
Hari demi hari berganti dengan sangat cepat waktu pun berlalu dengan begitu saja, sekarang gadis kecil yang berada jauh di perkampungan sana sudah berumur tiga tahun, dan itulah saat pertama kalinya Liana membawa Zahra ke makam Cindy, Liana terus menggenggam tangan gadis kecil itu saat mulai memasuki area pemakaman
" Bunda kita mau kemana ? " Zahra mendongakkan wajahnya menghadap Liana
" Kita mau ke jenguk ibu sayang " Liana tersenyum hangat lalu menggendong gadis kecil itu
" Tempat ibu bobok ya bunda ? "
" Ya sayang " Lalu Liana mencium pipi gadis kecil itu
Kini mereka berdua sudah berada tepat di depan tempat peristirahatan terakhir Cindy, Liana pun menurunkan Zahra dari gendongannya, dia ingin Zahra dekat dengan ibunya walaupun hanya di tempat peristirahatan terakhir Cindy
" Cindy mbak bawa Ara " lirih
" Maaf ya Cin mbak baru sekarang bawa Ara, setelah mbak merasa Ara sudah cukup besar untuk mbak bawa ketemu kamu, tapi mbak janji mulai sekarang mbak akan sering bawa Ara kesini ketemu kamu "
Zahra bayi yang dulu terlahir ke dunia tanpa dosa apapun kini sudah mulai tumbuh menjadi seorang gadis kecil, gadis kecil yang tahu menahu tentang cerita hidupnya sendiri. Selama ini Liana membesarkan Zahra dengan sangat baik dan sering menceritakan tentang Cindy, tetapi dia tak pernah menceritakan tentang Adit, dia tak ingin Zahra membenci Adit
" Bunda ibu boboknya di dalam sana ya ? " Zahra menunjuk ke arah makam Cindy
Liana yang mendengar ucapan dari gadis kecil itu langsung berjongkok dan memeluk gadis kecil itu
" Ya sayang "
" Kasian dong ibu ya bunda, pasti ibu kedinginan di sana "
Liana mulai melepaskan pelukannya dan menatap Zahra dengan lembut, Liana mencoba memberikan pengertian walaupun entah gadis kecil itu akan paham atau tidak
" Ga kok sayang, Tuhan itu sayang banget sama ibunya Ara makanya Tuhan panggil ibunya Ara duluan buat di samping Nya "
Zahra langsung mengangkat kedua telapak tangannya sebagai mana mestinya berdoa, seperti yang selama ini di ajarkan oleh Liana
" Tuhan kan sayang ibu jadi Tuhan harus jaga ibu ya di sana jangan sampai ibu kedinginan "
" Amin " lalu Zahra mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya
__ADS_1
" Cindy anak kita sudah mulai besar, sampai detik ini mbak selalu ikuti permintaan kamu, tapi sampai detik ini juga mbak belum siap untuk permintaan terakhir kamu "
Liana selalu menjaga Zahra dan mengajarkan hal baik terhadap Zahra, dia ingin Zahra tumbuh menjadi gadis yang baik suatu saat nanti, dia juga menganggap Zahra seperti darah dagingnya sendiri, tetapi bila Adit datang maka dia belum siap untuk menerima Adit sebagai suami seperti permintaan terakhir Cindy
Hari terus berlalu kehidupan terus berjalan dengan cepat, setiap bulan Liana akan selalu membawa Zahra ke makam Cindy, dia juga selalu memberi pengertian tentang siapa Cindy yang sebenarnya kepada Zahra
Sedangkan di perkotaan yang jauh di sana semua anggota empat sekawan sudah merajut kebahagiaan mereka masing-masing, hanya Adit yang masih setia dengan kesendiriannya
Bagi seorang Adit dia belum bisa menemukan wanita lain yang bisa menggantikan posisi Cindy di dalam hatinya sampai saat ini, walaupun tak pernah terbesit sedikit pun untuk memaafkan pengkhianatan Cindy, dia merasa Cindy benar-benar berkhianat karena tak pernah sekalipun Cindy mencarinya selama ini
Tidak terasa waktu benar-benar berlalu dengan sangat cepat hingga kini gadis kecil itu sudah mulai memasuki usia lima tahun, Zahra tumbuh menjadi gadis yang baik dan ceria, senyuman manis akan selalu tersimpul di bibir mungilnya
