Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
Buku Diary Cindy


__ADS_3

Mendengar permintaan dari malaikat kecil penjaga hatinya itu, Adit sungguh tidak tau apa yang harus dia lakukan pada saat itu, di satu sisi dia sangat ingin malaikat kecilnya itu selalu berada di sampingnya, tetapi di sisi lain dia tidak ingin malaikat kecilnya itu sampai terluka


Adit dapat merasakan bahwa malaikat kecil penjaga hatinya itu sungguh bergantung dengan seorang Liana. Adit hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang terlambat untuk mengetahui semuanya


" Apa Ara ga sayang sama ayah ? " dengan lembut


" Ara sayang kok sama ayah, sayang Ara ke ayah sekarang lebih besar dari sayang Ara ke om Rangga " ucap gadis kecil itu dengan polos, sambil membentuk sebuah lingkaran besar dengan kedua tangannya


" Terus kenapa Ara ga mau tinggal sama ayah ? "


" Ara bukan ga mau tinggal sama ayah, Ara cuma ga mau pisah sama bunda "


Gadis kecil itu sudah tampak mulai bersedih, dia memang tidak tahu menahu seluruh masalah yang ada, dia hanya tau bila ayahnya datang mungkin saja ayahnya akan memisahkan dia dengan bundanya, Adit pun langsung memeluk gadis kecil itu


" Ara jangan sedih ya sayang, ayah ga akan pisahkan Ara sama bunda kok, nanti ayah pikirin caranya ya sayang "


" Jangan pernah sedih sayang, ayah akan selalu berusaha jaga Ara dengan baik, seperti permintaan ibu kamu sayang "


" Makasih ya ayah " Adit pun mulai melepaskan pelukannya


" Apa Ara seneng bisa ketemu ayah ? " Zahra pun menganggukkan kepalanya


" Jadi teman-teman Ara ga akan ledekin Ara lagi ayah " Adit hanya bisa mengerutkan keningnya


" Teman Ara ledekin apa ke Ara sayang ? "


" Mereka bilang Ara ga punya ayah "


Sontak saja ucapan polos dari bibir Zahra barusan menjadi sebuah tamparan secara tak langsung bagi Adit, mengingatkan kembali salah satu kesalahan yang telah dia lakukan. Adit kembali memeluk tubuh gadis kecil itu


" Ayah minta maaf ya sayang, ayah terlambat datang ke Ara " dengan lembut lalu mencium pipi gadis kecil itu


Mereka pun sudah mulai melangkahkan kakinya ke arah luar area pemakaman itu, mereka kembali ke kediamannya Liana dengan formasi yang sama, setelah kembali ke kediamannya Liana Zahra pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, tersisa lah para orang dewasa untuk membahas semua permasalahan


" Mbak untuk sementara boleh ga saya titip Zahra ke mbak dulu ? "


" Apa boleh pak ? " tampak dengan jelas wajah Liana menjadi berseri


Liana yang mendengar ucapan Adit tersenyum sangat bahagia, setidaknya Adit tidak akan langsung mengambil Zahra pikirnya, masih ada sedikit waktu tersisa untuk dia berada di samping gadis kecil itu


" Kenapa perempuan ini kayak bahagia banget ? apa sebesar itu perasaan sayang dia ke Zahra ? "


" Ya mbak saya lihat Zahra belum siap pisah dari mbak, jadi saya mau titipkan Zahra dulu ke mbak sampe saya menemukan cara yang terbaik "

__ADS_1


" Ya ga apa pak, saya senang kok bisa merawat Zahra "


Setelah mereka berbincang cukup lama mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke ibu kota, Adit mengambil salah satu kartu dari dompetnya


" Maaf mbak, ini bisa mbak gunakan untuk semua kebutuhan Zahra "


" Maaf pak sebelumnya bukannya saya menolak, teman-teman bapak juga sudah memberikan tunjangan selama ini kepada Zahra tetapi belum ada yang saya pergunakan, karena saya rasa Zahra belum membutuhkan semua itu "


Adit merasakan seperti sedang melihat Cindy di perempuan cantik itu, entah mengapa semua yang ada pada seorang Liana benar-benar mirip dengan Cindy, Adit tak ingin mengulang kembali kesalahannya


" Apa boleh saya lihat Zahra sebentar mbak ? "


" Oh.. Silahkan pak "


Liana pun mengantarkan Adit menuju kamar gadis kecil itu yang sedang tertidur dengan pulas, Adit mendekati gadis kecil penguat hatinya itu lalu mencium pipinya dengan lembut


" Ayah pulang dulu ya sayang "


Lalu Adit keluar dari dalam kamar itu dan kembali ke ruang tamu, sedangkan yang lain saat melihat Adit yang sudah kembali, yang lain pun mulai beranjak dari duduknya untuk bersiap-siap kembali ke ibukota


