Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
Kamu Harus Bangun


__ADS_3

Pria tersebut mulai menceritakan semua kejadian yang ada, pria tersebut di bayar oleh seseorang untuk melakukan hal tersebut. Pria tersebut melakukan itu semua untuk biaya pengobatan anaknya yang mengalami penyakit kanker dan harus segera melakukan operasi, pria tersebut akhirnya menyebutkan sebuah nama kepada Bastian


" Saya mau tanya sesuatu " pria tersebut menatap Bastian dengan sendu


" Apa kamu tau siapa kami ? " pria tersebut menggelengkan kepalanya


" Jadi lo berani lakuin itu semua tanpa tau siapa kami sebenernya, cuma demi biaya pengobatan anak, kamu menjadi pria yang b*doh "


Bastian menjadi tertawa membuat nyali pria tersebut semakin menciut


" Apa kamu tau perempuan yang ada di dalam mobil itu ? " pria tersebut kembali menggelengkan kepalanya


" Dia anak tunggal dari seorang pengusaha terhebat di kota ini, dia anggota keluarga terpenting dalam keluarga Pratama " pria itu hanya bisa terdiam


" Kamu bilang kamu menerima tugas ini hanya untuk biaya pengobatan anak kamu yang sedang menderita kanker, dia bahkan punya sebuah yayasan yang mengobati penyakit kanker bagi orang yang tidak mampu. Dasar orang b*doh " dengan sinis


Bak mendapatkan sebuah tamparan yang keras begitu mendengar semua ucapan dari Bastian, tanpa sadar pria tersebut meneteskan air matanya


" Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan ? apa aku menyakiti orang yang baik hati ? "


Pria tersebut kembali mengingat pertemuan dirinya dengan Tiara, pada awalnya pria tersebut sempat menolak permintaan Tiara setelah mengetahui apa yang akan dia lakukan. Tetapi Tiara mengatakan bahwa yang akan dia lenyap kan adalah seorang wanita penggoda yang telah merebut suaminya


Karena himpitan ekonomi dan harus segera mendapatkan uang untuk biaya pengobatan anaknya, pria tersebut akhirnya menerima tawaran dari Tiara


" Maaf.. Mungkin sebuah kata maaf saja tak akan pernah cukup untuk menebus kesalahan yang telah saya lakukan " Pria tersebut kembali menceritakan semuanya dengan rinci


Bastian membuang napasnya dengan kasar " Seandainya kejadian itu menimpa Vian atau Nadin mungkin gw juga akan lakukan hal yang sama untuk menyelamatkan nyawa anak gw, gw ga tau harus berbuat apa sekarang ? sebaiknya biar Adit yang ambil keputusan "


" Satu hal yang kamu harus tau dia perempuan paling baik yang saya kenal, dan mereka adalah pasangan suami istri yang sah baik di mata hukum ataupun agama "


" Saya mengaku salah, kalian boleh ambil nyawa saya sebagai permintaan maaf saya. Tapi saya mohon jangan ganggu keluarga saya "


" Maaf saya ga bisa janjikan apapun ke kamu saat ini, bagaimana pun juga pria tadi yang akan ambil keputusan " dengan tegas

__ADS_1


Bastian mulai bangkit dari duduknya dan meninggalkan pria tersebut begitu saja, tersisa pria tersebut dengan perasaan bersalah yang sangat besar di dalam hatinya. Pria tersebut mulai meneteskan air matanya tanda penyesalan di dalam hatinya


Begitu keluar dari gudang itu Bastian langsung mengendarai mobilnya dan menuju ke arah rumah sakit di mana Zahra dan keluarga kecilnya sedang di rawat, Bastian berencana menceritakan apa yang dia ketahui secara langsung


Sedangkan di ruang rawat David papanya sedang menerima telepon dari seseorang yang dia perintahkan untuk mencari tau di mana keberadaan Tiara saat hari kejadian ? dan hal tersebut pun membuat Robert menjadi emosi. Karena ternyata Tiara sedang berada di kota xx sehari sebelum kecelakaan tersebut terjadi


" Dasar anak kurang aj*r, kamu berani melakukan hal ini kepada anak saya dan keluarganya "


