Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
Kemarahan Adit


__ADS_3

Selepas menyelesaikan sarapan mereka Adit dan Robert berpisah ke ruang rawat anak mereka masing-masing, sesampainya di dalam ruang rawat David tanpa membuang-buang waktu Robert langsung memerintahkan anak buahnya untuk mencari tau di mana keberadaan Tiara saat kejadian naas yang menimpa anaknya terjadi


Sedangkan di dalam ruang rawat Zahra sudah ada keluarga besar Pratama yang berkumpul. Bahkan Alvian dan Lena sudah kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Zahra, Sofie pun sudah berada di sana


Mama Linda bahkan sampai terduduk lemas melihat keadaan Zahra yang sedang terbaring tak sadarkan diri, air matanya terus mengalir dan mengusap pipi Zahra dengan lembut


" Bangun sayang, kamu kan udah janji sama nenek mau menggantikan ibu kamu menjaga nenek sampai akhir hayat nenek. Bangun sayang, jangan membuat nenek takut sayang "


" Kamu harus cepat sadar sayang, kamu itu cucu kesayangan nenek. Nenek ga akan bisa lanjutkan hidup nenek tanpa kamu sayang " berbisik di telinga Zahra, lalu mencium pipi Zahra dengan bergetar menahan semua kesedihannya


Mama Linda tak henti-hentinya mengalirkan air matanya selama berada di tempat itu, hingga dia kembali ke kediamannya di antar oleh Imelda yang tak sanggup melihat mamanya yang sangat terpukul melihat keadaan Zahra


Adit meminta bantuan Alvian untuk mengantarkan Liana kembali ke kediamannya agar dapat beristirahat sejenak, Adit dapat melihat Liana sudah dalam keadaan yang lemah. Adit hanya tak ingin bila Liana akan jatuh sakit, Liana menolak dengan keras untuk kembali dia ingin selalu berada di samping Zahra sang anak yang sangat dia sayangi


Di tengah perdebatan kecil mereka tiba-tiba saja ponsel Adit berdering, Adit berhenti memaksa Liana untuk pulang ke kediamannya


" Ya "


" Kami sudah menemukan orangnya pak "


" Bawa dia ke tempat yang saya perintahkan, jaga dia dengan baik jangan ada yang berani menyentuh dia "


" Baik pak " Adit langsung memutuskan sambungan teleponnya


" Kalo kamu mau main-main kamu salah orang kawan, saya sudah terlalu lama berubah menjadi orang baik karena anak ini. Tapi kamu berani menyakiti dia, maka kamu memaksa saya menjadi Adit yang dulu "


Adit langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada semua orang yang berada di tempat itu


" Kamu mau ke mana sayang ? "


" Aku ada urusan sebentar " menjawab tanpa menolehkan kepalanya, lalu pergi berlalu begitu saja


" Ga mungkin dia tega tinggalkan Ara dalam keadaan begini, pasti ada sesuatu yang dia tutupi ini untuk pertama kalinya dia bicara tanpa melihat ke arah aku. Aku yakin Adit akan melakukan sesuatu yang di luar batas "


" Ga aku ga boleh ijinkan Adit menyakiti seseorang saat keadaan Ara seperti ini, aku ga mau hal yang akan Adit lakukan akan berdampak kepada Ara "


Liana langsung mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Adit tetapi semuanya hanya sia-sia, Adit langsung mematikan ponselnya saat keluar dari ruang rawat Zahra


" Vian tolong telpon papa kamu " lirih


" Papa ? " Liana menganggukkan kepalanya

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama dan banyak bertanya Alvian langsung berusaha menghubungi papanya


Tut.. Tut.. Tut..


" Ya Vian "


" Pah.. Tante Liana mau ngomong sama papa "


" Ya, kasih ke tante kamu " Alvian menyodorkan handphonenya


" Bas " lirih


" Ya mbak, ada apa ? "


" Mbak minta tolong sama kamu cari Adit sekarang juga "


" Adit..? " mengerutkan keningnya


" Mbak yakin dia akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti orang lain, ingatin dia Bas sekarang keadaan Ara masih begini. Jangan sampai apapun yang akan dia lakukan akan berdampak pada Ara "


" Aku harus gimana sekarang ? aku ngerti perasaan Adit saat ini. Kalo pun itu menimpa anak aku pasti aku akan lakukan hal yang sama "


" Aku ngerti perasaan dia Bas, aku juga merasakan hal yang sama. Tapi untuk saat ini dengan menyakiti orang lain, apa akan merubah keadaan Ara ? Tuhan penentu semuanya. Jangan membuat Tuhan membalas yang akan dia lakukan "


" Dan yang terpenting adalah tolong sampaikan ke dia kalau seandainya Ara sadar nanti, apa Ara akan senang kalau tau apa yang dia lakuin sekarang ? "


" Aku ngerti mbak, aku akan cari Adit sekarang juga "


" Terima kasih "


" Ya mbak, sama-sama " Bastian langsung memutuskan sambungan teleponnya


Liana menggenggam tangan Zahra dengan erat untuk mengungkapkan rasa takutnya akan kehilangan harta paling berharga di dalam hidupnya


" Sayang kamu harus cepat bangun, bunda ga akan bisa tahan ayah kamu sayang. Cuma kamu yang bisa menghentikan semua kemarahan dia "


Bastian langsung meninggalkan kediamannya dan melajukan mobilnya dengan sangat cepat ke suatu tempat, setelah dia mengetahui di mana keberadaan Adit pada saat itu. Semua ucapan Liana terus terngiang-ngiang di telinganya, Bastian benar-benar merasakan ketakutan dengan apa yang di ucapkan Liana


Sedangkan Adit sudah berada di dalam sebuah gudang tempat di mana Adit dan Bastian pernah membawa Nadin di saat terdahulu, ada seorang pria yang sedang tak sadarkan diri dan terikat di sebuah bangku. Dapat terlihat dengan jelas masih ada beberapa lebam di wajah pria tersebut akibat kecelakaan tersebut


" Bangunkan orang ini " dengan dingin

__ADS_1


" Baik pak "


Tanpa menunggu waktu yang lama anak buah Adit sudah membawa seember air dingin dan menyiramkan ke arah pria tersebut, sontak saja langsung membuat pria tersebut tersadar. Pria tersebut terkejut dirinya sudah terikat dengan kencang, sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dan hasilnya hanya sia-sia


" Kenapa ? " melepaskan tatapan membunuhnya


" Siapa kamu..!!? " Berteriak sekuat tenaga


" Kamu berani menyakiti anak saya, tapi kamu ga kenal saya "


" Kayaknya orang ini bukan orang sembarangan, aku bisa ngerasain kalo orang ini berbahaya "


" Siapa yang kasih kamu perintah melakukan itu ? "


" Apa maksud kamu ? itu kecelakaan "


Adit tersenyum sinis dan bangkit dari duduknya lalu mendekati pria tersebut


" Kamu salah main-main dengan keluarga saya, bahkan saya sudah tau semua tentang kamu dan keluarga kamu " berbisik, dalam sekejap wajah pria tersebut berubah menjadi takut


" Jangan pernah kamu berani menyentuh keluarga saya..!! " Adit tersenyum sinis


" Kenapa kamu ga fikirin hal itu sebelum berani berbuat ? sekarang semuanya sudah terlambat. Saya kasih kamu sebuah kehormatan karena berani menyentuh anak saya " kembali ke tempat duduknya


" Kamu boleh memilih melihat kematian anak kamu yang penyakitan terlebih dahulu atau ibu kamu yang sudah tua itu ? "


" B*jingan..!! " Adit tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pria tersebut


" Saya akan balas kamu berkali-kali lipat dengan rasa sakit yang saya rasakan "


" Tolong jangan sentuh mereka, saya yang melakukan hal tersebut kamu boleh bunuh saya untuk membayar kesalahan saya " lirih


Mendengar hal tersebut membuat Adit tak dapat lagi menahan emosinya, Adit mulai memukuli pria tersebut dengan membabi buta


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Kalo bisa berikan vote 🤭


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗

__ADS_1


__ADS_2