
" Maafin mama ya sayang mama terlambat mengetahui semua tentang kehidupan kamu " lirih
" Semua karena orang itu, dia udah liat aku tapi dia ga mau dengerin kata-kata aku sama sekali "
" Apa kamu salahin papa kamu untuk semua kejadian yang menimpa kamu ? " menatap wajah Nadin dengan intens
Nadin seperti terkunci bibirnya untuk menyatakan bahwa yang di katakan Siska benar adanya, tetapi dia tidak ingin menyakiti hati Siska sosok wanita yang sudah sangat menyentuh hatinya. Nadin hanya tak bisa menutupi wajahnya dari rasa kekecewaan yang mendalam terhadap seorang Bastian Pratama
" Kamu pasti salahin papa kamu kan sayang, mama ngerti kok sayang "
Bagi Nadin sosok Bastian adalah sosok laki-laki yang tidak bertanggung jawab setelah melakukan hal itu dia meminta ibunya untuk menggugurkan kandungannya, lalu saat dia ingin bertemu, Bastian tak bersedia menemui dirinya tanpa mau mendengarkan penjelasan dari dirinya terlebih dahulu, membuat Nadin sang gadis polos harus kehilangan harta terpentingnya sebagai seorang wanita, bahkan Nadin masih ingat dengan jelas tamparan keras yang pernah dia terima
" Apa bisa kamu tolong buka hati kamu memaafkan papa kamu sayang ? "
Nadin yang mendengar hal tersebut langsung terbakar emosinya, Nadin merasakan kembali semua perasaan yang sedang coba dia kalahkan dengan sikap baik Siska. Nadin langsung bangkit dari duduknya dan menatap tajam ke arah Siska
" Ga.. Aku ga bisa maafin dia begitu aja " menggelengkan kepalanya
" Mungkin aku salah, harusnya aku ga terlalu cepat menyatakan itu " Siska menatap cemas melihat Nadin
Nadin mulai berlari kecil meninggalkan Siska begitu saja dengan air mata yang mengalir dengan deras, melihat hal tersebut Siska yang merasa khawatir langsung ikut berlari mencoba mengejar Nadin. Siska tak ingin ada hal buruk yang akan menimpa Nadin yang sedang dalam keadaan kalut seperti itu
" Nadin tunggu sayang..!! " Siska terus berlari mengejar Nadin sambil sedikit berteriak
Nadin yang sedang tersulut emosi tak ingin mendengarkan panggilan dari Siska, sedangkan Siska terus berlari mengikuti ke arah Nadin. Tanpa Nadin sadari bila ada sebuah mobil yang sedang melaju dengan sangat cepat. Begitu Nadin menyebrangi jalan mobil tersebut hendak menabrak tubuh Nadin
Siska yang melihat hal tersebut berlari dengan sangat cepat dan mendorong tubuh Nadin dengan kuat agar Nadin dapat terhindar dari mobil tersebut, tetapi naas mobil tersebut menabrak tubuh Siska dan membuatnya terpental cukup jauh
Nadin yang merasa tubuhnya di dorong dari belakang dan mendengar suara teriakan dari orang-orang di sekeliling langsung memalingkan wajahnya ke arah belakang, dia pun dapat melihat dengan jelas tubuh Siska sudah tergeletak di jalan dengan darah segar yang mengalir sangat banyak. Nadin berlari ke arah Siska dan memangku kepala Siska
" Kamu ga apa kan sayang ? " dengan suara yang sudah melemah
Nadin tak dapat bersuara melihat keadaan Siska yang sudah seperti itu, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan air mata yang tiada henti
" Tolong sayang hapus semua rasa benci kamu, dan mama ingin sekali mendengar kamu panggil saya mama " kesadaran Siska mulai menghilang, Siska pun mulai menutup kedua matanya
__ADS_1
" Tolong..!! Tolong panggil ambulan..!! " Nadin berteriak dengan histeris
" Tolong selamatkan mama saya..!! "
Mobil ambulan melaju dengan sangat cepat segala bantuan pertama sudah mulai di lakukan di dalam mobil tersebut, Nadin menggenggam tangan Siska dengan sangat erat seolah dia takut kehilangan Siska
" Mah maafin Nadin mah, tolong bangun mah. Nadin janji Nadin akan ikuti apapun kemauan mama, Nadin mohon mah Nadin ga mau lagi kehilangan mama "
" Mama harus selamat, mama mau denger Nadin panggil mama kan ? jadi mama harus kuat ya mah biar mama bisa denger langsung Nadin panggil sebutan mama "
" Aku mohon kepada Mu Tuhan selamatkan mama Siska, aku berjanji aku akan melupakan segala perasaan dendam terhadap siapapun "
Sesampainya di rumah sakit segala bantuan pertama segera di lakukan untuk menyelamatkan nyawa Siska, tak selang berapa lama Bastian Alvian dan Lena tiba di sana. Bastian yang terbakar emosi tak perduli lagi bahwa Nadin adalah darah dagingnya atau baju Nadin yang sudah berlumuran darah
Bastian berjalan mendekati Nadin dengan tatapan penuh amarah dan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Nadin hingga membuat Nadin tersungkur, melihat hal tersebut Alvian langsung memegangi tubuh Bastian
" Saya tau kamu benci sama saya, tapi dia tulus sayang sama kamu. Kalo kamu mau balas semua rasa sakit kamu ke saya jangan sakiti keluarga saya "
" Pah.. Udah pah ini rumah sakit pah "
" Lepasin papa Vian " menatap tajam ke arah Alvian
" Maaf pah tapi aku udah janji sama mama buat jaga kak Nadin apapun yang terjadi "
" Udah pah.. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan mama " Alvian mulai melepaskan tubuh Bastian
" Sebaiknya kamu pergi dari sini " melepaskan tatapan membunuhnya kepada Nadin
" Tolong ijinin saya di sini " lirih dan menundukkan kepalanya
" Apa kamu belum puas sebelum melihat istri saya meninggal ? " Nadin hanya bisa menangis sambil menggelengkan kepalanya
" Permisi pasien mengalami pendarahan serius, pasien membutuhkan transfusi darah dan stok darah pasien sedang kosong. Apa salah satu pihak keluarga ada yang memiliki golongan darah AB- ? "
" Saya suster.. Golongan darah saya AB- " menjawab dengan cepat
__ADS_1
" Kalo gitu silahkan ikut saya, kita periksa dulu ya bu " Nadin mengikuti langkah kaki suster tersebut
" Kalo dia ingin mama ga selamat ga mungkin dia mau mendonorkan darahnya untuk mama, seperti pilihan aku untuk jaga dia udah benar "
Nadin sedang mendonorkan darahnya untuk keselamatan Siska, sedangkan di luar sana pihak dokter menemui Bastian memberitahukan bila ada pendarahan di bagian otak dan harus segera melakukan operasi. Bastian meminta dokter untuk melakukan semua yang terbaik bagi istrinya
Ketika Nadin keluar dari ruangan yang khusus untuk mendonorkan darahnya, di sana sudah berkumpul para keluarga Pratama yang lainnya dan juga anggota empat sekawan yang lainnya
Zahra yang melihat wajah Nadin sedikit pucat, mata yang sudah membengkak akibat tangisan yang cukup lama juga baju yang sudah banyak bercak darah langsung merasa iba. Zahra mendekati Nadin dan langsung memeluk tubuh Nadin dengan sangat erat
" Ga apa kak, semuanya akan baik-baik aja kok " bisik Zahra dengan lembut, air mata Nadin kembali keluar dari pelupuk matanya dengan sendirinya
" Aku minta maaf aku yang salah aku lari mama Siska coba kejar aku, mama Siska dorong aku supaya aku ga ketabrak mobil itu. Aku benar-benar ga sengaja " mulai menangis dengan hebat
" Ga apa kak, Ara percaya kok tante Siska perempuan yang kuat. Tante Siska pasti akan selamat " tangisan Nadin kembali pecah di dalam pelukan seorang Zahra Pratama
Semua orang setia menunggu di depan ruang operasi sambil berdoa di dalam hati mereka masing-masing berharap operasi Siska akan berhasil, Nadin melangkahkan kakinya mendekati Bastian yang terduduk lemas membayangkan apa yang akan terjadi kepada istrinya ?
" Tolong ijinin aku di sini sampe mama Siska sadar, setelah mama Siska sadar aku janji aku akan pergi dari kalian untuk selamanya " menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Bastian, sedangkan Adit yang berada tepat di sebelah Bastian langsung menyenggol lengan Bastian
" Nanti aja kita bahas ini semua setelah mama kamu sadar "
" Makasih om " Nadin kembali melangkahkan kakinya menjauh dari Bastian
" Apa ga salah ? " Bastian melirik malas ke arah Adit
" Dia anak kandung lo masa dia panggil lo om, sedangkan istri lo aja dia panggil mama " tersenyum meledek
" Gw yang udah banyak berbuat salah sama dia "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
__ADS_1
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