
Zahra dan David pun mulai membuat janji dengan dokter untuk progam kehamilan anak pertama bagi mereka, itu adalah hal yang sangat di inginkan oleh David. David selalu menjadikan alasan Alvian yang sebentar lagi akan segera menikah, membuat Zahra mengikuti keinginan suaminya
Kehidupan mereka hanya di penuhi oleh kebahagiaan, David menepati janjinya saat di mengalahkan rasa bencinya terhadap papanya. Janjinya yang akan selalu menjaga Zahra sebagai wanita, bagi David dengan memiliki seorang anak maka kebahagiaan Zahra akan menjadi lengkap
Hari demi hari terus berlalu acara pernikahan Alvian dan Lena sudah tiba, seluruh keluarga sudah sibuk untuk mengurus segalanya agar berjalan dengan lancar. Walaupun tidak melakukan resepsi pernikahan tetap saja acara tersebut berlangsung dengan cukup mewah
Kediaman Bastian sudah di sulap sedemikian rupa untuk acara anak mereka, Alvian dan Lena sedang bersiap-siap. Lena sedang melakukan make up hari itu Lena terlihat sangat cantik, dan ketika Lena hendak mengganti pakaiannya hal yang aneh pun terjadi. Kebaya berwarna putih yang sudah di siapkan untuk acara tersebut rusak, entah mengapa seperti ada sebuah sayatan benda tajam
Seluruh orang yang berada di kediaman Bastian secara spontan menjadi panik, hanya Bastian dan Alvian yang memberikan tatapan curiga terhadap Nadin, sedangkan Nadin bersikap biasa saja seolah dia tak melakukan kesalahan apapun
Siska mulai meneteskan air matanya, hatinya menjadi kalut akan acara penting dalam kehidupan anaknya yang menjadi berantakan. Zahra yang mengetahui hal tersebut langsung turun ke lantai bawah dan memberitahukan kepada suaminya
David hanya tersenyum melihat wajah istrinya yang sedang panik dan mengadu kepada dirinya, baginya apapun yang di lakukan oleh seorang Zahra Pratama adalah sesuatu yang sangat indah untuk di pandang
" Sayang kamu kok malah senyum sih " memasang wajah sedikit kesal
" Ya maaf " tersenyum lalu mencium ujung kepala Zahra
David langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan berencana untuk menghubungi seseorang
" Kamu mau telpon siapa ? " David hanya membalas dengan senyuman
Tut.. Tut.. Tut..
" Halo.. Gw lagi mau jalan ke sana sekarang "
" Lo bisa ke butik lo dulu ga ? "
" Ngapain ? "
" Lo pasti tau kan ukuran badan Lena ? "
" Ya tau lah.. Terus kenapa ? "
" Lo coba mampir ke butik dulu, bawa kebaya sebelum lo ke sini "
__ADS_1
" Buat apa ? kan gw udah kirim kemarin ke sana "
" Udah kerjain aja, nanti aja jelasinnya di sini "
" Ok... Ya udah gw ke butik dulu baru ke sana " Sofia langsung memutuskan sambungan teleponnya
David langsung tersenyum menatap Zahra yang hanya bisa terkagum melihat suaminya
" Makasih ya sayang, aku bener-bener ga kepikiran ke Sofia " David langsung memeluk tubuh mungil Zahra
" Pasti anak itu lagi, tapi kamu tenang aja sayang. Apapun yang akan dia lakuin aku akan selalu menjadi penghalang bagi dia, aku ga ijinkan kamu jadi sedih "
" Makasih ya sayang, aku ke atas dulu ya kabarin ke mereka " bersemangat
" Enak aja " tersenyum menggoda dan semakin mengeratkan pelukannya, sedangkan Zahra menatap bingung ke arah David
" Cium dulu dong sebagai tanda terima kasih " bisik David secara lembut kepada Zahra
Zahra menjadi merona dengan segala tingkah laku David yang selalu memanjakan dirinya, tak ada kata yang dapat di gunakan untuk mengungkapkan kebahagiaan yang dia rasakan, Zahra memegang kedua pipi David dan mencium keningnya dengan lembut
" Kamu salah lagi sayang, aku yang benar-benar beruntung memiliki malaikat berwujud manusia seperti kamu "
