
Tiba-tiba saja Adit teringat kembali akan ucapan dari Rangga di perjalanan saat mereka kembali, Adit pun langsung menghubungi Rangga
Tut..Tut ..Tut ..
" Ya "
" Lo di mana ? "
" Lagi makan siang "
" Oh... " Awalnya Adit sedikit ragu untuk melanjutkan percakapan tersebut
" Kenapa lo telpon gw ? "
" Gw lagi bingung, gw udah baca sampe selesai buku diary Cindy, tapi kok gw ga nemuin permintaan terakhirnya ya ? "
" Terus ? "
" Kemarin kan pas di jalan lo bilang gitu, apa lo tau permintaan terakhir Cindy ? "
" Gw tau dari Mita, dia yang pernah baca buku itu "
" Lo lagi makan siang sama dia kan ? " ucap Adit bersemangat
" Ya iyalah, sama siapa lagi ? "
" Gw ke situ ya, gw mau ketemu sama Mita "
Rangga pun bertanya sejenak kepada istrinya dan Mita pun menyetujuinya, jauh di dalam lubuk hati Mita dia sudah tidak terlalu membenci Adit seperti dahulu kala
" Ok.. Gw makan di restoran xx "
" Ok.. Gw langsung otw ke sana " Adit pun langsung memutuskan sambungan teleponnya
" Sayang kamu yakin mau ketemuan sama Adit ? " Rangga sedikit bingung
" Ya dong, enak aja dia kemarin seharian ngerjain aku cuma buat ketemu sama dia doang, jadi aku harus minta sesuatu dari dia " Mita menampilkan senyuman jahatnya
Rangga hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Mita " sorry ya Dit, gw ga bisa bantu lo "
Dengan cepat Adit bergegas menuju ke tempat itu, Adit hanya ingin tau apa permintaan terakhir Cindy yang bisa membuat dia dekat malaikat kecilnya, tak butuh waktu lama Adit pun sudah berada di tempat itu, lalu Adit langsung menuju ke meja Rangga dan Mita
" Mit " Adit mulai mendudukkan dirinya
" Sok akrab " sinis
" Aku tau aku salah Mit selama ini, aku dan seluruh keluarga aku udah buat sahabat kamu menderita, aku minta maaf ya " lirih
Cih... Mita hanya berdecih mendengar ucapan Adit barusan, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya dia senang mendengar pengakuan itu
" Aku mau minta tolong sama kamu Mit "
" Sekarang aja lo datang deh cari gw, kemarin gw hubungin lo aja susah banget, lebih susah nemuin lo dari pada presiden " sindir Mita
" Maaf ya Mit "
" Gw lahiran sampe dua kali lo ada datang ga ? "
" Ya maaf " Adit menundukkan kepalanya
" Maaf.. Maaf.. Enak banget dong lo "
" Ya udah kamu maunya aku gimana ? biar kamu mau bantu aku Mit "
" Yups... Kesempatan datang "
" Gw mau 30 persen saham lo di rumah sakit papanya Rangga " ucap Mita dengan entengnya sambil tersenyum jahat
" Sayang... " protes Rangga dengan ucapan Mita barusan
__ADS_1
" Ok.. " Adit menjawab dengan yakin
Mita pun tersenyum puas sedangkan Rangga hanya bisa menggelengkan kepalanya
" Lo mau minta bantuan apa sama gw ? "
" Apa permintaan terakhir Cindy ? " ucap Adit dengan cepat
" Ya kan ada di buku diary nya "
" Ga ada Mit aku udah baca semua "
" Halaman terakhir ada ga ? "
" Halaman terakhirnya kayak ada robekan gitu, jadi aku ga tau apa isinya "
" Ternyata mbak belum siap juga ya mbak, maaf ya mbak aku akan bilang ke Adit demi Zahra dan kalian berdua, karena itu juga keinginan terakhir Cindy "
Mita mulai menatap ke arah Adit dengan penuh arti, dia hanya berharap semoga Adit dapat menerima permintaan terakhir Cindy
" Tapi lo janji ya, jangan kaget "
" Aku banyak salah sama dia, jadi aku bakal turutin apapun keinginan dia "
" Cindy minta lo nikahin mbak Ana "
" M*mpus lo Dit " Rangga menahan tawanya
Adit yang telah mengetahui apa permintaan terakhir Cindy seperti susah untuk menelan salivanya sendiri
" Kamu serius ? "
" Memang apa untungnya buat gw bohong sama lo ? "
" Tapi ini menikah loh " Adit merasa ragu
" Ya gw tau.. "
" Aku ga bisa kalo itu " lirih
" Terserah lo.. " dengan cuek
" Aku harus gimana sekarang ? "
" Kok lo udah tau semua kenyataannya tetap masih b*doh sih " sinis
" Sayang.. " protes Rangga menatap Mita dengan tajam
" Ya.. Ya.. Belain aja terus sahabat kamu ini " sinis
