Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
XP 5. Semakin Dekat


__ADS_3

Semenjak saat itu tak pernah sekalipun David tertidur di dalam kelas, waktunya hanya selalu dia habiskan dengan sia-sia dan menjelaskan kepada Zahra apa yang Zahra tak mengerti. Dan hubungan mereka pun menjadi semakin akrab


" Ternyata ga semua anak orang kaya sombong, mah aku sekarang berteman dengan anak orang kaya mah "


" Kenapa ? " Zahra heran melihat David yang sedang menatap ke arahnya dan tersenyum


" Ga kok, heran aja ada anak orang kaya yang bodoh " David membisikan ke Zahra dengan lembut, sedangkan Zahra yang mendengar itu langsung refleks menutup mulut David


" Akh.. Jangan berisik nanti ada yang denger " David melepaskan tangan Zahra dan tertawa


Sedangkan Alvian sudah pasrah melihat kedekatan mereka, dia hanya berpikir tak ada yang bisa di tutupi lagi. Zahra pasti sudah mendengar ucapan David saat di aula, lain hal dengan sang mak lampir yang semakin kesal melihat Zahra


David akan mengantarkan Zahra pulang dengan angkutan umum, walaupun tetap ada pengawal yang mendampingi mereka seperti perintah Adit. Adit tak ingin menghalangi apapun keinginan Zahra, dia tak ingin Zahra mengalami apa yang pernah dia alami terdahulu. Kebahagiaan harus di tukar hanya demi status sosial


Semenjak kehadiran Zahra kecil di tengah keluarga Pratama ada sebuah kebiasaan yang baru, setiap akhir pekan seluruh keluarga Pratama akan selalu berkumpul baik itu di kediaman mama Liana atau kediaman orang tua Bastian. Mereka memulai untuk mempererat yang namanya kekeluargaan


Akhir pekan ini semua berkumpul di kediaman mama Liana dan semua pun sudah berkumpul di sana. Zahra mendekati Alvian dan duduk tepat di sampingnya, walaupun Alvian sudah berusaha untuk selalu menghindar dari Zahra


" Kenapa kamu menghindari aku terus ? "


" Perasaan lo doang kali "


" Apa karena sekarang aku udah tau rahasia kamu ? " Zahra menjadi tertawa


" Berisik " Alvian melirik Zahra dengan sinis


" Aku ngerti kok Vian, pasti kamu ingin jadi yang terbaik kan di depan om Bastian "


" Gw cuma mau papa bangga sama gw "


" Tapi lebih baik kalo itu hasil kamu sendiri " Alvian menatap ke arah Zahra dan Zahra pun tersenyum dengan sangat manis


" Tapi aku yakin kok, tanpa kamu lakuin itu om Bastian udah bangga sama kamu "


" Makasih ya Ara " Zahra menjadi tertawa mendengar ucapan Alvian dan Alvian hanya bisa mengerutkan keningnya menjadi heran sambil menatap ke arah Zahra


" Gila anak sombong kayak kamu bisa bilang makasih " Zahra kembali menjadi tertawa


" Hmm.. Untung aja kita saudara kalo ga udah gw kerjain lo abis- abisan "


" Tuh kan kumat lagi sombongnya, tapi ga apa kok walaupun aku tau kamu dari kecil memang udah sombong tapi aku yakin kamu baik " Zahra tersenyum dengan sangat manis


Mereka pun terus berbincang seperti biasa, dari kecil Alvian sudah di didik untuk selalu melindungi Zahra oleh papa dan mamanya. Mungkin karena perasaan bersalah mereka terhadap Cindy terdahulu, sedangkan Alvian yang menjadi anak tunggal selalu merasa Zahra adalah adik perempuan yang harus selalu dia lindungi


Sedangkan di tempat lain ada David yang sedang berada di sebuah cafe bertemu dengan seseorang, David duduk tepat berhadapan dengan orang tersebut. David tampak cuek menghadapi orang tersebut

__ADS_1


" Gimana kabar kamu ? "


" Hmm.. Kenapa cari saya ? "


" Maaf.. " lirih


" Ga perlu ada yang di maafin, hidup saya sekarang baik-baik aja "


" Kalo kamu butuh sesuatu kamu tinggal bilang aja "


" Saya ga butuh apapun dari anda " David sudah hendak bangkit dari duduknya


" Tolong kasih saya kesempatan untuk menebus dosa saya " David kembali ke posisi duduknya


" Anda mau apa sekarang ? "


" Saya akan berikan apapun yang kamu mau "


" Apa anda bisa kembali masa kecil saya ? apa anda bisa kembalikan mama saya yang menjadi seperti itu karena anda tinggalkan begitu saja ? "


" Maaf " lirih


" Tapi kata maaf dari anda tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula "


" Saya akan bawa kamu ke keluarga besar sebagai putra pertama saya "


David terus melangkah kakinya ke arah sebuah pemakaman umum, dia terus melangkahkan kakinya ke sebuah makam. David mulai berjongkok di hadapan makam tersebut


" Mah apa kabar ? laki-laki itu datang cari aku mah. Sekarang aku harus gimana mah ? " lirih


David mencoba menahan semua emosinya dia tak ingin air matanya terjatuh di hadapan makam mamanya, air mata yang selama ini tak ingin dia tunjukkan oleh siapapun. Hingga lamunannya terpecah oleh suara ponselnya


" Kamu lagi di mana ? "


" Kenapa ? "


" Perasaan aku doang atau memang suara dia lagi agak aneh ya "


" Tadinya aku mau minta tolong bantu cari hadiah buat Vian, tapi kalo ganggu ga usah deh "


" Kamu di mana ? "


" Masih di rumah nenek, tapi sebentar lagi mau pulang "


" Ok.. Mau ketemu di mana ? "

__ADS_1


" Langsung ketemu di mall xx aja ya "


" Ok.. "


" Makasih kawan "


" Hmm.. " David langsung mematikan sambungan teleponnya


" Apa bener dia akan tetap anggap aku kawan kalo dia tau aku cuma anak yang ga di akui "


David mulai berdiri dan masih menghadap ke arah makam mamanya


" Mah aku pergi dulu ya, aku sekarang udah punya teman mah. Aku akan bilang jujur sama dia, semoga dia tetap mau jadi teman aku ya mah "


David mulai melangkahkan kakinya keluar dari area pemakaman tersebut, dan mulai menuju ke mall xx tempat dia sudah berjanjian dengan Zahra. David sudah tiba di sana terlebih dahulu, David memutuskan untuk duduk di bangku untuk menunggu kehadiran Zahra


" Hai.. Udah lama ya ? " Zahra tersenyum dengan sangat manis


" Pantes aja anak sombong itu mati-matian jaga anak ini, benar-benar cantik "


David hanya bisa terdiam melihat penampilan Zahra yang sesungguhnya, penampilan yang benar-benar berbeda dengan yang biasa dia tampilkan selama ini


" Hai.. Kok malah bengong ? aneh ya lebih cantik kalo di sekolah ya ? " Zahra tertawa membayangkan penampilan dirinya bila di sekolah


" Iya kamu lebih cantik kalo di sekolah " David mulai bangkit dari duduknya


" Idih.. Masa sih ? " menolehkan wajahnya menatap ke arah David sedangkan David hanya menjawab dengan anggukan kepalanya


" Kalo aku begini, cantikan mana ? " Zahra tersenyum dengan sangat manis


David langsung meraup wajah Zahra dengan tangannya, dan mereka pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall tersebut


" Jangan suka senyum begitu di hadapan cowok "


" Kenapa ? " tanya Zahra dengan polosnya


" Nanti cowok pada benci sama kamu "


" Masa sih ? apa cowok ga suka liat aku senyum ? Vian juga sering bilang gitu. Katanya aku enggak boleh senyum di hadapan cowok " David hanya melirik dan membalas dengan senyuman


" Ya karena senyuman kamu benar-benar manis, bikin kita para cowok ga akan bisa tahan untuk ga suka sama kamu "


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih atas dukungannya 🤗

__ADS_1


Maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar 😉


__ADS_2