
Sedangkan di tempat lain ada seorang pria muda yang sangat tampan sedang menemui seorang detektif swasta di dalam ruang kerjanya, dia memerintahkan untuk mencari tau keberadaan seseorang
" Masih belum ketemu juga ? "
" Maaf pak tapi data yang bapak berikan terlalu minim, kami agak kesulitan mencari info tentang dia tapi kami akan terus berusaha pak "
" Ya gw tau pasti akan sulit cari dia cuma berdasarkan gambar dari CCTV, tapi gimana pun caranya gw harus bisa temuin perempuan itu. Gw ga tau gimana nasib dia di luar sana ? "
" Tambahkan lagi orang untuk cari dia, masalah biaya ga usah khawatir "
" Baik pak, kalo gitu saya permisi dulu pak " pria itu hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
" Gw sendiri ga tau apa yang akan gw lakukan saat ketemu dia nanti ? yang pasti gw harus minta maaf ke dia "
Keadaan di rumah sakit hanya di hiasi oleh semua orang yang sedang berdiam diri menunggu Siska yang masih menjalankan operasi, tiba-tiba saja Zahra mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada suaminya
" Kamu udah selesai meeting belum sayang ? "
" Baru selesai nih sayang, aku langsung ke sana sekarang ya "
" Boleh minta bawain sesuatu ? "
" Apa sayang ? "
" Tolong bawain baju untuk kak Nadin ya, baju kak Nadin banyak bercak darah sayang "
" Ok.. Nanti aku bawain ke sana ya "
" Bisa ga sekalian kamu bawain aku cilok sayang ? "
David mengerutkan keningnya membaca pesan terakhir dari Zahra, David langsung memutuskan menghubungi Zahra untuk memastikan sekali lagi
" Cilok sayang ? "
" Iya.. Bikin yang pedes ya sayang "
" Sejak kapan kamu makan kayak gituan sayang ? "
" Tadi aku liat waktu jalan ke sini, tapi karena kamu lagi buru-buru jadi aku ga berani minta kamu berhenti dulu sayang " memelas
" Bukan itu sayang, tapi dulu waktu kita sekolah kita semua beli itu kamu ga mau. Kamu bilang kamu udah pernah coba dan rasanya ga enak, dan sejak kapan kamu suka makanan pedas ? kenapa selera kamu jadi berubah ya ? "
" Tapi kalo kamu ga mau beliin ga apa kok sayang " terdengar suara Zahra seperti sedang kecewa
__ADS_1
" Bukan ga mau beliin sayang, tapi apa papa kamu ga marah nanti liat kamu makan itu ? "
" Ga kok aku yang tanggung jawab " bersemangat
" Ya udah nanti aku bawain ya, ada lagi ga sayang ? "
" Ga ada sayang itu aja, aku cuma mau kamu cepat ada di sini bawain aku cilok "
" Ya aku ke sana sekarang ya "
" Ya.. Dah sayang "
" Dah " Zahra langsung memutuskan sambungan teleponnya
Semua orang yang berada di tempat itu tetap berdiam diri saling berdoa di dalam hatinya, Alvian dan Bastian sempat melirik ke arah Nadin dan mereka dapat melihat air mata Nadin yang sesekali masih mengalir membasahi pipinya
Terlihat wajah cemas terlukis di wajah cantiknya, Nadin tak memperdulikan penampilan dirinya yang sudah acak-acakan dan bajunya yang terdapat bercak darah di mana-mana
Begitu melihat dokter keluar dari ruang operasi semua langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter tersebut, hanya Nadin yang tak berani mendekat dia hanya berdiri di bagian belakang untuk mengetahui kabar tentang wanita yang bisa mengalahkan rasa bencinya
" Bagaimana keadaan istri saya dok ? "
" Operasinya berjalan lancar, masa kritis nya juga sudah lewat. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, kita tinggal tunggu pasien sadarkan diri "
" Terima kasih dok " serasa sesak di dada Bastian hilang begitu saja, begitu juga semua orang yang berada di situ
Semua yang ada di tempat itu bisa bernafas dengan lega mendengar kabar Siska sudah selamat dari kecelakaan tersebut, begitu juga Nadin terlihat senyuman bahagia dari bibir merahnya. Zahra yang melihat hal tersebut langsung kembali memeluk tubuh Nadin
" Jangan sedih lagi ya kak, aku kan udah bilang tante Siska orang yang kuat " Nadin menganggukkan kepalanya
" Om Bastian aja selalu kalah sama tante Siska " bisik Zahra, Nadin hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Zahra
" Kalian memang keluarga yang baik, aku yang terlalu terbawa rasa amarah, seandainya dari awal aku bisa memaafkan mungkin mama Siska ga perlu mengalami ini semua "
David pun tiba di sana membawa dua buah tentengan yang satu berisikan baju yang di sediakan untuk Nadin, dan yang satu lagi adalah hal yang paling di nanti oleh Zahra. Zahra mengambil bungkusan yang berisikan baju ganti untuk Nadin dan langsung memberikan kepada Nadin
Zahra kembali lagi ke sisi suaminya dan meminta barang pesanan dirinya, David memberikan cilok tersebut dengan berat hati. Zahra langsung tersenyum bahagia dan mendudukkan dirinya di samping bundanya
Sebagian dari orang-orang di situ sedang sibuk menjenguk Siska di dalam ruang rawatnya hanya tersisa Adit, Liana dan David mereka tetap berada di situ karena melihat Zahra yang sedang menatap cilok yang kini berada di tangannya dengan sangat bahagia. Mereka memutuskan untuk menunggu setelah Zahra makan baru ke ruang rawat Siska
Nadin mengikuti rombongan yang menuju ke ruang rawat tetapi dia tak berani masuk ke dalam ruang rawat, dia memilih untuk menunggu di luar ruangan tersebut
" Aku perempuan jahat, aku ga pantas ada di dalam sana. Aku cuma mau liat mama Siska sadar setelah itu aku janji akan pergi menjauh dari kalian semua "
__ADS_1
" Aku terlalu egois selama ini, aku hanya melihat sakit yang aku derita. Aku ga perduli dengan sakitnya hati mama Siska sebagai seorang wanita dengan kehadiran aku, mama Siska memang perempuan baik. Aku janji mah aku akan melupakan semua dendam aku "
Sedangkan di tempat lain ada Zahra yang sudah mulai membuka cilok pesanan dirinya, wajah Zahra menjadi berseri. Para pria di situ hanya bisa diam setia menunggu Zahra sedangkan Liana menatap Zahra dengan seksama
" Makanan itu kayaknya pedas, Ara kan ga suka memakan sesuatu yang pedas. Kenapa persis kayak Cindy dulu ya ? atau jangan-jangan Ara lagi hamil sekarang "
" Kenapa bunda ? apa bunda mau ? " Liana menggelengkan kepalanya
" Itu apa sayang ? "
" Cilok bun " dengan polosnya
" Kayaknya pedas ya ? " Zahra menjawab dengan anggukan kepalanya
" Kamu kan ga suka makanan pedas sayang "
" Ya sih tapi aku pengen banget bunda " tersenyum
" Apa belakangan ini kamu ngerasain sesuatu yang aneh ? atau kamu melakukan sesuatu yang ga biasa kamu lakuin ? " Zahra mengerutkan keningnya
" Aku sekarang suka makan bunda, apa aku keliatan gendut ya sekarang bunda ? " memasang wajah sedih, Liana hanya bisa tersenyum melihat tingkah Zahra
" Akh bunda.. Ya udah aku ga akan makan banyak lagi deh " merengek membuat Adit langsung menghampiri buah hatinya
" Kamu kenapa sayang ? " khawatir
" Ara keliatan gendut ya ayah ? " dengan manja
" Ga kok sayang " bingung oleh tingkah laku Zahra yang menjadi sangat manja
" Bunda ga bilang kamu gendut sayang, bunda cuma mau tanya "
" Apa kamu udah datang bulan ? " membisikan ke telinga Zahra
" Belum kayaknya, kenapa bunda tanya itu ? " Zahra mengecilkan suaranya membuat David dan Adit menjadi penasaran senyuman bahagia tersimpul di bibir Liana
" Cindy kalo memang benar mungkin aja anak kita sekarang sedang hamil, sebentar lagi kita akan menjadi seorang nenek "
" Mungkin aja kamu lagi hamil sayang " berbisik, Zahra yang sedang memasukkan cilok itu ke dalam mulutnya hingga tersedak karena terkejut
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
__ADS_1
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