
Hari itu David merasakan rindu yang amat terhadap celoteh Zahra, David mendekati tempat di mana Zahra sedang terbaring dan mulai menggenggam tangan Zahra dengan erat. Liana dan Adit hanya memandangi David dari kejauhan di dekat box bayi Zahra
" Sampai kapan kamu mau tidur sayang ? apa kamu ga kangen sama aku ? apa kamu ga mau liat anak kita sayang ? anak kita sampai sekarang belum memiliki nama sayang " mulai berkaca-kaca
" Sayang bangun, kamu bilang mau kasih tau nama anak kita saat mau lahir. Sekarang anak kita bahkan sudah sehat tapi dia belum punya nama juga. Semua ini karena kamu " lirih
Mendengar itu Adit sudah mulai mengeraskan rahangnya dan hendak menghampiri David dengan cepat Liana memegang tangan Adit dan menggelengkan kepalanya
" Kapan kamu mau bangun sayang ? apa kamu mau bangun tunggu anak kita besar dulu ? ga mungkin anak kita ga punya nama sayang "
" Kalau kamu masih ga mau bangun juga aku akan bawa anak kita pergi dari sini, aku akan kasih dia ke perempuan lain yang bersedia kasih anak kita nama sayang " meneteskan air matanya
Mendengar itu Adit semakin terbakar oleh emosi dia sudah mulai mengepalkan tangannya, Liana yang menyadarinya langsung mencubit Adit dengan kuat seakan mencoba menyadarkan Adit
" Apa kamu liat dia juga sedih ? " berbisik, Adit pun melihat air mata David yang sudah mulai mengalir dan menyadari bahwa David mengucapkan kata-kata tersebut bukan dari dasar hatinya
Sedangkan di entah di mana Zahra merasa sedang berjalan di hamparan sebuah taman bunga yang sangat indah, tempat yang sangat membuat dua takjub. Zahra terus menyusuri taman bunga tersebut hingga dia kembali bertemu dengan sosok wanita yang tak lain adalah Cindy
" Ibu " lirih, Cindy pun tersenyum dengan lembut dan merentangkan kedua tangannya
Zahra langsung berlari ke arah Cindy dan memeluk tubuh Cindy dengan erat, Zahra mulai melepaskan pelukannya setelah merasa puas dan menatap wajah Cindy yang sedang tersenyum dengan sangat cantik
" Mau sampai kapan sayang ? " Zahra mengerutkan keningnya
" Saatnya kamu bangun putri tidur ibu yang cantik " Cindy mencium kening Zahra dengan sangat lembut dan Cindy pun mulai menghilang dari pandangan Zahra secara perlahan
" Kalo kamu masih siksa aku begini terus, aku benar-benar akan bawa anak kita pergi jauh dari kamu sayang " terisak-isak, tanpa menyadari bila Zahra sudah mulai menggerakkan jemarinya di tangan yang satu lagi
Liana hanya bisa terdiam dan haru melihat David, sedangkan Adit hanya bisa menutup matanya dan menundukkan kepalanya dari kejauhan
" Dasar anak muda, tapi dulu pun aku lakuin hal yang sama setelah mengetahui tentang Cindy. Bahkan aku sampai melupakan Ara, yang ada di hati dan pikiran aku saat itu cuma mau mengakhiri hidup aku "
__ADS_1
David mencium tangan Zahra dengan lembut dan membenamkan wajahnya ke tangan Zahra dengan air mata yang terus mengalir, tanpa dia sadar bahwa Zahra sudah membuka kedua bola matanya
Sedangkan Adit terlarut dalam pikirannya sendiri, dan Liana yang terkejut melihat Zahra sudah membuka matanya seakan tak percaya dan terus menggoyangkan tangan Adit
" Aku kangen kamu sayang " lirih
" Katanya kangen tapi mau pergi cari perempuan lain " dengan suara yang parau dan pelan
David langsung mengangkat wajahnya dan memandangi wajah Zahra yang kini ke dua matanya sudah terbuka dengan sempurna, sedangkan Adit langsung terkejut dan memandang Liana dengan wajah terperangah
" Sayang.. Ara.. " Liana hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya
" Dari tadi aku udah kasih tau kamu sayang "
Adit langsung berlari ke luar ruangan tersebut dan memanggil dokter untuk melihat keadaan Zahra, sedangkan David hanya bisa berdiri terpaku dan terdiam seakan tak percaya dengan apa yang kini ada di hadapannya
Dokter yang di panggil Adit segera memeriksa keadaan Zahra dengan seksama, setelah melakukan berbagai pemeriksaan dokter tersebut bisa tersenyum dengan lepas. Serasa tekanan yang selama ini dia terima dari seorang Adit bisa lepas saat itu juga
" Terima kasih banyak dok " tanpa sadar Adit memeluk dokter tersebut, Liana hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya sendiri
" Sekarang peluk-peluk pak, kemarin-kemarin apa bapak ga ingat ? hampir setiap saat bapak selalu tekan kita dan marahin kita "
" Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi dulu " dokter tersebut meninggalkan ruangan itu
Zahra tersenyum sambil menyapu bersih semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut, ada ayah yang tersenyum bahagia, ada bundanya yang meneteskan air mata karena harus melihat Zahra yang sudah sadar, dia pun sempat melihat box bayi di kejauhan
" Apa itu anak aku bunda ? " Liana menganggukkan kepalanya
Zahra kembali melepaskan pandangannya kepada sosok yang tetap diam mematung sambil memandangi dirinya, siapa lagi kalau bukan suami yang selalu berada di sisinya selama dia tertidur
" Gimana sayang ? " dengan langkah yang pelan David kembali mendekati Zahra dan langsung mencium kening Zahra dengan sangat lembut
__ADS_1
" Aku benar-benar bahagia melihat kamu sudah bangun sayang, aku benar-benar takut kehilangan kamu " lirih sambil menatap ke dua bola mata Zahra
" Apa kamu masih berniat cari perempuan lain ? " tersenyum tipis
David menggelengkan kepalanya dengan cepat dan kembali mencium kening Zahra
" Aku ga akan pernah lakuin itu sayang sampai kapan pun, bahkan jika Tuhan berkehendak lain maka aku pun akan mengakhiri hidup aku. Karena kamu cahaya di dalam hidup aku "
Liana dan Adit melangkahkan kakinya mendekati sepasang insan yang sedang merasakan perasaan yang sangat bahagia tersebut, Adit menepuk pundak David seraya meminta bagian untuk bertemu dengan anaknya sedangkan Liana hanya bisa terdiam dan meneteskan air matanya
" Ayah... " tersenyum tipis
" Kamu ga usah banyak bicara dulu sayang, sekarang kamu harus istirahat yang banyak " Zahra kembali tersenyum
Adit mencium ujung kepala Zahra dengan sangat lembut dan lama, seakan-akan menunjukkan bahwa itu adalah ungkapan kebahagiaan yang dia rasakan pada saat itu
" Terima kasih Tuhan kau telah kembalikan putri kecilku, hamba yakin akan kebesaran Mu " berkaca-kaca
" Bunda.. " Liana menggenggam tangan Zahra
" Selamat datang kembali putri tidur bunda " Zahra hanya membalas dengan senyuman tipis
Hal bahagia tersebut langsung tersebar dengan cepat, tak membutuhkan waktu yang lama ruang rawa Zahra sudah di penuhi oleh para pengunjung yang ingin sekali berjumpa dengan Zahra
Dan di antara semua para pengunjung yang hadir di tempat itu sudah pasti sang nenek yang akan kembali menangis dengan hebat, hatinya benar-benar bahagia melihat keadaan Zahra yang sudah terbangun dari tidur lelapnya yang panjang
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
__ADS_1
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