
Wulan anak dari istri pertama pak Hartawan, istri pertama pak Hartawan meninggal dunia pada saat melahirkan Wulan, itu lah alasan yang membuat pak Hartawan sangat membenci Wulan, karena menurutnya Wulan membuat wanita yang sangat dia cintai meninggal dunia
setahun kemudian pak Hartawan sudah melupakan cinta nya kepada istri pertamanya dan menikah lagi, tapi dia tetap tidak melupakan rasa bencinya kepada anaknya sendiri, apalagi tak selang berapa lama mereka menikah istrinya hamil dan lahir lah Rania
Wulan hidup bagai seorang yang yang tidak pernah dianggap ada, bahkan di rumah sebesar itu dia harus tidur di kamar belakang dengan para ART dia juga harus mulai bekerja untuk memenuhi biaya kuliahnya sendiri
" Lan... Wulan bangun " ucap mama tirinya sambil menggoyangkan tubuh Wulan
Wulan pun terbangun dan langsung menggeserkan badannya menjauh dari mama tirinya karena ketakutan
" kamu di panggil papa ke ruang tamu, ayo cepat " ucap mama tirinya
" mah.. tolong mah.. biarin Ulan disini aja mah.. Ulan janji ga akan pernah pergi lagi mah.. " ucap Wulan sudah mulai mengeluarkan air mata
" udah ayo cepat di panggil papa, kamu mau kalau sampai papa kamu marah lagi " ucap mama tirinya
Wulan akhirnya pasrah dia mulai berdiri dan mengikuti mama tirinya dari belakang ke arah ruang tamu dengan seribu perasaan takut yang berkecamuk di hatinya, entah apalagi yang akan di lakukan oleh papanya saat ini pikirnya
setelah sampai di ruang tamu Wulan benar-benar terkejut melihat ada Bagas disitu sedang duduk bersama keluarganya yang lain, dia pun langsung berlari dan berdiri di samping Bagas
" pah.. tolong pah... ini salah Ulan pah.. ini ga ada hubungannya apapun sama dia pah.. dia cuma teman Ulan pah.. kami ga ada hubungan apapun pah " ucap Wulan sudah berderai air mata
sontak saja itu membuat pak Hartawan dan istrinya semakin ketakutan, berarti benar bila Wulan mengenal Bagas
Bagas sudah mulai menunjukkan ekspresi marahnya, bagaimana tidak dia melihat gadis yang sudah membuat dia berjanji dalam hatinya, untuk melindungi dan membuat nya bahagia keadaan nya sekarang sangat memprihatikan
Bagas dapat melihat dengan jelas ada beberapa lebam di tangan Wulan, ada bekas luka di ujung bibir Wulan, dan mata Wulan yang sudah membengkak akibat terlalu banyak menangis
" kurang ajar..!! berani banget orang-orang ini " ucap Bagas dalam hatinya
" kamu ngapain Ulan ? " tanya istri pak Hartawan gugup menahan rasa takut nya
" mah tolong mah, dia cuma teman Ulan kalian ga boleh berbuat apa-apa ke dia, kemarin salah Ulan kabur ga ada hubungannya sama dia mah " jawab Wulan
" lo khawatir sama gw ? " ucap Bagas sambil tersenyum mendengar apa di ucapkan oleh Wulan, tiba-tiba saja Bagas melupakan kemarahannya mendengar ucapan Wulan
__ADS_1
" aduh orang ini g*la ya, apa dia ga takut dengan apa yang bisa papa lakukan ke dia " ucap Wulan dalam hatinya dan menatap tajam ke arah Bagas
" tolong pah kemarin Ulan kabur keinginan Ulan sendiri ga ada urusannya sama orang ini pah " ucap Wulan
Wulan pun sudah mulai bisa mengendalikan tangisnya termakan oleh rasa kesal ke Bagas, tetapi Wulan sedari tadi tidak menyadari kalau semua keluarganya sudah memasang wajah ketakutan
" udah Ulan kamu tenang dulu, kamu duduk aja dulu " ucap papanya dan Wulan pun menurut dia duduk di samping Bagas
" kata siapa lo kabur ga ada urusannya sama gw ? " tanya Bagas saat Wulan sudah duduk
Wulan pun menatap Bagas dengan wajah kesal seperti hendak menendang pria di hadapannya ini bila tidak ada orang lain disitu
