
malam itu Bastian mengajak Siska ke tempat biasa kumpul, Bastian ingin menceritakan dia melihat perempuan mirip dengan Cindy di sana dia berharap hati Adit akan terbuka lagi, walaupun sudah berusaha dilarang oleh Siska awalnya
Siska memilih duduk di meja bar, yang tidak jauh dari tempat suaminya dan kawan-kawan nya duduk, Siska tidak ingin gabung di meja Adit karena aura Adit membuat dia tidak nyaman
berkumpul lah disitu Adit, Bastian, dan Bagas, setelah merasa suasana sudah mulai nyaman Bastian mulai berbicara
" Dit gw kemarin abis liburan sama Siska di daerah perkampungan gitu " ucap Bastian mulai membuka obrolan
Adit yang mendengar itu hanya diam dengan wajah datarnya
" disana gw lihat perempuan mirip banget Dit sama Cindy " lanjut Bastian
" jangan sebut nama dia di depan gw " jawab Adit sudah dengan tatapan membunuh
" ya bukan gitu Dit, ya kasian aja kalau di pikir-pikir ni Cindy sekarang pasti perutnya.... " ucapan Bastian terpotong karena sebuah gelas sudah mendarat di ujung kening Bastian
" gw sudah bilang jangan pernah sebut nama dia di depan gw...!! " teriak Adit lalu meninggalkan tempat itu
Bagas langsung memberikan tisu ke Bastian karena kening Bastian mengeluarkan darah segar, Siska yang melihat itu pun langsung menghampiri suaminya dan membawanya keluar dari tempat itu meninggalkan Bagas sendirian disitu
" aduh, gw ga akan pernah berani sebut nama Cindy depan Adit lah kalau begini " ucap Bagas dalam hatinya, akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang juga
Siska langsung membawa Bastian ke sebuah klinik terdekat yang membuahkan hasil lima jahitan di kening Bastian, setelah selesai penanganan dan mengambil obat untuk Bastian mereka langsung pulang menuju apartemennya
" s*alan tuch anak, gw kalau ga kasihan sama dia ga sudi gw mau berteman lagi sama dia " ucap Bastian di dalam mobil
" ya udah lah sayang lagian kamu juga tadi kan udah larang kamu, kamu kan sahabatnya dia harus nya kamu paling tau dong watak dia " jawab Siska di depan kemudi mobil
" aku cuma takut nanti dia menyesal sayang " ucap Bastian
" terus kamu mau coba lagi ? " tanya Siska
" enggak lah, sekarang terserah dia aja " jawab Bastian
siang itu Bagas sedang asik menatap laptopnya di ruangannya, tiba-tiba masuk lah papanya Bagas pun langsung menghentikan aktivitas nya
__ADS_1
" kenapa pah ? tanya Bagas melihat papanya langsung duduk di kursi depan mejanya
" nanti malam kamu ikut papa sama mama ya " ucap papanya Bagas dengan tegas
" kemana pah ? " tanya Bagas
" ke rumahnya pak Hartawan " jawab papanya Bagas dengan datar
" siapa itu pah ? kenapa aku juga ikut ke sana ? " tanya Bagas karena bingung dan mengerutkan keningnya
" ya kamu harus ikut lah ke rumah calon mertua kamu, ini foto anaknya yang bakal jadi calon istri kamu " jawab papanya Bagas sambil meletakkan sebuah foto di meja Bagas
" akh.. apaan si pah, ga lucu akh.. " ucap Bagas protes
" terus kamu maunya gimana ? semua teman kamu sudah nikah Adit aja sudah hampir mau nikah dua kali " jawab papanya Bagas sudah mulai menaikkan volume suaranya
" aku ga mau akh pah, memang papa pikir aku ga bisa apa cari sendiri, pakai di jodoh- jodohin segala " jawab Bagas
" ya mana buktinya ? kamu pikir papa ga tau kelakuan kamu selama ini di luar sana ? " ucap papanya Bagas sudah berteriak
" tapi pah.. " ucap Bagas masih berusaha untuk menolak
" akh.... kebagian juga sekarang jatah sialnya gw " teriak Bagas dalam ruangannya sambil mengacak-acak rambutnya dan Bagas pun melirik foto di depannya
" lumayan si, tapi kok kaya agak kampungan gitu pakaiannya " ucap Bagas dalam hatinya
Bagas yang sedang kesal pun memutuskan meninggalkan kantornya dan menuju ke kantor Bastian, dia butuh teman untuk dengar ceritanya, sedangkan Rangga ga ada, Adit mana bisa di harapkan pikirnya
Bagas pun sampai di kantor Bastian dengan wajah kucelnya, dia langsung menyenderkan tubuhnya di bangku ruang kerja Bastian sambil menutup matanya
" kenapa lo ? " tanya Bastian yang melihat Bagas seperti itu
" hari sial gw datang bro " jawab Bagas dan Bastian pun langsung tertawa terbahak-bahak
" di suruh nikah lo ya ? " tanya Bastian masih sambil tertawa
__ADS_1
hufh.... Bagas membuang kasar napasnya dan mulai duduk dengan benar
" lo sama gw kan sebelas dua belas b*jingan nya, tapi nasib lo lebih beruntung ya dari gw " ucap Bagas dan Bastian kembali tertawa terbahak-bahak
" ya sudah terima aja, lo kelamaan si main nya, ga mau mikir serius buat hidup lo " ledek Bastian
" s*alan lo.. !! lo juga baru tobat nya kampret " ucap Bagas
" enggak lah, setelah kejadian Cindy gw ga pernah lagi coba-coba, nah lo lanjut terus " ucap Bastian sambil tertawa
" masih berani juga lo sebut nama Cindy, ga kapok tuch sama jidat lo " ledek Bagas dan kini dia yang tertawa
" s*alan lo, gw cuma ga mau Adit nanti kecewa aja, tapi sekarang terserah dia aja lah " jawab Bastian
" yah... apalagi gw, enggak akan berani dech gw coba-coba sebut nama Cindy depan Adit " ucap Bagas dan mereka berdua pun tertawa
" terus sekarang rencana lo gimana ? " tanya Bastian
" ga tau akh bro.. bingung gw sama orang-orang tua itu, ga Rangga, Adit sekarang gw. berarti kalau di pikir-pikir lo doang yang aman ya " ucap Bagas dan Bastian pun tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu
" udah kalau menurut gw si ya, mending lo temuin aja dulu kan ga ada salahnya, siapa tau memang cantik " ucap Bastian sambil tertawa
" ya kalau cuma nemuin doang mah gampang bro, masalahnya gimana caranya gw nolaknya nanti " ucap Bagas sekali ini Bastian tidak lagi tertawa dia sudah melihat sahabatnya itu tertekan
" ya kalau masalah nanti, urusannya nanti lah yang penting lo ikutin aja dulu " jawab Bastian
cukup lama juga Bagas berada di kantor Bastian, dia enggan untuk kembali ke kantornya dia memutuskan untuk langsung kembali ke apartemennya.. menunggu malam hari saat papanya sudah mengirimkan lokasi tempat untuk dia datangi
Bagas pun sudah menerima lokasi tempat yang harus dia datangi, dia bergegas kesana dia tidak ingin mencari masalah dengan orang tuanya, sehingga harus kehilangan semua fasilitas yang ada
papa dan mama Bagas sudah duluan sampai di kediaman pak Hartawan, mereka para orang tua sedang berbincang ringan disana menunggu kehadiran Bagas baru akan memanggil anak perempuan pak Hartawan
tak selang berapa lama Bagas pun sudah sampai di kediaman pak Hartawan dia duduk di sebelah orang tuanya, perasaan Bagas saat ini sudah bercampur aduk antara marah, tak berdaya, kecewa semua menjadi satu
bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
__ADS_1
terima kasih 😊
maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar....