Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
Hati Cadangan


__ADS_3

Siang itu David di buat kelabakan karena panggilan telepon dari salah satu pelayan di kediamannya, pelayan tersebut memberitahukan bahwa Zahra mengurung diri di dalam kamarnya dan menangis


David melajukan mobilnya dengan sangat cepat, hatinya sedang gundah gulana karena mendengar kabar tentang keadaan istrinya yang sedang entah mengapa. Sedangkan panggilan teleponnya selalu di abaikan oleh Zahra


" Kamu kenapa sih sayang ? angkat teleponnya. Kamu bikin aku khawatir sayang "


Karena panggilan teleponnya tetap tak di gubris oleh Zahra David kembali melajukan mobilnya dengan semakin cepat, hingga tak butuh waktu lama dia sudah berada di kediamannya


" Mana Ara mbak ? "


" Di dalam kamarnya pak " dengan takut-takut


" Terus kenapa dia begitu ? tadi pagi dia baik-baik aja " menatap tajam


" Maaf pak saya kurang tau " menundukkan kepalanya


" Terus apa yang kalian tau ? " dengan sinis, dan langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar mereka


David berusaha membuka pintu kamarnya dan ternyata pintu kamar tersebut di kunci dari dalam


Tok.. Tok.. Tok..


" Sayang... " Tak ada suara apapun dari dalam


Tok.. Tok.. Tok...


" Sayang buka dong pintunya sayang "


Zahra membuka pintu kamarnya dengan wajah yang masih sembab menandakan bahwa dirinya habis menangis, melihat hal tersebut David langsung memeluk tubuh mungil Zahra dengan erat karena khawatir


" Kamu kenapa sayang ? " Zahra hanya diam seribu bahasa


" Kurang aj*r, siapa yang berani bikin Ara sampe kayak gini ? "


David dengan sabar menuntun tubuh Zahra menuju ke sofa di dalam kamar mereka, David mulai melepaskan pelukannya dan menatap Zahra dengan lembut


" Kamu kenapa ? cerita dong sama aku " membelai rambut Zahra dengan lembut, Zahra hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sendu


" Terus kenapa nangis ? ada masalah apa sayang ? "


" Vian jahat sayang " lirih


Dalam sekejap wajah David langsung menjadi memerah menahan amarahnya


" Berani banget lo bikin Ara sampe kayak gini Vian, gw ga akan lepasin lo gitu aja "


" Dia buat apa ke kamu ? kenapa kamu jadi sesedih ini ? "


" Tadi dia pamer makan siang dia ke aku sayang, pas aku bilang mau dia bilang ga mau kasih aku. Dia mau abisin semuanya karena itu buatan Lena " air mata Zahra kembali mengalir

__ADS_1


" What ? cuma karena makanan, apa separah ini yang namanya perempuan hamil ? " David mengerutkan keningnya seakan tak percaya dengan apa yang sudah dia dengar


" Ya udah makanan apa ? kita cari ya " mengelus rambut Zahra


" Atau kita suruh mbak aja buat yang sama ya " Zahra menggelengkan kepalanya


Tok.. Tok.. Tok..


" Sebentar ya sayang " David melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya


" Ngapain lo ke sini ? " menatap tajam


" Ya mau ketemu saudara gw lah " menerobos masuk ke dalam kamar sambil tersenyum meledek, Lena ikut mengekor di belakang Alvian


" Ara " mengangkat sebuah kotak makan


" Akh... Apa itu ? " Zahra langsung bangkit dari duduknya dengan senyuman yang sumringah, Alvian dan Lena pun mendekati Zahra dan mereka kini duduk bersama. Sedangkan David hanya bisa menggelengkan kepalanya dari kejauhan melihat perubahan ekspresi wajah istrinya yang begitu cepat


" Kayaknya gw harus punya hati cadangan supaya bisa sabar sama kelakuan calon anak gw ini "


Semenjak kehamilannya Zahra berubah menjadi sosok yang sangat manja, bahkan hampir setiap malam hari ada saja hal yang dia lakukan untuk menggangu tidur David


" Kalian bawa apa ? "


" Bawa yang tadi di minta sama ponakan om Vian dong " Zahra melepaskan senyuman terbaiknya


Sedangkan di waktu yang sama dan di tempat yang lain Nadin sedang keluar dari butiknya untuk menemui Dimas, mereka berdua berjanji untuk makan siang bersama di suatu tempat. Selama di perjalanan Nadin melihat sebuah mobil yang terus mengikuti dirinya


Tak butuh waktu lama Nadin pun tiba di tempat dia telah membuat janji akan berjumpa dengan Dimas, Nadin mulai melangkahkan kakinya dan masuk ke tempat itu. Dari kejauhan tampak lambaian tangan dari Dimas


" Hai kak, udah lama ? maaf ya aku agak telat " mulai mendudukkan dirinya


" Ga kok, aku juga baru datang. Kita pesan makanan aja dulu ya " Dimas melambaikan tangannya memanggil pelayan di tempat itu


" Selamat siang " menyodorkan buku menu


" Kamu mau makan apa Nadin ? "


" Aku mau.. "


" Kamu masih suka makanan yang kayak dulu ga ? " Nadin mengerutkan keningnya


" Nadi goreng yang pedas dan ga boleh pakai taburan bawang goreng "


" Ternyata kamu masih ingat makanan yang aku suka ya kak ? "


Mereka mulai memesan makanan sesuai selera mereka masing-masing, dan memulai makan siang mereka dengan bercanda ringan seperti saat dahulu kala. Dan tak jauh dari meja mereka ada sepasang mata yang terus mengawasi Nadin yang bisa tertawa dengan lepas saat bersama dengan pria lain


" Kamu ternyata bisa tertawa selepas itu, tapi waktu kamu liat aku kamu bahkan sampai berniat mengakhiri hidup kamu sendiri "

__ADS_1


" Kalo memang ada pria lain yang bisa bikin hidup kamu bahagia maka saya akan melepaskan kamu. Maaf saya belum punya keberanian untuk menemui kamu, saya takut kamu belum siap melihat saya "


Nadin dan Dimas sudah menghabiskan malam siang mereka, dan mereka masih tetap bersantai di tempat itu


" Oh ya kamu sudah pacar belum Din ? "


" Belum kak, oh ya gimana kabar Sarah kak ? kalo ga salah dulu rencana kalian mau nikah muda kan ? "


" Kami sudah lama pisah kok "


" Oh... Maaf kak aku ga tau "


" Gimana kamu bisa tau, kalo dulu kamu menghilang gitu aja setelah acara kelulusan kita "


" Ga apa kok, memang bukan jodoh mungkin " Nadin hanya bisa tersenyum canggung


" Kenapa dulu kamu hilang gitu aja ? aku ga bisa hubungi kamu sama sekali "


" Karena aku ga boleh ada di antara kalian kak, aku memendam rasa suka sama kakak. Ternyata kakak pilih sahabat aku sendiri "


" Ya kan aku cari kerja kak " tersenyum palsu


" Maaf ya dulu aku ga peka dengan perasaan kamu, aku malah memilih perempuan yang salah. Perempuan yang mengkhianati aku saat acara pernikahan kami sedang di rencanakan "


" Tapi tau ga ? setelah sekian lama akhirnya kita bisa ketemu lagi dan sekarang kita sama-sama sendiri. Kayaknya kita jodoh deh " tersenyum menggoda


Nadin sampai tersedak oleh minuman yang sedang dia minum saat mendengar ucapan dari Dimas


" Hati-hati dong " memberikan tisu


" Kalau saja aku dengar kata-kata ini dulu pasti aku akan bahagia kak, tapi ga tau kenapa ? perasaan itu sekarang udah ga ada "


" Maaf kak, abis bercandaan kak Dimas bikin kaget aja "


" Tapi aku serius kok " menatap Nadin dengan intens


" Maksudnya kak ? "


" Maaf aku yang dulu ga peka sama perasaan kamu, aku temuin surat yang pernah mau kirim ke aku. Apa boleh aku minta kesempatan dari kamu ? "


Nadin membulatkan kedua bola matanya mendengar hal tersebut, sedangkan sepasang mata yang sedari tadi mengawasi Nadin memutuskan untuk keluar dari tempat itu


" Mungkin memang dia yang terbaik untuk kamu, dia bisa mencintai kamu dengan tulus. Ga seperti saya yang hanya bisa berjanji akan menjaga kamu dengan sepenuh hati, tetapi tetap ada wanita lain di hati saya "


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Kalo bisa berikan vote 🤭

__ADS_1


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


__ADS_2