" Ga apa kok.. Aku memang b*doh "
" Udah.. Udah.. Ga usah pasang wajah sok sedih lo di depan gw " Adit hanya terdiam mendengar semua ucapan dari Mita
" Gw jelasin ya sama lo, Gw ada di sana beberapa hari sebelum Cindy melahirkan. Jadi ya dari yang gw lihat dia tetap sayang sama lo sampai detik terakhir "
Wajah Adit mulai menunjukkan guratan kesedihan mendengar ucapan Mita barusan, seribu sesal kembali menggelayuti hatinya
" Dia cuma mau mbak Ana bisa jaga lo sama Zahra "
" Tapi kan ga perlu nikah " Adit mulai menundukkan kepalanya
" Gw bingung orang b*doh ini kok bisa sukses "
" Apa lo pikir mbak Ana bakal mau dekat sama lo tanpa status ? " Adit pun hanya bisa terdiam
" Tapi yang terpenting Cindy percaya mbak Ana bisa jaga Zahra dengan baik "
" Tapi aku ga bisa buat nikahin dia, ga akan ada yang bisa gantiin Cindy buat aku "
__ADS_1
" Walaupun itu permintaan terakhir Cindy buat anak kalian ? "
Mendengar pertanyaan dari Mita Adit benar-benar tidak bisa memberikan jawaban apapun, bagaimana mungkin dia akan menikah dengan seorang wanita yang tidak ada di dalam hatinya, tetapi itu juga adalah permintaan terakhir dari wanita yang selalu bertakhta di dalam hatinya
Melihat ekspresi dari Adit yang sudah seperti hidup segan mati tak mau Mita hanya bisa tertawa
" Dit.. Dit... Lo ga usah pusing dulu sekarang, yang pasti mbak Ana belum tentu mau nikah sama lo "
" Kalo cuma merawat Zahra dengan baik ga perlu di ragukan lagi, tapi buat menikah lagi dia belum tentu bisa, gw rasa itu juga salah satu alasan Cindy "
" Maksud kamu ? "
" Mbak Ana takut untuk memulai sebuah pernikahan "
Mita mulai menceritakan tentang semua perjalanan hidup seorang Liana yang pernah dia dengar dari Cindy secara lengkap
" Nah makanya Cindy percayakan Zahra di rawat sama mbak Ana "
" Ya aku bisa lihat dia sayang banget sama anak kami "
" Ga salah tuh lo bilang anak kami, bukannya kemarin lo ga percaya " Mita tertawa puas
" Sorry Dit gw ga bisa bantu lo sekali ini, biarin aja Mita luapkan semua kekesalan dia sama lo selama ini "
" Ya maaf "
" Udah akh bosen gw dengerin lo minta maaf terus, yang terpenting sekarang lo bisa jaga Zahra dengan baik "
" Aku janji akan jaga dia dengan baik "
" Ya udah lo pikirin deh gimana caranya lo bisa nikahin mbak Ana ? kebahagiaan Zahra sekarang ada di mbak Ana " ucap Mita dengan entengnya sambil menahan tawanya
" M*mpus lo Dit.. Pasti pusing kan lo sekarang "
Mita yakin saat ini Adit sedang pusing tujuh keliling, bagaimana mungkin dia bisa menikah dengan wanita yang tidak dia cintai ? sedangkan dia ingin sekali bersama dengan putri kecilnya, cukup lama juga Adit berdiam diri
" Makasih ya Mit, kamu udah ada di samping dia saat itu "
Hmm... Mita hanya membalas dengan berdehem
" Ya udah kalo gitu aku pergi dulu " Adit mulai bangkit dari duduknya
" Enak aja lo main pergi, permintaan gw tadi gimana ? "
" Nanti aku suruh Erik langsung urus "
" Ok.. " Mita tersenyum puas
Adit pun mulai beranjak pergi dari dari tempat itu, dia kembali ke mobilnya dan melajukan mobilnya kembali ke arah kantornya, dengan perasaan yang sudah remuk di tambah lagi harus memikirkan permintaan terakhir Cindy
" Hmm... Udah puas sayang ? " Rangga menunjukkan wajah kurang suka atas apa yang di lakukan Mita
" Maaf ya sayang.. Abis sahabat kamu itu kemarin udah ngerjain aku seharian " tersenyum manis
" Ya tapi ga perlu kamu harus minta saham dia sayang, ga ada gunanya juga buat kamu "
" Kata siapa ? " Rangga hanya bisa mengerutkan keningnya
" Kalo aku punya 30 persen saham rumah sakit papa kamu, jadi kamu ga akan pernah macem-macem di belakang aku " Rangga hanya bisa menggelengkan kepalanya
" Astaga sayang pikiran kamu itu, tanpa kamu harus lakuin itu aku ga akan pernah macam-macam di belakang kamu "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
__ADS_1