
Liana pun menjadi tak tega melihat keadaan Adit yang sangat terpuruk, karena dia sudah mendengar semua ceritanya dari Mita dan di tambah lagi sekarang penolakan dari Zahra, hati kecil Liana memilih untuk mulai membujuk gadis kecil yang kini berada di dalam pelukannya
" Ara bunda sering ajarin apa ke Ara sayang " bisik Liana dengan lembut, dan gadis kecil itu pun mulai mengangkat wajahnya dan menatap bundanya
" Kita ga boleh berbuat jahat ke orang lain, coba Ara lihat ayah Ara sampe nangis tuh sayang " Liana tersenyum lembut lalu mencium pipi gadis kecil itu
Setelah mendengarkan ucapan bundanya gadis kecil itu pun langsung menoleh ke arah Adit, saat itu Adit sedang menatap ke arahnya dengan air mata yang terus menetes, Adit yang sekarang seperti tidak mempunyai rasa malu lagi untuk menangis di hadapan orang lain
" Tapi Ara kan memang ga punya papa bunda, Ara kan punyanya ayah " bisik gadis kecil itu dengan polosnya kepada Liana, membuat Liana tertawa kecil
" Papa itu artinya ayah sayang " bisik Liana
" Tapi bunda.. " Liana pun memberikan senyuman terhangatnya dan kembali memberikan sebuah kecupan di pipi gadis kecil itu
" Ayo Ara sekarang minta maaf sama ayah, Ara udah buat ayah sedih sayang " bisik Liana
Gadis kecil itu pun menganggukkan kepalanya dan mulai turun dari pangkuan bundanya, lalu dia mulai melangkahkan kakinya ke arah Adit. Saat berada tepat di hadapan Adit, gadis kecil itu menghapus air mata Adit dengan tangan kecilnya
" Om Ara minta maaf ya, Ara memang ga punya papa tapi Ara punyanya ayah " ucap gadis kecil itu dengan polosnya
" Om ayah Ara ya ? "
Dalam sekejap jauh di dalam lubuk hati Adit seperti mendapatkan hembusan angin segar, bagaikan terbangun dari sebuah mimpi buruk ada perasaan lega yang teramat besar di dalam lubuk hatinya, bahkan semua yang berada di dalam ruangan itu seperti terhanyut dalam suasana yang di ciptakan oleh gadis kecil itu
" Iya ayah.. Ini ayah Ara sayang "
Mendengar jawaban dari Adit gadis kecil itu tersenyum bahagia dan langsung memeluk tubuh Adit, Adit pun membalas pelukan hangat dari gadis kecil itu, gadis kecil buah cintanya dengan Cindy
" Ara seneng banget sekarang Ara udah punya ayah " Adit mulai melepaskan pelukannya dan menatap gadis kecil itu dengan lembut
" Maafin ayah ya Ara, ayah yang salah " Adit pun kembali meneteskan air matanya
" Ayah jangan nangis terus, Tuhan ga suka kalo kita cengeng " Adit pun tersenyum mendengar ucapan polos dari gadis kecil itu
" Ayah ga akan nangis lagi sayang, tapi Ara mau ya duduk dekat ayah " Zahra pun mengangguk dan duduk tepat di samping Adit
" Maaf ya pak saya yang salah, saya mengajarkan ayah sama Ara "
" Makasih udah jaga anak kami selama ini " Liana hanya membalas dengan senyuman
" Ga perlu ucapkan terima kasih ke saya pak, saya memang mencintai Zahra dengan sepenuh hati saya, bahkan saya tidak tau apakah saya akan sanggup saat anda akan mengambil Zahra dari saya "
Adit pun tak pernah melepaskan pandangannya dari gadis kecil itu, gadis kecil itu benar-benar memberikan dia sebuah kekuatan dari keterpurukannya, sedangkan Liana hanya bisa tersenyum dengan terpaksa dan menahan semua perasaan sakit di dalam hatinya
__ADS_1
" Apa bapak mau ziarah ke makam Cindy ? "
" Iya "
" Kalo gitu saya siap-siap dulu, sebentar ya pak " Adit pun mengangguk
" Bunda Ara boleh ikut ga ke makam ibu ? "
" Ya udah ayo, Ara ganti baju dulu sayang "
Adit hanya bisa mengerutkan keningnya, mendengar percakapan dari Liana dan putri kecilnya seakan tak percaya di buatnya
" Apa anak gw tau siapa ibu aslinya ? "
" Ya tau lah " Rangga dengan entengnya
" Ternyata benar kata Cindy dia memang perempuan yang baik "
Tak selang berapa lama pun Liana dan Zahra sudah keluar dari dalam kamar mereka masing-masing, terlihat kembali simpul senyuman dari bibir Adit saat melihat putri kecilnya
