
Waktu berlalu dengan sangat cepat hari pun berganti dengan hari lain tanpa terasa. Pagi itu entah mengapa perasaan Lena menjadi sedikit tak tenang tetapi itu semua berusaha dia tepis, dia tetap melakukan ritual sehari-harinya membuka warungnya seperti biasa. Dari kejauhan ada sebuah mobil yang mengawasi Lena dari kejauhan
Tut.. Tut.. Tut..
" Halo "
" Kami sudah temukan orangnya pak "
" Bawa dia ke hadapan saya secepatnya "
" Baik pak.. Kami akan bawa ke tempat yang bapak arahkan "
" Ok saya tunggu di sana "
" Baik pak, sekitar siang hari kami sudah sampai di sana "
" Ok " Adit memutuskan sambungan teleponnya dan langsung menghubungi Bastian
Tut.. Tut.. Tut..
" Ya Dit "
" Gw udah temuin dia, mungkin siang mereka udah sampe sana "
" Ok.. Gw langsung ke kantor lo aja sekarang " sontak saja membuat Alvian seperti sulit untuk menelan sarapan paginya pada saat itu
" Apa papa udah temuin Lena ? "
" Ok " Adit langsung memutuskan sambungan teleponnya
" Kenapa sayang ? " Bastian hanya melirik ke arah Alvian
" Ga apa kok sayang " tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan mencium ujung kepala Siska
" Aku jalan dulu ya sayang, mau ke kantor Adit dulu ada perlu sedikit " Siska mencium punggung tangan Bastian seperti biasanya
" Hati-hati ya sayang " Bastian pun pergi dari kediamannya
Sedangkan Alvian yang yakin bila papanya sudah menemukan Lena langsung kembali ke kamarnya dan langsung menghubungi Zahra, hanya Zahra yang ada di pikirannya saat itu bisa membantu wanita yang sangat dia cintai itu
Tut.. Tut.. Tut..
" Halo "
" Kayaknya papa udah temuin Lena deh Ra "
" Kamu yakin Vian ? " terkejut
" Aku bisa liat dari cara papa tadi liat aku waktu abis telponan sama om Adit "
" Ok.. Aku bilang David ya "
__ADS_1
" Ra selama ini aku ga pernah minta apapun ke kamu kan, aku mohon Ra tolong aku sekali ini "
" Ya kamu tenang dulu ya " Alvian langsung memutuskan sambungan teleponnya
Zahra langsung menceritakan semuanya kepada pria yang kini telah menjadi suaminya, David berusaha meyakinkan Zahra bila semuanya akan baik-baik saja. Sedangkan di perkampungan sana Lena sudah di bawa kembali ke perkotaan dalam keadaan tidak sadar, mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah gudang yang sudah di siapkan
David menghubungi orang kepercayaannya untuk memerintahkan anak buahnya mengikuti di mana Bastian dan Adit akan berjumpa, karena David yakin di tempat itu Lena akan di bawa. David langsung melajukan mobilnya ke arah kediaman Bastian dan menjemput Alvian
Dengan beribu alasan berbohong kepada Siska David berhasil membawa Alvian, David hanya tidaak ingin membuat Siska yang seorang ibu dan juga wanita menjadi cemas. David membawa mobilnya ke sembarang arah Dan menepikan mobilnya di tepi jalan
" Kenapa lo bawa gw ke sini ? "
" Kita tunggu aja " acuh
" Maksud lo apa sih ? atau lo cuma mau ngerjain gw aja ? " David menolehkan wajahnya ke arah Alvian dengan malas
" Berisik lo, udah gw bilang tunggu aja "
" Lo sebenernya niat buat bantu gw apa ga..!!? ". Alvian menaikan sedikit volume suaranya
" Gw ga ada sedikitpun niat mau bantu anak tengil kayak lo, gw lakuin ini semua cuma demi Zahra Pratama. Jadi lebih baik lo diam kita tunggu kabar " dengan tegas dan menatap tajam
" Halo "
" Mereka ke gudang di daerah jalan xx pak "
" Ok.. Kirim lokasinya ke saya "
" Baik pak "
" Sudah pak "
" Ok... Kita ketemu di sana "
" Baik pak " David memutuskan sambungan teleponnya dia pun tersenyum menatap Alvian
" Kenapa lo ? " mengerutkan keningnya
" Gw udah tau Lena di bawa ke mana ? "
" Ya udah ayo jalan..!! " sedikit berteriak
" Gw bukan supir lo kamp*et " Alvian hanya memutarkan kedua bola matanya
" Sekarang semua tergantung lo " Alvian langsung mengerutkan kembali keningnya
" Maksud lo ? "
Sedangkan di dalam gudang kosong tersebut Lena sudah dalam terikat di sebuah bangku ddan masih belum sadarkan diri, tak selang berapa lama tiba di sana Adit dan Bastian. Adit hanya mengambil sebuah bangku dan menatap dari kejauhan sedangkan Bastian yang terbakar emosi berjalan mendekati Lena
" Bangunin dia " dengan dingin
__ADS_1
Byur.... Seember air dingin di guyurkan kepada Lena, Lena yang terkejut langsung tersadar dia langsung melihat ke sekeliling berdiri di hadapannya Bastian dengan sombongnya, ada Adit yang duduk di kejauhan dan beberapa orang yang berpakaian rapi mengelilingi tempat itu
" Om Bastian " Bastian memiringkan kepalanya
" Kamu masih kenal saya ? " dengan tatapan membunuh
Lena yang merasa ketakutan karena untuk pertama kalinya dia melihat Bastian seperti itu langsung berusaha untuk bangkit, dia pun baru menyadari bila tubuhnya terikat dengan kuat di atas sebuah bangku
" Om ini ada apa ya om ? " bergetar ketakutan
" Jangan panggil saya om dengan mulut kamu ini " mencengkram dagu Lena dengan kuat, Lena hanya bisa terdiam dan meringis kesakitan
" Kenapa kamu berani lakuin itu sama keluarga kami ? " melemparkan wajah Lena dengan kasar
" Maaf om tapi aku ga bisa "
Mendengar ucapan dari Lena membuat emosi Bastian semakin meradang dan plak... Sebuah tamparan yang cukup kuat mendarat di pipi Lena hingga ujung bibir Lena langsung mengeluarkan darah segar
" Kalo kamu ga suka sama anak saya, kamu jangan kasih dia harapan palsu.. !! " Bastian berteriak dengan keras, Lena dapat melihat dengan jelas amarah dari seorang Bastian Pratama
" Di sini ada om Adit aku ga mungkin bilang alasan sebenarnya " Lena hanya menundukkan kepalanya
" Maaf om " Bastian sudah mengepalkan tangannya dan hendak memukul kembali Lena lalu tiba-tiba tangan Bastian di pegang oleh Adit
" Dia anak perempuan Bas, jangan berlebihan "
" Tapi gara-gara dia anak gw sampe kecelakaan Dit, anak gw hampir aja meninggal dunia dan sekarang dia ga bisa jalan Dit.. !! " Bastian berteriak dengan sangat keras dan menarik tangannya
" Vian kenapa om ? " Lena mulai meneteskan air matanya
" Kenapa gw ngerasa Lena beneran sedih dengar Alvian kecelakaan ? " Adit menatap Lena dengan seksama
" Ga usah sok perduli dengan anak saya "
Srak.... Suara pintu besi gudang tersebut terbuka dan di sana sudah ada Alvian yang menggunakan kursi roda serta David di sebelahnya dan beberapa anak buah David
" Ngapain kalian di sini ? " Bastian mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya
" Maaf pah, om Adit. Apa boleh aku ngomong sama Lena sebentar ? " Adit menarik tangan Bastian agar sedikit menjauh sedangkan Alvian mendekati Lena
" Maaf ya sayang aku udah banyak kasih luka ke hati kamu, dan sekarang aku terlambat datang "
Hati seorang Alvian Pratama luluh lantak melihat keadaan gadis penguasa hatinya cukup mengenaskan, Alvian melihat darah segar di ujung bibir Lena dan keadaan Lena yang basah kuyup. Sedangkan Lena yang melihat Alvian dengan kursi roda menjadi menangis dengan hebat
Alvian melepaskan jaketnya dan memakaikan ke tubuh Lena, lalu menghapus darah di ujung bibir Lena
" Maaf ya aku terlambat " Lena menangis dengan hebatnya
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
__ADS_1
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