Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
Tangisan Nadin


__ADS_3

Nadin memutuskan untuk berdiam di dalam kamarnya sedangkan acara tersebut akan segera berlangsung, Siska yang tak melihat kehadiran Nadin memutuskan untuk memanggil Nadin di kamarnya


Tok.. Tok.. Tok..


Saat Nadin membuka pintu Siska dapat melihat dengan jelas dari mata Nadin yang masih sembab dan merah menandakan Nadin usai menangis


" Boleh masuk ga ? "


Nadin membuka lebar pintu kamarnya Siska pun masuk dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang, Siska menepuk tempat di sebelahnya menandakan bila dia ingin Nadin duduk di sebelahnya. Dan entah mengapa untuk pertama kalinya Nadin mengikuti apa yang Siska minta


" Kamu habis nangis ya ? " Nadin lebih memilih untuk diam


" Kalo kamu ada masalah kamu bisa cerita ke mama sayang, mama sudah anggap kamu sebagai anak perempuan mama sendiri " Nadin menatap sendu


" Kamu tenang aja ya jangan sedih, kalo suatu saat nanti kamu nikah mama pasti akan buat acara yang meriah untuk kamu. Apa kamu udah punya calon sayang ? " tanpa terasa air mata Nadin mengalir kembali


" Apa mungkin masih ada laki-laki yang bersedia menikah dengan perempuan kotor seperti aku ? "


Siska yang sudah menjadi seorang ibu dia dapat merasakan bila air mata yang di keluarkan oleh Nadin adalah air mata kesedihan, hati seorang ibunya tergerak dan langsung memeluk tubuh Nadin dengan erat


" Kamu kenapa sayang ? kamu bisa cerita ke mama tentang apapun sayang " tangis Nadin pecah di dalam pelukan hangat seorang Siska


" Apa yang sebenarnya udah terjadi sama kamu sayang ? pasti ada sesuatu yang besar yang udah kamu laluin kan ? saya janji saya akan bujuk kamu untuk siap cerita, dan saya janji saya akan berdiri di samping kamu untuk menyelesaikan segala masalah kamu sayang "


Nadin berusaha mengatur nafasnya yang mulai tersengal tertahan oleh tangisnya, Nadin kembali mencoba menguasai emosinya. Siska mulai melepaskan pelukannya setelah merasakan tangisan Nadin mulai mereda, Siska pun menatap Nadin sendu


" Kami jangan sedih lagi ya, sekarang kamu cuci muka dulu kita turun ya. Adik kamu sebentar lagi mau menikah " Nadin hanya diam dan mulai mau bangkit dari duduknya, tetapi tertahan karena Siska memegang tangan Nadin


" Seberat apapun masalah yang kamu hadapi saya siap jadi pendengar untuk kamu "


Nadin sempat diam menatap ragu ke arah Siska dan Siska hanya membalas dengan senyuman hangat yang penuh ketulusan


" Terima kasih " untuk pertama kalinya kata-kata tersebut keluar dari bibir Nadin

__ADS_1


" Itu fungsinya kita sebagai keluarga sayang " tersenyum dengan tulus


Mereka berdua pun turun dan berada di tengah acara tersebut, saat mereka berdua turun Siska terus menggenggam tangan Nadin. Di dalam hati Siska dia hanya ingin memberikan kekuatan Nadin dan mengingatkan Nadin bahwa dia tidak sendirian


Sedangkan Alvian dan Bastian menatap mereka berdua dengan tersenyum tipis di bibir mereka berdua, untuk pertama kalinya mereka dapat melihat Nadin sudah dapat menerima keberadaan Siska


Berbeda dengan David yang memandang Nadin dengan tatapan penuh kecurigaan, David hanya ingin berhati-hati agar Nadin tak melakukan hal yang aneh-aneh lagi. David mengirimkan pesan kepada anak buahnya untuk mencari tau lebih dalam tentang Nadin


Acara tersebut berlangsung dengan sangat khidmat, Siska terus menggenggam tangan Nadin dan meneteskan air matanya, hatinya sedih dan bercampur bahagia melihat seorang anak yang telah di kandung dan di besarkan selama ini akan mulai merajut rumah tangganya sendiri