" Ara bareng ayah aja ya "
" Tapi bareng bunda juga ya "
" Ara mau sama bunda juga ayah " gadis kecil itu menatap Adit
" Oh.. Kalo gitu mbak sama Zahra bareng saya aja, nanti sebagian yang bawa mobil mbak, gimana ? "
Yang lain pun setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Adit, akhirnya mereka pun pergi dengan menggunakan dua buah mobil, di mobil yang satu berisikan Adit, Liana dan Zahra, sedangkan mobil Liana di bawa oleh anggota empat sekawan yang lainnya, sesungguhnya mereka sengaja memisahkan diri
" Kalian tadi sadar ga Adit ngalah ? "
" Apa lo pikir cuma lo doang yang kenal lama sama Adit " Bagas menjawab pertanyaan Bastian
Mereka bertiga pun menjadi tertawa, mereka menyadari walaupun hanya sesaat hati Adit sempat melunak di hadapan Liana, mereka hanya berharap semoga pilihan Cindy adalah yang terbaik
Tak butuh waktu lama mereka sudah memasuki area pemakaman, mereka pun mulai berjalan ke arah tempat peristirahatan terakhir Cindy, setelah hampir dekat Zahra mulai berlari kearah makam ibunya
" Sayang awas jatuh " Liana sedikit berteriak
" Ya bunda "
Tanpa sadar Adit sedikit tersenyum melihat tingkah laku dari gadis kecil itu, sudah lama sekali Adit tidak tersenyum setulus itu
__ADS_1
" Ayah.. " Teriak Zahra menghadap ke arah Adit, Adit pun membalas dengan senyuman
" Ini tempat ibu bobok ayah " gadis kecil itu menunjuk ke arah makam Cindy saat Adit sudah berada disampingnya
Adit pun mulai berjongkok di depan makam Cindy, tampak terlihat dengan jelas guratan kesedihan di raut wajah Adit, sebuah penyesalan yang teramat dalam. Penyesalan yang tak akan dapat di bayar seumur hidupnya
" Sayang tolong maafin aku ya, aku baru bisa datang sekarang sayang "
" Aku mohon maaf ke kamu sayang, aku ga berusaha untuk perjuangkan cinta kita dulu, aku terlalu egois dan keras kepala "
Seribu penyesalan tersirat di dalam hati Adit saat ini dan air matanya pun kembali terjatuh di pipinya, dia benar-benar merasakan hatinya hancur luluh lantak, sedangkan gadis kecil yang berada di sampingnya tidak paham apa yang sedang di rasakan oleh ayahnya, yang dia tau hanya dia sedang melihat ayahnya menangis
" Ayah jangan sedih lagi ya, bunda bilang Tuhan sayang sama ibu makanya Tuhan mau ibu ada di samping Tuhan " Adit pun tersenyum menghadap Zahra
" Ayah jangan nangis nanti ibu di sana jadi sedih " ucap gadis kecil itu dengan polosnya lalu mencium pipi Adit
" Makasih ya sayang kamu udah hadir untuk ayah "
" Bunda selalu cium aku kalo aku lagi nangis makanya aku juga cium ayah " Adit pun memeluk gadis kecil itu
Liana dan yang lainnya meninggalkan makam Cindy, mereka ingin memberikan ruang bagi Adit untuk meluapkan segala perasaannya saat itu di depan makan Cindy bersama buah hati mereka
" Terima kasih sayang sudah mengirimkan seorang malaikat kecil dalam hidup aku " lirih
" Aku janji akan penuhi semua keinginan terakhir kamu "
Setelah puas mencurahkan segala perasaan di depan makam Cindy Adit pun mulai bangkit, dan menggenggam tangan kecil putrinya untuk keluar dari area pemakaman itu
" Ayah sayang ga sama Ara ? "
" Pasti dong ayah itu sayang banget sama Ara " Adit menatap ke arah gadis kecil itu
" Kalo ayah sayang sama Ara, boleh ga Ara minta sesuatu sama ayah ? " gadis kecil itu mulai menundukkan kepalanya karena takut
Adit yang melihat itu langsung berjongkok di hadapan gadis kecil itu, lalu memandang gadis kecil itu dengan lembut
" Ara mau minta apa dari ayah sayang ? pasti ayah kasih "
" Kalo Ara minta sama ayah jangan bawa Ara pergi jauh dari bunda, boleh ga ? "
bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
terima kasih 😊
__ADS_1
maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar..