hanya menggelengkan kepalanya lalu memeluk gadis kecil itu dan mencium pipinya
Adit mulai mendudukkan dirinya di samping Liana dan memberikan Liana sebuah sapu tangan, cukup lama mereka berdua saling berdiam diri sedangkan Zahra meminta izin untuk bermain dan kini gadis kecil itu sedang asik bermain di taman tersebut
" Dari mana bapak tau saya ada di sini ? "
" Saya minta Erik untuk suruh orang ikutin mbak dari awal "
" Oh.. Maaf ya pak, bapak sama Ara jadi liat keadaan saya "
" Saya yang harusnya minta maaf ke mbak, saya cuma mau mbak mulai berani untuk melanjutkan hidup mbak dengan baik " Liana hanya bisa terdiam mendengar ucapan Adit
" Mbak ga usah terlalu sedih mbak, kan sekarang ada Zahra " Adit menatap ke arah Liana
" Ya pak, tapi kan mungkin sebentar lagi.. " ucapan Liana langsung terpotong oleh ucapan Adit
" Kalo gitu kita nikah aja mbak " ucap Adit dengan yakin
Liana benar-benar terkejut mendengar ucapan dari Adit dia hanya bisa terdiam seribu bahasa, Adit berusaha mengerti apa yang sedang di rasakan oleh Liana pada saat itu
" Biar waktu aja mbak yang jawab, saya ga akan paksa mbak untuk terima saya sepenuhnya sebagai suami, dan mungkin selamanya saya ga akan bisa jadikan mbak untuk gantiin posisi Cindy di hati saya "
" Tapi kita bisa coba mulai jalanin ini semua demi Zahra mbak, sama seperti mbak saya juga ingin Zahra bahagia mbak " Adit mengatakan semua ucapan dengan penuh keyakinan
Liana masih tetap setia dengan diam seribu bahasa, dia hanya menoleh ke arah Zahra yang sedang bermain di taman itu dengan bahagia
" Cin mbak harus bagaimana ? mbak cuma ingin selalu berada di samping Zahra. Zahra segalanya bagi mbak Cin, tapi mbak benar-benar takut Cin "
" Saya mungkin selamanya ga akan bisa mencintai mbak seperti saya mencintai Cindy, tapi saya bisa berjanji saya ga akan pernah sia-siakan mbak " Liana pun kembali menoleh ke arah Adit
" Dan saya berjanji saya akan jaga mbak dan Zahra dengan baik, saya ga akan izinkan ada orang yang berani sakiti kalian berdua "
Tolong bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih
__ADS_1
Maaf ya kalo masih banyak typo maklum masih belajar 😉