" lo itu kabur dari gw kemarin " lanjut Bagas tersenyum
DUAR... DUAR... Wulan pun hanya bisa terdiam dia serasa mendapat serangan bertubi-tubi mendengar ucapan Bagas barusan
" kenapa lo bisa jadi gini ? tadi siang lo baik-baik aja " tanya Bagas dengan dingin menatap Wulan
Wulan hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, dia tidak tau harus menjawab apa. sedangkan keluarga yang lain semakin merasa ketakutan
" itu nak Bagas bisa kita jelaskan " jawab pak Hartawan
" ga perlu jelaskan apapun, saya sudah lihat dengan mata dan kepala saya sendiri cara kalian memperlakukan calon istri saya " ucap Bagas membuat Wulan menjadi merona
" tolong nak Bagas kami hanya.. " ucap pak Hartawan yang langsung terpotong oleh ucapan Bagas
" karena kalian berani sentuh calon istri saya, maka saya pun tidak perlu segan-segan lagi terhadap kalian " ucap Bagas
Bagas pun berdiri dan menarik tangan Wulan keluar dari rumah itu, semua yang ada disitu hanya bisa diam memandangi kepergian mereka berdua
saat sudah berada di depan mobil Bagas, Wulan menarik tangannya dan Bagas pun menghentikan langkahnya
" kamu mau bawa aku kemana ? " tanya Wulan
" gw mau bawa lo pergi dari rumah ini, rumah ini ga pantas untuk lo " jawab Bagas
__ADS_1
" kamu pikir saya perempuan seperti apa ? yang bisa kamu bawa gitu aja, apa kamu pikir saya kaya perempuan yang selama ini ada di samping kamu " ucap Wulan sedikit menaikan volume suaranya
walaupun memang Wulan berharap bisa keluar dari rumah itu, tapi bukan berarti dia harus ikut dengan seorang pria begitu saja, Bagas pun berjalan mendekati Wulan dan pletak... Bagas menghadiahkan sebuah sentilan di kening Wulan, Wulan hanya bisa diam sambil mengelus keningnya
" buang jauh-jauh pikiran kotor lo, katanya lo percaya semua orang bisa berubah, kenapa lo ga percaya gw mau berubah ? " tanya Bagas
" ekh.. itu tapi kan.. " jawab Wulan sedikit ragu
" gw udah janji sama diri gw sendiri buat jaga lo, jadi gw ga akan biarin lo tinggal disini lagi " ucap Bagas dengan yakin sambil menatap Wulan
Wulan pun hanya bisa diam dan tertunduk malu, lalu Bagas kembali menarik tangan Wulan dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, mereka berdua pun meninggalkan kediaman pak Hartawan
" akh... kenapa jadi begini si " teriak pak Hartawan
" tenang pah, ingat penyakit jantung papa " ucap istrinya sambil mengelus punggung pak Hartawan
" tapi apa mama ga lihat tadi Bagas marah ke kita, kalau papa tau ternyata Bagas tertarik sama Wulan papa ga akan bertindak kasar tadi mah " ucap pak Hartawan
" ya sudah kita tunggu saja, Wulan itu kan anaknya baik ga mungkin dia akan diam aja kalau Bagas mau menghancurkan kita pah " ucap istrinya berusaha menenangkan suaminya
" ya kamu benar Wulan memang anak baik, papa yang selama ini sudah jahat sama dia. papa yang selalu menyalahkan dia atas apa yang terjadi " ucap pak Hartawan dengan lirih
sontak saja membuat anak dan istrinya yang berada di situ tidak suka mendengarnya
" dasar anak s*alan kenapa jadi malah begini " ucap istrinya dalam hatinya
" akh... kalau gw tau bakal begini, gw ga akan nolak dari awal di jodohin sama Bagas, kenapa jadi malah tuch anak yang beruntung " ucap Rania dalam hatinya
mereka bertiga larut dalam perasaannya masing-masing, pak Hartawan yang menyesal dengan apa yang sudah di perbuat selama ini sedangkan istri dan anaknya sedang kesal melihat semua kejadian barusan
bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
terima kasih 😊
maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar...
__ADS_1