" Oh ya hampir aja lupa, apa boleh saya minta buku diary Cindy mbak ? "


" Buku diary Cindy ya, tunggu sebentar ya pak "


" Maaf Cin mbak ga bisa, hati mbak belum siap "


Liana kembali ke luar dari dalam kamarnya dan menuju ke ruang tamu, lalu memberikan buku itu kepada Adit


" Ini pak "


" Makasih mbak, kalo gitu kami permisi dulu "


" Ya sama-sama "


Liana pun mengantarkan anggota empat sekawan itu keluar dari kediamannya, dan Bastian yang sudah berada di depan kemudi mobil mulai melajukan mobilnya untuk kembali menuju ke arah ibu kota


" Gimana Dit perasaan lo sekarang, apa lebih baik ? "


" Ya mau gimana juga, gw harus kuat untuk Zahra " menjawab pertanyaan Rangga


" Terus gimana rencana lo ke depannya ? "


" Gw bingung sekarang, Zahra bilang ga mau pisah sama mbak Liana " Adit memejamkan matanya dan memijat pelipis matanya

__ADS_1


" Itu sih gampang "


" Maksud lo ? " Adit membuka matanya dan mengerutkan keningnya


" Lo tinggal ikutin aja kemauan terakhir Cindy "


" Ya makanya gw minta buku diary Cindy, dia bilang di suratnya dia tulis permintaan terakhirnya di sini "


" Ya udah lo baca aja, nanti juga lo tau apa maksud gw "


" Hmm... " Adit pun kembali menutup kedua matanya dan menyenderkan kepalanya


Semua yang ada di mobil itu memilih untuk melanjutkan perjalanan itu dengan diam, mereka ingin membiarkan Adit agar bisa beristirahat sejenak, setelah menempuh perjalanan yang cukup lama mereka pun tiba di kantor Bastian, dan mulai berpisah mengendarai mobilnya masing-masing


Adit mulai mengendarai mobilnya kembali ke apartemennya, sesampainya di sana di membersihkan diri terlebih dahulu, lalu mendudukkan dirinya di atas sofa dan mulai membuka lembar demi lembar buku diary Cindy


Semua curahan hati Cindy tertuang di buku itu, Adit mengetahui kekecewaan Cindy saat hadir di pernikahannya dan Siska, Adit mengetahui semua tangisan Cindy bila sedang merindukannya


" Aku mohon maaf ya sayang aku benar-benar bodoh selama ini, aku ga bisa bayangkan perasaan kamu saat itu sayang "


Tanpa terasa air mata Adit kembali terjatuh dari pelupuk matanya, dia pun mulai melanjutkan kembali membaca lembar demi lembar dari isi buku itu, bahkan Adit mulai mengetahui kisah hidup Liana dari buku itu


" Pantes aja dia sayang banget sama Zahra, kasihan juga hidupnya. Tapi kan Zahra anak gw sama Cindy jadi gw juga punya hak untuk mengurus Zahra "


Adit mulai membuka kembali lembar selanjutnya dari buku itu


Adit kembali membaca lembar demi lembar buku diary Cindy, perasaan Adit menjadi semakin bersalah mengetahui seberapa besar cinta Cindy kepadanya, bahkan Adit menghabiskan waktu malamnya dengan menyelesaikan membaca buku itu


" Kok ga ada apapun sayang, kamu mau minta apa dari aku sayang ? "


Adit yang sudah mulai lelah tanpa sadar dia pun tertidur di atas sofa sambil memeluk buku diary Cindy, Adit hanya berharap Cindy bisa hadir kembali dalam mimpinya, setidaknya dia dapat melepaskan rasa rindunya walaupun hanya sebatas mimpi


Pagi pun mulai menyapa semua kehidupan yang ada di dunia ini, Adit mulai terjaga dari tidurnya dia langsung membersihkan diri untuk melakukan rutinitasnya sehari-hari, Adit mulai keluar dari apartemennya dan melajukan mobilnya ke arah kantor


Adit terus saja memikirkan apa permintaan terakhir dari Cindy, dia sama sekali tak dapat menemukan permintaan terakhir dari Cindy dari buku yang di tinggalkan oleh Cindy, Adit sudah mulai duduk di bangku kebesarannya dan hari itu dia habiskan dengan banyak melamun


Di satu sisi dia memikirkan bagaimana cara untuk bisa membawa Zahra tanpa gadis kecil itu menjadi sedih, sedangkan di sisi lain dia memikirkan apa permintaan terakhir dari Cindy


" Aku harus apa sayang ? tolong beri aku kekuatan sayang untuk menjaga Zahra dengan baik seperti keinginan kamu "


bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


terima kasih 😊

__ADS_1


maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar..


__ADS_2