Liana selalu mengajarkan Zahra untuk selalu berbuat baik kepada orang lain, dan tidak boleh membuat orang lain bersedih dia benar-benar mendidik Zahra untuk menjadi anak yang baik
Walaupun Mita dan Rangga sesekali masih menjenguk Zahra, tetapi benar-benar sudah sangat jarang karena sekarang mereka pun mempunyai keluarga kecil yang harus mereka urus
Karena usia Zahra sudah menginjak lima tahun, kini Zahra mulai di izinkan bermain bersama teman-teman di luar rumah, Liana hanya ingin agar Zahra mudah untuk bersosialisasi ke depannya
Zahra mulai sering bermain ke luar rumah, hingga suatu hari dia pulang dengan wajah yang terlihat sangat sedih
" Bunda.. " teriak Zahra
" Hei.. Kenapa sayang ? " tanya Liana dengan cemas, melihat putri kecilnya mulai menangis di dalam pelukannya
" Bunda memangnya Ara ga punya ayah ya ? "
Sontak saja pertanyaan polos dari seorang Zahra barusan membuat hati Liana langsung hancur berkeping-keping, berarti ini sudah saatnya dia melepaskan Zahra untuk kembali ke pelukan ayahnya
" Apa sekarang udah waktunya ? "
" Kenapa Ara bilang gitu sayang ? "
Liana mulai melepaskan pelukannya dan meneteskan air mata karena kesedihannya, tetapi alasan utamanya adalah karena dia melihat gadis kecilnya itu sudah menangis dengan hebat
" Teman-teman Ara bilang kalo Ara ga punya ayah bunda "
__ADS_1
" Ara punya ayah kok sayang " Liana kembali memeluk tubuh putrinya dengan erat
" Mereka bilang Ara anak haram bunda, karena Ara ga punya ayah "
Liana pun mulai melepaskan pelukannya dia mulai menatap wajah Zahra dengan lembut dan menghapus air mata dari pipi gadis kecil itu
" Ara dengerin bunda, Ara bukan anak haram Ara punya ayah kok, Ara percaya kan sama bunda ? " Liana mencoba menenangkan putri kecilnya
" Kalau gitu ayah Ara di mana bunda ? apa ayah ga sayang sama Ara makanya ayah ga mau ketemu sama Ara " Zahra kembali memeluk Liana
Liana membiarkan sejenak putri kecilnya itu meluapkan segala kesedihannya, lalu dia melepaskan pelukannya dan mencium pipi Zahra dengan lembut
" Ara dengerin bunda ya, ayah lagi sibuk kerja untuk Ara, tapi bunda akan hubungi ayah biar ayah temuin Ara ya "
" Bunda janji ya " Zahra menatap wajah Liana
" Bunda janji sayang, bunda akan minta ayah datang temuin Ara, jadi sekarang udah ya Ara jangan nangis lagi "
Liana kembali mencium pipi Zahra dengan lembut
" Udah sekarang Ara jangan main keluar lagi ya, Ara tidur siang ya sayang " bujuk Liana
" Ya bunda "
Zahra akan selalu menuruti semua perkataan dari bundanya, dia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya seperti perintah bundanya untuk istirahat
Setelah cukup lama menunggu Liana mulai masuk ke dalam kamar putri kecilnya itu, dia ingin memastikan dan ternyata Zahra pun sudah tertidur dengan pulas, Liana mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mamanya
Liana langsung menemui mamanya di dalam kamarnya dan menceritakan semuanya, Liana hanya bisa menangis di dalam pelukan mamanya, dia benar-benar merasa tidak sanggup bila harus kehilangan Zahra, mamanya hanya bisa memberikan nasihat agar dia selalu kuat dan akan mendukung apapun pilihan dari Liana
" Kamu harus bisa ambil keputusan yang terbaik untuk Zahra sayang, bagaimanapun juga Zahra tetap butuh sosok ayah dalam hidupnya "
" Iya aku ga boleh egois, bagaimanapun juga Zahra tetap butuh sosok seorang ayah, tapi apa aku akan kuat saat Zahra pergi nanti ? "
bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
__ADS_1
terima kasih 😊
maaf ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar..