
Hari demi demi hari berlalu kini keadaan Zahra sudah benar-benar membaik, Adit dan Liana mengadakan sebuah acara makan malam bersama dengan seluruh keluarga dan beberapa kerabat terdekat yang tak lain adalah para anggota empat sekawan dan keluarga mereka
Semua orang menyambut dengan senyuman bahagia melihat keadaan Zahra kini benar-benar sudah pulih, dan di sana juga ada sang bayi mungil yang menjadi rebutan beberapa orang agar bisa menggendongnya
Selesai acara makan malam tersebut Zahra menemui Adit yang masih berada di dalam ruang kerjanya, tekad Zahra sudah bulat untuk meminta izin menemui Tiara dan sang orang suruhannya
Tok.. Tok.. Tok..
" Masuk "
" Boleh aku ngobrol sebentar sama ayah " memasukkan sedikit kepalanya
" Pasti dong, masuk sayang " Zahra memasuki ruangan tersebut dan duduk tepat di hadapan Adit
" Kenapa sayang ? apa kamu mau minta pulang lagi ? "
" Ga kok ayah, aku tau ayah pasti khawatir sama aku makanya ayah minta aku tinggal di sini kan "
" Ya sayang ayah benar-benar takut sesuatu yang buruk akan menimpa kamu, maaf ya ayah belum sanggup untuk membiarkan kamu jauh dari pandangan ayah "
" Terus kenapa sayang ? "
" Boleh aku minta sesuatu dari ayah ? "
" Kamu mau apa sayang, apapun yang kamu mau ayah janji pasti ayah turutin " tersenyum
" Ayah udah janji ya, jadi ayah ga boleh bohong "
" Iya ayah janji, kamu mau apa Ara ? "
" Aku cuma mau minta ijin dari ayah, aku mau ketemu sama Tiara dan supir itu "
Degh... Bayang-bayang kejadian yang telah menimpa Zahra kembali terlintas jelas di dalam benak Adit, senyuman di bibir Adit dalam sekejap langsung menghilang
" Kamu mau apa ketemu mereka ? "
__ADS_1
" Aku udah tau semuanya, aku merasa kasihan ayah sama supir itu. Dan kalo sama Tiara aku cuma mau bicara sebagai sesama wanita, aku ga mau di kemudian hari ada dendam antara aku sama dia " menundukkan kepalanya, Zahra tak berani menatap Adit yang sudah memasang wajah serius
" Ayah yakin hati kamu pasti mengikuti jejak ibu kamu sayang, *kalian benar-benar perempuan ber*hati baik sayang. Ayah ga tau ayah harus bersyukur atau malah takut karena kebaikan hati kamu ini sayang "
" Apa kamu ga punya perasaan dendam sedikit pun sama mereka ? gimana juga mereka udah mencelakai kamu dan keluarga kamu sayang "
" Aku ga dendam sama mereka ayah " memberanikan diri menatap Adit sambil tersenyum
" Walaupun aku akui aku sedikit kecewa, tapi aku mau memaafkan supaya hati aku lebih tenang. Jadi boleh ya Ara ketemu sama mereka "
" Boleh, tapi dengan satu syarat "
" Jangan bilang kalo ayah mau aku di kawal ketat saat ketemu meraka nanti "
" Apa syarat nya ? "
" Kamu boleh ketemu mereka tapi tetap harus di bawah pengawasan orang-orang ayah, dan mereka akan ikuti kamu kemana pun termasuk saat kamu ketemu mereka " dengan tegas
" Sesuai dugaan aku " memutar bola matanya
" Tapi ayah aku kan bukan penjahat yang harus di kawal ketat begitu " memelas
" Ya udah lah, aku yakin ayah lakuin karena ayah sayang sama aku "
Zahra tak menjawab pertanyaan dari Adit dia bangkit dari duduknya dan mengitari meja agar berada tepat di samping Adit sambil terus tersenyum, dan Zahra pun mencium pipi Adit dengan sangat lembut
" Makasih ya ayah, walaupun jujur aku kurang suka kalo harus di kawal kemana-mana tapi aku yakin ayah lakuin itu untuk kebaikan aku. Aku yakin ayah lakuin itu karena ayah sama sama Ara kan " Adit langsung memeluk tubuh Zahra dengan erat
" Ayah sayang banget sama kamu Ara, kamu satu-satunya cahaya hidup ayah setelah semua kejadian itu "
" Aku sayang banget sama ayah " berbisik
" Kamu harus tau ayah sayang banget sama kamu " mencium kening Zahra
Malam itu Zahra kembali ke dalam kamarnya setelah mendapatkan izin dari ayahnya, dia menceritakan niatnya kepada suaminya yang telah menanti dirinya di dalam kamar. David mengizinkan Zahra bertemu mereka dengan catatan David harus ikut bersama Zahra
__ADS_1
Zahra hanya menggelengkan kepalanya merasa heran kepada ke dua pria yang sangat berarti di dalam hidupnya tersebut, mereka seakan-akan menjadikan Zahra sesuatu yang sangat antik setelah kejadian yang menimpa dirinya. Tetapi jauh di dalam hatinya dia juga merasa bahagia karena mengetahui para pria tersebut sangat mencintai dirinya
Malam pun berlalu dengan tenang, pagi yang indah kini menyapa dan hari itu Zahra sudah bersiap untuk mengunjungi Tiara dan supir tersebut di dampingi oleh David dan banyak sekali pengawal pribadi yang di siapkan oleh Adit
Setelah menyelesaikan sarapan dan puas bermain dengan buah hatinya Zahra dan David menuju ke sebuah pemukiman yang cukup kumuh, kehadiran Zahra dan David yang di kawal ketat sempat menjadi sorotan beberapa warga. Hingga tiba lah Zahra di sebuah rumah yang cukup memprihatinkan
" Permisi... "
" Ya " seorang wanita yang sudah cukup tua keluar dari dalam rumah
" Maaf bu, apa benar ini rumah Rina ? "
" Oh.. Ya neng, Rina cucu saya. Kalau boleh tau ada apa ya neng ? "
" Ga ada apapun kok bu, kami teman ayahnya Rina. Kami kemari hanya ingin menjenguk keadaan Rina "
Mendengar mereka adalah teman dari anaknya yang kini sedang meringkuk di dalam penjara hati sang wanita tersebut kembali terluka, ke dua bola mata wanita tersebut mulai berkaca-kaca
" Oh.. Jadi kalian teman si anak b*doh itu, mari nak silahkan duduk. Maaf keadaan rumahnya begini "
" Oh.. Ga apa kok bu "
Zahra hanya ingin melihat keadaan sang gadis kecil tersebut, ternyata keadaan gadis itu sudah membaik dan Zahra pun tak sempat bertemu karena gadis kecil itu sedang asik bermain di luar rumah bersama teman-temannya
Zahra mencoba mengulik tentang keadaan dari keluarga tersebut, tanpa polos sang wanita tua tersebut mulai bercerita. Keadaan keluarga mereka yang memang sudah sangat menderita di tambah sang cucu yang mengalami sakit kanker dan harus segera menjalankan operasi, dan hal tersebut membuat anaknya menjadi gelap mata
Wanita tersebut pun bercerita bila kini cucu sudah dalam keadaan sehat karena keluarga korban membantu biaya pengobatan cucunya, bahkan keluarga korban kini membantu seluruh kebutuhan mereka sehari-hari
Wanita tersebut sangat menyesali perbuatan anaknya yang telah menyakiti keluarga yang sangat baik tersebut, tanpa wanita itu tau bahwa sang korban adalah orang yang kini berada di hadapannya. Mendengar segala kesulitan di dalam kehidupan mereka membuat hati Zahra semakin iba kepada sang supir
Setelah merasa cukup dengan semua penjelasan yang dia terima Zahra pun berpamitan kepada wanita tua tersebut, tak lupa Zahra memberikan sedikit bantuan kepada wanita tersebut. Zahra benar-benar terharu melihat keadaan keluarga tersebut
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
__ADS_1
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