Baru saja Robert hendak menghubungi sahabatnya yang tak lain adalah papanya Tiara, tiba-tiba saja sebuah suara terdengar oleh Robert yang membuat dirinya melupakan tujuan awalnya


" Pah... " dengan suara pelan


" Vit kamu udah sadar, sebentar papa panggil dokter dulu " Robert langsung keluar ruangan tersebut dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan anaknya


Tak butuh waktu lama dokter sudah berada di dalam ruangan David dan memeriksa keadaan David


" Bagaimana keadaan anak saya dok ? "


" Kalau begitu saya permisi dulu pak "


" Terima kasih dok " dokter tersebut meninggalkan ruang rawat David meninggalkan mereka berdua


" Pah gimana keadaan Ara dan anak aku pah ? " senyuman di wajah Robert langsung memudar


" Anak kamu sudah berhasil di selamatkan, walaupun untuk sementara ada di ruang inkubator karena lahir secara prematur "


" Ara gimana pah ? " guratan kesedihan terlukis jelas di wajah Robert


" Tolong pah.. Kasih tau aku keadaan Ara ? " lirih


" Aku janji sayang, aku ga akan lanjutkan hidup aku kalo kamu berani pergi tinggalkan aku " meneteskan air mata


" Ara sudah berhasil di selamatkan tapi masih dalam keadaan koma " dengan suara pelan tetapi tetap masih terdengar

__ADS_1


Mendengar hal tersebut David bak melupakan rasa sakit yang sedang dia rasakan di sekujur tubuhnya, dia langsung memaksa tubuhnya untuk bangkit dan hasilnya hanya sia-sia David tak berhasil mendudukkan dirinya. David merasakan sakit yang amat di sekujur tubuhnya karena tindakan


" Kamu tenang dulu Vit " Robert mendekati David dengan wajah cemas


" Tolong papa panggil dokter atau siapapun, minta mereka bantu aku. Aku mau dekat Ara sekarang juga pah " lirih


" Segitu besarnya cinta kamu sama dia Vit, padahal papa yakin seluruh badan kamu sekarang lagi merasakan sakit. Papa bangga sama kamu Vit "


" Ok.. Kamu tenang dulu, papa panggil dokter dulu "


Tak butuh waktu lama David sudah berada di ruangan Ara dengan bantuan kursi roda dan selang infus yang masih setia menemani dirinya, semua yang berada di dalam ruangan Zahra menjadi terkejut melihat David yang dalam keadaan seperti itu masih memaksakan diri untuk menemui Zahra


" Kamu kenapa ke sini sayang ? lebih baik kamu juga istirahat dulu " Liana haru hingga meneteskan air matanya


" Aku mau dekat Ara bun, ini salah aku ga bisa jaga dia dengan baik " lirih, kursi roda David semakin mendekat ke arah di mana Zahra tengah berbaring


" Ga ada yang perlu di salahkan di kejadian ini, semua sudah tertulis " David hanya terdiam dan terus menatap wajah Zahra yang pucat


" Terima kasih sayang kamu sudah selamat, aku ijinkan kamu untuk istirahat. Tapi kamu harus janji kamu harus bangun, kamu masih harus jaga aku dan anak kita sayang " menggenggam tangan Zahra


Tak berselang berapa lama Adit tiba di sana, dia tak dapat berkata-kata melihat keadaan David yang sedang terpuruk sambil terus menggenggam tangan anaknya. Sedangkan Liana langsung menghampiri Adit dan memeluk tubuh suaminya tersebut


" Pasrahkan semuanya kepada Tuhan sayang, aku mohon jangan lakukan sesuatu yang berlebihan " Adit benar-benar seperti tersadar dari emosi yang sempat merasuki dirinya, Adit pun langsung memeluk erat tubuh mungil Liana


" Aku takut sayang, aku benar-benar takut " Liana mengerti dengan apa yang sedang di rasakan oleh Adit, dia mengelus pundak Adit dengan lembut mencoba memberikan suaminya ketenangan dan kekuatan


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Kalau bisa berikan vote 🤭


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗

__ADS_1


__ADS_2