
Cukup lama Liana berada di kamar mamanya, memeluk erat mamanya berkali-kali, saat ini dia benar-benar butuh kekuatan di dalam hatinya, walaupun Zahra bukan darah dagingnya tetapi Zahra sangat berarti dalam hidupnya
Dengan berat hati Liana mulai bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mamanya, dia memutuskan untuk menghubungi Mita, yang di katakan mamanya benar adanya Zahra berhak mengetahui tentang ayah kandungnya
" Mau kemana sayang ? "
" Aku mau hubungin Mita mah " lirih
Liana mulai beranjak dan keluar dari kamar mamanya lalu di ikuti dari belakang oleh mamanya, sesampainya di kamarnya dia langsung menghubungi Mita
Tut..Tut..Tut..
" Halo mbak "
" Halo Mit " lirih
Mendengar nada suara dari seorang Liana Mita pun menjadi cemas akan keadaan Zahra
" Ada apa ya mbak ? apa Ara sakit mbak ? "
Karena selama ini Liana jarang sekali menghubungi Mita bila tidak menyangkut masalah yang serius tentang Zahra
" Oh ga kok Mit Ara baik-baik aja, tapi mbak menghubungi kamu memang menyangkut urusan Ara Mit "
" Ara kenapa mbak ? "
" Sepertinya ini udah waktunya Mit "
Mita mulai bingung mendengar ucapan Liana, mungkin karena permintaan Cindy yang sudah cukup lama sehingga Mita melupakan permintaan terakhir dari sahabatnya itu
" Maksud mbak ? "
Liana pun berdiam diri sejenak menahan perasaan sakit yang ada di dalam hatinya saat ini, yang ada di pikirannya saat ini adalah mungkin dia akan kehilangan Zahra untuk selamanya
" Sudah waktunya kita kasih tau Adit tentang Zahra Mit " lirih
" Tapi mbak.. " Mita menjadi sedikit ragu karena dia tau apa yang saat ini sedang di rasakan oleh Liana
" Ara butuh Adit Mit, mbak ga tega harus melihat Ara menangis karena teman-temannya mengatakan dia tidak memiliki ayah "
" Apa mbak udah siap ? "
" Mbak lebih baik kehilangan Ara dari pada mbak harus melihat Ara menangis Mit "
Mita sempat terdiam sejenak, dia sempat ragu untuk mengatakannya tetapi setidaknya dia harus mengingatkan kembali akan hal itu
" Apa mbak ga mau coba pikirkan permintaan Cindy mbak ? "
" Mbak masih belum siap Mit " Liana mengucapkan kata-kata itu dengan yakin
__ADS_1
" Oh.. Ya udah mbak saya akan usahakan agar Adit segera tau tentang Ara, mbak yang kuat ya mbak "
" Ya Mit, makasih ya "
" Ya mbak sama-sama " mereka pun memutuskan panggilan teleponnya
Bagaimana pun juga sekarang Mita sudah menjadi seorang ibu, maka dia akan paham apa yang sedang di rasakan oleh seorang Liana saat ini, sedangkan mamanya Liana langsung memeluk erat anaknya yang sudah mulai menangis kembali
" Apa kamu yakin ga mau coba untuk menerima permintaan terakhir dari Cindy sayang ? "
" Ana ga bisa mah, Ana takut mah kejadian dulu terulang kembali mah " Liana membalas pelukan dari mamanya
" Tapi bagaimana kalo nanti Adit mau mengakui Zahra sebagai anaknya ? " mulai melepaskan pelukannya
" Ana ngerti mah, Ana akan terima apapun resikonya mah " lirih
" Berarti kamu harus mulai siapin hati kamu dari sekarang ya, kamu harus siap kalo Adit sampe mengambil Zahra dari sisi kamu "
" Ana ga tau mah Ana akan sanggup apa enggak nanti ? tapi sekarang kebahagiaan Ara lebih penting dari pada Ana mah "
Semua ibu di dunia ini pun mungkin akan melakukan hal yang sama, lebih baik mereka yang merasakan sakit dari pada anak mereka
Tetapi satu hal yang tidak di sadari oleh kedua orang itu ada seorang gadis kecil yang sudah terbangun dari tidur siangnya, dan mendengar semua percakapan mereka dari awal
Mita adalah orang yang paling membenci sosok seorang Adit, kini dia harus mengalah oleh perasaannya demi kebahagiaan seorang gadis kecil bernama Zahra Pratama, Mita pun langsung menghubungi Rangga untuk membantunya tetapi Rangga malah berusaha untuk menghalanginya
Mita langsung menghubungi Bastian menceritakan semuanya dan meminta nomor telepon Adit, Bastian yang mendengar tentang Zahra langsung memberikan nomor telepon Adit
Bagaimana pun juga Bastian sudah berjanji kepada baby Zahra, kalo dia akan menjadi orang yang berdiri di belakang Zahra, saat Zahra sudah siap untuk kembali ke keluarga Pratama
Rencana Mita dan Bastian gagal karena begitu Mita menyapa dan mengatakan itu adalah dia kepada Adit, Adit langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan memilih untuk memblokir nomor Mita sehingga Mita tak bisa lagi menghubungi Adit
Mita tak putus harapan dia kembali menghubungi Bastian dan menceritakan kelakuan Adit, dia kembali meminta nomor telepon Erik, Mita hanya berharap mungkin saja Erik akan membantu, Mita tak akan perduli dengan apapun lagi dia hanya akan mencoba segala cara agar bisa bertemu Adit, hanya Zahra yang ada di pikiran Mita saat itu
Mita tidak bisa mengandalkan anggota empat sekawan yang lain, Mita yakin mereka benar-benar tidak sampai hati untuk mengatakan semua kenyataan ini kepada Adit, sedangkan Rangga saja tidak mau membantunya, begitu mendapatkan nomor telepon Erik dia pun langsung menghubunginya
Tut..Tut..Tut..
" Halo "
" Halo... Erik ini Mita istrinya Rangga "
" Oh ya.. Ada apa mbak Mita ? "
" apa ada waktu sebentar saya ada perlu sama kamu, saya ingin ketemu ? "
" Oh baik mbak.. "
Mereka pun berjanjian di sebuah tempat, Mita sudah sampai terlebih dahulu di tempat itu, karena memang dia yang lebih bersemangat, tak selang berapa lama Erik pun tiba di tempat itu, Erik langsung mendudukkan tubuhnya di hadapan Mita
__ADS_1
" Ada apa mbak ? " to the point
Mita pun mulai menceritakan semuanya kepada Erik, dan dia meminta bantuan Erik untuk memberitahukan kepada Adit atau minimal mempertemukan dia dan Adit
" Maaf mbak saya ga bisa " dengan tegas
" Apa kamu ga kasihan Erik sama anak itu ? " Mita memelas
" Saya juga punya perasaan mbak bukan saya ga kasihan sama anak itu, tapi maaf bagi saya perasaan Adit akan menjadi yang nomor satu "
" Maaf mbak bagi saya perasaan dari pak Adit menjadi prioritas bagi saya " Erik menjawab dengan tegas dan langsung meninggalkan Mita begitu saja
Melihat rencananya gagal lagi Mita mulai frustasi ada perasaan bersalah terhadap Zahra menggelayuti hatinya
" Akh... Jadi aku harus gimana lagi sekarang ? "
" Sabar ya sayang tante Mita akan terus berusaha ngalahin ayah kamu yang b*jingan itu "
Mita kembali mencoba dia berusaha datang langsung ke kantor Adit dan hasilnya hanya sia-sia, Mita sudah tidak tau harus melakukan apa lagi dia memutuskan kembali ke kediamannya terlebih dahulu, dia terus saja memutar otaknya untuk bekerja lebih keras agar bisa menemukan jalan untuk dapat menemui Adit
" Awas lo ya Dit, kalo sampe gw bisa ketemu sama lo gw bakal balas semuanya, gw akan buat lo ngerasain apa yang pernah Cindy rasain "
Sesampainya di kediamannya Mita kembali menghubungi Bastian
Tut..Tut..Tut..
" Halo "
" Gagal Bas, bahkan tadi gw udah coba ke kantornya langsung "
" Maaf aku cuma bisa bantu dari belakang "
" Ya..Ya.. Aku ngerti bagi kalian kan perasaan Adit nomer satu "
" Bukan gitu Mit, aku yakin kok semua juga mau Adit tau kenyataannya, tapi kami ga akan tega buat sampaikan ke Adit yang sebenarnya "
" Ya sekarang aku harus gimana lagi ? " lirih
" Sabar dulu ya, nanti begitu ada pertemuan aku langsung kabarin ke kamu, gimana kalo gitu ? "
" Ya mau gimana lagi harus nunggu si b*jingan itu keluar dulu dari sangkarnya baru gw bisa balas dendam "
" Ok.. Jangan sampai lupa ya "
" Ya gw janji "
Bastian mengucapkan janjinya dengan yakin karena jauh di dalam lubuk hatinya dia menyadari memang sudah saatnya Adit tau semuanya, mereka pun mengakhiri sambungan teleponnya
bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
__ADS_1
terima kasih 😊
maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar..