
David sudah kembali ke dalam kamarnya di panti asuhan tersebut, kamar yang selama ini lebih nyaman untuk dia jadikan tempat tinggal. Karena di tempat itu dia dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga, David sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang hingga ponselnya berbunyi
" Mau ngapain lagi sih ? "
Awalnya David mengabaikan panggilan telepon tersebut hingga ponselnya kembali berdering
" Ya "
" Kamu di mana ? "
" Di rumah aku dari kecil "
" Apa apartemennya kurang nyaman ? atau kamu mau sebuah rumah ? "
" Aku ga butuh, aku butuh keluarga dan aku dapat di sini. Anda ga perlu repot-repot semua yang anda kasih udah cukup "
" Saya bisa bawa kamu ke sini ke tengah-tengah keluarga "
" Percuma mama saya ga ada di sana "
" Maaf, mau sampe kapan kamu marah begini ? "
" Maaf saya belum bisa "
" Saya mengerti sekali lagi saya memohon maaf, saya hanya berharap suatu saat nanti kamu mau memaafkan saya "
" Ya udah saya mau istirahat udah malam "
" Jaga diri kamu baik-baik ya, kapanpun kamu butuh apapun kamu bisa hubungi saya "
" Hmm.. " David langsung memutuskan sambungan teleponnya
Hari pun berlalu pagi kembali menyapa seluruh kehidupan di muka bumi, dan hari ini kembali Zahra kembali ke bentuk semula untuk pergi ke sekolah, dia pun melakukan rutinitasnya seperti biasa
__ADS_1
Sekarang David sudah menjadi seperti pengawal Zahra bila berada di dalam lingkungan sekolah, membuat titisan mak lampir semakin gerah melihat keadaan tersebut
Hari itu pelajaran terakhir adalah olahraga semua bermain di dalam lapangan voli sekolah tersebut, hingga beberapa saat sebelum pelajaran tersebut berakhir Alvian dan David di panggil untuk menghadap ke ruang kepala sekolah, untuk membicarakan sebuah perlombaan yang akan di adakan sesaat lagi
Titisan dari mak lampir pun bergegas untuk menyusun sebuah rencana, dia mulai menyuruh Sofia dan Lena untuk membeli ini dan itu dan meminta Zahra membereskan peralatan kembali ke dalam gudang
Tanpa perasaan curiga apapun Zahra mulai melakukan hal tersebut, sesat Zahra berada di dalam gudang Zahra mulai di kunci dari luar di dalam gudang tersebut, Zahra mulai berteriak untuk di bukakan pintu tetap tak ada jawaban dia hanya mendengar beberapa orang yang tertawa dengan sangat riang dari luar gudang
Sedangkan anggota geng yang lain telah masuk ke dalam kelas untuk menyembunyikan tas Zahra, setelah pelajaran olahraga setiap siswa boleh langsung kembali karena mata pelajaran hari itu telah usai, dan hal tersebut membuat Sofia dan Lena dan berpikir bahwa Zahra telah pulang dan mereka pun ikut pulang ke rumah mereka masing-masing
Sedangkan Alvian dan David yang setelah cukup lama berada di ruang kepala sekolah pun berpikiran sama, mereka pun langsung kembali ke tujuan mereka masing-masing dan mulai melupakan di mana keberadaan Zahra pada saat itu
Melihat sekolah yang mulai membubarkan diri dan mulai tampak sepi, para pengawal yang di utus Adit pun mulai cemas dan langsung menghubungi Adit, Adit yang sedang melakukan meeting dengan koleganya langsung meninggalkan meeting tersebut dan meluncur ke sekolah Zahra
Adit yang baru tiba di sekolah Zahra langsung mengamuk di ruang kepala sekolah dan pihak sekolah langsung menjadi tak berdaya, bagaimana mungkin ternyata anak dari pemilik sekolah tersebut hilang di dalam lingkungan sekolah. Dan mereka benar-benar baru mengetahui bahwa anak culun tersebut adalah anak tunggal dari Aditya Pratama
Adit langsung mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Zahra dan beberapa langsung memeriksa ruang CCTV, dan mereka dapat melihat dengan jelas keberadaan Zahra saat ini dan langsung melaporkan hal tersebut kepada Adit, sedangkan sebagian langsung mengeluarkan Zahra dari dalam gudang dan membawanya ke ruang kepala sekolah
" Kalian semua keterlaluan bagaimana bisa anak saya berada di dalam gudang..!! " Adit berteriak dengan sangat keras
" Apa karena kalian pikir dia cuma anak asuh saya..!! " Adit sudah hendak melemparkan sebuah guci kecil di atas meja ke arah kepala sekolah
" Ayah " Zahra langsung berlari dan memeluk Adit
Adit kembali meletakkan guci tersebut dan mulai memeriksa seluruh tubuh Zahra dari atas hingga ke bawah tanpa terlewatkan satu inci pun
" Kamu ga apa kan sayang ? kita ke dokter ya " Adit masih merasa panik walaupun dia sudah melihat buah hatinya di hadapan matanya
" Aku ga apa kok ayah, pulang yuk ayah Ara lapar " Zahra tersenyum dengan sangat manis, hanya itu yang ada di pikirannya saat ini untuk mengurangi amarah Adit
" Ayo sayang " Adit mulai melangkahkan kakinya dan kembali berhenti lalu menolehkan kepalanya ke arah kepala sekolah
" Saya mau besok sudah sampai ke saya siapa yang berani berbuat itu ke anak saya " Zahra langsung menarik lengan Adit dan menggelengkan kepalanya seraya memasang wajah memelas
__ADS_1
" Ga perlu di perpanjang lagi masalah ini, tapi ini terakhir kalinya saya dengar ada yang macam-macam dengan keluarga saya, kalo kamu ga becus mengurus sekolah ini lebih baik kamu mengundurkan diri " dengan tegas
" Baik pak saya mengerti "
" Astaga anak culun itu anak pak Adit, kenapa bisa kecolongan gini ? untung aja anak itu ga kenapa-napa "
Adit mulai menuntun tangan Zahra keluar dari sekolah tersebut seperti seorang anak kecil, dan Zahra hanya bisa pasrah dia yakin ayahnya tadi khawatir akan keadaannya. Adit langsung membawa Zahra kembali ke kediamannya
Sepanjang perjalanan Adit hanya bisa diam, walaupun saat ini dia sudah lega tapi dia benar-benar tidak bisa membayangkan bila sesuatu terjadi terhadap Zahra
" Maaf ya ayah " lirih
" Ayah jangan marah sama Ara " Adit membuang kasar napasnya
" Ayah bukan marah sama Ara, ayah tadi bener-bener takut sayang. Ayah ga tau harus bagaimana kalo kamu kenapa-napa sayang " Zahra langsung memeluk tubuh Adit dengan erat
" Makasih ya ayah, Ara tau kok ayah sayang sama Ara "
" Mulai besok udah ya sayang main beginian " Adit menunjuk ke arah tompel Zahra
" Tapi ayah "
" Kamu sekarang udah punya teman kan ? ayah ga mau kejadian kayak gini ke ulang lagi " dengan tegas
" Ya ayah.. Maaf " Adit mencium ujung kepala Zahra dengan sangat lembut
Bagi Adit seorang David sudah cukup untuk menjadi teman yang di impikan oleh Zahra, walaupun Adit sudah mengetahui status asli dari David, Adit sudah mengirimkan seseorang untuk mencari tau tentang David. Tetapi itu bukan masalah bagi Adit, bagi Adit kebahagiaan Zahra adalah yang utama
Adit tak ingin lagi menutupi keberadaan Zahra dari siapapun, Adit hanya tak ingin kejadian seperti ini akan terulang kembali, di mana ada orang lain yang berani mengusik buah hatinya
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
__ADS_1
Maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar 😉