Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
XP 8. Hari Pertama Menjadi Zahra Pratama


__ADS_3

Malam itu rumah Adit menjadi sedikit ramai akibat kejadian Zahra di sekolah, seluruh keluarga Pratama yang lain ikut berkumpul di sana melihat keadaan Zahra. Bagi seluruh keluarga Pratama Zahra bak seorang putri yang harus selalu di lindungi


Di saat semua orang sudah asik dengan kegiatan mereka masing-masing Alvian mendekati Zahra, Alvian mulai memberikan seribu pertanyaan kepada Zahra siapa yang telah melakukan hal tersebut ? dengan berat hati akhirnya Zahra menceritakan semua kejadian tersebut sedari awal


Perasaan Alvian saat ini seperti sebuah gunung berapi yang sudah siap untuk menumpahkan seluruh Lavanya, amarahnya sudah berada di puncaknya. Lidya benar-benar tidak mendengarkan peringatan yang dia berikan untuk tidak menggangu Zahra


Zahra meminta Alvian untuk tidak melakukan apapun terhadap Lidya, walaupun awalnya Alvian menolak tetapi Zahra terus memaksa dan sedikit mengancam Alvian, dan akhirnya Alvian setuju untuk tidak membalas perbuatan Lidya


Zahra memberikan saran kepada Alvian untuk mencari kekasih yang baik hatinya jangan hanya baik rupanya, hingga Alvian merasa sedikit menyesal telah dekat dengan Lidya gadis paling cantik di sekolah tersebut


Seluruh keluarga Pratama makan malam dengan sangat bahagia dan tak henti-hentinya memandangi Zahra, mereka benar-benar bersyukur gadis kecil yang telah tumbuh dewasa itu hadir di tengah-tengah keluarga mereka


Lain hal dengan makan malam keluarga besar titisan dari mak lampir, yang awalnya mereka memulai makan malam seperti yang biasa mereka lakukan


" Gimana pah tadi meeting dengan pak Adit ? "


" Ya mau gimana lagi mah ? meeting di undur mah, lagi di tengah meeting pak Adit pergi karena anaknya lagi ada masalah di sekolah "


" Masalah gimana pah ? "


" Papah juga tau detailnya yang papa dengar sih anaknya hilang di lingkungan sekolah "


Degh... Tiba-tiba saja perasaan was-was langsung menggelayuti hati titisan sang mak lampir


" Loh kok bisa pah ? " istri pak Purnomo menghentikan makan malamnya sejenak, dengan serius menatap ke arah suaminya


" Katanya satu sekolah sama kamu sayang, apa ada kejadian anak hilang tadi di sekolah ? " pak Purnomo menatap ke arah Lidya


" Ga mungkinkan anak culun itu anak tunggalnya pak Aditya Pratama ? "


" Aku.. Aku ga tau pah, memang siapa nama anak pak Adit pah ? "


" Kalo ga salah namanya tadi Zahra "

__ADS_1


Mendengar nama tersebut Lidya sampai tersedak makanannya sendiri, seluruh tubuhnya serasa lemas tak ada energi sama sekali. Bahkan untuk menelan salivanya sendiri pun seperti sulit untuk dia lakukan


" Kamu kenapa sih sayang ? pelan-pelan kalo makan " mamanya Lidya memberikan gelas yang berisikan air minum


" M*mpus gw gimana ini ? apa iya dia anak pak Adit ? oh ya pantes gw kayak kenal gadis di mall yang sama David itu. Sial, gimana nasib gw selanjutnya ? "


Makan malam pun berakhir Lidya langsung masuk ke dalam kamarnya dan mencari ponselnya untuk menghubungi Alvian, tetapi sia-sia Alvian mengabaikan panggilan telepon tersebut. Dan ketika mencoba kembali ternyata Alvian sudah memblokir semua kontak Lidya


" Akh.. Bodoh banget gw, bahkan sekarang Alvian udah ga mau angkat telepon gw. Berarti bener anak itu anak pak Adit, kalo papa sampe tau gw gimana dong "