Acara tersebut berlangsung dengan sangat lancar tanpa kendala apapun lagi, selesai acara Nadin memilih untuk kembali ke dalam kamar dan membersihkan dirinya sejenak. Nadin menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran shower cukup lama


" Akh.... Aku benci semua lelaki..!! " Nadin berteriak sekuat tenaga, ternyata dari balik pintu ada Siska yang mendengar suara teriakan Nadin dan berlanjut dengan suara tangisan yang pilu


" Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu nak ? kamu mungkin memang tidak terlahir dari rahim saya, tapi saya menyayangi kamu nak "


Air mata Siska yang seorang wanita dan juga seorang ibu ikut sakit mendengar suara tangisan Nadin, tetapi dia memilih untuk langsung keluar dari dalam kamar untuk memberikan Nadin waktu. Cukup lama Nadin menangis di dalam kamar mandi hingga dia merasa bahwa dadanya sudah sedikit lega


Siska kembali ke tengah kerumunan orang yang hadir pada acara tersebut dengan wajah sendu, Alvian yang melihat hal tersebut langsung menghampiri mamanya dan memeluknya


" Apa dia bikin mama sedih lagi ? " penuh penekanan


" Vian mama denger dia nangis sayang, hati mama sakit " lirih, Alvian melepaskan pelukannya dan menatap wajah Siska dengan penuh pertanyaan


" Mama ga tau sayang, apa yang udah terjadi dalam kehidupan dia selama ini ? tapi sebagai seorang wanita dan seorang ibu, mama yakin dia sudah melalui sesuatu yang sangat menyakitkan "


" Mama tenang aja ya sekarang ada kita yang akan selalu bantu dia, asalkan dia ga buat mama sedih lagi "


" Ga.. Aku ga bisa diam aja, aku harus bisa bikin dia mau cerita apa yang udah terjadi ? "


" Ya sayang, kamu harus janji sama mama mulai sekarang apapun yang terjadi kamu harus selalu jaga dia seperti kamu jaga mama "


" Vian janji akan jaga kak Nadin mah "

__ADS_1


" Mah... Vian.. Ada om Rangga sama keluarganya baru datang "


" Ya pah "


" Jangan bilang apapun ke papa kamu dulu ya, sampai mama tau yang sebenarnya " bisik Siska, Alvian hanya membalas dengan anggukan kepalanya


Semua saling berbincang dengan santai, hal yang sudah jarang terjadi di masa tua mereka sekarang yaitu anggota empat sekawan berkumpul bersama semuanya. Bagaimana pun juga kini mereka punya kesibukan dan keluarga yang harus mereka urus


" Mana anak lo Bas ? gw penasaran Bas mau liat ponakan baru gw " Bagas tersenyum meledek


" Hem... Bukannya kalian dulu selalu sehati dan sejalan ya " Rangga menimpali membuat semua yang ada di situ menjadi tertawa


" Ya deh kalian berdua memang yang terbaik dulu " Bagas hanya bisa pasrah dari pada urusan menjadi semakin panjang


" Sayang panggilin Nadin ya " menoleh ke arah Siska


" Baru aja aku dari kamarnya, tapi dia kayaknya kecapean dan ketiduran. Maaf ya semua "


" Yah sayang banget padahal baru mau gw jodohin ke anak gw, masa adiknya sudah mau nikah. Kakaknya pacar aja ga punya " Rangga sedikit kecewa


" Wah boleh juga tuh kalo sama anak lo gw mau " ledek Bastian sambil melirik ke arah Bagas


" Maksudnya kalo sama anak gw lo ga mau ? " Bagas mengerutkan keningnya


" Yah kalo anak para buaya saling nikah, gw takut aja nanti pas cucu kita lahir jadi apa dong ? " Bastian tertawa dengan lepas, membuat semua ikut tertawa


Persahabatan mereka memang sudah tidak seperti dulu lagi yang hampir setiap hari mereka habiskan bersama, tetapi hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun kedekatan mereka


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Kalau bisa berikan vote 🤭

__ADS_1


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


__ADS_2