" Ya udah kasih kabar dulu ke yang lain biar mereka tenang " David mulai melepaskan pelukannya
" Ya aku ke atas dulu ya " David hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
Zahra bergegas kembali ke dalam ruangan yang di pakai untuk merias Lena, di sana sudah berkumpul para keluarga besar Pratama yang sedang kebingungan karena acara akan segera di mulai
" Tenang aja ya, Sofi bentar lagi datang bawa kebaya baru " sedikit berteriak karena gembira
Semua yang berada di dalam ruangan itu bisa bernafas dengan lega kecuali Nadin yang memasang wajah datar, air mata Siska pecah karena merasa bahagia. Siska berjalan menghampiri Zahra dan langsung memeluknya
" Terima kasih ya sayang "
" Ya tante, aku juga seneng kok kalo acara ini lancar. Walaupun sebenarnya David yang punya pikiran ke sana " Siska melepaskan pelukannya dan menatap wajah Zahra dengan lembut
__ADS_1
" Kamu beruntung sayang bisa memiliki dia " Zahra hanya menjawab dengan anggukan kepalanya dan senyuman tulus
" Ya tante, seandainya aja orang-orang tau bagaimana cara dia memperlakukan aku selama ini, mungkin kalian ga akan pernah percaya "
Nadin meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan sedikit kecewa karena rencananya telah di gagalkan kembali oleh seseorang, dia memilih untuk kembali ke dalam kamarnya. Yang tidak dia sadari adalah Alvian mengikuti dirinya dari belakang
" Kak " Nadin menghentikan tangannya untuk membuka pintu kamarnya
" Aku tau itu pasti kerjaan kakak kan " Alvian semakin mendekat ke arah Nadin, sedangkan Nadin membalikkan tubuhnya dan menatap dengan sombongnya
" Terus kamu mau apa ? " melipat kedua tangannya
" Aku ga perduli apapun yang kakak lakuin ke aku, tapi satu hal yang kakak perlu ingat. Aku Alvian Pratama paling ga suka liat mama aku nangis " Nadin hanya diam dan tetap memasang wajah sombongnya
" Jadi aku harap ini yang terakhir kakak buat mama nangis, atau aku ga akan segan melakukan apapun untuk membuat kakak menyesal ada di antara kami " penuh penekanan
" Kamu pikir saya takut dengan ancaman kamu "
Kata-kata tersebut terlontar dari bibir Nadin tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasakan perasaan terintimidasi dari tatapan dan ucapan seorang Alvian Pratama
" Ga perlu merasa takut dengan aku kak, tapi kalo kakak mau coba silahkan " tersenyum jahat
Alvian sudah memutar tubuhnya kini dia sudah mulai bisa berjalan walaupun masih dengan bantuan dari tongkat, dan kembali berbicara tanpa menghadap ke arah Nadin
" Saya yang sudah bongkar semua identitas asli kamu, karena saya merasa bersalah dengan apa yang udah papa perbuat walaupun itu menyakiti hati mama saya sendiri. Dan mama yang bersikeras untuk membawa kamu ke tengah keluarga ini walaupun papa ga terima, kalo kamu ga bisa menerima kami sebagai keluarga kamu, setidaknya tidak perlu menjadi duri di tengah keluarga kami " Alvian langsung meninggalkan Nadin begitu saja
Seluruh tenaga Nadin bak habis terkuras mendengar semua ucapan Alvian, ada perasaan yang amat sakit dia rasakan di dalam hatinya. Nadin memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, dia pun langsung terduduk lemas, tanpa dia sadari air matanya langsung mengalir dengan sendirinya
" Apa aku salah selama ini ? apa bener perempuan itu yang minta aku ada di sini ? tapi aku sekarang cuma perempuan kotor karena laki-laki itu ga bersedia bertemu aku mah "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
__ADS_1
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