Pagi pun menyapa seluruh kehidupan di muka bumi yang indah ini, pagi ini Zahra berpenampilan selayaknya seorang anak keluarga Pratama. Kecantikan alami di pancarkan dari diri Zahra, Adit dan Liana tersenyum bahagia melihat putri mereka sudah bisa menerima semuanya


Pagi itu Zahra di antar langsung oleh Adit menuju ke sekolahnya, begitu sampai di parkiran Zahra turun layaknya seorang putri yang sangat di jaga. Pagi itu seluruh mata kembali tertuju kepadanya tetapi tidak seperti biasanya, sekali ini semua mata tertuju kepadanya oleh perasaan kagum akan kecantikannya


Zahra melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya, ketika itu dia melihat Sofia dan Lena yang baru saja tiba, Zahra langsung menghampiri mereka tanpa ada perasaan canggung sedikit pun. Adit hanya bisa tersenyum dari dekat mobilnya melihat kelakuan putri kecilnya dan ekspresi kedua temannya, setelah puas memandangi putrinya baru Adit mulai meninggalkan tempat tersebut


" Kamu Zahra ? "


" Maaf ya aku kemarin bohong sama kalian "


" Makasih.. Tapi kalian tetap mau jadi teman aku kan ? "


" Pasti dong, kalo kamu ga malu berteman sama kami ? Kenapa kami harus nolak ? "


" Makasih ya " Zahra tersenyum dengan sangat manis


" Apa kalian yakin masih mau berteman sama dia ? kalo kalian tau dia anak tunggal pak Aditya Pratama " Alvian sudah berada tepat di belakang mereka


Ucapan dari Alvian langsung membuat kedua gadis itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Zahra, mereka seperti meminta sebuah penjelasan dari Zahra


" Di mata Tuhan kita sama, ga perduli siapapun orang tuanya. Bener ga ? " ucap David sudah merangkul sebelah tangannya ke pundak Zahra


" Ekh... Lepasin tangan lo dari sepupu gw " Alvian menepiskan tangan David yang berada di pundak Zahra

__ADS_1


" Anggap aja aku Zahra yang kemarin ya " Zahra menatap ke dua gadis itu yang masih terdiam


" Apa kamu ga malu berteman sama kami ? " Lena menundukkan kepalanya


" Harusnya Alvian yang malu tuh " ucap Zahra sambil tertawa dan Lena semakin menundukkan kepalanya


" Kenapa bawa-bawa gw ? " Alvian mengerutkan keningnya


" Selama ini dia cuma tau cewek yang baik rupa aja, ga bisa liat ada gadis yang berhati baik dekat dia " Zahra kembali tertawa


" Udah akh.. Bahas apa sih ayo masuk ke kelas " Lena mengalihkan pembicaraan tersebut


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam kelas bersama, dan dari kejauhan ada sang titisan mak lampir yang tak mempunyai nyali untuk mendekati mereka berlima


Sesampainya di dalam kelas Alvian mengikuti ke arah meja mereka berempat, dan berdiri tepat di samping David


" Mulai hari ini gw mau duduk di sini "


" Sorry gw udah duluan " acuh


" Tapi gw harus selalu deket sama sepupu gw, mulai hari ini gw dapat perintah harus jagain dia terus "


" Gw ga mau. Lo cari aja bangku lain "


" Ya udah kalo kamu mau kamu bisa duduk di sini. Gimana ? " Sofia memberikan pilihan, sedangkan Lena semakin memerah wajahnya


Dengan berat hati akhirnya Alvian menerima tawaran tersebut, dan dia juga meminta agar orang yang berada di hadapannya untuk berpindah ke tempat lain, agar Sofia tetap duduk di dekat para sahabatnya


Awalnya Alvian merasa sedikit canggung duduk di samping Lena, tetapi karena sikap Lena yang supel terhadap Zahra membuat dia pun dapat dengan mudah untuk bergaul dengan Lena, dan Alvian sering mencuri pandang terhadap Lena memperhatikan Lena secara diam-diam. Sedangkan Zahra hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Alvian


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗

__ADS_1


Maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar 😉


__ADS_2