
Mendengar penjelasan dari David papanya langsung menghubungi sahabatnya yang tak lain adalah ayah kandung dari Tiara, siang itu ayah Tiara tidak mengetahui tujuan utama dari Robert sang sahabat mengajak dirinya bertemu
" Bet udah lama ? " mendudukkan dirinya di hadapan Robert
" Ga aku juga baru datang " tersenyum tipis
" Tumben nih ngajak makan siang segala ? " terkekeh
" Ya, ada hal penting yang harus aku omongin " memasang wajah serius
" Aduh, kenapa nih ? ga biasanya dia seserius ini. Pasti ada masalah yang serius, setau aku perusahaan Robert lagi baik-baik aja "
" Tiara anak perempuan kamu lagi berbisnis di kota xx ya ? " menatap tajam
" Ya, apa ada masalah ? "
" Demi kebaikan keluarga kalian aku kasih sebuah saran "
" Apa Tiara buat masalah di sana ? "
" Jauhin David "
" David ? " mengerutkan keningnya
" Ya, Tiara lagi berusaha menggoda David "
" Astaga Tiara, kenapa penyakit kamu ga pernah hilang ? " memegang keningnya
" Pertama David itu anak aku, ke dua orang yang di ganggu Tiara bukan orang sembarangan "
" Maksud kamu Bet ? "
" Ya kalau kalian sudah siap untuk berhadapan dengan keluarga Pratama, silahkan lanjutkan " mengangkat kedua tangannya
" Pratama ? "
" Ya, istri David adalah anak tunggal dari Aditya Pratama "
" Anak ini benar-benar buat masalah, kalo sampe kita mengganggu keluarga Aditya Pratama. Mau jadi apa keluarga kita ke depannya ? "
" Aku ngerti "
" Dan yang terpenting David minta aku sampaikan ke kalian jangan coba-coba lagi hal yang seperti kemarin, atau dia sendiri yang akan bertindak "
__ADS_1
Pria tersebut bak sulit untuk menelan air yang sedang berada di dalam mulutnya pada saat itu
" Sebaiknya kamu minta Tiara pergi dari kota xx, sebelum nanti sesuatu yang buruk menimpa keluarga kalian " penuh penekanan
" Kalo cuma Robert mungkin dia ga akan bertindak terlalu jauh, tapi ada keluarga Pratama. Apalagi David mungkin sudah merasa terganggu, sebaiknya aku minta Tiara segera meninggalkan kota xx "
Setelah menyelesaikan makan siang mereka berdua pun kembali ke rutinitas mereka masing-masing, ayahnya Tiara langsung meminta Tiara untuk meninggalkan kota xx dan akan menggantikan dengan orang lain proyek yang sedang di kerjakan di sana
Sedangkan di tempat lain kini Reyhan dan Nadin sudah berada di depan kediaman Bastian, Reyhan tampak ragu untuk masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Bayang-bayang kejadian di rumah sakit masih dapat dia ingat dengan jelas
" Kenapa ? " memegang tangan Reyhan
" Aku.. Aku kapan-kapan aja ya mampir nya "
" Apa kamu ga mau ketemu mama sama papa aku ? "
" Kalo ketemu sama Tante Siska dan om Bastian sih masih enak, kalo ketemu Vian gimana nanti ? "
Bagaikan memiliki sebuah kontak batin yang sangat kuat, tiba-tiba saja mobil Vian memasuki pekarangan rumah mewah tersebut
" Astaga " tanpa sadar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Reyhan melihat Alvian yang baru saja keluar dari dalam mobilnya
" Apa Reyhan masih enggan ya ketemu Vian ? "
" Udah pulang kak ? " tersenyum
" Ya Vian, kamu baru pulang ? "
" Ya kak, tadi ada meeting sama klien "
Alvian menatap Reyhan yang sedikit menundukkan kepalanya
" Kok ga di ajak masuk kak calon kakak ipar aku ? "
Mendengar hal tersebut Reyhan mulai berani menatap ke arah Alvian, Reyhan dapat melihat Alvian yang sedang tersenyum pada dirinya
" Ayo Rey masuk "
" Oh.. Iya "
Alvian mendorong pintu rumah tersebut, dan tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Reyhan. Seketika detak jantung Reyhan berdetak semakin kencang, yang ada di dalam pikiran Reyhan saat itu adalah dirinya akan kembali mendapatkan sebuah hadiah dari Alvian
" Maaf ya kak lupa tadi aku panggil nama aja, berarti aku harus mulai belajar panggil dengan sebutan kak Reyhan dong ya " tersenyum meledek
__ADS_1
Reyhan tak dapat berkata-kata dengan semua ledekan dari Alvian, sedangkan Nadin hanya bisa tersipu malu
" Apa kamu masih kepikiran masalah yang dulu ? "
Reyhan tak dapat menutupi rasa canggung yang kini dia rasakan bila harus berhadapan dengan keluarga tersebut
" Kan ada aku " tersenyum dan menggenggam tangan Reyhan
" Terima kasih Tuhan, kau kirimkan wanita yang sangat baik untuk menggantikan dirinya. Aku memohon kepada Mu Tuhan, satukan kami untuk selamanya "
Malam itu Reyhan makan malam di tengah keluarga Bastian, awalnya Bastian sempat memasang wajah masam kepada Reyhan. Tetapi kehangatan dari seorang Siska dapat melunturkan segala aura dingin di tengah-tengah mereka
Selesai makan malam mereka semua berkumpul di ruang tamu, dan sesaat setelah Siska pergi ke dapur Bastian langsung memasang wajah serius ke arah Reyhan
" Kamu udah siap ? " menatap tajam
" Pah.. " Nadin berusaha untuk mengerti keadaan Reyhan
" Nadin papa tau semua tentang anak ini, papa tau tentang semua masa lalunya. Papa ga mau kamu di sakiti sama dia, bagaimana pun juga kamu anak perempuan papa " dengan tegas dan membuat Nadin tak dapat berkata-kata lagi untuk membantu Reyhan, sedangkan Alvian hanya tersenyum melihat tingkah papanya
" Enakan urusan sama gw kan ? paling juga kayak kemarin kena bogem aja, emangnya enak kalo urusan sama papa. Semoga aja dia ga salah jawab, atau urusannya akan jadi panjang"
" Kenapa kamu diam ? "
" Pah jangan terlalu keras sama Reyhan, gimana juga dia udah niat baik " mengelus pundak Bastian
" Aku ga mau dia sama Nadin cuma karena perasaan bersalah aja, apa salah sayang ? " Siska hanya bisa membuang nafas dengan kasar
" Maaf Rey, Tante ga bisa bantu kamu lagi "
" Kalo kamu ga yakin lebih baik kamu mundur, saya masih sanggup untuk menjaga anak saya. Dan satu hal yang kamu harus tau, dengan masa lalu apapun ga akan ada orang yang berani untuk bermain-main dengan anak saya " penuh penekanan
" Saya tau om, tapi saya sudah yakin dengan perasaan saya. Saya mau menikahi Nadin bukan cuma karena rasa tanggung jawab, tapi saya yakin Nadin ada di dalam hati saya " menatap Bastian dengan yakin
" Terima kasih, saya sudah banyak menyakiti anak ini. Saya titipkan dia ke kamu "
" Ok om percaya, tapi ingat satu hal dia anak perempuan dari Bastian Pratama. Jadi om harap kamu bisa jaga dia dengan baik, kalo kamu main-main sama dia om akan buat perhitungan sama kamu "
" Saya janji om, saya akan jaga Nadin dengan baik "
Malam itu pun berlalu dengan baik, bahkan selepas kepergian Reyhan Bastian langsung menghubungi Rangga. Mereka membicarakan untuk acara pernikahan anak mereka berdua
Bastian sangat bersyukur Nadin memiliki pendamping seperti Reyhan karena dia tau dengan pasti Reyhan adalah anak baik, begitu pula Rangga dia sangat bersyukur karena masalah ini dapat di selesaikan dengan baik
__ADS_1